
Selepas kepergian ketujuh temannya, Kinan dan kedua teman yang lain kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Kinan memilih duduk diam dan tak pergi ke mana-mana. Ia hanya duduk diam dan berusaha keras menepis pengalaman menyeramkan yang baru saja ia alami.
Namun, sayangnya, semakin ia mencoba melupakan bayangan penampakan itu, rasanya bayangan penggalan kepala itu kian intens mengikutinya. Membuat bulu kuduknya merinding sendiri.
Kinan semakin gelisah mana kala ia merasakan ada seseorang yang memainkan rambutnya. Spontan, gadis ayu berambut panjang itu pun kesal. Lalu menuduh seseorang yang ada di belakangnya, pasti pelakunya.
"Jangan becanda napa, Yan!" ucap Kinan, ketus, hingga membuat Yani terkejut.
"Bercanda!? Enggak, aku nggak becanda. Aku nggak ngapa-ngapain," jawab Yani, serius.
"Boong lu ya, lu yang narik-narik rambut gue. Ya kan? Ngaku nggak lu!" tuduh Kinan.
"Ya Allah, Kin. Dari tadi gue chatingan apa pak Sam ama Frans. Pak Sam minta barang kita dibongkar hari ini juga. Masak iya, gue lagi serius kerja, nyandain elu. Ngadi-ngadi aja lu," jawab Yani sembari menggeleng-gelengkan kepala. Sedikit kesal dengan tuduhan tak berdasar itu.
Kinan diam sesaat. Lalu kembali memundurkan kursinya dan berucap pada Yani. Kali ini dengan suara agak lembut. Sebab ia tau, ia telah menyinggung perasaan Yani. Dengan memberikan tuduhan tanpa bukti.
"Yannn... Yaniiii.... "
"Apa lagi?"
"Sorry... tapi beneran kan, bukan elu yang narik-narik rambut gue?" tanya Kinan, memastikan.
"Demi Allah, Kin... gue nggak se iseng itu. Coba lu baca chatingan gue ama pak Sam, ama Frans, lihat jamnya.Tu, baru selang beberapa detik doang dari sekarang. Masak iya, gue serius kerja, ngakak lu becanda. Lagian tangan gue kan nggak nyampek ke rambut elu," jelas Yani, sesuai logika dan kenyataan yang ada.
Terus, siapa yang narik rambut gue ya, batin Kinan.
"Elu ya, Zam. Gue tau elu pasti yang ngadain gue. Ngaku lu!" tuduh Kinan pada Azam yang terlihat sibuk menata berkas-berkas miliknya.
"Napa jadi gue? Pan jarak gue ke elu, lebih jauh," jawab Aziz.
Kina menggaruk kepalanya yang tak gatal. Namun ia yakin, ia tak halu. Ia merasakan benar bahwa ada yang memainkan rambutnya. Beberapa kali mengusap. Beberapa kali menarik.
__ADS_1
"Bener juga sih? Ya udah deh, maaf ya. Mungkin gue kebanyakan ngelamun. Jadi parno gini jadinya," jawab Kinan, sembari tersenyum. Mencoba menutupi rasa takut yang ada dalam jiwanya. Sedangkan Yani hanya mengangguk, mengerti.
Kinan kembali ke meja kerjanya. Lalu memeriksa ponsel miliknya. Membuka pesan demi pesan yang ia terima. Baik pesan pribadi atau pun yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Wak, ini Mayang nge WA, katanya dia ama rombongan udah mau balek. Klean mau titip makanan nggak?" tanya Kinan, pada Yani dan Aziz.
"Gue mau lah, Wak. Malas juga mau keluar. Hari mau hujan pula," jawab Aziz.
"Elu, Yan. Mau delivery sendiri apa mau titip mereka?" tanya Kinan.
"Gue, nitip sekalian juga deh, Kin. Emang mereka mau beli apa?" tanya Yani.
"Mereka lagi di warung Padang katanya, soal menu, klean ketik sendiri ya," jawab Kinan.
"Uwookeyyy!" jawab Yani dan Aziz serempak.
Kinan menyunggingkan senyum. Lalu ia kembali memfokuskan pikiran pada pekerjaan yang sempat tertunda. Menatap layar monitor yang ada di depan mata.
Namun, ketika ia mata indah itu menatap layar monitor, sebuah bayangan nampak terpantul dari layar tersebut.
Terlihat di sana, sosok seorang wanita bermata besar, berbaju merah sedang menatap tajam ke arahnya. Menatap tak suka.
"Astaghfirullah hal azim!!!" pekik Kinan, langsung menjejak meja hingga kursi roda yang ia duduki mundur sendiri. Beruntung Yani langsung menangkap kursi itu.
"Astaghfirullah... astaghfirullah... astaghfirullah... ya Allah... apa itu tadi!" ucap Kinan dengan detak jantung berpacu kencang. Membuat Yani dan Aziz ikut terkejut.
"Ada apaan, Kin?" tanya Yani, ikut panik. Aziz pun sama, pria itu langsung beranjak dan mendekati Kinan yang gemetar.
"Astaghfirullah hal azim.. Ya Allah, Yan! Apa itu tadi, gue takut Yan!" ucap Kinan, sembari menarik lengan kemeja Yani.
"Iya, ada apaan emang? Lu lihat apaan?" tanya Yani.
"Ada mbak mbak matanya besar, melotot ke arah gue, Yan. Ya Allah, gue takut!" jawab Kinan gugup.
__ADS_1
"Udah udan, lu istighfar... istighfar yang banyak. Lu minum ini. Air dari Albert tadi mana. Coba lu minum lagi," ucap Yani, kemudian Aziz pun melangkah mengambilkan botol air itu untuk Kinan.
Kinan menerima air itu, lalu menenguknya. Yani dan Aziz duduk di depan Kinan. Menunggu gadis itu tenang.
Beberapa genit berlalu, setelah Kinan tenang, Yani kembali menanyai temannya itu. "Kamu tadi lihat apaan, Kin?"
"Tadi ada mbak-mbak, pakek baju pink, ah.. merah apa pink, samar, Yan. Tapi melotot ngkiatin gue. Kek marah gitu! Serius, gue nggak boong!" jawab Kinan, menggebu. Karena ia mengatakan itu sesuai yang ia lihat.
"Mungkin dia mau kenalan sama elu, Kin!" ucap Aziz, sedikit becanda.
"Hiii, ogah! serem Ziz. Gila aja kenalan ama barang begituan. Dah ah, gue mau kerja lagi." Kinan memilih melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan kedua pria menjengkelkan itu.
Mungkin Aziz menganggap apa yang dikatakan Kinan hanyalah candaan. Tetapi tidak dengan Yani. Pria ini percaya, bahwa apa yang di katakan sahabatnya ini adalah benar. Sebab ia sendiri juga bisa merasakan bahwa mereka di ruangan ini tidak hanya bertiga. Tapi ada sosok-sosok lain yang memerhatikan mereka.
Yani tak menyampaikan apa yang ia lihat dan rasakan. Sebab ia tak mau membuat kedua temannya ini takut. Yani tak mau membuat suasana di ruangan ini menjadi mencekam dengan keterbukaan.
"Eh, napa diam?" tanya Aziz kepo.
"Ah nggak, semua oke. Udah kerja. nanti kalo pak Sam marah, aku pula yang kena!" ucap Yani.
"Iya, iya.. gitu aja, sih!" jawab Aziz. Kemudian, pemuda ini pun kembali ke meja kerjanya.
Berbeda Aziz berbeda pula dengan Kinan. Mau bagaimanapun, melupakan pengalaman yang baru saja ia alami, tak semudah membalikkan telapak tangan.
Meski beberapa kalo ia mencoba menepis bayangan itu, bayangan itu serasa semakin intim mendekatinya. Membuat Kina kesal sendiri di buatnya.
Untuk menepis rasa takut yang kini menyerangnya, Kinan pun memilih mengirim pesan teks pada sahabatnya, si Tya.
"Ya, lagi ngapain?" tulis Kinan.
"Biasa, lagi kerja. Kenapa kangen? Belum juga ada lima menit kita pisah, Wak?" balas Tya seraya bercanda, seperti biasa.
"Iya, gue tau.. Eh wak.. gue mau cerita ni!" tulis Kinan lagi.
__ADS_1
Sayangnya belum sempat Kinan melanjutkan percakapan mereka. Tya ada panggilan telpon. Sehingga Kinan pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan apa yang ia alami pada sahabatnya itu.
Bersambung...