The Ice Heart

The Ice Heart
Episode 3 - Si Klan Api


__ADS_3

Rei berjalan menapaki setiap jalan dengan ringan, seolah-olah tak ada beban dalam pikirannya. Namun semua itu bertolakbelakang dengan kenyataannya. Mungkin karena ia berasal dari Klan Angin membuat dia sangat pandai dalam mengontrol emosinya.


Rei tiba di depan sebuah toko roti, lalu masuk ke dalamnya. Aroma manis dan panggangan menyambut kedatangan Rei.


“Yo! Rei! Kenapa mukamu itu? Aku sudah memperhatikanmu sejak kau berjalan kesini lewat jendela kaca ini,” suara Zack, teman Rei.


Zack adalah teman Rei, ia memiliki toko roti yang ada di lantai satu, sedangkan rumahnya ada di lantai dua.


Semenjak Rei mengetahui fakta tentang misteri kematian keluarganya, Rei tak ingin lagi tinggal di rumahnya, dan ia memilih untuk tinggal bersama Zack.


Rei diam dengan wajah datar menatap Zack yang memiliki wajah ceria itu.


"Papa, Lei lapal maw makan!" ucap Rei menirukan gaya bicara anak kecil. Zack langsung menimpuknya dengan celemek.


"Jangan ngaco, kalau mau cerita ya cerita saja, jangan dipendam agar jati dirimu sebagai Klan Angin tetap waras dan stabil," kata Zack dengan kesal.


Rei tersenyum jahil. "Memangnya aku pernah waras?" tanya Rei.


"Entah, sepertinya tidak pernah." balas Zack.


"Jadi, Lei engga walas? Lei lapal lapal!" ejek Rei lagi. Zack emosi kemudian mensmackdown Rei sampai terbujur di lantai.


"Ampun, Papa Zack."


"Cepat ganti bajumu, setelah itu aku ingin minta tolong belikan bahan-bahan," ucap Zack tidak menghiraukan ulah Rei.


"Siyap!"


Rei beralan memasuki kamar lalu membuka lemari untuk mengambil pakaian.


Tak sengaja Rei melihat tumpukan buku yang ada di bawah ranjang. Rei menatapnya dengan wajah datar lalu meraih salah satu bukunya.


The Adventure of Three Child


Rei menatap judul buku itu lamat-lamat dengan pikiran yang tak tentu arahnya. Rei membuka lembar pertama.


Pada zaman dahulu kala, ada tiga anak bersaudara yang sangat lucu. Mereka adalah Rei, Jun, dan Clara.


“REI!! GANTI BAJU LAMA BANGET EY!” seru Zack dari lantai bawah, mengacaukan ke dramatisan Rei.


“Argh,” dengus Rei lalu menutup buku dan mengembalikannya.


**


“Hal-hal yang perlu dibeli sudah ku list disini, kau tinggal menuruti saja, dan ini uangnya, jika ada sisa anggap saja bonus, kau bisa pakai uang sisanya untuk apa saja yang kau mau,” celoteh Zack.


“Ya ya paham aku,” balas Rei.


“Tengkyu bro, maaf buat repot,” kata Zack yang terlihat sedikit kewalahan mengurus pesanan kue.


“Hmm, kalau sudah selesai cepat istirahat, Zack. Wajahmu seperti pakaian yang belum di setrika,” sahut Rei.


"Kau bisa tak? Sehari saja tak membuatku darah tinggi?" ucap Zack kesal.


"Memangnya darahmu berapa meter?" tanya Rei balik.


"BODO AMAT LAH! CEPAT PERGI SANA!"


**


Toko Sandwich


“Aku sudah puas! Ayo kita pulang!” ajak Claire.


Dona berdiri dari tempat duduknya dan menata barang-barangnya, memastikan tak ada barang yang tertinggal.


“Kalian duluan saja, setelah ini aku mau pesan sandwich untuk dibawa pulang dan mau mampir belanja sebentar,” balas Sea.


“Ohh oke, kalau gitu kami duluan ya,” ucap Claire.


“Semangat, Sea!” seru Dona.


“Iya, kalian juga! ^ ^”


Claire dan Dona pergi meninggalkan Sea. Sea memesan sandwich untuk dibawa pulang dan langsung pergi menuju pusat perbelanjaan.

__ADS_1


**


Pusat Perbelanjaan


“Sudah dibeli semua, Sea?”


“Iya, apa ada yang harus dibeli lagi?” tanya Sea kepada ibunya lewat smartphone yang ia sambungkan dengan headset.


“Oh, Seo titip belikan yoghurt stroberi katanya,”


Ah anak ini, selalu titip tapi tak pernah menganti uangku, grrrr – batin Sea.


“Hmm ya, apa ada lagi?” tanya Sea lagi sambil berjalan mendorong keranjang belanja menuju kulkas tempat yoghurt.


“Ibu rasa tidak, terimakasih ya, Sea, cepat pulang, hati-hati di jalan,”


“Iya, Sea tutup ya telponnya,”


Tut.


Oh itu dia kulkas yoghurtnya! – batin Sea.


Sea meneliti dimana yoghurt stroberi yang diinginkan adiknya itu, dan ternyata hanya tersisa satu botol saja.


Ketika Sea hendak meraihnya, ada orang lain yang sudah terlanjur mengambil botol yoghurt itu.


Sea menatap orang itu karena reflek. Orang itu pun menatap Sea dengan pupil mata merah seperti darah kristal. Rambutnya hitam legam dengan hoodie. Wajahnya tertutup masker sehingga hanya matanya yang terlihat.


Sea tau bahwa orang yang dihadapnnya ini adalah orang dari Klan Api dari ciri-ciri yang orang itu punya. Hanya melihat sebentar, Sea merasa tidak terlalu penting juga menatap orang itu terus. Sea mengalihkan pandangannya dan beralih ke botol yoghurt bluberi dan mengambilnya sebanyak dua botol lalu memasukkannya ke keranjang.


Sea berjalan melewati orang itu, sedangkan orang itu terus menatap Sea yang mulai menjauh. Sea terus berjalan mendorong keranjang belanja menuju kasir, hingga di persimpangan jalan antar rak toko, keranjang belanja Sea menabrak keranjang belanja orang lain.


“Eh maaf!” seru Sea secara spontan.


Orang yang ditabraknya tampak terkejut menatap Sea. Sea pun juga terkejut menatap orang yang ditabraknya.


Ah itu kan orang yang tadi ngambang di dekat trotoar itu – batin Sea.


Sea menunduk dan menganggukkan kepala lalu lanjut mendorong keranjang belanjanya.


**


Tok...tok...


“Aku pulang,” kata Sea sambil membuka pintu rumahnya.


“Sudah pulang, Tuan Putri?” sapa Seo yang sedang mengotak-atik sebuah benda di atas sofa ruang tamu.


Sea melepas sepatunya, kemudian duduk di dekat Seo.


“Ehem,” suara dehem Seo yang terkesan dibuat-buat.


Sea diam dan memejamkan matanya.


“Ehem,” suara dehem Seo lagi, tapi Sea tetap diam saja.


“Ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem ehem,” suara dehem Seo yang semakin menjadi-jadi.


Sea kesal lalu memegang leher adiknya dengan kedua tangannya, seperti mencekik. Hanya bercanda, tidak mencekik betulan.


“Mau kubuat kau berdehem benaran hah?!” kata Sea dengan urat dahi yang muncul ke permukaan.


“A..ampun, Tuan Putri!” jawab Seo.


Sea melepaskan tangannya dari leher Seo, lalu memegang kepalanya.


“Hah, baru pulang di dehemin, ngajak berantem?” dengus Sea.


“Aku tak punya permen, mana yoghurtku? Masa kau tak peka daritadi aku berdehem buat apa?” kata Seo dengan kesal, sambil terus mengotak-atik benda yang ada di hadapannya.


“Dasar wanita,” tambah Seo.


Urat Sea semakin muncul ke permukaan dahinya.


Sea mengambil sebotol yoghurt dari kantong plastik lalu memberikannya ke adiknya yang menyebalkan itu.

__ADS_1


“Maaf, yang rasa stroberi sudah habis, jadi kubelikan yang rasa bluberi,” kata Sea.


“Hmm oke no problem, karena rasanya tak sesuai requestku, aku tak perlu ganti uangmu kan?” balas Seo sambil membuka segel penutup botol lalu meminum isinya.


“Memangnya kau pernah ganti uangku baik sesuai requestmu atau tidak?” balas Sea dengan kesal.


“Oke trims,” balas Seo.


“-_-, aku balik ke kamar,” kata Sea.


“Hmm,” balas Seo.


Sea bangkit dan membawa plastik-plastik belanjaan ke dapur, kemudian naik ke lantai dua rumahnya dan masuk ke kamarnya.


“Haahh,” dengus Sea sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.


“Ah iya, sebentar lagi semester 1 akan berakhir, biasanya ada jeda sekolah, bagaimana kalau kita persembahkan persembahan yang terakhir saat itu?”


Mengingat perkataan Claire, Sea bangun dan mencari ibunya di sudut-sudut rumahnya. Ia dapati Ibunya sedang berada di kamar, melihat-lihat sebuah album foto.


Tok..tok..


Suara ketukan Sea yang mengetuk pintu kamar ibunya. Mengetahui kedatangan Sea, ibu Sea menutup album foto yang sedang ia lihat-lihat tadi.


“Ada apa, Sea?” tanya ibu Sea.


“Sea boleh masuk?” Tanya Sea.


Ibu Sea mengangguk, menepuk-nepuk kasur menandakan agar Sea duduk disitu.


Sea masuk ke dalam kamar kemudian duduk di dekat ibunya.


“Ibu tadi sedang melihat apa?” tanya Sea.


“Hanya foto-foto lama saat ibu masih muda, kamu sendiri kenapa mencari ibu?” balas ibu Sea yang balik bertanya.


“Itu, tentang belajar, Sea rasa Sea akan vakum dari band sampai Sea lulus,” kata Sea dengan serius.


Ibu Sea diam sebentar.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya ibu Sea setelah menatap wajah putrinya itu.


“Tak apa, Sea juga sudah bilang teman-teman yang lain, tapi Sea ingin melakukan sesuatu,” kata Sea terhenti.


“Apa itu?” tanya ibu Sea.


“Sea akan ada di band sampai akhir semester, kami akan mengadakan pertunjukan kami yang terakhir, tolong ya, Bu? Izinkan Sea. Setelah itu Sea akan belajar dan tidak main band lagi, Sea janji.” Kata Sea.


Ibu Sea tersenyum lalu mengelus keapala putrinya itu.


“Baiklah, tapi ujian semestermu juga harus kau siapkan ya, Sea.” Kata ibu Sea.


Sea mengangguk dan memeluk ibunya itu.


**


Tadi saat insiden tabrakan di pusat perbelanjaan


Pusat Perbelanjaan


“Eh maaf!” seru gadis yang menabrak keranjang belanja Rei.


Rei terkejut menatap gadis yang ada di depannya, begitu pula gadis itu. Tak lama, gadis itu menundukkan kepala dan mengangguk lalu pergi meninggalkan Rei. Rei menatap gadis itu yang mulai menjauh.


Pada zaman dahulu kala, ada tiga anak bersaudara yang sangat lucu. Mereka adalah Rei, Jun, dan Clara.


Aku ini kenapa sih? Dia bukan orang yang menulis buku itu – batin Rei.


“Minggir,” ucap seorang berambut hitam legam berhoodie, bermata merah, dan memakai masker.


Rei menoleh menatap laki-laki yang jalannya terhalangi oleh keranjang belanjanya. Rei tersenyum kecut.


“Aku tak menyangka kita akan bertemu disini,


Jun.”

__ADS_1


Kata Rei sambil terkekeh.


__ADS_2