Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Ternyata


__ADS_3

Perjalanan yang mereka tempuh ternyata sangat lama dan melelahkan, sehingga orang-orang yanga da di dalamnya sampai tertidur. Tanpa terkecuali Albert.


"Lu kalo ngantuk tidur aja, Al. Gue tau kok kalo lu capek. Udah tidur aja, yang lain juga udah pada ngorok, tu!" ucap Frans.


"Nggaklah, gue temenin lu. Kita ngobrol aja." Albert terlihat membetulkan posisi duduknya. Agar terasa lebih nyaman.


"Emm, Al, lu ngrasa nggak kalo mereka nyembunyiin sesuatu dari kita?" tanya Frans, curiga.


"Pastilah, wajah mereka begitu tegang. Mana mungkin nggak terjadi apa-apa," jawab Albert.


Suasana hening sejenak. Frans masih berusaha menyusun kata untuk ia sampaikan pada Albert. Ia takut, kalau saat ini yang berada di sampingnya bukalah Albert yang ia kenal. Melainkan sosok lain. Ki Saseno mungkin.


"Iya juga sih, emmm, Al. Ini elu kan?" tanya Frans, langsung to the poin.


Albert tersenyum, sambil menahan tawa. Namun, ketika ia hendak menjawab, ujung matanya menangkap sesuatu. Sosok wanita itu lagi.


Sedangkan Frans di kejutkan dengan seseorang yang menghadang mobilnya. Tentu saja ia pun langsung menginjak kuat rem mobil, agar tidak terjadi sesuatu yang diinginkan.


"Astaghfirullah... ada apa?" pekik semua orang yang ada di dalam mobil. Spontan semua orang pun bangun.


Suasana semakin mencekam ketika mereka menyadari bahwa ini bukanlah jalan menuju rumah Mayang. Melainkan halaman kantor mereka yang baru.


Tak percaya, mereka semua pun mengucek mata. "Astaga, Al! Kenapa kita balik ke sini lagi?" tanya Frans, mulai cemas.

__ADS_1


"Tenang, Frans. Jangan gugup! Kita lihat apa yang mereka inginkan. Semua, jangan lupa baca surah apapun yang kalian bisa. Jangan ada yang tidur, jangan ada yang melamun. Usahakan kalian tetap sadar dan memegang teman terdekat kita, mengerti!" ucap Albert mewanti-wanti.


Tak satupun yang berani menjawab. Namun, mereka tetap menuruti apapun yang Albert katakan.


Di detik itu, semua orang tak ada satupun yang memejamkan mata. Mereka mulai membaca surah apapun yang mereka bisa.


Gangguan mulai mereka rasakan ketika panas dan gerah menyerah. Mobil yang mereka tumpangi juga seperti digoyang-goyang oleh para mahluk yang ada di sana.


Diam dan membaca doa, hanya itulah yang bisa mereka lakukan dalam keadaan segenting ini.


Suasana semakin terasa mencekam ketika mereka mereka menyaksikan sebuah adegan yang tidak mereka sangka.


Mayang hendak berteriak, namun dengan cepat Yani membekap mulut sahabatnya itu.


Dalam suasana ketegangan itu, mereka melihat seorang wanita sedang di kepung oleh beberapa pria. Lalu dilecehkan. Bukan hanya itu, tangis juga menggema dari dalam rumah. Mereka tak tahan, ingin sekali menolong.


Albert yang tahu itu hanya gangguan untuk mereka, tentu saja langsung melarang. Jika sampai mereka keluar, maka nyawa adalah taruhannya.


"Tidak, jangan ada satupun yang membuka pintu. Ini adalah record kejadian masa lampau. Jangan tertipu oke. Kalian perhatikan model baju wanita itu, itu bukan model baju jaman sekarang," ucap Albert mengingatkan.


Bener saja, baju yang dikenakan oleh wanita yang saat ini sedang dilecehkan oleh beberapa pria itu memang bukan model baju jaman sekarang. Mungkin yang di katakan Albert adalah benar adanya.


Mereka tetap diam, meskipun mereka kasihan. Ingin menolong. Apa lagi kejadian itu terpampang jelas di depan mata. Tangis dan jeritan kesakitan wanita itu menjadi sound yang menghiasi makan mereka. Begitu menyedihkan. Begitu menakutkan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ya Tuhan, biadab sekali mereka!" ucap Mayang marah. Mayang terbawa emosi. Terbawa amarah. Bebeapa kali gadis ini berniat keluar dari mobil. Beruntung beberapa teman berhasil mengingatkannya.


"Mayang, dengarkan aku. Amarah dan dendam adalah makanan yang mereka cari. Dan sekarang kamu memiliki itu. Ingat Mayang, mereka mengincarmu! oke!" ucap Yani, berusaha membuat Mayang tegar menyaksikan adegan mengerikan yang terjadi di depan mereka.


Mayang diam. Lalu bayangan adegan mengerikan itu lama-lama memudar. Lalu tersengar tawa menggelegar memecah keheningan. Barulah Mayang sadar, bahwa apa yang di katakan teman-temannya adalah benar.


"Sabar, May, sabar... " ucap Yani, terus berusaha menjaga sahabatnya ini. Tentu saja, agar gadis itu tidak lepas kendali.


"Tunggu! Itu seperti gadis yang aku lihat menangis di kamar atas," ucap Aziz.


"Yang aku pikir adalah Kinan," tambahnya lagi.


Semua orang yang ada di dalam mobil tersebut pun menatap Aziz dengan tatapan terkejut. Tapi mereka tak mau menyangkal itu. Mungkin sosok itu ingin menyampaikan sesuatu padanya. Pada Aziz atau pada mereka semua.


"Terus, kamu ngalamin apa lagi, Ziz?" tanya Frans, penasaran.


"Aku ngobrol sama kamu sore tadi. Tapi kata Yani, kamu masih di pelabuhan. Aku kan jadi bingung!" jawab Aziz dengan tubuh penuh peluh karena gugup.


"Astaghfirullah, Al! Gimana ini?" tanya Frans.


Sayangnya, Albert tak menjawab. Sosok yang yang masuk ke dalam tubuh Albert tadi sore kini datang lagi. Sedang menatap penuh amarah di sekeliling mobil yang mereka tumpangi.


Ada apa lagi ini? batin mereka serempak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2