Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Kuntilanak Berbaju Pink


__ADS_3

Semua orang saling menatap. Menatap heran ke arah Aziz yang tiba-tiba membawa cerita aneh dan tak masuk akal kepada mereka.


"Elu salah orang kali, Ziz. Udah, balik lagi kerja. Nggak ada apa-apa. Bismillah aja," ucap Hilda, mencoba menjadi penengah antara Aziz dan Kinan.


"Serius Kin, elu nggak ke mana-mana?" tanya Aziz lagi, memastikan.


"Serius, Ziz. Ngapain gue boong. Kan semua udah bilang, kalo sedari tadi gue di mari," jawab Kinan, ngotot.


"Ya, Allah... terus, tadi siapa ya?" gumam Aziz, merasa aneh


Masih dengan kebingungannya, Aziz pun melangkah menuju tempat duduknya.


Keanehan kembali terjadi di sini, saat melewati meja kerja Yani, tak sengaja Aziz melihat Yani sedang video call dengan Frans.


"Eh, ngapain kalian video call-an. Kan dia udah dateng, tinggal tunggu dia masuk di mari aja sih! atau gue panggilin!" protes Aziz.


Spontan, Yani pun menoleh ke arah Aziz. "Maksudnya udah dateng? Gimana? Orang ini dia laporan barang baru sampai. Ini dia masih di bandara, Ziz. Ah elu makin ngaco aja!" jawab Yani, heran.


Aziz kembali bingung. Lalu ia pun menjelaskan kronologi pertemuannya dengan Frans di teras samping rumah.


"Iya, Frans udah balek kan. No orangnya lagi di teras. Lagi ngrokok!" jawab Aziz.


"Jangan ngawur, deh! Lu lihat sendiri dia baru saja video call ama gue. Report kerjaan Gimana sih?" jawab Yani, sedikit tidak suka.

__ADS_1


"Ehh, beneran Yan. Lagian ngapain apa gue boong. Orang tadi kita ngrokok bareng. Rokok juga masih gue tinggal di samping. Kami ngobrol lama juga. Orang dia cerita, katanya udah lelah. Pengen resign. Akhirnya, dari pada resah, galau-galau nggak jelas gitu, ya gue suruh makan. Pasti dia sekarang lagi makan. Meh...kita ke dapur, pasti dia lagi makan," jawab Aziz tak mau kalah.


"Tapi, Wak... aneh nggak sih, mana mungkin si Frans balik ke Pelabuhan secepat itu. Pelabuhan bukan di samping rumah. Untuk sampai ke sana, Frans harus menempuh jarak satu jam. Itu pun mesti naik mobil agak tinggi. Kan kita tahu jalanan depan banjir, ya kan. Nggak mungkin dong dia naik motor!" jawab Lian, mencoba mematahkan argumen Aziz.


"Astaga! Gue nggak boong, An. Gue ngrokok, bener-bener kami ngrokok bareng. Terus gue suruh dia makan. Pasti sekarang lagi dia makan. Ayo kalo kalian nggak percaya, mari kita ke dapur!" ajak Aziz masih berpegang pada pemikirannya.


Penasaran, semua orang pun mengikuti langkah Aziz.


Sesampainya di dapur, tak ada satu orang pun di sana. Namun, mereka semua melihat makanan yang di bawa oleh Mayang, habis ludes tak bersisa.


"Tu lihat, makanannya nggak ada kan? Nggak percaya sih kalian? aahhhhhh... " jawab Aziz, sedikit marah. Kesal, Aziz pun meninggalkan kelima temannya.


Yani, Kinan, Mayang, Lian dan juga Hilda hanya tertegun tak mampu menjawab kemarahan Aziz. Namun, mereka juga tak berani menduga-duga. Mengingat tak ada orang lain selain mereka di rumah ini.


Sesuai arahan Hilda, mereka pun kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Tepat pukul lima sore, hujan mulai reda. Namun mereka masih belum bisa pulang. Air masih menggenang sebatas lutut. Di samping itu, ke empat teman mereka juga belum kembali. Terpaksa mereka pun menunggu di tempat itu.


Sambil menunggu teman-teman datang, mereka memutuskan menunggu di ruang tamu.


Mungkin kebanyakan makan sambal, Mayang sakit perut. Ia pun izin ke kamar mandi.


"Hati-hati, nanti ada itu ... " canda Lian.

__ADS_1


"Ih, apaan sih An... ngeselin deh!" jawab Mayang, kesal.


Tak ingin pikirannya terpengaruh oleh candaan Lian, Mayang pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Namun, ketika ia memasuki sebuah lorong. Kakinya terhenti. Tubuh Mayang berubah kaku. Tak bisa jalan maupun berbalik.


Astaghfirullah, ada apa denganku, Ya Allah tolong.... teriak Mayang dalam hati. Sebab gadis ini tak bisa mengeluarkan suara.


Berkali-kali Mayang mencoba berteriak, ingin meminta tolong pada teman-temannya, tapi gagal, rasanya berat, sungguh berat.


Hampir lima menit Mayang merasakan terbelenggu seperti itu. Hingga tak sengaja, ujung matanya menangkap sesok kaki menggantung di samping kiri tubuhnya.


Mayang tahu, jika itu pasti bukan manusia. Takut namun penasaran.


Mayang pun menggerakkan matanya. Mencari tubuh pemilik kaki yang ada di samping kirinya.


Jantung Mayang semakin berdetak kencang mana kala ia menemukan tubuh wanita itu melengkung di atas kepalanya.


Ingin rasanya ia berhenti mencari tahu, namun rasa penasaran kian kuat membelenggu perasaannya. Mayang ingin menemukan wajah sesok itu.


Tatapan Mayang berhenti tepat di tembok sebelah kanan. Ternyata kepala sosok itu ada di samping kanan tubuhnya. Sedang menatapnya. Dengan mata merah mengerikan, wajah meleleh dipenuhi belatung.


Tak sanggup lagi bertahan dalam ketakutan, akhirnya Mayang pun terjatuh lalu pingsan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2