The Ice Heart

The Ice Heart
Episode 15 - Kebenaran


__ADS_3

Awan-awan putih mulai bersinar, membuat mata Rei pelik karena silaunya. Ketika Rei membuka matanya, di sekitarnya adalah ruangan rumah sakit yang berisi bayi-bayi yang baru saja dilahirkan, namun terpaksa diletakkan di incubator terlebih dahulu.


Apa aku sedang dibawa ke masa lalu? – batin Rei.


“Rei, perhatikan dengan seksama,”


Rei menatap tabel nama yang terpasang di incubator di depannya. Inkubator itu berisi bayi dengan rambut hitam legam.


Tn. Mon Lucas & Ny. Mon Hana


Rei kemudian melirik ke inkubator lain yang ada di sebelahnya, tertulis nama yang sama pula, juga bayi berambut hitam legam pula.


“Apakah mereka anaknya Bibi Hana? Yang mana Mon Cleo? Yang mana Mon Cliya?” tanya Rei.


“Kau akan tahu setelah melihatnya,”


Seorang laki-laki masuk dengan pakaian gelapnya yang khas. Dia mendekati inkubator yang ada di hadapan Rei kemudian menatap bayi itu dengan tatapan ironis serta butiran air mata di sudut matanya.


“Paman Lucas? Meskipun dia adalah ayahnya, dia kan tidak bisa masuk ruang inkubator sembarangan!” kata Rei.


“Maaf, aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri,” lirih orang yang dipangil “Paman Lucas” oleh Rei itu.


Lucas mengeluarkan benda tajam yang selalu ia bawa untuk perlindungan diri.


“Tunggu, apa yang akan dia lakukan?” tanya Rei.


JLEB!


Tangan Rei langsung gemetar hebat menyaksikan kejadian yang ada di hadapannya. Seorang ayah yang baru saja mendapatkan putra, membunuh anaknya sendiri langsung dengan tangannya.


Lucas langsung jatuh terduduk dan menangis. Tangannya yang memegang pisau berteteskan darah gemetar hebat.


“A-aku tidak sanggup lagi,” lirihnya.


“APA PAMAN SUDAH GILA?! PAMAN MEMBUNUH ANAK PAMAN SENDIRI?!” seru Rei tapi percuma saja. Dia hanyalah dibawa oleh Windy untuk menyaksikan masa lalu. Masalalu tidak bisa diubah.


Lucas pergi meninggalkan ruang inkubator itu entah kemana. Rei menatap bayi yang sudah tak bernyawa itu.


“Jadi, yang ada di hadapanku ini adalah Mon Cliya, dan yang masih hidup di sebelah sana adalah Mon Cleo?” tanya Rei.


“Ya, mari kita ke tempat yang selanjutnya,”


Sekeliling Rei mulai terang benderang kembali, membawanya ke dimensi lain. Lama-kelamaan sekitar Rei berubah menjadi ruangan gelap, namun Rei masih bisa melihat siapa saja yang ada di ruangan itu.


“Aku mohon jangan kendalikan aku lagi,” rintih Lucas memohon dengan tangisnya.


“Aku tidak menyangka orang sepertinya bisa terbebas dari pengaruh pengendalian darahku,” ucap seorang laki-laki berambut putih namun matanya berwarna merah darah dengan pupil seperti kucing.

__ADS_1


Siapa dia? – batin Rei.


“Aku ingin dia membunuh keduanya! Anak itu hanya akan menjadi ancaman untuk tahta suami dan anakku!” seru perempuan dengan mata dan rambut hitam.


“BIBI AZULA?!” seru Rei tidak percaya melihat sosok perempuan yang ia lihat. Azula, ibu dari Jun dan Azira.


“Aku dan suamimu sudah berteman lama sekali, suamimu tidak akan mungkin melakukan hal keji seperti ini! Anakmu pun berteman dengan anakku Clara, dia juga tidak mungkin tega membiarkanmu melakukan hal ini! Kau pasti melakukannya di belakang mereka kan?!” tanya Lucas dengan nada yang ironis.


“Karena tanpa sadar kau sudah jadi kambing hitam yang membunuh anakmu sendiri, kau pilih semua terbongkar tapi kau juga terseret, atau kau tetap diam membarkan rencana ini terus berjalan,” balas Azula.


“Hana pasti akan terluka mendengar bahwa suaminya sendiri yang telah membunuh anaknya,” lanjut Azula.


“Aku melakukannya karena orang itu mengendalikanku! Sehingga seluruh tubuhku dikendalikan olehnya!” seru Lucas tidak terima sambil menunjuk kearah laki-laki berambut putih dan mata merah darah berpupil kucing.


“Tapi kau tidak punya bukti untuk menunjukkannya, Mon Lucas,” balas Azula.


Lucas menggeram kesal, dia tidak sanggup berbuat apa-apa.


“Emosinya bisa membuat dia terlepas dari kendali pengendalian darahku, lebih baik dikurung saja sampai semuanya selesai! Lagi pun dia adalah persembahan yang lezat untuk Api Suci!” seru laki-laki berambut putih dan mata merah berpupil kucing.


Api Suci? Apa itu? Aku tidak mengerti! – batin Rei.


“Rei,” panggil Windy


“Eh, apa?” tanya Rei karena dipanggil.


“Iya, karena kematian Mon Cliya, keadaan istana sangat keruh karena dia adalah anak dari Bibi Hana yang dulunya adalah seorang putri. Ayah dan ibuku mengirim kami bertiga kerumah Zack agar kami tidak perlu memikirkan hal-hal ini yang tidak seharusnya dipikirkan oleh anak kecil,” balas Rei.


“Lalu, dimana Clara saat itu? Tidak bersama kalian?”


“Setahuku dia terus berada di sisi ibunya yang depresi karena kematian Mon Cliya, tapi bukankah kau lebih tahu? Kenapa tanya padaku?” jawab sekaligus tanya Rei.


“Baiklah, kita akan menuju kejadian yang selanjutnya,” balas Windy yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Rei barusan.


Sekeliling Rei mulai bercahaya lagi, kemudian mulai terlihat suasana ruangan lain. Ruangan yang banyak berisi lukisan-lukisan dan peralatan-peralatannya.


Bukankah ini, kamar Ratu? Kamarnya Ibu? – batin Rei.


“Xi Diana adalah orang yang kupilih sebelum dirimu, ketika dia meninggal aku pun memilihmu. Xi Diana mengalami cacat di kaki sebelah kanan sejak lahir, namun Ying Dyera tetap mencintainya dan menjadikannya Ratu Kerajaan Klan Api,”


Rei mengangguk, itu memang fakta yang tak bisa dibantah. Rei melihat sosok ibunya yang sedang melukis dengan tenang di ruangan itu.


“Pernahkah kau berfikir, Rei? Kecaman-kecaman apa yang didapatkan ibumu karena kecacatannya dan sering mneghabiskan waktu dengan melukis saja padahal dia adalah seorang Ratu?”


Rei mengernyitkan dahi dan menggertakkan giginya.


“Diluar sana banyak yang ingin menempati kedudukan Xi Diana karena merasa lebih pantas. Apalagi Xi Diana belum bisa melahirkan putra berKlan Api, hal ini membuat mereka semakin tersulut untuk menjatuhkan Xi Diana dari kedudukannya,”

__ADS_1


Tiba-tiba lampu di ruangan itu padam, membuat Ratu Diana terkejut dan memanggil-manggil pelayannya, namun tidak ada yang datang.


“A-apa yang terjadi?” tanya Rei.


“Azula bersama laki-laki yang kita lihat tadi, mengendalikan darah seisi istana kecuali ayah dan ibumu, membuat mereka semua tidak sadarkan diri,”


Terlihat Azula dan laki-laki yang dilihat Rei tadi datang memasuki kamar Ratu Diana.


Ratu Diana yang kesulitan berjalan itu terkejut.


“Ada apa ini, Azula?!” tanya Ratu Diana.


“Orang yang cacat dan tidak pantas sepertimu, tidak layak menjadi Ratu Kerajaan Klan Api!” seru Azula.


Laki-laki yang tadinya ada di belakang Azula langsung melangkah maju, mengendalikan darah Ratu Diana, membuat Ratu Diana tak berdaya dan kesakitan karena dikendalikan.


“Selain menciptakan Api Suci dan menjadi Ratu, aku juga akan membuka gerbang kekuatan besar dengan mengumpulkan orang-orang yang dipilih oleh para Roh! Dengan begitu tidak akan ada yang bisa mengalahkanku lagi!” seru Azula dengan tawanya yang menggema di ruangan.


“Ka-u! Ta-tahu aku orang y-ang dipilih Roh Angin! La-lu apa kau ti-tidak malu Roh Angin se-sedang melihat-mu?!” tanya Ratu Diana yang tersendat-sendat karena kesakitan.


“Biarkan saja! Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungimu dariku, kan?” balas Azula dengan percaya diri.


Ratu Diana berkonsentrasi penuh mengumpulkan kekuatannya agar bisa lepas dari pengaruh kendali darah.


“Kau ingin berusaha melepaskan diri untuk membuat kata-kata terakhir seblum kau kubawa untuk membuka gerbang kekuatan besar?” tanya Azula.


Ratu Diana tetap fokus melepaskan diri dan benar saja, pengaruh kendali lepas, membuat Ratu Diana tersungkur karena tidak bisa menyeimbangkan kaki kirinya utuk berdiri.


“Wah, dia hebat seperti Mon Lucas!” seru Laki-laki yang mengendalikan darah Ratu Diana.


Ratu Diana terseret-seret meraih sebuah kuas yang tergeletak diatas kertas lukis yang berhamburan.


“Oh? Mau membuat karya terakhir sebelum kubawa pergi ya? Baiklah! Aku izinkan!” kata Azula dengan nada mengejek.


Kuas itu adalah kuas yang sengaja runcing di ujung pegangan kuasnya, agar Ibu bisa menggunakannya sebagai tusuk rambut. Apa yang ingin Ibu lakukan? – batin Rei.


Dengan tangan yang gemetar, Ratu Diana berhasil meraih kuas itu dan mengatur posisi duduknya.


“Jika kalian menangkapku agar bisa membuka gerbang itu, maka aku akan persembahkan karya terakhirku,” ucap Ratu Diana dengan lirih.


Ibu, apa yang akan Ibu lakukan? – batin Rei.


Ratu Diana menatap lukisan yang terpajang di dinding. Lukisan keluarga yang indah, membuat ia tersenyum.


“Rei, aku mencintaimu,” ucap Ratu Diana untuk terakhir kalinya.


JLEB!

__ADS_1


__ADS_2