
Aku tak menyangka kita akan bertemu disini, Jun.” Kata Rei sambil terkekeh.
Orang yang berada di hadapan Rei menatap Rei dengan dingin.
“Aku tak terkejut melihatmu disini dengan keranjang belanja berisi tepung dan telur, karena kau sudah jadi pecundang, makanya kau berkeliaran,” balas orang bernama Jun itu.
Menahan emosi adalah keahlian Rei, Rei tetap memasang senyum kecutnya.
“Setidaknya sekarang aku melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada sibuk membunuh saudara,” balas Rei melanjutkan laju keranjang belanjanya.
“Maaf mengganggu jalanmu, maksudku bukan hanya tadi, semua jalan yang sudah keluargamu rancang,” tambah Rei dengan melirik dingin. Aura di sekitar Rei berubah menjadi dingin. Sedangkan Jun tetap memasang wajah datarnya dan tak peduli dengan semua yang dikatakan Rei.
****
Keesokan harinya,
Ruang Band
“Woah luar biasa!” seru Charlie.
Sea dan Dava sibuk meneguk air karena kehausan sehabis latihan, mereka menyanyi dengan baik sebagai vocalist.
“Hah, kalau sudah begini sih, aku yakin penampilan kita nanti bakal spektakuler!” seru Claire.
Rio tersenyum dan mengangguk.
“Kurasa aku harus segera pergi, aku ada les,” celetuk Dona yang baru saja memeriksa jam di smartphonenya.
“Wow, kau ikut les, Dona? Aku sedikit terkejut!” sahut Charlie.
“Aku harus dapat nilai bagus biar bisa main band lagi, kalian juga harus gitu, ya!” balas Dona yang setengah kesal.
Sea tersenyum.
“Hati-hati ya, semangat lesnya!” kata Sea.
“Ah kamu memang baik, Sea!” sahut Dona sambil memakai tasnya. “Aku pergi ya, dah!”
“Dah!”
Kepergian Dona membuat posisi pemain keyboard kosong.
“Hmm kurasa kita sudahi saja dulu latihannya, ayo kita pulang,” ajak Sea.
“Hmm benar juga, tapi aku berencana mentraktir kalian, apa terlalu sore jika sekarang?” tanya Dava.
Charlie, Rio, dan Claire saling melirik.
“Ah, aku harus sudah ada di rumah sebelum pukul 5,” balas Charlie.
“Aku juga harus pulang, kau juga kan Claire?” sahut Rio.
Rio yang biasanya diam atau mengangguk saja itu tiba-tiba berbicara hal yang langka kepada Claire.
Claire menangkap maksud Rio.
“Aku tak bisa makan tanpa Dona, kurasa aku mau pulang saja,” balas Claire.
Alasan menghindar yang jelek sekali – batin Rio dan Charlie.
“Oh, sayang sekali,” kata Dava.
__ADS_1
“Maaf, tapi agar uangmu tak sia-sia, kau bisa ajak Sea makan! Sea makan sangat banyak dan lahap!” celetuk Claire.
“Apa?!” sahut Sea dengan kesal.
“Oh benarkah? Sea itu cantik dan terlihat kurus, sepertinya dia bukan pemakan yang banyak, haha,” balas Dava.
“Dia hanya pura-pura makan sedikit di hadapanmu, aslinya dia tukang makan yang parah,” balas Claire.
Dava tertawa kecil.
“Kurasa Sea ingin pulang cepat, aku ingin kita makan ramai-ramai, pasti menyenangkan, akan kutunggu sesempat kalian,” kata Dava sambil tersenyum.
Ah, Dava menghancurkan segalanya – batin Charlie, Claire, dan Rio.
Sea menunduk dengan senyumannya. “Ah iya benar, haha,” balas Sea.
Mereka akhirnya kembali ke tempat yang mereka tuju masing-masing. Sea berjalan pulang bersama Claire menuju halte bis. Setibanya mereka di halte bis, mereka duduk menunggu bis tiba.
“Kamu tidak apa-apa, Sea?” tanya Claire.
“Ha? Kenapa?” tanya Sea bingung.
“Tentang tadi, Dava memang tak peka! Huh! Aku kesal sendiri!” dengus Claire.
Sea tersenyum.
Claire tahu bahwa Sea memiliki perasaan kepada Dava, dan Sea pun juga tahu bahwa Claire tahu tentang Sea menyukai Dava meskipun Sea tak pernah bilang sebelumnya.
Ketika menyanyi, Sea sangat senang saat mendapat bagaian duet dengan Dava dan kadang diam-diam memperhatikan Dava walau hanya sekilas. Baik saat belajar, menyusun lirik lagu, menyusun notes, saat menyanyi, dan lain-lain.
“Hah sudahlah, bisnya sudah datang tuh!” kata Sea menunjuk bis yang mulai mendekat ke halte tempat mereka berada.
Bis berhenti di depan mereka, mereka berdua naik dan mencari tempat duduk yang nyaman. Suasana bis saat itu tidak terlalu ramai karena sudah sore, hanya ada beberapa penumpang di dalamnya.
Bis mulai berjalan.
Laki-laki itu memperhatikan Sea yang asyik mengobrol dengan Claire. Tatapannya yang dingin dan terkesan kejam itu melihat Sea dengan serius, seolah-olah pernah meilihat Sea sebelumnya.
Sea merasa tak nyaman, seperti diawasi. Dia kemudian melihat kearah laki-laki berhoodie itu.
“Ih, dia kenapa sih lihat ke arah sini terus?” bisik Sea.
“Entah, bukannya kamu sudah biasa dilihat begitu?” balas Claire.
“Ih bukan begitu! Tatapannya itu buat aku takut!” kata Sea.
“Hm sudahlah, abaikan saja,”
Mencoba mengabaikan tetap tak bisa. Sea merasa terganggu dengan tatapan laki-laki berhoodie itu.
Laki-laki itu masih terus menatap Sea dengan tatapan dinginnya. Dia membayangkan Sea dengan tampilan yang berbeda, mencoba memiripkannya dengan seseorang yang ia kenal.
Sepuluh menit merasa tak nyaman diperhatikan, bis berhenti di halte bis berikutnya. Sea berdiri untuk keluar, sedangkan Claire harus melanjutkan perjalanan. Laki-laki berhoodie juga turun bersama Sea.
Sea menempelkan smartphonenya untuk menscan kode QR, melakukan pembayaran bis via smartphonenya. Laki-laki itu juga melakukannya setelah Sea.
Mereka berdua turun, Sea memutuskan untuk segera berjalan cepat menuju rumahnya yang tak jauh dari halte tempat pemberhentiannya.
Bus berjalan kembali melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba laki-laki berhoodie itu menarik tas punggung Sea dengan tangan kanannya, membuat gerakan Sea terhenti dan hampir tersungkur ke belakang.
__ADS_1
“Aku ingin bicara denganmu,” kata laki-laki berhoodie itu dengan suara yang dingin.
Sea ketakutan, meronta-ronta dan berteriak. “TOLONG!! TOLO-!”
Laki-laki itu mengeluarkan api dari tangan kirinya yang lenggang, membuat Sea bungkam seketika.
“Diamlah, aku hanya ingin bicara denganmu,” kata laki-laki itu lagi dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya.
Laki-laki itu menarik tas Sea yang masih Sea kenakan, membuat Sea ikut terseret mengikuti arah tasnya ditarik.
Sea diseret ke tempat duduk halte dan dipaksa duduk, sedangkan laki-laki itu berdiri di hadapannya dengan tatapannya yang dingin. Sea menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata yang merah darah seperti kristal itu.
“Lihat aku,” kata laki-laki itu.
Sea tetap menunduk dengan kaki yang gemetaran, tangan yang dingin.
Laki-laki itu mengeluarkan sebuah pena dari kantong jaketnya lalu mengangkat dagu Sea dengan ujung penanya itu, memaksa Sea mendongakkan kepalanya. Sea ketakutan dan menutup matanya.
“Buka matamu,” titah laki-laki itu.
Ah sumpah aku tak berani membuka mataku! – batin Sea.
Sea tetap memejamkan matanya, ketakutan. Laki-laki itu menghela nafas dan melepaskan ujung pena dari dagu Sea. Kepala Sea menunduk lagi.
“Aku tidak akan melukaimu,” kata laki-laki itu.
Sea membuka matanya, dan perlahan mendongak.
“Aku hanya ingin bicara, jadi bersahabatlah, aku tak suka membuang-buang waktu,” katanya lagi.
“Ba-baiklah,” balas Sea dengan tergagap.
“Siapa namamu?” tanya sang laki-laki.
“S-Sea,” balas Sea.
“Dari seragammu, sekolahmu di World HS, kelas apa kau?”
“Ke-kelas 12-A,”
“Apa sejak lahir kau adalah Klan Man Manusia?"
Pertanyaan konyol macam apa itu? Memangnya ada yang bisa berubah Klan? – batin Sea.
“Te-tentu saja,”
“Siapa nama ayah ibumu?”
“Jason dan Emelie,”
“Apa kau punya saudara?”
“Ya, Seo adalah adikku,”
"Klan apa adikmu?"
"Ya klan manusia lah!"
Laki-laki itu diam sebentar dan menghela nafas.
“Baiklah kau boleh pergi,” kata laki-laki itu dan langsung pergi meninggalkan Sea.
__ADS_1
Kaki Sea masih lemas, tapi dia lebih lega setelah laki-laki berhoodie itu pergi.
HAH! ORANG GILA! – batin Sea.