The Ice Heart

The Ice Heart
Episode 2 - Si Klan Angin


__ADS_3

“***Maafkan Ibu harus membuatmu merasakan ini semua,


Clara***.”


Deg!


Sea langsung membuka matanya, terbagun dari mimpinya.


Kriiiiinggggg!!! Kring!!!!!!


Sea menatap jam bekernya yang sudah berdering daritadi. Sea mematikan jam bekernya dan beranjak bersiap-siap ke sekolah.


****


Namanya Sea, usianya 18 tahun kelas 12 SMA. Sea adalah gadis pada umumnya, posturnya tinggi dan ideal. Parasnya cantik dan menenangkan, seolah-olah dapat menghanyutkan siapapun yang menatapnya. Kulitnya putih dan lembut, rambutnya hitam dengan mata hitam yang indah seperti berlian.


“Hei tuan Putri Sea yang agung, tumben kau sudah bangun,” celoteh Seo yang masih sibuk mengotak-atik benda.


“Mesin cepakmu sudah jadi Pangeran Seo?” jawab Sea mengalihkan perhatian.


“Hei, membuat karya ilmiah itu tidak bisa jika hanya dengan sibuk menghabiskan makan sandwich daging sepanjang hari atau tidur padahal besoknya ada ulangan,” celetuk Seo.


“Memangnya kenapa hah dengan sandwich daging?! By the way tadi malam aku belajar tahu!” seru Sea menarik hidung Seo.


“Ahh lepaskan tangan malasmu itu dari wajah indahku!!” seru Seo.


“Hhh kalian ini memang tak pernah bisa tenang ya,” sahut Ibu Sea dan Seo yang keluar dari dapur dengan membawa sup daging panas.


Seketika mereka berdua menjadi jinak.


“Sudah, ayo segera sarapan, nanti kalian terlambat,” ajak Ibu Sea dan Seo.


“BAIK IBU!” seru Sea dan Seo bersamaan.


****


Menjadi primadona sekolah adalah suatu hal yang biasa bagi Sea. Dengan fisiknya yang dibilang sangat langka untuk ukuran Klan Manusia bisa secantik itu, banyak rumor yang sering tersebar.


twitteur


@akucantikakuberisik


Sea itu Klan Air yang menyamar! Monster! Pembunuh! Mana mungkin Klan Manusia bisa secantik itu?! Hai cobalah berpikir!


#rajaapibacalahini #basmimonster #seapenipu #haisadarlah


Komentar


Dec**** berisik kau, iri ya?


Nyof**** orang sirik emang gitu ya hahaha


Namun tanpa harus mengeluarkan tenaga pun, rumor itu bisa segera dibasmi.


Sea adalah member grup band di sekolahnya dan menjadi main vocalist disana. Indah, menghanyutkan, ramah, dan baik hati, serta memiliki suara yang merdu, siapa yang tak terpikat padanya?


Hanya saja dia memiliki kelemahan...


“Sea?” panggil Bu Guru.


“58!” jawab teman Sea yang mencocokkan jawaban dari ulangan Sea.


“Wow, kau naik 2 point, Sea! Kemarin kau dapat 56 kan?” kata Claire dengan nada polosnya.


“Haha trims ya ,” balas Sea dengan urat yang muncul ke permukaan dahinya.


Kringggg!!!!

__ADS_1


“Silahkan keluar duluan untuk beristirahat,” titah Bu Guru.


Semua siswa berdiri dan menunduk mengucapkan salam bersama-sama. “Terima Kasih, Ibu Guru!”. Satu per satu siswa keluar dari kelas.


Ketika Sea dan Claire akan keluar,


“Sea,” panggil Bu Guru.


Sea berhenti melangkah dan menoleh. Claire memberi kode bahwa dia akan pergi duluan karena sudah sangat kelaparan, Sea mengacungkan jempol dan melangkah mendekat kearah Bu Guru. Kelas sudah sepi, hanya tinggal Sea dan Bu Guru yang ada disana.


“Ada apa, Bu?” tanya Sea dengan sopan.


“Sea, kamu tahu kan kamu sudah kelas berapa? Bukankah sudah saatnya kamu fokus ujian? Ibu sarankan agar kamu mengurangi intensitas waktumu di band dan lebih fokus ke ujian dulu, dengan nilaimu yang seperti ini, bukankah juga akan sulit untukmu, Sea?”


Sea hanya bisa menunduk dan memainkan jari-jemari tangannya.


“Ibu tahu kamu suka di bidang itu, tapi untuk sebentar saja, tolong selesaikan ujian ini dengan baik, setelah lulus kamu bebas melakukan apa saja, ya Sea?”


Suasana hening, Sea hanya diam menunduk.


“Waktu Ibumu datang ke sekolah dan mengambil rapormu saat kamu kelas 11 dulu, Ibu memberi sedikit masukan kepada Ibumu, dan Ibumu menangis padahal saat itu ada orangtua siswa lain,”


Sea langsung mendongak.


“Ibumu sangat sayang padamu, Sea. Dia membiarkan kamu melakukan apapun yang kamu suka, tapi dia juga mengkhawatirkan masa depanmu, Ibu yakin kamu akan mengerti maksud dari perkataan Ibu,”


Sea menunduk lagi dan dadanya terasa sesak.


****


Ruang band


Sea menatap gitar yang teronggok di pojok ruangan. Tiba-tiba ada seseorang masuk dan duduk di dekat Sea.


“Hei, kau gak nyusul ke kantin malah kesini, apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Claire.


“Ibuku menangis,” balas Sea.


“Hah?”


“Ibuku mengkhawatirkan masa depanku, aku terlalu sibuk di band sampai sekolahku tak kuurusi, kurasa aku akan vakum dari band,” kata Sea lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


Claire mengelus punggung Sea mencoba menenangkannya.


“Bagaimana caraku bilang ke anak-anak yang lain? Hiks” tanya Sea yang mulai terisak.


“Teman-teman pasti mengerti, jangan khawatir, Sea, kurasa juga sudah saatnya kita vakum dulu, kita sudah kelas 12,” balas Claire.


“Kalian tidak ikut vakum gara-gara aku kan?” tanya Sea.


“Tidak lah, kami juga sadar kita sudah di penghujung hidup di sekolah ini, kita harus berjuang dan ayo main band lagi! Oke?!”


“Aku akan coba ajak bicara teman-teman, kamu tak usah khawatir,” ucap Claire.


****


Tempat keran minum sekolah


Sea menganga menghadapkan mulutnya ke arah kran, air masuk ke dalam mulutnya lalu ia telan.


“Hahh,” dengus Sea.


Ah rasanya dramatis sekali, hahaha ayo semangat Sea! Kita tumbangkan semua ujian itu dan segera ngeband lagi! – batin Sea sambil mengepalkan tangannya.


“Hei, sudah selesai minum?”


Suara berat itu membuat Sea terkejut dan hampir tersungkur ke belakang.

__ADS_1


Suara itu berasal dari seorang laki-laki berambut putih seperti awan sirus dan berpupil mata warna mint. Sudah bisa ditebak laki-laki itu berasal dari Klan apa.


“Kalau sudah selesai, bisa gantian? Keran yang lain rusak, dan aku haus,” kata laki-laki dingin itu lagi.


“Ah oh iya, maaf,” balas Sea lalu menyingkirkan badannya dari area kran, membiarkan laki-laki itu minum.


Sea melangkah pergi meninggalkan tempat itu, tanpa menyadari bahwa kepergiannya diperhatikan oleh laki-laki dari Klan Angin itu.


****


Ruang Band, Sepulang Sekolah


“Ah kamu tak perlu merasa sungkan begitu, kami juga mengerti kok,” kata Dona, si pemain keyboard.


“Kurasa Ibumu benar, ayo kita selesaikan ujian ini dan main band lagi!” sahut Charlie, si pemain bass.


“Heemm, ayo kita selesaikan ujian yang menyebalkan ini,” celetuk Rio, si pemain gitar yang dikenal pembisu.


“Wow, aku tidak menyangka Rio akan unjuk bicara disaat-saat seperti ini!” sahut Claire.


“Ayo kita semua semangat!” teriak Dava, vocalist pria.


Sea terharu kepada teman-temannya itu.


“Terimakasih, kalian semangat juga ya,” balas Sea rintih karena terharu.


“Aduh jangan nangis dong, jelek!” kata Dona sambil tertawa.


“Hahaha!”


“Ah iya, sebentar lagi semester 1 akan berakhir, biasanya ada jeda sekolah, bagaimana kalau kita persembahkan persembahan yang terakhir saat itu? Setelah itu kita vakum dan reunian lagi ketika lulus kyaaa!!” kata Claire.


Sea diam sebentar.


“Hmm ide yang bagus!” sahut Sea setelah berpikir.


“Benar juga, tumben kau pintar, Claire!”


“Hahaha! Semangat semangat!”


****


Perjalanan pulang


“Haduh, aku rasanya mulai alergi dengan buku-buku tebal itu!” kata Dona merenggangkan tubuhnya ke atas.


“Haha, aku rasa kau harus menjadikannya bantal, Dona!” sahut Sea.


“Hmm, bagaimana kalau sebelum menyentuh buku yang membuat alergi itu, kita makan sandwich daging sepuasnya! Bukankah itu jadi moodboster kita?!” ajak Claire.


“Hm kurasa itu hanya berlaku buat Sea, ya kan?” balas Dona.


“Ah kalian meyebalkan seperti Seo!” sahut Sea.


“Ya kan ya kan, ayo!”


Di tengah perjalanan menuju toko sandwich itu, Sea melihat seseorang yang sedang duduk bersila namun badannya melayang kurang lebih 50 cm dari tanah. Matanya terpejam dan terlihat sangat tenang. Sea yang belum pernah melihat pemandangan itu sebelumnya merasa ngeri dan merinding.


“Ih apa yang dia lakukan di pinggir trotoar begitu?” bisik Sea.


“Haha, itu Senior Rei dari Klan Angin, aku pernah melihatnya melakukan itu tapi ini pertamakalinya aku melihat dia melakukannya di pinggir trotoar,” balas Dona dengan berbisik juga.


“Kurasa kita harus segera pergi, dia sedang konsentrasi,” bisik Claire.


Ketiga gadis itu berjalan dengan perlahan melewati orang bernama Rei yang sedang duduk melayang itu. Dan Sea juga tak meyadari bahwa kepergiannya kali ini diperhatikan oleh orang yang sama, orang yang bertemu dengannya di tempat air minum tadi.


****

__ADS_1


__ADS_2