
“Baiklah kita lanjut ceritanya,” ucap Rei.
“Kalian pasti sudah tahu tentang pelaku kematian tragis di Kerajaan Klan Api,” lanjut Rei.
“Menurut buku yang aku baca, pelakunya adalah nenekmu, bibimu, dan sepupumu itu,” jawab Claire.
Rei terkekeh. “Awalnya aku juga mempercayainya. Aku keluar dari silsilah keluarga utama karena ayah Jun naik menjadi raja, dan Jun otomatis menjadi penerus yang selanjutnya. Aku selalu dipenuhi kebencian kepada Klan Air, kepada Clara, sampai aku hampir lulus dari Akademi Klan,”
Di suatu malam yang berangin itu, aku terbangun dan bertemu dengannya.
****
Dua tahun yang lalu…
Rei terjaga di kamar asramanya, peluh membasahi dahi akibat mimpi buruk yang selalu berulang-ulang di kepalanya.
Hari itu adalah malam berangin. Angin itu membuat pakaian Rei yang dijemur di balkon asrama berkibar-kibar dan terjatuh dari hangernya.
“Aduh,” dengus Rei.
Rei akhirnya bangun, ingin memungut pakaian itu sebelum terbawa terbang jatuh dari balkon.
“Wahai keturunan Xi,”
Bisikan itu membuat Rei terkejut. Rei langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang, tapi ia sama sekali tidak ahu apa yang akan ia lawan.
“Putra dari Xi Diana, satu-satunya keturunan Xi yang cacat,”
“Siapa kau?! Tunjukkan dirimu! Jangan bawa-bawa ibuku!” seru Rei melempar pakaian yang ia pungut ke segala arah.
“Tenangkan dirimu, aku ingin berbicara denganmu,”
“Tunjukkan dirimu!” seru Rei yang semakin emosi.
“Alam sangat tidak suka dengan emosi yang berlebih, kau tidak akan bisa terhubung jelas denganku jika tidak menenangkan dirimu,”
Rei mendengus kasar kemudian kembali ke kasur dan menutupi telinganya dengan bantal.
“Ada banyak kebenaran yang harus kau ketahui,”
“Cukup!” seu Rei dengan tangan gemetar.
“Keturunan Xi yang terpilih,”
“Pergi!”
__ADS_1
“Tidak semua hal seperti yang terlihat, bukti-bukti itu telah menyesatkan dirimu,”
“PERGI!!!!”
“Hei, Rei!” panggil Zack setelah menarik bantal yang menutupi kepala Rei.
“Za-zack?” kata Rei dengan tubuh yang gemetar hebat.
“Apa mimpinya semakin buruk?” tanya Zack menepuk-nepuk kepala Rei.
Rei menangis terisak-isak, sebuah kondisi yang hanya ia tunjukkan kepada orang-orang yang benar-benar ia percaya.
Selama di Akademi Klan, Rei sering melakukan meditasi untuk menenangkan dirinya. Namun karena emosi yang meledak-ledak yang tidak ia keluarkan, membuat suasana hatinya dapat tertebak dengan merasakan hawa yang ada di sekitarnya. Energi Klan Anginnya sangat luar biasa, tetapi sering lost control karena Rei sering kesulitan mempertahankan sifat Klan Angin yang harus tenang dan dinamis.
“Mungkin kau adalah yang terpilih selanjutnya,” ucap Zack setelah mendengar cerita Rei.
“Hah?”
“Dulu saat kita kecil, ibumu pernah bercerita kenapa dia bisa dikurung di Istana Xi dan menjadi putri yang terbuang bukan?”
Rei mengangguk.
“Sebelum menikah dengan ayahmu, ibumu dikurung di dalam istana bukan karena kaki beliau yang cacat sejak lahir, tapi karena beliau adalah keturunan Xi yang dipilih oleh Roh Angin agar bisa berbicara dengan Roh Angin,”
“Orang yang terpilih akan diincar banyak orang jahat, apabila seluruh orang yang terpilih dikumpulkan, akan membuka gerbang ke kekuatan yang luar biasa, entah anggapan ini berasal dari mana,”
“Lalu?” tanya Rei.
“Setelah ibumu meninggal, maka Roh Angin akan memilih keturunan Xi yang lainnya, dan kau yang terpilih!” jawab Zack dengan yakin.
Rei terdiam sebentar.
“Rei, roh-roh itu menyaksikan segalanya, Roh Angin pasti ingin memberi tahu sesuatu!” kata Zack.
Rei menghembuskan napas pelan dan mulai berkonsentrasi dengan memejamkan mata.
Setelah sekian lama diam, muncul sebuah tanda berbentuk belah ketupat kecil berwarna putih di dahi Rei, seperti memancarkan cahaya. Zack sendiri terkesima melihatnya.
Suasana di sekitar Rei tiba-tiba menjadi sunyi. Ketika Rei membuka mata, di sekelilingnya hanya ada awan yang putih bersih.
Dimana aku? Apa aku sedang ada di istana kakek Xi? – batin Rei menatap sekitarnya dengan bingung.
“Senang melihatmu lagi, keturunan Xi,”
Rei melihat ke sumber suara. Terlihat awan sirus yang berpusar-pusar karena angin, seperti membentuk sosok manusia.
__ADS_1
“Larom Xiying memanggilku Windy, aku adalah Roh Angin yang telah memberikan kekuatanku pada Larom Xiying, yang dia turunkan kepada anak keturunannya dari marga Xi,"
Ah, lalu aku harus apa? Hai Roh Angin! Senang bertemu denganmu! Begitu? – batin Rei yang kikuk.
“Kau tahu kenapa aku dan roh lain memberikan kekuatan kami kepada Larom Xiying?”
“Untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan kan?” balas Rei yang terkesan memastikan jawabannya.
“Ya, tapi bagaimanapun juga Larom Xiying adalah manusia, dia menyadari sebesar apapun kekuatannya dia bisa mati, maka kami mengizinkan dia membagi kekuatannya kepada anak-anaknya agar perjuangan membela kebenaran terus beranjut, dengan syarat kami harus tetap bisa berhubungan dengan mereka. Menurutmu, kenapa kami para roh harus memilih orang-orang tertentu agar bisa berhubungan dengan kami? Kenapa kami harus menghubungi kalian?”
Rei terdiam, tidak mengerti apa yang akan ia jawab.
“Karena kami tahu, manusia sangat mudah berbolak-balik hati, tidak ada jaminan ketika memiliki kekuatan besar mereka tidak akan serakah lagi.”
“Kami hanya memilih orang-orang yang benar-benar murni ingin menggunakan kekuatannya dalam kebaikan, apabila dia memilih berubah jalan ke jalan keburukan, maka kami akan memutus hubungan dengan mereka dan mencari penghubung yang lain,”
Rei mengangguk mengerti.
“Kenapa kau memilihku? Aku bukan pengendali yang baik,” tanya Rei.
“Anak muda, itu sebabnya aku ingin memberitahumu sesuatu,”
Rei diam, seolah menunjukkan bahwa dia akan mendengarkan semua yang dikatakan oleh Windy.
“Kau mudah sekali menurut, apa kau menyayangi sepupumu itu dengan sangat sampai berusaha mencari penyangkal bahwa dia adalah pelakunya?”
“Clara itu memiliki hati yang jernih, tidak akan mungkin dia punya pemikiran buruk seperti itu,” balas Rei sambil mengernyitkan dahinya, menahan tangis.
“Kalau begitu pertahankan itu,"
Hah? Jadi Clara benar-benar bukan pelakunya?! – batin Rei.
“Mon Clara adalah orang yang dipilih oleh Roh Air, Oceana. Oceana pun masih melindungi anak itu sampai sekarang dan tidak meninggalkannya. Jadi tidak mungkin dia melakukan hal buruk seperti itu,”
Nenek Dena, Bibi Hana, dan Clara menghilang begitu saja setelah kejadian itu, jika Roh Air Oceana itu masih melindungi Clara, itu artinya Clara masih hidup?! – batin Rei.
“Apa itu artinya Clara, nenek dan bibiku masih hidup?!”
“Ada beberapa hal yang tak bisa ku beri tahu, manusia harus berusaha mencari tahu sendiri, tapi yang jelas Mon Clara yang masih garis keturunan La itu masih hidup sampai sekarang,”
Rei terduduk dan menangis. Ada perasaan bahagia di hatinya karena selain mengetahui bahwa bukan Clara pelakunya, dia juga mendapat kabar bahwa Clara masih hidup.
“Jangan senang dulu, ada kenyataan yang lebih mengejutkan dari semua ini,”
Rei mengelap air matanya, berusaha bangkit.
__ADS_1
“Aku akan membawamu melihat segalanya, untuk keputusanmu setelah melihatnya, akan berdampak besar terhadap keseimbangan dunia ini,”