Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Pesan Mengerikan


__ADS_3

Keringat dingin mengucur dari pori-pori kening Kinan.Kegugupan Kinan tertangkap oleh Yani, yang saat itu tidak sengaja melirik pada gadis itu.


"Lu kenapa Kin?" tanya Yani spontan.


Kinan yang merasa memiliki celah untuk mengadu, tentu saja langsung mengacungkan ponselnya. Berharap Yani paham akan kode yang ia berikan.


Benar saja, Yani langsung paham. Ia pun segera membuka aplikasi whatsapp yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi.


Betapa terkejutnya Yani ketika membaca pesan yang dikirim oleh sahabatnya itu. Dengan debaran jantung yang sulit ia artikan, Yani segera mematikan layar ponselnya dan mencoba melihat apa yang disampaikan oleh Kinan dari layar ponselnya. Dan benar saja, di sana Yani melihat ada dua Aziz. Yang satu bergerak bebas dan yang satunya lagi hanya berdiri diam di belaknh pria itu. Hanya saja yang berdiri terlihat pucat dan tanpa bergerak sedikitpun. Meskipun hanya untuk berkedip.


"Iya, gue juga lihat Kin," balas Yani.


Pesan balasan yang Yani kirimkan pada grup chat mereka, ternyata membuat Aziz dan juga Albert menyadarinya.


Kedua insan itu pun ikutan nimbrung, ikut membaca dan membalas pesan itu.


"Sudah diamkan saja, dia mau mengecoh kita," tulis Albert.


"Sial, kenapa gue!" balas Aziz.


"Entah, tapi nggak udah di ladenin, Ziz," tulis Yani.


Sedangkan Kinan, sama sekali tak mampu membalas pesan mereka. Gadis ini hanya diam ketakutan sembari membaca pesan demi pesan yang di kirim oleh para sahabatnya.


Sedetim kemudian, Kinan kembali diganggu dengan hal aneh. Kini bukan hanya Aziz yang ia lihat menjadi dua. Tetapi juga ada Mayang. Dalam pandangan matanya, Kinan melihat Mayang juga ada dua.


Mayang yang tidak bergerak itu, malah menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Membuat Kinan merinding.


"Kin, kamu oke?" tanya Yani, sembari mengelus lengan Kinan. Membuat gadis ini terkejut tak karuan.


"Eh... ada apa?" kejut Kinan.


Yani menggeser tempat duduk nya. Mendekati Kinan. Tentu saja untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Apa lagi yang kamu lihat, selain Aziz?" tanya Yani.

__ADS_1


"Mayang," jawab Kinan gugup.


Spontan Yani pun mengalihkan perhatiannya pada Mayang. Namun, ia tidak melihat apapun di sana.


"Tidak ada siapa-siapa. Maksudku Mayang hanya satu," ucap Yani, lagi-lagi dengan bisikan lirih.


"Tidak, lihatlah," jawab Kinan, sembari mengarahkan layar ponselnya pada Yani. Dan benar saja, meski layar ponsel itu rata dengan warna hitam. Namun pantulan di sana masih terlihat jelas. Ya, kini Yani pun melihatnya. Wanita yang disinyalir sebagai hantu penunggu di rumah kosong ini terlihat menatap Yani dengan tatapan penuh permusuhan. Wanita itu melotor ke arah Yani.


Spontan Yani pun meradang. Dengan penuh amarah, pria ini pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berteriak. "Brengsek! Kami tidak takut dengan kalian. Pergi kalian dari sini! Pergi!"


Tak ayal, seluruh orang yang ada di ruangan ini pun langsung berdiri. Berlari mendekati Yani dan memenagkan nya.


"Yan... sabar Yang, Sabar," pinta Aziz.


"Gimana gue bisa sabar, Ziz. Mereka brengsek! Mereka pikir mereka siapa?" jawab Yani penuh emosi.


Sedetik kemudian, tanpa mereka sangka tanpa mereka duga. Lampu mati. Angin berembus sangat kencang. Bahkan jendela dan pintu pun menutup dan membuka sendiri. Seakan penghuni di sana protes bahwa mereka juga tidak suka dengan kehadiran para pekerja di rumah ini.


Suasana langsung berubah mencekam. Ruangan berubah gelap seperti malam. Padahal saat itu, waktu masih menunjukkan jam dua siang. Di tambah angin bergemuruh sangat ribut. Seakan marah dan ingin menguncang tempat di mana mereka berpijak saat ini.


Kini bukan hanya Yani yang meradang, Albert dan Aziz pun sama. Mereka bertiga terlihat terpancing dengan teror yang mereka dapatkan. Sehingga membuat mereka lelah dan akhirnya melawan.


"Mau kalian apa? Brengsek!" tantang Yani lagi, emosi.


Kali ini tak ada satupun orang yang berani melerai amarah pemuda itu. Sebab mereka sendiri pun sudah sangat lelah.


Selepas Yani menantang penghuni di tempat ini, suara ponsel mereka semua berdering serempak. Membuat mereka pun terkejut dan saling pandang.


"Dari siapa?" tanya Yani gugup.


"Punyaku nomer tak dikenal," jawab Mayang.


"Sama punyakku juga," Jawab Kinan.


"Astaga, Bro. Punyakku juga!" Jawab Aziz.

__ADS_1


"Oke, jangan ada yang angkat. Mereka hanya mau mainin kita. Kita lihat saja, seberapa besar nyali mereka ngadepin kita. Kita jangan mau ngalah oke!" ajak Yani penuh semangat.


Melihat semangat Yani yang begitu membara, semua orang yang ada di ruangan itu pun ikutan bersemangat. Mereka berharap, para mahluk yang ada di rumah ini mau berdamai.


Sayangnya, apa yang diharapkan tidak menjadi kenyataan. Sang mahluk agaknya marah. Terdengar angin semakin ribut. Bahkan jendela rumah itu membuka dan menutup sendiri.


"Dasar pengecut, bisanya neror. Sini kalo berani!" tantang Yani.


Sedetik kemudian, terdengar suara seseorang tertawa. Awalnya sangat kirih, namun lama kelamaan suara itu semakin cepat. Membuat merinding siapapun yang mendengarnya.


"Sial! beraninya nakutin!" umpat Yani geram.


"Sabar, Yan! Sepertinya kali ini nggak bisa kita biarin. Kita mesti cari tau, kenapa mahluk di sini tidak menyukai kedatangan kita. Kita harus sabar, Yan!" pinta Azizi, mencoba meredam emosi Yani yang semakin menjadi.


Yani pun mengerti. Ia paham betul bahwa sosok yang meneror mereka kali ini adalah sosok yang bisa dikatakan sangat jahat. Terlihat jelas dari niat-niat mahluk tersebut meneror mereka. Bahkan sampai ada yang hendak kehilangan nyawa.


"Al.. kamu oke?" tanya Yani seraya mendekati sahabatnya itu.


"Sebaiknya kita semua keluar, Yan. Ini sangat berbahaya. Apa lagi untuk cewek-cewek itu," ucap Albert mengingatkan. Sebab tanpa mereka ketahui, Albert telah membuka komunikasi dengan beberapa mahluk yang ada di sana. Dan mereka bersikeras menolak berdampingan dengan mereka para pekerja.


"Oke, kali ini kita nurut. lihat saja nanti jika kalian bikin ulah!" ucap Yani, terdengar lirih namun mengancam.


"Ayo semua, beresin barang kalian. Kita keluar dulu dari ruangan ini. Sampai kita bisa menemukan solusi atas kejadian di luar nalar ini," ajak Aziz, dewasa.


Tak menunggu waktu lagi, para pekerja di tempat tersebut pun langsung mengemasi barang-barang dan segera meninggalkan tempat ini.


Sayangnya, ketika mereka hendak keluar dari ruangan tersebut, pintu tertutup sendiri. bahkan pintu tersebut seperti dikunci dari luar, sehingga membuat para pekerja itu pun kesusahan.


"Sial! Mau mereka apa sih?" gerutu Aziz kesal.


"Mereka mau memakan kita dan ingat jangan sampai berpencar. Kita harus tetap bareng. SSpai kita bener-bener bisa keluar dari susana menjengkelkan ini," ucap Aziz mengingatkan.


Berbeda dengan Albert, Aziz dan Yani malah sibuk dengan ponsel mereka. Karena diam-diam, mereka berdua mendapatkan pesan yang mengerikan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2