
Ternyata bukan hanya Yani yang melihat wanita itu di sana. Albert yang notabene bisa merasakan bahkan bisa berkomunikasi dengan mahluk seperti itu pun tahu, jika wanita itu ada di sekitar mereka.
Albert langsung memberi kode pasa Frans. Agar mendekati Yani. Sebab target wanita itu adalah Yani.
"Frans, jaga Yani," ucap Albert.
Frans paham dengan perintah itu. Jika Albert sudah memberinya perintah berarti ada yang sedang tidak beres dengan teman-teman mereka.
Frans langsung melangkah mendekati Yani. Membacakan ayat suci Al-Quran yang ia bisa. Lalu meniupkan nya di ubun-ubun Yani. Barulah sahabat nya itu bisa berkedip dan sadar dari lamunan. Sehingga tidak terhanyut oleh tatapan hipnotis yang dilakukan mahluk itu.
"Kamu oke, Yan?" tanya Frans pada Yani.
"Ya, astaghfirullah hal azim... astaghfirullah ya Allah. Frans, apa kamu melihatnya?" tanya Yani, dengan suara yang sangat lirih.
"Tidak, aku tidak sepeka kamu dan Al. Emang kamu lihat apaan Yan?" balas Frans.
Melihat ketidak beresan kedua sahabatnya, Aziz pun mendekati Yani dan Frans. "Ada apaan, Bro?"
"Ah, enggak... Yani kebanyakan ngelamun. Udah, lu balik kerja aja. Ingat ya, Ziz... jangan ngelamun. Tetap jaga kesadaran. Kamu tau kan, tempat ini ada yang nggak beres?" ucap Frans mengingatkan.
"Ya, aku paham!" jawab Aziz, kemudian ia pun memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan Frans masih berada di samping Yani. Albert masih belum mengizinkannya kembali. Albert masih terlihat diam. Mungkin dia masih berusaha bernegosiasi dengan mahluk yang saat ini sedang mengincar Yani.
Keadaan itu di sadari oleh Mayang dan Kinan. Namun tidak teman mereka yang lain. Sebab mereka belum mengalami hal se ekstrim yang mereka lalui semalam.
Beberapa detik berlalu, akhirnya negosiasi pun berakhir. Albert mengizinkan Frans kembali ke tempat duduknya.
Namun, kejadian aneh kembali terjadi. Tiba-tiba saja Yani terjatih dari tempat duduknya. Pria itu tiba-tiba kejang. Membuat semua orang yang ada di sana pun gugup.
"Astaga, Yan.. Yani... Yani!" panggil Mayang, sebab Mayang lah yang berada dekat dengan meja kerja Yani.
__ADS_1
Semua orang pun sepakat membawa Yani ke ruang tamu. Tentu saja agar Yani mendapatkan udara dan segera sadar.
Yani sudah berhenti kejang. Namun pria itu tak kunjung sadar. Padahal temab-temannya sudah berusaha membangunkan. Hingga mereka pun panik.
Di dalam alam bawah sadar. Yani kembali bertemu dengan wanita itu di sebuah taman bunga yang indah.
Wanita itu mengajaknya berbincang. Seperti seorang pada temannya.
"Apa kamu suka padaku?" tanya wanita itu.
"Suka, kamu cantik," jawab Yani, sebab ia lupa bahwa sebenarnya wanita itu hanyalah mahluk yang menganggunya.
"Benarkah? Apakah aku cantik? Jangan bohong ya, dosa loh?"
"Tidak! Kamu memang cantik. Nama kamu siapa?" balas Yani.
"Namaku ya, namaku Marina... " wanita itu tersenyum manis.
"Ohh, kamu tinggal di mana?" tanya Yani.
"Tentu saja, asalkan aku bisa hidup bersamamu, kenapa tidak?" jawab Yani.
"Baiklah, yuk ikuti aku!" ajak wanita cantik itu seraya menarik tangan Yani.
Yani tersenyum lalu ia pun menuruti ajakan wanita itu. Sayangnya, ketika ia hendak melangkah Yani mendengar suara kelima temannya menanggil namanya. Mencarinya.
"Itu teman-teman ku, maaf ya aku samperin mereka dulu!" ucap Yani.
"Ih jangan, ayik!" paksa wanita itu.
Melihat wanita itu kasar dan wajahnya berubah mengerikan, spontan Yani pun melepaskan paksa tangannya dan berlari menjauh dari wanita itu.
__ADS_1
Beruntung, di alam mimpi itu ia bertemu dengan Albert. Dengan cepat Yani segera menyambut uluran tangan Albert. Dan Albert berhasil membawanya kembali ke alam nyata.
Yani terbatuk. Lalu ia pun sadar.
"Alhamdulillah.... " ucap semua orang yang ada di ruang tamu itu. Bersyukur atas kembalinya Yani dari pingsan.
"Astaghfirullah... ada apa?" tanya Yani bingung. Ditatap nya satu persatu temannya. Sebab ia heran. Kenapa mereka berada di ruang tamu. Bukan di meja kerja mereka.
"Ada apa ini?" tanya Yani bingung.
"Ada apa pula, tadi elu pingsan tau. Dibangunin nggak bangun-bangun. Mana ngorok lagi," ucap Lian kesal.
"Sorry, gue nggak ingat." Yani mengusap kasar air wajahnya. Berusaha mengatur detak jantungnya. Sebab ia tau ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
"Al, bisa kita bicara?" pinta Yani.
"Tentu," jawab Albert.
Semua orang terlihat heran dengan Yani, terutama pada Albert. Albert sangat tidak suka berbincang. Tapi lihatlah sekarang, begitu Yani meminta berbincang pria itu langsung menyetujui tanpa menolak seperti biasa.
Yani dan Albert pun memutuskan untuk duduk di teras dan berbincang perihal apa yang ia alami barusan.
"Sorry kalo gue ganggu elu, Al. Bisakah elu jelasin situasi ini ke gue?" tanya Yani, serius.
"Nggak ada yang perlu gue jelasin, Yan. Elu kan udah tau, udah ngalamin juga," jawab Albert to the poin.
"Siapa wanita itu, Al?"
"Dia penghuni di sini, Yan. Arwah penasaran. Dia suka ama elu. Dia ngincer elu. Tapi lu tenang, gue bakalan bantu elu. Asal lu jangan lupa berdoa, jangan ngelamun, jangan ngikutin apa yang dia mau. Tolong tolak terus. Jika tidak, aku pun nggak bisa nolong kamu," jawab Albert jujur.
"Astaghfirullah hal azim. Kenapa bos milih tempat begini buat kita kerja, Al? Bingung gue?" tanya Yani, kesal.
__ADS_1
Albert tak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebab diam-diam Albert kembali berkomunikasi dengan seseorang yang saat ini ada di samping Yani.
Bersambung...