
Rei mulai menceritakan masa lalu, membawa semua orang yag ada di ruangan itu terhanyut.
****
Kerajaan Klan Api, 13 tahun yang lalu…
“Senang bertemu denganmu, Pangeran, nama saya Zack,” sapa Zack ditemani ayahnya, sorang penjaga istana ber-Klan Manusia.
“Emm, ini anakmu, Paman?” tanya Rei menatap penjaga istana yang sudah sangat akrab dengannya.
“Eh, iya,”
“Sama sekali tidak ganteng sepertimu, Paman, tapi ya lumayan,” kata Rei sambil memuta-mutar jari telunjuknya ke udara, menciptakan pusaran angin kecil.
Zack terkesima melihatnya, seolah tidak peduli kalau dia baru saja diejek tadi.
“Kalau begitu saya izin melanjutkan tugas, Pangeran,” ucap penjaga istana itu kemudian pergi.
“Anda sudah bisa mengendalikan angin di usia ini! Anda benar-bear sangat hebat!” kata Zack dengan mata yang masih berbinar.
Rei melemparkan pusaran angin yang ia buat ke wajah Zack, membuat rambut Zack terbuka, menampakkan dahinya.
“Aku tahu, tapi aku tidak suka gaya bicaramu! Jangan main denganku!” kata Rei kemudian melangkah pergi.
Eh, tapi kan Pangeran Rei yang minta dikenalkan denganku duluan? – batin Zack.
Zack berjalan membuntuti Rei, yang membuat Rei kesal. Rei menjetikkan jarinya, membuat angin dan menyandung kaki Zack sampai terjatuh.
“Ahahaha! Paman bilang kamu akan dimasukkan ke Akademi Klan bersamaku? Tapi kau tidak bisa menghindari serangan kecil?! Hihi!” ejek Rei.
“ADA PEMBULLY!” seru seseorang tiba-tiba.
Gadis kecil degan rambut putih bergelombang dan mata biru berlian. Tangannya menunjuk kearah Rei dan wajah yang merengut, bukannya membuat dia menyeramkan tapi malah membuat dia terlihat imut.
“Aku akan menghukum orang-orang jahat yang ada di muka bumi ini!” serunya dengan lantang.
Rei terkekeh dan mendekati anak yang lebih muda kurang lebih tiga tahun darinya itu.
“Kau mau apa, hah? Memangnya kau sudah bisa mengendalikan air?” tanya Rei sambil mengejek.
“Tidak! Tapi aku punya yang lebih keren dari itu!” balas gadis kecil itu.
Gadis itu berlari kabur dan berteriak, “ANGIN KENTUT PEMBULLY!”, berulang kali, membuat seisi istana menoleh.
“Uapa?!” seru Rei tidak percaya.
Zack malah terkekeh yang membuat Rei tambah geram. “Akan kuurus kau setelah menangkap anak itu!” seru Rei dan langsung berlari meninggalkan Zack.
“Berhenti kau!” seru Rei mengejar si Gadis Kecil, tapi kesulitan karena si Gadis Kecil itu sangat gesit menghindari angin-angin kecil yang dibuat Rei dan mudahnya memutar arah lari.
Si Gadis Kecil itu terus berlari dan melihat pelayan istana yang sedang menyiram tanaman menggunakan selang air. Si Gadis Kecil menghampiri pelayan itu dengan cepat dan merebut selang airnya tiba-tiba.
“Rasakan ini, si Angin Kentut Pembully!” seru si Gadis Kecil kemudian menyemprotkan air ke wajah Rei dengan kecepatan turbo.
“Wakh! Hentikan!” seru Rei menutupi wajahnya dengan menyilangkan pergelangan tangan untuk menutupi wajahnya.
“Ah anu, Nona, tolong hentikan,” ucap pelayan yang direbut selang airnya tadi.
“Orang jahat harus dibalas!” seru si Gadis Kecil tidak menghiraukan perkataan pelayan.
__ADS_1
Tiba-tiba air yang keluar deras dari selang mendadak hilang. Ketia si Gadis Kecil melihat kearah keran, ia melihat ibunya ada disana mematikan air keran.
“Clara!” panggil ibunya sambil menarik telinga Clara degan tangan kiri.
“Eh! Aduh! Sakit!” rintih Clara.
“Rei, kamu baik-baik saja?” tanya ibu Clara - Mantan Putri Hana - sambil menggerakkan tangan tangan, membuat sekujur tubuh dan pakaian Rei yang basah kusup, terangkat semua airnya, membuatnya kering.
“Rei?” tanya Clara bingung. Hana menarik telinga Clara semakin kuat.
“Ayo minta maaf! Dia adalah Pangeran Ying Rei! Putra Ratu Diana, bibimu!” titah Hana.
Hah?! ****** aku! – batin Clara.
“Hana, lepaskan tanganmu, kasihan Clara telinganya tambah panjang,” sahut Ratu Diana - ibunya Rei - yang datang bersama dengan Hana dan menyaksikan aksi penyemprotan tadi.
Ratu Diana mengisyaratkan kepada pelayan yang tadi agar pergi.
Hana langsung berlari kecil kearah Ratu Diana, dan membantunya berjalan mendekat kearah Rei dan Clara.
“Clara, kenapa kamu menyemprot air? Apa Rei nakal kepadamu?” tanya Ratu Diana dengan lemah lembut.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Bu!” sahut Rei membela diri.
“Si Angin Kentut Pembully ini membully seorang anak laki-laki sampai terjatuh!” jawab Clara sambil menunjuk kearah Rei.
“Clara! Panggil dengan benar!” titah Hana dengan galak.
Clara cemberut, membuat pipinya mengembung yang membuatnya tampak menggemaskan.
“Rei, benarkah itu?” tanya Ratu Diana.
Rei diam dan ikut menggembungkan pipinya.
“Ta-tapi aku melakukannya juga bukan tanpa sebab, Bu!” sela Rei.
“Kalau begitu apa sebabnya?” tanya Ratu Diana.
“A-aku,” ucap Rei terhenti, kemudian melirik kearah Clara yang menatapnya galak.
Ah, aku dikeroyok tiga perempuan – batin Rei.
“A-aku tidak pernah minta disanjung-sanjung sebagai Pangeran! Anak laki-laki itu mau dekat denganku bukan karena mau berteman! Dia mau berkenalan karena aku adalah Pangeran yang ingin kenalan dengannya! Bukan karena dia tulus ingin jadi temanku!” penjelasan Rei.
Suasana hening sebentar.
Ratu Diana merendahkan tubuhnya. Kedua lututnya mencium tanah, membuat posisinya sejajar dengan Rei.
“Clara, tolong kesini sebentar,” ucap Ratu Diana dengan lembut.
Clara mendekat kearah Ratu, membuatnya berdiri berhadapan dengan Rei. Ratu Diana memegang kepala Rei dan Clara dengan masing-masing tangannya.
“Sekarang kalian sudah tahu isi hati masing-masing, Rei tidak ingin diagungkan sebagai Pangeran, Clara tidak suka ada orang yang menyakiti orang lain hanya karena jabatan, bukankah kalian cocok kalau berteman?” tanya Ratu Diana dengan lembut.
Rei dan Clara saling tatap, kemudian berpaling tidak sudi.
“Ma-maafkan saya,” ucap Zack yang tiba-tiba datang, dia sudah mendengarkan semuanya.
“Ah, kamu anak laki-laki yang dibuat jatuh oleh Rei ya?” tanya Ratu Diana.
__ADS_1
“Semoga Ratu Diana, Pangeran Rei, dan keluarga besarnya berumur panjang,” hormat Zack sambil membungkuk sedikit.
“Ini yang aku tidak suka, Bu!” kata Rei dengan kesal.
Ratu Diana tersenyum kemudian mengacak-acak puncak kepala Rei.
“Ibu mengerti, tapi kamu memang seorang Pangeran disini, wajar jika ada yang ingin menghormati kamu,” ucap Ratu Diana.
“Siapa namamu?” tanya Ratu Diana kepada Zack.
“Zack, sa-saya putra penjaga istana,” balas Zack.
“Zack, kamu mau kan berteman dengan Rei?” tanya Ratu Diana lagi.
Zack melirik kearah Rei yang menatapnya seolah menunggu jawaban Zack.
“Sa-saya ingin, ta-tapi sa-saya takut salah bi-cara, di-sangka tidak hormat,” balas Zack.
“Kalau kau sebegitu takutnya, panggil aku dengan biasa saat hanya ada kita berdua, Ibu, dan Bibi Hana saja! Saat ada yang lain, terserah kau saja,” kata Rei.
Ratu Diana tersenyum dan mendorong tubuh Rei sedikit, agar segera menghampiri Zack. Rei langsung berlari kearah Zack dan mengulurkan tangan.
“Maafkan aku tentang tadi,” kata Rei.
Zack tersenyum kemudian membalas uluran tangan Rei. “Tidak apa-apa, Pa eh, Rei,” balas Zack yang masih sedikit kikuk.
Rei tersenyum lebar kemudian merangkul ala cowok kepada Zack. Senyumnya benar-benar sangat tulus dan Bahagia.
“Tidak hanya saat ada Ibu dan Bibi Hana saja kan? Clara kamu juga mau jadi bagiannya kan?” tanya Ratu Diana kepada Clara.
Clara dan Rei saling tatap.
“Aku juga ingin punya teman perempuan,” kata Rei yang sok jaim.
“Clara?” tanya Ratu Diana.
“Gerakan Rei saat mengejarku sangat jelek, aku akan jadi teman untuk mengajarinya!” balas Clara dengan sok jaim juga.
Ratu Diana dan Hana tersenyum. Mereka tahu benar bahwa Rei memang tidak memiliki teman-teman yang mau berteman dengannya dengan tulus. Sekarang Rei memiliki teman, Zack dan Clara.
Setelah hari itu, Clara, Zack, dan Rei sering bermain bersama sampai semakin akrab, bahkan sampai tidak merasa canggung lagi.
Lama kelamaan, Jun, seorang Pangeran juga akhirnya ikut bermain bersama mereka, saking kuatnya Clara dalam menarik hati orang lain.
Setelah ibu Zack meninggal, Zack harus sering di rumah melanjutkan toko roti milik ibunya, membuat Clara, Jun, dan Rei lebih sering bermain bertiga saja.
****
Rumah Sakit, sekarang
“Clara, sesuai dengan namanya yang berarti jernih. Memiliki hati yang bersih, tidak suka melihat orang lain ditindas sesuka hati, berteman atas dasar perasaan hati. Clara adalah penghubung yang menyatukan dengan penuh arti, mencairkan hati dengan senyumnya yang murni,” kata Rei sambil menunduk.
“Apa kau mengingat sesuatu, Sea?” tanya Zack dan dijawab gelengan kepala oleh Sea.
“Maafkan Ibu harus membuatmu merasakan ini semua, Clara.”
Aku pernah bermimpi berulang kali tentang perkataan itu. Clara, kenapa kebetulan sekali namanya sama? – batin Sea.
bersambung ...
__ADS_1
__
Mohon maaf atas keterlambatan up nya🙏