
“Rei, aku mencintaimu,”
Ratu Diana mengarahkan ujung pegangan kuas yang runcing dengan kedua tangannya.
JLEB! Menusuk dada sebelah kiri, berlanjut menariknya keatas, sengaja merobek jantungnya sendiri.
“IBU!” seru Rei.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” seru Azula tidak percaya menyaksikan apa yang ia lihat ini.
“Xi Diana rela membunuh dirinya sendiri, agar gerbang besar itu tidak dapat dibuka” ucap Roh Angin.
Rei gemetar hebat menyaksikan bagaimana cara ibunya mati. Bukan karena meminum racun yang diberikan oleh Clara seperti yang buku-buku sejarah katakan, melainkan mengorbankan dirinya sendiri.
Cahaya alam berwarna mint di jantung yang menandakan bahwa Ratu Diana adalah seorang Klan Angin, meredup dan hilang, menandakan Ratu Diana telah tiada.
“Jangan frustasi, Azula. Roh Angin akan segera mencari penggantinya, kita tunggu saja. Selanjutnya kita bereskan Raja, setidaknya tujuanmu menjadi ratu harus tercapai secepatnya,” ucap laki-laki misterius itu sambil melirik kearah jendela.
Lirikan itu membuat Rei ikut melirik kearah jendela.
“Clara?! Itu yang mengintip dari jendela adalah Clara kan?!” seru Rei tidak percaya.
“Sudah kukatakan sebelumnya, Clara adalah orang yang dipilih Roh Air, dia memberitahu Clara agar pergi ke istana dan menjadi saksi kematian Raja dan Ratu, tapi ternyata dia ketahuan,” balas Windy.
“Aku punya ide yang lebih menarik,” ucap laki-laki misterius itu.
“Apa?” tanya Azula.
Laki-laki itu mendekati mayat Ratu, kemudian mengeluarkan sebuah cairan dari botol kecil yang ia bawa dan mengendalikannya, membuat cairan itu masuk ke tubuh Ratu dan ia sebar ke seluruh tubuh Ratu, seolah Ratu habis keracunan karena meminum sesuatu.
“Apakah itu racun? Racun itu dimasukkan ke tubuh ibuku dengan mengendalikan racun itu?” tanya rei.
“Dia itu pengendali darah, mengendalkan racun itu bukan bandingannya,”
“Bawa mayat yang beracun dan tertusuk ini kepada Raja, aku akan membersihkan kekacauan disini,” ucap laki-laki misterius.
“Hmph! Baiklah!” balas Azula kemudian menyeret tubuh Ratu Diana pergi.
Clara mengikuti arah Azula membawa mayat Ratu Diana, sedangkan laki-laki itu benar-benar membersihkan segala kekacauan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di kamar Ratu Diana.
“Dia sudah menyadari keberadaan Clara, tapi kenapa dia membiarkannya?” tanya Rei.
“Kita lihat saja, ayo kita ke tempat Raja,”
Rei melangkah mengikuti bibinya yang menyeret mayat ibunya. Tiba di depan ruangan Raja, Azula mengetuk pintu kamar Raja.
Tok..tok…
“Yang Mulia, ini saya, adik ipar,” ucap Azula.
Raja membukakan pintu, membuat mayat Ratu yang disandarkan ke pintu terjatuh.
“DIANA!” seru Raja langsung memeluk istrinya itu.
__ADS_1
“Kenapa Diana bisa seperti ini, Azula?” tanya Raja namun hanya dibalas tatapan sinis oleh Azula.
“Raja yang tidak memiliki penerus Klan Api tapi tetap santai, serta Ratu cacat yang hanya bisa menggambar, buat apa ada di dunia ini?” kata Azula.
“Apa mak- hekh!” suara Raja tersendat, tubuhnya dikendalikan oleh Laki-Laki Misterius yang menyusul datang.
“Aku dengar Raja dan Ratu akhir-akhir ini tidak harmonis, untung aku berbaik hati membiarkan kau menatap ratumu sebelum ajal,” kata Laki-laki Misterius.
“Hoho, jadi ini rencanamu? Baik sekali!” kata Azula terkekeh.
“Ka-lian ak-an menda-ppat ba-llasannya!” seru Raja yang tersendat-sendat.
“Siapa yang akan membalas? Kau? Aku akan mengirimmu ke tempat Ratu dan berbaikan disana,” ucap Azula.
Laki-Laki Misterius itu mengendalikan darah Raja, membawanya duduk di kursi yang ada di kamarnya. Azula menyeret tubuh Ratu dan mendudukannya di kursi, tepat di samping Raja.
Sepertinya aku mulai mengerti kenapa akhirnya Clara bisa dituduh meracuni Ayah dan Ibu – batin Rei.
Laki-Laki Misterius mencengkram dagu Raja kemudian memasukkan racun ke dalam mulutnya, memaksanya minum. Racun yang sama yang dikendalikan ke tubuh Ratu.
“Aku bisa saja membuat racunnya cepat meyebar dengan mengendalikannya, tapi sepertinya kau ingin melihatnya mati perlahan, Azula?” tanya Laki-Laki Misterius.
“Ide bagus,” balas Azula menyeringai.
Laki-Laki Misterius itu menghentikan pengendalian darahnya, membiarkan racun itu mengalir secara alami di tubuh Raja. Raja sempat menyerang dan mengeluarkan api dari tangannya, tapi ia terlalu lemah karena racun bekerja sangat cepat.
“Ayolah, kalau bergerak-gerak terus, nanti kau tidak bisa melihat wajah Ratu diujung maut lho,” ucap Laki-Laki Misterius.
Memang benar saat itu Ayah dan Ibu sering bertengkar, tapi aku tidak tahu mereka bertengkar karena apa – batin Rei.
“Ma-af-kh-n a-kku, D-di-ana,” ucap terakhir Raja sebelum akhirnya tangannya terkulai lemas. Cahaya alam merah di jantungnya telah hilang.
“Kisah yang romantis dan menggelikan,” ejek Azula sembari terkekeh.
“Azula, mulai sekarang suamimu adalah raja, dan kau adalah Ratunya, anak keturunanmu yang akan mewariskan tahta ini, tapi jangan membunuh Ying Rei,” kata Laki-Laki Misterius.
“Tapi jika dia punya anak dan ber-Klan Api, bukankah itu bisa membahayakan tahta anakku?” tanya Azula.
“Kita tidak tahu apakah Roh Angin akan memilih Ying Rei sebagai pengganti Xi Diana atau tidak, jadi selama semuanya belum pasti, Ying Rei harus tetap hidup,” balas Laki-Laki Misterius.
“Hah, baiklah, tapi apakah semua ini akan tetap menjadi pembunuhan tak diketahui seperti insiden pembunuhan Mon Cliya?” tanya Azula.
“Tidak, rencanaku bukan hanya mempertemukan Raja dengan jasad Ratu, tapi rencanaku jauh lebih baik dari itu,”
Azula dan Laki-Laki Misterius itu akan pergi melalui pintu. Menyadari hal itu, Clara langsung berlari dan bersembunyi.
“Mereka akan membuat Clara, Bibi Hana, dan Nenek Dena menjadi kambing hitamnya kan?” tanya Rei.
“Sabarlah, Rei. Kita saksikan ini semua sampai selesai, ikutilah kemana Clara pergi,”
Tak perlu menunggu lagi, Rei langsung mengikuti arah Clara pergi. Clara bersembunyi di semak-semak, bingung harus melakukan apa.
“Clara,” panggil seseorang yang tiba-tiba muncul, menyentuh pundak Clara.
__ADS_1
Nenek Dena? Kenapa Nenek bisa terlepas dari efek kendali darah?! – batin Rei.
“Ayo ikut Nenek!” bisik Dena, langsung menggandeng Clara menuju ruangannya.
Setibanya disana, Clara menangis dan gemetar ketakutan. Dena memeluk cucunya itu dengan lembut.
“Windy, kenapa Nenek bisa terlepas dari kendali darah Laki-Laki Misterus?” tanya Rei.
“Nenekmu adalah Klan Air, Klan air itu tidak memiliki darah dalam tubuhnya,”
Eh iya benar juga! – batin Rei.
“Tapi, menurutmu klan apa yang bisa mengendalikan air dan semacamnya, Rei?”
Rei terdiam sebentar.
“Klan Air, eh?! Kau mau bilang kalau Laki-Laki Misterius itu bisa mengendalikan darah karena dia adalah Klan Air?!”
“Mata merah darah dan pupil kucing itu disebut Mata Athanasius. Mata itu hanya dimiliki oleh sebagian kecil Klan Air yang memendam kebencian terlalu dalam. Pemiliknya memiliki energi yang sangat besar bahkan sampai bisa mengendalikan darah orang lain,”
“Jadi, bukankah lebih mudah untuk mengendalikan Nenek? Klan Air memang tidak memiliki darah, tapi dalam tubuh mereka kan ada air?” Tanya Rei.
“Ya, tapi Laki-Laki Misterius itu sengaja tidak mengendalikan nenekmu, karena ia tahu pemikiran apa yang akan dibuat nenekmu,”
“Memang seharusnya aku tidak membawa Klan Air ke daratan. Tak apalah terbuang asalkan hidup damai,” ucap Dena lirih.
“Ap-a m-maksud, Nenek?” tanya Clara yang masih sedikit terisak.
“Aku akan membawa Klan Air yang hidup di darat kembali ke Kerajaan Klan Air di bawah laut, kamu juga ayo ikut pulang bersama Nenek!” ajak Dena.
“Ta-tapi! Ba-bagaimana dengan d-disini?” tanya Clara.
Dena memeluk satu-satunya cucunya yang ber-Klan Air itu.
“Seharusnya Nenek tidak bermimpi menyatukan lima Klan yang tercerai berai. Biarlah Klan Air terisolasi tapi tidak melakukan kerjasama tentang kejahatan seperti Laki-Laki Misterius itu. Dan biarlah klan permukaan menghadapi masalah mereka sendiri,” balas Dena.
“Tapi!” ucap Clara mencoba menghentikan keputusasaan neneknya.
“Kedamaian itu hanya sebatas angan, Clara! Nenek tahu kamu punya hati yang baik, memberantas kejahatan di muka bumi ini, tapi itu semua hanya akan menyakiti kita, Clara!”
Nenek sampai putus asa seperti itu, jadi Laki-Laki Misterius itu tahu bahwa Nenek akan putus asa seperti ini?– batin Rei.
“Ayo kita pulang ke asal kita!” ajak Dena menarik lengan Clara, meninggalkan istana diam-diam.
Laki-Laki Misterius dan Azula menatap kepergian mereka dari atap istana.
“Mereka tahu tapi kita biarkan saja? Apa maksudmu ini rencanamu?” tanya Azula.
“Ya, biarkan saja, mereka tidak memiliki nyali sedikit pun untuk melawan, justru hilangnya Klan Air dari permukaan secara tiba-tiba malah membuat kita bisa mendapatkan kambing hitamnya,” balas Laki-Laki Misterius.
“Kau tidak masalah Klanmu dijadikan kambing hitam?” tanya Azula lagi.
“Aku tidak mau tinggal bersama pengecut, aku akan tetap ada di permukaan dan mewujudkan mimpi leluhur Klan Air yang telah dilupakan oleh Klan Air,” balas Laki-Laki Misterius itu sambil memegang matanya yang tertutup.
__ADS_1
“Selanjutnya kita fokus menciptakan Api Suci, sembari mencari orang-orang yang terpilih lainnya untuk membuka gerbang,”