
Sea duduk di kasur rumah sakit dengan tangan tertusuk jarum yang tersambung dengan kantong darah yang menggantung dan infus.
“Kalau kau tidak mau memberi tahu, aku akan mencari tahu sendiri!” ucap Seo yang setengah kesal.
Pasca pukulan di perutnya, Claire segera membawa Sea ke rumah sakit dan mendapatkan perawatan rumah sakit. Sea dirujuk agar menginap sampai hasil pemeriksaan keluar. Sea sendiri tidak mau menceritakan alasan kenapa dia bisa mengalami muntah darah hebat yang tentunya membuat Seo kesal.
“Sudahlah, sudah malam juga! Aku ingin istirahat, jangan memperpanjang masalah ini lagi dong!” balas Sea.
“Tapi kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana?!” seru Seo.
“Seo, jangan teriak-teriak,” ucap Emelie, ibu Sea dan Seo dengan lembut.
“Sea terkena pukulan angin yang hebat di perut sampai terbanting dan berguling-guling di lantai koridor sekolah,” suara seseorang dibalik pitu kamar yang tertutup.
Emelie langsung terkejut mendengarnya.
Claire yang masih menemani Sea langsung membukakan pintu, terlihat ada Rei dan Zack yang berdiri disana dengan membawakan bingkisan.
“Maaf saya menyahut tiba-tiba,” ucap Rei sambil membungkuk hormat.
Seo berjalan cepat kearah Rei dan menarik kerah bajunya.
“Kau yang memukul kakakku dengan angin ya?!” tanya Seo menatap Rei dengan tatapan marah.
“Seo!” seru Sea melihat kelakuan adiknya itu.
“Woi, Bocil, kau mau apa? Usiaku kurang lebih sepuluh tahun lebih tua darimu tahu,” balas Rei santai.
Sepuluh tahun? Apa dia lulusan Akademi Klan makannya bisa satu sekolah dengan Kakak di usianya itu? – batin Seo sambil melirik seragam yang dikenakan Rei.
“Ah, dia adalah Senior Rei, dia yang sudah menolong Sea!” kata Claire menengahi.
Seo melepas cengkraman di kerah baju Rei.
“Kau tingi juga ya, Bocil,” ledek Rei sambil merapikan kerah bajunya yang berantakan.
“Diam kau!” balas Seo dengan kesal.
“Seo! Minta maaf sama Senior Rei sekarang!” bentak Sea dengan kesal.
Seo menghela napas kemudian sedikit membungkuk. “Ma-maafkan aku,” ucapnya lirih.
“Apa? Aku tidak mendengar suaramu, Bocil,” ucap Rei mengarahkan telinganya mendekati Seo.
“Argh! Kenapa Kakak bisa berteman dengan orang menyebalkan?!” kata Seo.
“Seo!” kata Emelie, langsung memuat Seo diam.
__ADS_1
“Maafkan aku!” kata Seo dengan suara yang lebih keras.
Rei tertawa jahil kemudian mengusap kepala Seo.
“Bocil yang baik,” ucap Rei kemudian melangkah mendekati Emelie, diikuti oleh Zack.
Seo hanya diam dengan wajahnya yang merah karena malu akan kelakuan adiknya.
“Maaf kami berkunjung malam-malam, kami bawakan bingkisan untuk Sea dan Bibi, eh juga untuk si Bocil,” kata Rei menyerahkan bingkisan yang berisi buah-buahan dan roti.
“Aku bukan bocil!” seru Seo tidak terima.
“Dan ini, air mineral untuk Sea minum,” lanjut Rei mengambil dua botol air mineral besar dari tangan Zack.
Apa dia sengaja memberikan air yang banyak untukku untuk mengujiku lagi? Klan air memiliki regenarasi yang cepat jika berendam maupun meminum air yang banyak – batin Sea.
Ibu Sea dan Seo menerimanya. “Terima kasih, ayo silahkan duduk dulu,” ajaknya dengan ramah.
“Terima kasih, Bibi,” balas Rei dan Zack bersamaan kemudian duduk di sofa.
“Sejak kapan kalian berteman dengan kakakku? Aku hanya tahu Kakak dekat dengan laki-laki di teman bandnya saja,” tanya Seo sambil duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Rei dan Zack.
“Kenapa tingkahmu mendadak jadi seperti calon mertua?” tanya Rei balik sambil terkekeh.
“Aku serius!”
Aduh, aku bukan sepupu yang kamu cari itu loh – batin Sea yang ikut mendengarkan.
“Dulu? Dulu kapan?” tanya Seo.
“Hei, Seo, kenapa tidak bantu Ibu saja sih?” sahut Sea mencoba memotong obrolan.
“Ibu, Sea ingin bicara masalah penting dengan mereka,” lanjut Sea melihat kearah ibunya yang sedang mengupas apel.
“Ah, baiklah, Seo! Ayo ikut Ibu keluar membeli makanan ringan untuk teman-teman kakakmu!” balas Emelie.
“Ta-tapi! Aku tidak bisa membiarkan mereka disini bersamanya!” kata Seo.
“Seo, kan masih ada aku! Kalau mereka macam-macam dengan Sea akan kuhajar mereka!” sahut Claire.
Seo terpaksa menurut kemudian ikut berjalan keluar bersama ibunya.
“Akan kubuat kau encok kalau sampai menyakiti Sea, Kakek Tua!” seru Seo sebelum hilang kelar dari ruangan.
“Dasar, Bocil, apa dia tidak tahu kalau Klan Angin itu juga tidak bisa menua sama seperti Klan Air?” gumam Rei karena kesal.
“Klan Angin tidak bisa menua? Tapi aku tidak menemukan hal itu di buku yang aku baca!” tanya Sea yang sangat antusias.
__ADS_1
“Meskipun Klan Angin tidak memiliki sistem regenerasi dan darah unik seperti Klan Air, mereka juga tidak akan bisa bertambah tua setelah berusia tiga puluh tahun, sama seperti Klan Air,”
“Pertumbuhan Klan air dan Klan Angin seakan terhambat ketika menginjak usia tiga puluh tahun, walaupun sudah seratus tahun pun, wajah mereka akan tetap seperti usia tiga puluh tahun,”
Penjelasan Claire.
“Lalu bagaimana cara mereka meninggal?” tanya Sea yang sangat antusias.
“Ya kalau Klan Angin ya bisa mati seperti pada umunya, kan mereka tidak punya regenerasi seperti Klan Air. Sedangkan Klan Air, mereka akan mati jika kepala mereka terpisah dari tubuh, kalau tidak ya jika ditusuk tepat di jatung tempat cahaya alam berada, atau bisa juga karena kehabisan energi sebab terlalu banyak menggunakan kekuatan mereka,” sahut Zack tiba-tiba.
“Klan Air juga bisa mati karena dehidrasi,” tambah Claire.
“Kenapa kita malah membahas ini sih?” tanya Rei kesal, kenapa malah jadi membahas pelajaran Sejarah Antar Klan?
“Apa yang mau kau bicarakan?” tanya Rei lagi.
“Emm itu, kau masih mengira aku ini sepupu Klan Air yang kau cari itu?” tanya Sea.
Claire yang tidak tahu apa-apa hanya diam mendengarkan sambil mencoba mencerna apa yang terjadi. Justru sedikit aneh karena Claire diam saja walau mendengar nama "Klan Air" yang paling ditakuti rakyat permukaan itu.
“Tidak mengira, dia benar kau,” balas Rei santai.
“Ta-tapi kan jelas aku bisa mengeluarkan darah! Aku juga bisa makan makanan normal! Lihat itu! Aku saja sedang transfusi darah!” bantah Sea sambil menunjuk kearah kantong darah yang menggantung.
“Ya kalau itu tidak tahu, makannya aku sedang cari tahu kenapa bisa begitu,” kata Rei santai.
“Tapi kalau sampai melempariku dengan gelas waktu itu kan keterlaluan! Bagaimana kalau ternyata aku bukan sepupumu itu?!” tanya Sea.
“Kamu yang melempar gelas?!” tanya Claire yang mendadak emosi tiba-tiba setelah diam saja mendengarkan.
“Tenanglah, biarkan mereka yang menyelesaikan ini,” kata Zack, meminta agar Claire tidak usah ikut campur.
“Mana bisa begitu?! Ini bisa disebut percobaan pembunuhan!” balas Claire kesal.
“Aku akan menceritakan semuanya!” seru Rei melerai Zack dan Claire.
“Cerita, cerita apa?” tanya Sea.
“Kalian pasti sudah tahu tentang kisah kematian ayah dan ibuku, juga kisah pengkhianatan nenek dan bibiku, juga sepupuku. Tapi semuanya tidak sesederhana itu!”
“Aku tahu kau pasti mengira aku akan membunuhmu, tapi kenapa aku menolongmu tadi jika aku mau membunuhmu?!”
“Aku tidak mungkin membunuh Clara! Ti-tidak akan mungkin,” kata Rei yang mulai tersendat.
Rei menundukkan kepalanya. Suasana di rungan itu mendadak berubah menjadi dingin, seolah hawa-hawa kesedihan memenuhi ruangan itu.
Zack menyadari reaksi Rei akan menjadi tidak stabil jika sudah membahas bekenaan dengan masalah ini.
__ADS_1
Nona Clara adalah orang yang memiliki tempat berbeda di hati Rei. Aku harap semua teka-teki ini segera terpecahkan – batin Zack.