Teror Rumah Kosong

Teror Rumah Kosong
Bukan Al


__ADS_3

Di lain pihak, Albert yang mengetahui apa yang terjadi seharian ini pada para sahabat-sahabatnya di kantor berhantu itu, tentu tak tenang. Pemuda itu terlihat sangat resah.


Apa lagi, Albert sangat peka dan bisa mendengar bisikan-bisikan gaib yang mengancam para teman-temannya di sana.


"Lu ngrasain sesuatu lagi, Al?" tanya Frans.


"Ya, mereka yang ada di sana terancam, Frans. Sebaiknya kita cepat balik dan suruh mereka segera pulang," jawab Albert.


"Mana boleh, Al. Kerjaan kita belum kelar!" larang Frans.


"Apakah pekerjaan ini lebih penting dari nyawa mereka, gila aja lu," jawab Albert marah. Menatap Frans kesal. Seperti buka sosok Albert yang Frans kenal.


"Bukan begitu, Al. Lu kan tau gimana pak Sam?" jawab Frans, mencoba meredam emosi Albert.


"Bodo amat, gue nggak peduli. Kalo sampai ada salah satu di antara mereka yang kenapa-napa, gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri, Frans. Karena gue tau, tapi gue diem aja. Nggak nglakuin apa-apa! Itu bakalan jadi kesalahan terberat gue, Frans. Ngerti nggak sih lu" balas Albert, kesal. Berkali-kali Albert terlihat menahan sesuatu. Seperti menolak sesuatu yang hendak mampir ke dalam raganya.


"Iya, gue tau. Sebaiknya kita telpon mereka. Kita tanyakan, apa terjadi sesuatu sama mereka? Oke!?" bujuk Frans, takut.


Melihat gerak-gerik Albert yang mulai berubah. Frans tahu, jika sahabatnya ini sedang berperang melawan sesuatu di dalam raganya.


Di detik berikutnya, Albert terlihat lemah. Tubuhnya oleng. Dengan cepat ia pun meminta Han dan Vian menopang tubuh sahabat mereka ini.


Frans tak ingkar, ia pun segera menghubungi salah satu teman yang ada di sana. Sayangnya, tak ada satupun yang mengangkat telpon. Membuat Albert kesal.


"Biarkan Han dan Vian di sini, kita balik!" ajak Albert, tak sabar.


"Oke, kita balik dulu. Sabar ya sabar," jawab Frans. Padahal Frans takut jika hanya berdua dengan Albert. Alasannya sama, ia tahu bahwa saat ini dia sedang tidak berdebat dengan Albert yang asli. Melainkan Albert yang ini sudah di kuasai sosok mahluk lain.


Frans meminta Han dan Vian membantunya memapah Albert. Membawa raga sahabatnya itu masuk ke dalam mobil.


Saat memapah Albert, Han agak sedikit curiga, karena Albert jalannya agak sedikit pincang. Tidak seperti biasanya.


"Frans, si Al kenapa? Kok jalannya aneh. Dia kesleo," tanya Han, curiga.

__ADS_1


"Sebenarnya gue takut bawa Al dalam kondisi seperti itu," jawab Frans jujur.


"Kenapa?" tanya Vian, bingung.


"Apa kalian tau, itu bukan Al yang sesungguhnya," jawab Frans jujur.


"Maksud elu? jangan ngaco Frans," saut Vian yang notabene penakut.


"Lu pikir gue boong. Lu lihat aja matanya kalo nggak percaya. Lu cium aroma parfumnya kalo nggak percaya. Berbeda kan sama Al yang asli, ini bau melati, kan?" jawab Frans emosi.


Han dan Vian saling menatap. Mereka heran. Namun tidak berani menyangkal apa yang Frans ucapkan. Sebab apa yang Frans ucapkan adalah benar adanya.


"Oke, gue balik dulu. Gue takut sosok yang ada di dalam tubuh Al, ngamuk. Kalian jaga barang ya, ingat laporkan semua dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan atau riwayat kita akan habis bersama," ucap Frans mewanti-wanti sebab ia sangat tau bagaimana konsekuensi jika melakukan kesalahan.


"Baik, Frans. Kita bakalan jaga. Tapi gue khawatir ama elu!" ucap Vian.


"Nggak pa-pa. Selama gue bisa ngambil hatinya, Insya Allah gue aman. Do'ain gue ya, yang gue bawa nggak main-main ini," ucap Frans.


"Oke! Assalamualaikum!" ucap Frans.


"Waalaikumsalam salam," jawab keduanya serempak.


Tak ingin membuat Albert marah, Frans pun segera masuk ke mobil dan duduk tenang di kursi kemudi.


"Jangan lewat jalan biasa. Lewat tol saja," ajak Albert.


"Tol... oke!" jawab Frans menurut. Padahal, untuk sampai ke tujuan mereka, sama sekali tidak ada akses tol untuk sampai ke sana.


Ya Allah, Al mulai ngawur, batin Frans. Namun ia tak berani membantah. Alasannya tetap sama, ia takut sosok yang ada di dalam tubuh Albert saat ini mengamuk.


Baru lima menit Frans melajukan kendarannya. Albert memintanya memejamkan mata. Awalnya Frans ingin menolak, karena berbahaya. Namun ia tak berani.


Pasrah, hanya itulah yang bisa Frans lakukan.

__ADS_1


Entahlah, rasa takut ternyata bisa membangkitkan jiwa penurutnya. Alhasil, setelah Albert memintanya membuka mata, mereka sudah sampai di depan kantor baru mereka.


Tak ayal, Frans pun terkejut. Sekali lagi, ia tetap tak berani bertanya.


Albert masih diam. Menunggu Frans membukakan pintu untuknya.


Seakan paham, Frans pun segera menghampiri Albert dan membantu sahabatnya itu untuk turun dari mobil.


"Pelan-pelan, Al!" ucap Frans perhatian.


"Al Al, aku bukan Al!" bentak Albert.


Spontan Frans pun merinding. Namun, ia tak mungkin meninggalkan raga sahabatnya seorang diri. Dengan hati-hati, ia pun tetap memapah raga Albert.


"Maafkan saya, Mbah, kalo boleh tau saya mesti manggil mbah siapa?" tanya Frans.


"Panggil aja aku Ki Saseno!"


"Baik, Ki.. maafkan saya," jawab Frans.


Kini mereka berdua pun sudah sampai di depan pintu. Frans langsung membuka pintu itu. Tampan di ruang tamu teman-teman mereka menatap mereka dengan wajah pusat pasi. Seakan habis mengalami kejadian mengerikan.


"Frans, Al.. kalian sudah kembali!" sapa Lian. Sedangkan yang lain tak berani menyapa. Mereka trauma. Takut yang mereka lihat saat ini adalah sosok astral yang menyamar.


"Iya, kami dah balik. An, bantu gue An!" jawab Frans, segera meminta bantuan Lian, karena tubuh Albert berasa sangat berat.


Setelah mempersilakan Albert duduk. Frans pun segera mendekati teman-temannya yang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kalian kenapa? Kalian Oke kan?" tanya Frans.


Mereka semua menjawab dengan gelengan kepala. Tak ada satupun yang berani bercerita. Sebab mereka telah sepakat. Sepakat untuk menyimpan rapat apa yang mereka alami. Terlebih pada Frans. Karena Frans sangat dekat dengan Ken. Mereka takut Frans akan menyampaikan apa yang mereka alami pada Ken.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2