Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Sepakat


__ADS_3

Braaakkkk....


Terdengar benda jatuh dari arah dapur.


"Apa itu?" tanya Kinan.


"Mayang!" pekik kelima teman mereka.


Penasaran, keenam anak tersebut pun lari ke arah belakang. Betapa terkejutnya mereka. Karena melihat Mayang kejang.


"Astaghfirullah hal azim... " ucap mereka serempak.


Gugup, Yani punya langsung membisikan bacaan-bacaan yang dia bisa, tepat di telinga Mayang.


Beberapa detik kemudian, Mayang berhenti kejang. Namun, gadis itu malah pingsan.


"Sebaiknya kita bawa dia ke ruang tamu," ajak Yani. Sembari berusaha mengangkat tubuh Mayang dari tempat gelap itu. Anehnya, Yani tak kuat mengangkat tubuh itu sendirian. Padahal, di banding temen cewek yang lain, Mayang termasuk yang paling kecil.


"An, gue nggak kuat. Berat banget njiiir!" ucap Yani, kesusahan.

__ADS_1


Spontan, keenam temannya pun turun tangan. Mereka bekerja sama memindahkan Mayang dari tempat tersebut. Benar saja, ketika mereka mulai mengangkat, mereka merasakan sesuatu yang lain.


Tubuh Mayang berasa sangat berat. Melebihi berat normal tubuh gadis itu.


Sesampainya di sofa dan merebahkan tubuh Mayang di sana, mereka bertujuh langsung menjatuhkan tubuh mereka di manapun berada. Kelelahan, seperti itulah yang mereka rasakan.


"Ada minyak kayu putih nggak, atau apa kek gitu?" tanya Kinan, pada teman-temannya.


"Di tas gue ada, Wak. Tapi gue jadi takut!" jawab Hilda, parno.


"Yuk, gue temenin!" ucap Kina dan Lian.


Saling berbagi tugas, separo dari mereka menjaga Mayang dan separonya lagi mengambil minum dan minyak kayu putih untuk gadis itu. Sedangkan Yani terus membacakan ayat-ayat suci Al-Quran yang ia percaya bisa mengusir pengaruh mahluk halus pada tubuh manusia.


Mayang menangis ketakutan. Ingin bercerita. Tetapi lidahnya kelu. Semua kata seakan berhenti di tenggorokannya. Mayang kelewat ketakutan.


"Sudah, sudah, tenangkan dirimu. Kami semua ada bersamamu. Setelah lampu menyala dan teman-teman kita yang dari pelabuhan dateng, nanti kita anter lu pulang, oke," ucap Yani mengingatkan.


Jarum jam terus berjalan. Namun, mereka merasakan waktu seakan berhenti di detik itu itu saja. Suasana di rumah itu berasa sangat sepi. Bahkan untuk suara binatang malam pun tak ada. Hanya

__ADS_1


"Ayo minum dulu, lupakan apa yang kamu alami. Bacalah doa, jangan lupa istighfar. Oke!" ucap Yani mengingatkan. Mayang mengambil air itu lalu mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian, lampu menyala. Rumah terasa terang benderang. Serempak semua orang yang ada di sana pun berucap syukur. Tanpa terkecuali Mayang.


"Aku takut, Yan," ucap Mayang.


"Iya, kita tahu. Elu lihat apaan tadi emang?" tanya Yani.


"Entah itu apaan, Yan. Tapi serem banget. Seperti kuntilanak. Tapi tua, bajunya pink, rambutnya panjang tubuhnya belok-belok, wajahnya rusak, penuh belatung dan matanya merah, melotot, seperti orang marah," jawab Mayang lirih. Sebab ia takut, mahluk itu akan datang lagi mendekati mereka.


Semua orang yang mendengar cerita Mayang pun merinding. Terutama Kinan. Sebab ia lah orang pertama yang mengalami keanehan di rumah ini.


"Sudah, sudah, aku tahu ada yang tidak beres di sini. Tapi kita tak mungkin mengeluh. Apa lagi melaporkan kejadian ini pada Pak Sam. Apa kata beliau nanti, masak ini baru hari pertama kita usah nyerah. Nanti kita kira nggak serius kerja," ucap Yani. Semua teman hanya dia mendengarkan ucapan pria itu.


"Lalu kita mesti gimana?" tanya Kinan.


"Kita dah keganggu banget, Yan! Kalian percaya kan kalo aku pun nggak ngada-ngada. Aku beneran lihat Kinan nangis di atas. Aku juga ngrokok and ngobrol bareng sama Frans di samping rumah," ucap Aziz tak mau kalah.


"Iya aku tau, seharian ini aku sendiri juga di awasi mbak-mbak. Dia sama persis kek yang Kinan lihat di monitor komputernya. Tapi ya udahlah, mungkin mereka mau kenalan. Sebaiknya kita positif thinking aja. Kalo bisa, apa yang kita alami ini jangan sampai kedengeran Ken. Kita tau kan, dia anak bos. Nggak enak lah kalo sampai dia berpikir kita jelek-jelekin rumah ini," pinta Yani mengingatkan.

__ADS_1


Tak ada satupun yang menjawab ucapan Yani. Namun mereka mengerti apa yang Yani maksud. Mereka sepakat untuk menjaga rahasia ini. Selama mereka masih bisa menyimpannya.


Bersambung...


__ADS_2