
Masih di hari yang sama, selepas makan Kinan meminta Yani untuk menemaninya di dapur. Tentu saja untuk mencuci peralatan makan mereka. Tak ada perbincangan di antara keduanya. Sebab keduanya sedang merasakan tak nyaman pada hati masing-masing.
Namun tak berani mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Apa lagi, saat ini Yani masih diikuti sosok wanita yang tadi. Sedangkan Kinan, gadis itu merasa merinding karena ia juga merasa masih ada yang memerhatikan gerak-geriknya. Entahlah, nyatanya Kinan kembali merasakan keanehan itu.
"Sudah, Kin?" tanya Yani.
"Sudah, yuk balik," jawab Kinan.
Keduanya pun kembali ke ruang kerja mereka.
Di dalam ruangan itu, hanya ada dua wanita dan satu pria. Mereka tak melihat Aziz. Yani s
menduga, pasti Aziz merokok. Karena itu sudah jadi kebiasaan Aziz. Selesai makan, biasanya ia pasti langsung merokok.
"Eh, Aziz ke mana?" tanya Kinan.
"Di teras samping, Wak. Mau ngrokok katanya," jawab Mayang.
Tu kan, bener, batin Yani.
Semoga saja dia nggak ketemu sama wanita itu, batin Yani lagi.
"Ohhh," jawab Yani sekilas.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu percuma, Kinan dan Yani pun langsung bergabung dengan ketiga teman mereka. Tentu saja untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang masih menumpuk itu. Sedangkan Aziz ada di teras samping rumah. Sedang menikmati sebatang rokok sambil menikmati suara hujan.
Saat asik menikmati rokoknya, Aziz mendegar suara gaduh di dalam. Mungkin keempat temannya yang pergi ke pelabuhan sudah kembali. Merasa aman, Aziz kembali menikmati suasana dengan sebatang rokok yang menyelip di bibirnya. Dan benar saja, saat ia menyulut rokok kedua, Frans datang menghampirinya.
"Wehhh, Bro enak bener hidup elu. Nggak kehujanan. Malah di sini menikmati hujan. Syahdu bener dah ah hidup lu!" sapa Frans, bercanda, seperti biasa.
"Wehhh, bener banget, Bro. Habis mau apa lagi, bukankah hidup memang harus dinikmati. Udah balek aja, Bro. Gimana? Pelabuhan aman?" balas Aziz, akrab seperti biasa.
"Aman, semua aman. Bagi rokok dong!" pinta Frans, Aziz pun menyerahkan sebungkus rokok dan korek api itu kepada Frans. Lalu pria itu segera menyulutnya.
"Katanya di sini bebas banjir, Bro. Tapi lihat, tu air aja udah masuk sini," ucap Aziz.
"Tau lah, Bro. Gue mana tau. Kan yang bilang begitu pak Sam," jawab Frans, santai.
"Okelah, silakan lu nikmati hidup Lu. Gue masuk dulu ya. Masih ada banyak kerjaan yang musti gue kerjain. Lu udah makan belon?" tanya Aziz.
"Tu di dapur ada nasi Padang, tadi Mayang beliin buat kita. Dah makan dulu sono. Jangan banyakan ngrokok lu, kena kanker tau rasa lu!" ucap Aziz, bercanda seperti biasa.
"Sial, nyumpahin gue lu ya!" balas Frans, sewot.
"Kagak, cuma canda doang. Udah ya, gue masuk, bye!" ucap Aziz seraya melangkah meninggalkan Frans sendirian.
Namun, ketika Aziz hendak kembali ke ruang kerjanya. Ia mendengar suara seorang perempuan menangis. Suara itu seperti tak asing. Aziz sangat hapal suara itu.
Untuk memastikan pemikirannya, Aziz pun mencari di mana arah suara itu berasal.
__ADS_1
Sampai akhirnya, langkah Aziz berhenti di sebuah kamar yang memang diperuntukkan untuk mereka yang ingin istirahat. Atau untuk mereka yang sedang dalam kondisi kurang fit.
Di dalam kamar tersebut, ia melihat ada Kinan. Duduk sendirian membelakangi pintu, sehingga Aziz tidak melihat wajah perempuan itu. "Kin, ngapain lu sendirian di mari? Nangis lagi? Lu sakit?" tanya Aziz, masih belum menemukan keanehan.
Wanita yang Aziz ketahui adalah Kinan, langsung diam ketika mendengar suara Aziz menyapanya.
"Udah, jangan nangis lagi. Yuk balik ke ruangan. Cerita ke kita-kita aja, kalo lu ada masalah. Jangan dipendem sendiri. Oke," ucap Aziz, masih bertahan di depan pintu.
Wanita itu mengangguk. Posisi masih sama, memunggungi Aziz. Merasa Kinan sudah tenang dan tak terlalu merespon dirinya, Aziz pun memutuskan kembali ke ruang kerja.
Sesampainya di ruang kerja, barulah Aziz menyadari keanehan yang terjadi. Ia tak melihat keempat temannya yang ditugaskan ke pelabuhan. Lalu, Kinan yang ia temui di lantai atas, kini ada di meja kerjanya. Sedang serius dengan layar monitor dan ponselnya.
"Eh, Kin... cepet amat udah nyampak sini aja?" tanya Aziz, aneh.
"Gue dari tadi di sini keles. Nggak ke mana-mana!" jawab Kinan, santai.
"Ah enggak ah, tadi lu nangis di kamar atas kan? Jangan becanda, Kin. Lu tadi nangis kan?" cecar Aziz, tak terima.
"Nggak! Dari tadi gue di sini. Tanya aja sama mereka. Sumpah dah, gue nggak ke mana-mana," jawab Kinan, serius.
Tentu saja, jawaban Kinan yang didukung oleh teman-teman mereka, membuat Aziz merasa bodoh.
"Kalo bener lu di sini, nggak ke mana-mana, lalu yang gue temui di atas siapa?" tanya Aziz, bingung.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like kome n votenya ya... jejak kalian sangat berarti untukku😍😍😍