Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Giliran Mayang


__ADS_3

Hujan masih mengguyur kawasan itu. Kinan tak berani duduk di meja kerjanya sendiri. Ia pun memilih duduk di sebelah Yani. Menempati meja kerja milik Albert.


"Yan, elu nggak keberatan kan gue ada di sebelah elu?" tanya Kinan, dengan keadaan emosi yang masih belum stabil.


"Iya, Kin, nggak pa-pa. Udah kerja, nggak usah mikir macem-macem," jawab Yani, berusaha membuat Kinan nyaman. Padahal, dia sendiri juga merinding.


Diam-diam ternyata Yani juga melihat sosok itu dari ujung matanya. Sosok yang dilihat Kinan di layar monitornya. Yani yakin, sebab sosok itu sama persis dengan apa yang di sampaikan oleh Kinan. Dan sosok itu kini ada di sebelahnya. Sedang menatap mereka berdua dengan tatapan tak suka.


Di ruangan itu, hanya Aziz yang tenang. Karena hanya dia yang tak peka atau lebih tepatnya hanya dia yang belum diganggu.


Tiga puluh menit berlalu, ketiga teman mereka yang bertugas mengurus surat izin untuk gudang baru, sudah kembali.


"Assalamualaikum... " ucap mereka bertiga serempak. Dengan wajah senang tentunya, karena pekerjaan mereka tidak mengalami kendala sedikit pun.


"Waalaikumsalam... gimana aman?" jawab Aziz. Sedangkan Kinan dan Yani hanya menyambut kedatangan ketiga teman mereka itu dengan senyum.


Mayang yang merasa aneh dengan kedua temannya itu, tentu saja langsung bertanya, "Kalian berdua kenapa, Wak? Kalian sakit? atau masuk angin?"


"Nggak, aku sih baik. Kamu gimana, Kin?" jawab Yani, kembali melirik sesok wanita yang terus menatap tak suka padanya.


"Gu- gu- gue juga baik," jawab Kinan, gugup. Karena ia kembali merasakan keanehan di ruangan ini.


"Syukur deh, eh Wak. Keknya Frans salah deh. Katanya kawasan ini bebas banjir. Apaan! No di depan got udah meluber. Untung motor gue nggak mogok tadi. Belum lagi di jalan raya, jalannya buruk begitu. Astaga!" gerutu Lian, kesal.

__ADS_1


"Benarkah? Kalo ujan nggak reda, alamat kita nginep deh," saut Aziz.


"Nginep juga nggak pa-pa, Wak. Ntar gue masakin," ucap Hilda.


"Serius?" tanya Aziz, antusias.


"Iye, tenang aja. Yang penting ada bahannya, Wak!" jawab gadis itu.


"Ada, ama Frans udah di penuhi tu. Buat jaga-jaga kalo lagi pengen masak. Mi instan juga ada kan?"


"Ada kok, gue tulis kemarin pas anak-anak yang mindahin barang minta uang belanja," jawab Kinan, selalu admin di kelompok mereka.


"Tu, logistik kita aman pokoknya. Adminnya siapa dulu dong!" balas Mayang, dengan candaan khasnya. Serempak mereka pun tertawa senang.


"Oke deh, gue yakin kalian bertiga udah pasti lagi nahan lapar. Sebaiknya kalian bertiga makan. Sebelum didemo ama anakonda yang ada di usus klean. Gue ambilin piring sekalian ya, minum udah pada ada belon?" tanya Mayang, semangat.


"Duh baiknya, makasih banyak ya, Wak. Tau aja kita gemeteran gegara laper. Lu baik amat sih, Wak. Semoga cepet ketemu jodoh deh," jawab Aziz, sedikit becanda.


"Aamiin, makasih doanya, Wak! Semoga para malaikat dengar dan ikut ngaminin doa elu," jawab Mayang seraya melangkah menuju dapur Tentu saja untuk mengambilkan piring untuk ketiga temannya itu.


Namun, di tengah jalan, langkah Mayang terhenti. Karena ia menciuma aroma yang kurang sedap di sana.


"Bau apa ini? Kek bau mayat. Eh, mayat, bau ******. Masak di rumah sebagus ini ada mayat. Ada-ada aja, aku oh aku!" gumam Mayang, mencoba menghibur dirinya sendiri.

__ADS_1


Mayang kembali melanjutkan perjalanannya. Namun, semakin langkahnya dekat dengan dapur, aroma tak sedap itu semakin tajam. Merasa tak nyaman, Mayang pun meminta salah satu temannya untuk datang kepadanya dan membawakan racun serangga.


"Hil.. Hilda, sini dong. Tolong bawain Hit sekalian. Keknya di sini ada bangkai tikus ni!" pinta Mayang dengan suara agar keras.


"Emang ada apaan?" tanya Hilda sembari melonggok dari pintu ruangan di mana dia berada.


"Keknya ada tikus mati di dapur. Bauuuu nyaaa... huekkkk!" jawab Mayang, tak tahan.


Kasihan melihat Mayang hampir minta, Hilda pun segera berlari sembari membawa racun serangga yang diinginkan Mayang.


Namun, ketika Hilda sampai di tempat Mayang berada. Bau itu seketika hilang. Hilda pun kesal. "Mana sih, nggak ada bau apa pun! Lu canda gue ya?" tanya Hilda, geram.


"Eh, kok tiba-tiba hilang. Tadi ada Hil, sumpah dah. Masak gue boong. Lu lihat sendiri gue tadi mau muntah. Maunya macam.... macam... macam tikus mati, eh bukan kodok mati, ahhhh... pokoknya anyir gitu lah. Kek mayat yang udah berhari-hari gitu loh," jawab Mayang menjelaskan.


"Iya, serah elu.. nih! Dasar tukang halu!" jawab Hilda lagi, sembari menyerahkan racun serangga itu ke tangan Mayang.


Mayang menerima botol racun serangga itu. Menatap kepergian sahabatnya itu dengan tatapan bingung. Merasa aneh dengan kejadian yang baru saja ia alami.


Penasaran, Mayang pun kembali mengendus-endus bau yang menganggunya tadi. Memastikan indra penciumannya. Hasilnya nihil. Aroma tak sedap itu sudah tak ada.


"Mungkin Hilda benar, gue cuma halu. Dah ah... " ucap Mayang berusaha menepis pengalaman aneh itu. Tak ingin termakan prasangka buruk, Mayang pun kembali melangkah masuk ke dapur untuk mengambil peralatan makan untuk ketiga sahabat itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2