The Ice Heart

The Ice Heart
Episode 8 - Cahaya Biru


__ADS_3

Pagi disambut langit gerimis membasahi bumi. Sea mengembangkan payungnya setelah menginjakkan kaki di halte dekat sekolahnya. Kali ini dia berangkat sekolah sendiri, karena tidak ingin dirampok Seo lagi. Atau mungkin karena ia mulai bisa berprasangka baik kepada seseorang, entahlah.


Tuling! Suara notif di smartphonenya.


Sea membuka smartphone dan membaca kolom komentar atas postingan-postingannya yang kebanyakan adalah aktivitasnya di band sekolah, sambil berjalan menerjang gerimis dengan payung merahnya.


Semuanya adalah komentar yang sejenis dengan komentar-komentar yang biasa diterima oleh Sea setiap hari. Tentu saja ada yang berkomentar baik, ada yang berkomentar julid. Semuanya sudah biasa bagi Sea. Bahkan dirinya yang memiliki paras cantik, disama-sama kan dengan sebuah Klan terbuang, Klan Air.


“Hei,” suara berat seorang laki-laki yang membuat langkah Sea terhenti karena kaget.


Sea menoleh ke sumber suara itu.


Itu adalah suara seorang laki-laki dengan rambut putih seperti awan sirus dengan mata berwarna mint, di bawah payung yang senada dengan warna matanya.


Dia kan, yang ngambang di trotoar waktu itu? Siapa namanya? Rei? Senior Rei ya? – batin Sea.


“Eh, y-ya?” tanya Sea tergagap.


“Aku ingin minta maaf,” kata Rei dengan muka yang datar.


“Eh, kenapa?” tanya Sea lagi.


“Soal tangamu kemarin, aku yang melakukannya,”


Suasana lenggang sejenak.


“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Sea.


“Karena ingin menguji apakah kamu benar orang yang kucari atau tidak,” balas Rei dengan mukanya yang masih datar, seolah tidak ada niat sama sekali untuk meminta maaf, tentunya hal itu membuat Sea merasa kesal.


“Memangnya kamu mencari siapa sampai melakukan hal seperti itu?! Kalau waktu itu Jun tidak ada dan gelas itu mengenai kepalaku bagaimana?!” tanya Sea setengah emosi karena melihat muka datar Rei itu.


“Justru karena Jun menyelamatkanmu, itu membuktikan bahwa hipotesisku tidak sepenuhnya salah, meskipun kamu tetap mengeluarkan darah saat pecahan gelasnya menancap di tanganmu,” balas Rei dengan nada yang tidak berubah sama sekali.


Hah? Apa-apaan sih orang ini?! – batin Sea.


“‘Meski aku masih mengeluarkan darah?!’ Jadi kamu mau menguji aku mengeluarkan darah atau tidak?! Kamu pasti juga bagian dari mereka! Mengolok-olokku bahwa aku adalah Klan Air?! Klan Air yang tidak bisa mengeluarkan darah?!” bentak Sea.


“Orang yang kucari adalah orang Klan Air, jadi aku harap kamu mengerti akan kejadian kemarin,” balas Rei.


“Mengerti kepalamu! Kamu ini niat minta maaf tidak sih?! Kamu ada dendam apa denganku sampai mau membunuhku?!” bentak Sea lagi.


“Raja Ying Dyera, ayahku,” ucap Rei terhenti. Raut wajahnya mulai tak datar lagi.


Ying Dyera? Kalau tidak salah itu adalah raja Klan Api terdahulu yang menjabat sebelum Raja Ying Korya. Katanya dia dibunuh oleh Klan Air yang berasal dari keluarganya sendiri? Jadi Senior Rei adalah seorang Ying? – batin Sea.

__ADS_1


“Kamu pasti tahu karena kabar kematiannya sangat kontroversial. Orang yang membunuhnya adalah sepupuku sendiri, jadi aku mencarinya,” kata Rei, kali ini dengan wajah yang menampakkan sedikit emosi.


“Kamu mengira aku adalah sepupumu?! Aku bukan dari keluarga kerajaan seperti kamu! Aku adalah Jason Sea! Aku adalah Klan Manusia!” kata Sea tidak terima.


Sea kesal karena kali ini dia tidak hanya disama-samakan dengan Klan Air, tapi juga disama-samakan dengan seorang pembunuh.


“Tapi aku melihatnya,” kata Rei, membuat Sea tersentak.


Melihat? Apa maksudnya? – batin Sea.


“Di dalam tubuhmu itu, ada cahaya biru meskipun sangat kecil dan redup, cahaya biru yang hanya bisa ditemukan,”


“di tubuh seorang Klan Air,” kata Rei yang sengaja memutus ucapannya.


DEG!


“Maafkan Ibu harus membuatmu merasakan ini semua, Clara.”


Suara yang sering muncul di mimpi Sea mulai terlintas di ingatan Sea. Suara yang tidak ia kenali sama sekali.


Deg! Deg! Deg!


Entah kenapa tangan dan kaki Sea terasa gemetar, jantungnya terasa berdenyut hebat.


“Mon Clara,” panggil Rei.


DEG!


“Itu kamu kan?” lanjut Rei.


****


Sementara itu di kelas…


Jun membaca buku dengan serius sambil menunggu bel masuk. Jun harus mengejar materi agar tidak teringgal dengan teman-teman yang lainnya.


“Selamat pagi, Claire! Eh, Sea belum datang ya?” tanya Violet, teman sekelas Jun yang baru saja tiba ke kelas.


“Aku juga heran, apa terjadi sesuatu ya?” balas Claire dengan wajah cemas, teringat kejadian gelas terbang kemarin.


“Sea kan tidak biasa datang se-siang ini? Tidak seperti aku, apa karena hujan ya? Bahaya nih kalau sampai telat,” lanjut kata Violet.


Claire melihat kearah jendela.


Gerimis memang perlahan berubah menjadi butiran yang lebih besar. Hujan yang semakin lebat.

__ADS_1


Jun memperhatikan obrolan Claire dan Violet, kemudian ikut melihat kearah jendela. Langitnya memang semakin menggelap.


GREK! Suara slide door kelas yang dibuka.


Claire, Violet, Jun, dan beberapa anak di kelas itu langsung melihat kearah pintu masuk. Mata mereka langsung terbelalak melihat siapa yang datang.


“Sea!” seru Claire langsung berlari menghampiri Sea.


“Sea! Kenapa kamu bisa basah kuyup begini?! Kamu lupa tidak bawa payung?!” tanya Claire dengan panik tapi hanya dibalas diam oleh Sea.


“Ayo kita coba cari baju ganti! Kamu bisa sakit kalau basah kuyup begini!” ajak Claire menarik lengan Sea, tapi Sea diam tak bergeming.


“Sea! Ayo keburu masuk!” ajak Claire.


“Aku tidak apa-apa, Claire. Yang basah hanya almamaterku saja, rambutku bisa kering sendiri kok,” kata Sea melepas genggaman Claire di lengannya kemudian berjalan duduk di bangkunya.


Claire berjalan menuju kearah bangku yang Sea duduki.


“Kamu tidak apa-apa basah kuyup begitu?!” tanya Claire lagi karena khawatir melihat rambut, almamater, dan tas bagian atas Sea yang basah.


“Aku tidak apa-apa, Claire.” Balas Sea sambil melepas almamaternya kemudian menggantungkannya ke kursi.


“Kamu lupa bawa payung?” tanya Claire cemas.


“Ah em, payungku jatuh haha,” balas Sea.


“Apa?”


Rriiiingggg....


Belum selesai Claire bertanya, suara bel masuk terdengar, membuat Claire harus kembali ke bangkunya.


Guru kelas memasuki kelas kemudian dilanjutkan oleh kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan, seperti berdiri untuk salam dan berdoa, kemudian langsung memulai pelajaran.


Jun melihat kearah Sea, yang bersikap normal-normal saja meskipun kedatangannya membuat Jun sedikit terkejut.


Sea yang merasa ada yang mengawasinya tiba-tiba menoleh melihat kearah Jun, membuat Jun langsung mengalihkan arah matanya ke papan tulis yang mulai tercoret.


“Justru karena Jun menyelamatkanmu, itu membuktikan bahwa hipotesisku tidak sepenuhnya salah,…”


Kata-kata Rei terlintas di pikiran Sea. Membuat Sea teringat lagi masa-masa dia bertemu dengan Jun di halte bus yang membuatnya ketakutan untuk berangkat ke sekolah sendirian sampai mengajak Seo berangkat bersamanya.


Kenapa dia menolongku? Kenapa juga dia bertanya-tanya tentangku? – batin Sea.


Sea kemudian fokus melihat papan tulis.

__ADS_1


Jun melirik kembali kearah Sea. Cahaya biru yang samar dan redup itu, Jun juga bisa melihatnya.


__ADS_2