
"Kita nggak bisa protes, Yan. Kita harus bisa menyadari bahwa di sini kita kerja. Kita bisa apa kalo begitu. Yang penting sekarang kita fokus pada kerjaan aja. Kalo ada apa-apa kita tanggung bareng. Soalnya yang kita hadapi nggak main-main. Kita lawan mereka sama-sama. Jangan mau kalah, kita lebih mulia dari mereka. Oke!" ucap Frans, sembari menepuk pundak sahabatnya ini.
Sedangkan Albert terlihat berkeringat. Frans sangat tau bahwa sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja.
Entah apa yang sebenarnya terjadi. Yang Frans tau, menjadi Albert sangat tidak mudah. Ia harus berkomunikasi dengan dua sisi yang berbeda.
Beberapa detik kemudian, Albert telah kembali menjadi Albert yang pendiam. Tanpa berucap apapun pada sahabat-sahabatnya, Albert langsung kembali ke ruang kerja. Dan kembali bekerja seperti biasa.
Membuat Frans, Yani dan beberapa orang yang ada di sana melongo di buatnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Kinan.
"Entah! Tapi ku rasa memang ada yang nggak beres dengan tempat ini. Sebaiknya kita jaga diri. ingat jangan ada yang melamun. Terus jangan sendirian. Penghuni di sini barbar semua. Kita nggak boleh anggap enteng, oke!" ucap Frans memperingatkan.
"Frans, kamu kan dekat dengan Ken, apakah nggak sebaiknya kamu cerita kejadian ini sama dia. biar dia sampaikan ini sama pak sam. biar ada solusi!" Pinta mayang.
"Iya May, aku udah pikirin itu. Nanti gue pasti ceritakan ini. Tunggu kita selesaikan kerjaan dulu. Ntar sore gue ke tempat Ken deh. ya.. yuk kita balik ke ruangan!" ajak Frans.
Namun ketika mereka hendak melangkah terdengar jeritan seseorang dari arah kamar mandi.
Ternyata itu salah suara Tya. Tya adalah sahabat Kinan. Hari ini dia dapat tugas mengambil beberpa berkas di kantor ini. Namun ia belum tau cerita menyeramkan di tempat ini. Itu sebabnya ia berani pergi ke kamar mandi seorang diri.
Mendengar jeritan itu, semua orang pun segera berlari ke arah suara.
"Ada apa, Ty?" tanya Kinan gugup.
"Ha... ha... ha... Astaga... astaghfirullah... apa. itu tadi... gue.. gue... Ya Allah!" ucap Tya terbata, sangking gugupnya, sangking takutnya.
"Tya, ada apa? elu kenapa?" tanya Kinan lagi.
"Gue.. gue... gue tepijak kepala orang, Wak... sumpah! rambutnya panjang kali!" jawab Tya, masih dalam keadaan gugup dan gemetar.
"Ah, elu... mana ada!" ucap Frans berusaha menolak apa yang Tya alami.
__ADS_1
"Serius, Wak... matanya merah, Wak... serius! Nggak boong gue, Wak. Ya Tuhan.... " ucap Tya lagi.
Tak ada lagi yang berani membalas apa yang Tya katakan. Mereka percaya bahwa mahluk itu memang ada dan sedang mengintai keselamatan mereka.
Namun begitu, membuat kondisi tetap kondusif adalah tugas Frans. Pemuda ini pun mendekati Tya dan merangkul sahabatnya itu. Lalu ia pun berkata, " Elu kebanyakan nonton konten horor kali, Wak. Jadi kebawa. Udah sekarang lu mau ambil apa, dah ambil aja. Habis itu cepat balik. Oke!"
"Oke-oke, tapi bener ya, Wak. Tadi itu cuma hayalan gue?"
"Iya, Wak, itu tadi cuma halusinasi lu aja. Udah sekarang lu mau gue anter balik atau gimana?"
"Kalo nggak keberatan tolong anterin gue, Wak. sumpah ni kaki gue masih gemeter Gue tahu kenapa-napa di jalan!"
"Oke, ayuk gue anter. Sekalian gue juga mau ke pusat. Mau ada perlu!"
"Makasih banyak, Wak. Thank u pokoknya!" jawab Tya.
Frans tersenyum sekilas.
Walaupun Frans terus menutupi apa yang sebenar terjadi. Namun, Tya sangat yakin jika sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu Oke, Frans?"
"Oke! Tapi boleh nggak elu jangan cerita apapun yang terjadi di kantor cabang dengan orang-orang pusat?" Pinta Frans.
"Ya, asalkan kamu jujur. Apakah kalian pernah mengalami apa yang aku alami?" tanya Tya.
"Ya, dan hampir setiap jam. Tapi kami sedang berusaha cari solusi." Frans masih berusaha fokus pada jalanan yang ada di depannya.
"Kenapa kalian nggak coba ngobrol ama pak Sam, atau ama Ken mungkin!" ucap Tya, masih dalam kondisi gugup
"Iya,Wak, ini aku juga berpikir demikian, aku juga mau kasih tau pak sam saja, atau Ken barang kali!"
"Sebaiknya gitu aja, Frans. Astaga? kenapa kalian nggak minta tinjau ulang aja tempat itu?"
__ADS_1
"Ingin... aku coba cari waktu dulu untuk berbincang dengan pak Sam. Aku takut beliau nggak percaya padaku!" Jawab Frans lagi.
"Emmm, boleh nggak lu cerita, gangguan apa aja yang udah kalian dapatkan. Nanti aku coba bantu cari solusi!" ucap Tya.
"Banyak Wak. Semalam kami tu pulang, tapi pagi tadi nyatanya kami satu mobil masih di tempat itu. Mobil kami masih terparkir di depan rumah itu. Bukankah ini aneh!" jawab Frans, bingung.
"Astaga! Wak, lu serius?" tanya Tya heran.
"Seriusan, Wak... mana mungkin dih aku boong? Kami berenam ngalaminnya kok. Kamu tanya aja ama Kinan. Kalian kan dekat," jawab Frans serius.
"Kalo keadaannya demikian, sebaiknya kita cari info tentang rumah itu, Wak. Sebelum semua terlambat!" ajak Tya, tak kalah serius.
"Bener, Wak. Sebaiknya memang begitu. Tapi gimana caranya? Kamu ada ide apa?" tanya Frans.
"Kita butuh orang ngerti kalo soal ini, Wak. Gimana kalo kita minta keluarga Albert aja buat bantu kita. Elu kan tau kalo rata-rata keluarga tu cowok, orang yang bisa!" ucap TyaTya memberi ide.
"Astaga! Kenapa gue nggak kepikiran sampai sana Wak. Gue cuma ngandelin Al seorang. Nggak kepikiran sama ibunya Al. Oke deh wak, gimana kalo entar malem lu temenin gue, kita Pura-pura antar dia pulang. Terus kita ceritain apa yang kita alamin. Kali aja emaknya dia mau bantu!" ucap Frans semangat.
"Boleh, pulang kerja nanti, kita ketemu di ujung jalan itu aja Wak. Sekalian lu ajak Yani. Elu kan tau kalo tu bocah juga peka. Kali aja kita bisa tau apa yang sebenarnya terjadi." ucap Tya lagi.
Frans menyetujui usul sahabatnya itu.
Setelah kesepakatan itu mereka ambil, Fran pun memutuskan mengirim pesan pada Yani dan mengatakan apa yang telah ia dan Tya sepakati dalam perjalanan mereka menuju kantor pusat.
***
Di kantor cabang, keheningan pun menyelimuti orang-orang yang berada di sana. Konsentrasi demi konsentrasi yang ada di dalam ragam mereka perlahan sirna.
Bagaimana tidak, mata Kinan menangkap sesuatu yang aneh di belakang Aziz. Ia melihat dari layar monitornya, ada dua Aziz di sana.
Tak ingin menciptakan kegaduhan, Kinan pun berinisiatif mengirim pesan di grup chat mereka.
"Wak, kalian lihat ada dua Aziz nggak. Aku lihat di layar monitor ku, ada dua Aziz, Wak! Aku takut!" tulis Kinan, dengan tangan gemetar tentunya.
__ADS_1
Masih dalam ketakutan yang merengkuh nya, Kinan pun memutuskan untuk tetap diam di tempat tanpa kata.
Bersambung...