
“Anak mereka adalah seseorang yang disebut oleh Jun tadi, Pangeran Ying Rei.”
“Senior Rei yang kita jumpai mengambang di pinggir trotoar itu adalah Pangeran Ying Rei. Senior Rei tidak bisa menjadi penerus tahta Kerajaan Klan Api, sebab dia lahir sebagai Klan Angin, seperti ibunya,” lanjut Claire.
Sea terdiam sejenak, kemudian menganguk, meminta Claire melanjutkan ceritanya.
“Yang kedua adalah Pangeran Ying Korya, menikah dengan seorang anak Menteri Klan Manusia, Soka Azula. Di Klan Manusia mereka tidak menggunakan sistem kerajaan, sehingga keturunan Soka tidak terus-terusan menjadi penguasa.”
“Dari pernikahan itu banyak pujian datang, tidak seperti saat pernikahan Ying Dyera dan Xi Diana. Dalam pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak, yang pertama adalah teman sekelas kita, Pangeran Ying Jun, dan yang kedua adalah Putri Ying Azira. Keduanya sama-sama Klan Api.”
“Dan yang terakhir adalah Putri Ying Hana, menikah dengan seorang Menteri muda Kerajaan Klan Api, Mon Lucas. Dari pernikahan ini membuat Ying Hana keluar dari marga Keluarga Kerajaan Ying, dan beralih mengikuti suaminya, menjadi Mon Hana.”
“Dari pernikahan ini, kabarnya sangat bahagia dan meriah, sebab Putri Ying Hana adalah putri yang sangat dimanja oleh Raja Danias, ayahnya. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Mon Clara Klan Air, Mon Cleo dan Mon Cliya Klan Api.”
Claire diam sebentar, mengistirahatkan bibirnya, sedangkan Sea tetap diam.
“Lalu?” tanya Sea, seolah memaksa Claire untuk meneruskan ceritanya.
Claire menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Raja Danias meninggal karena penyakit tua, sedangkan La Dena tetap hidup, sebab dia adalah Klan Air yang bisa hidup tanpa menua. Pangeran Ying Dyera naik tahta, namun rakyat Klan Api khawatir karena Ying Dyera tidak memiliki anak berKlan Api.”
“Tiba-tiba kabar meninggalnya Ying Dyera dan Xi Diana tersebar, membuat Senior Rei menjadi anak yatim piatu. Bersamaan itu pula, Soka Azula, ibu Jun dan Azira meninggal tiba-tiba. Di tengah kekosongan kekuasaan itu, Ying Korya, ayah Jun dan Azira naik tahta menggantikan kakaknya.”
“Ada yang bilang bahwa ini adalah konspirasi Ying Korya agar bisa naik tahta, namun Ying Korya membantah itu semua dengan menunjukkan bukti-bukti valid tentang sebab kematian kakak, kakak ipar, dan istrinya.”
“Dalam bukti itu menunjukkan bahwa, mendiang Ying Dyera dan Xi Diana diracun oleh Mon Clara. Mon Clara yang masih kecil itu diutus oleh La Dena dan Mon Hana untuk memberikan teh beracun, untuk balas dendam atas terasingnya Klan Air di jaman lampau.”
“Dalam bukti itu pula menunjukkan bahwa Soka Azula, ibu Jun dan Azira meninggal karena dibunuh, sebab mengetahui niat busuk La Dena dan Mon Hana. Ada pula bukti yang menunjukkan bahwa Mon Hana tidak merasa puas dan membunuh anaknya sendiri, Mon Cleo dan Mon Cliya yang merupakan Klan Api.”
“Bukti yang lain lagi membuktikan bahwa La Dena dan Mon Hana juga ingin membunuh Ying Korya dan Mon Lucas, serta seluruh anggota keluarga kerajaan Klan Api, namun belum berhasil mereka sudah ketahuan.”
“Anehnya, mereka sama sekali tidak menampik hal ini dan menghilang begitu saja, seperti La Hans yang hilang ditelan ombaknya sendiri. Karena hal ini Klan Air sangat dibenci dan tidak diizinkan hidup di darat lagi.”
Sea diam dengan tangan bergetar mendengarkan penjelasan dari Claire.
Jadi itu sebabnya Klan Air bisa berstigma jelek? Aku kira hanya karena sistem tubuh mereka yang berbeda saja. Senior Rei mencari Mon Clara untuk balas dendam atas kematian orangtuanya? Tapi menurut cerita tadi Mon Clara hanya dimanfaatkan, dia membunuh bukan atas kemauannya sendiri! – batin Sea.
Rriiiingggg....
Suara bel masuk terdengar. Claire bangun dari tempat duduknya.
“Nah, ayo kita kembali!” ajak Claire.
“Eh, tapi payungnya,” kata Sea memperlihatkan payung yang daritadi masih ia bawa-bawa.
__ADS_1
“Eh kamu kesini masih bawa itu? Haduh, aku juga enggak tahu Zack itu siapa, nanti deh kita cari!” kata Claire.
“Baiklah,” balas Sea kemudian mengikuti langkah Claire untuk kembali ke kelas.
Senior Rei, aku mengerti sekarang! – batin Sea.
****
Pulang Sekolah
Suasana sore ini berbeda dengan pagi tadi. Langit terlihat bersih dengan cahaya senja yang mulai menyinari. Burung-burung mengembangkan sayap membuka cakrawala kebebasan yang mengekang hati bagi yang menikmatinya.
“Dona sekarang sibuk banget les, haha!” ejek Charlie.
“Biarin yee! Kalau nilaiku bisa melebihi Claire akan aku traktir kalian!” balas Dona dengan kesal.
“Mana bisa kau mengalahkan Claire? Haha!”
“Aku tidak sesuka itu kok belajar,” sahut Claire.
“Wah, Claire memang rendah hati!”
Sea dan teman-teman bandnya dalam perjalanan bersama menuju halte untuk pulang ke rumah masing-masing selepas latihan untuk penampilan terakhir mereka.
“Ah, kalian dulu saja, aku ada urusan,” kata Sea kemudian berlari begitu saja.
“Eh, mau apa dia?” tanya Dona.
“Kenapa dia berlari kearah Zack?” tanya Rio.
“Eh, kamu kenal Zack?” tanya Claire.
“Dia kan teman sekelasku, tentu saja kenal,” balas Rio dengan santai.
“Argh! Tadi Sea nanya ke grup kenapa kamu enggak balas?!” tanya Claire kesal.
“Smartphoneku ketinggalan di rumah,” balas Rio yang tanpa beban tanpa dosa.
“Charlie! Kamu kan sekelas sama Rio! Kenapa tidak jawab grup?!” tanya Claire.
“Eh, smartphoneku emmm,” balas Charlie yang terhenti karena bingung mau memberi alasan apa.
“Ah! Jahat kau!”
“Memangnya kenapa dengan si Zack itu?” tanya Dava menengahi Claire dan Charlie.
__ADS_1
“Hahh, kata Sea, Zack memberikannya payung karena payung Sea jatuh dan tertiup angin, Sea sangat ingin mengembalikannya tapi dia tidak tahu Zack anak kelas mana,” balas Claire.
Dava memperhatikan Sea yang terus berlari menuju tempat Zack berada.
“Oh, wajar kalau Sea belum familiar. Zack adalah lulusan Akademi Klan, dia masuk bebarengan dengan Pangeran Ying Rei, bukankah Pangeran Ying Rei sekelas denganmu, Va?” tanya Charlie kepada Dava.
Dava diam saja karena fokus memperhatikan lari Sea.
“Woii, Dava!” panggil Charlie lagi.
“Eh ya?” balas Dava gelagapan, tersadar dari kesibukannya.
“Sea bukan orang yang akan mudah suka sama orang asing kok,” kata Charlie yang terkesan ngaco itu.
“Hah? Apa sih?”
“Hahaha!”
Sementara itu, Sea terus berjalan menuju kearah Zack.
“Senior Zack!” panggil Sea, membuat Zack menoleh kaget karena ada yang memaggilnya “Senior”.
“Ini! Terimakasih!” kata Sea menyodorkan payung hitam.
“Ah, iya,” balas Zack menerima payung itu.
Memang agak mirip dengan Nona Clara sih – batin Zack.
Tep…tep…
Suara langkah Rei yang datang. Rei terlihat sedikit terkejut melihat keberadaan Sea di dekat Zack.
Timing yang buruk sekali – batin Zack.
“Aaa, kami permisi mau pulang dulu!” kata Zack merangkul Rei kemudian mulai melangkah.
“Tunggu! Aku ingin berbicara dengan Senior Rei!” kata Sea.
Aduh! Jangan menantang maut dong! – batin Zack.
Rei diam dengan tatapan dingin, menanti perkataan dari Sea.
“BRENGSEK!” seru Sea tiba-tiba.
Hah?
__ADS_1