
Tengah malam, ketika kota-kota sudah mulai sunyi. Gemerlap lampu dan cahaya berpendar di tengah kegelapan, membuat kota yang padat ini seperti bermandikan cahaya berwarna-warni.
Lalu-lalang kendaraan semakin jarang, namun beberapa orang yang menongkrong masih terlihat terseok-seok di area gang yang sempit. Melihat gelagat yang berjalan sempoyongan sudah pasti mereka sedang mabuk.
Para pemuda memang memiliki masanya sendiri menjadi tak terkendali. Mereka bergelut dengan keadaan demi mencari jati diri yang masih tersembunyi. Tak jarang mereka harus bergumul dengan kerasnya hidup dan jatuh dalam kehidupan yang suram.
Di kejauhan yang tinggi, seseorang tengah berdiri santai sembari menyesap sebatang rokok yang hampir habis. Seorang pemuda sedang menyaksikan gerombolan anak-anak yang sedang menikmati miras oplosan mereka dari sebuah atap rumah.
Entah apa yang dilakukan pemuda itu di sana, namun ia sepertinya tidak terlihat takut. Seolah sudah terbiasa menongkrong dalam ketinggian yang gelap. Atau mungkin dia melakukan itu demi mencari udara segar, karena negara ini memang cukup panas dibanding beberapa negara yang pernah ia singgahi sebelumnya.
Tapi tetap saja aneh, menongkrong di atap rumah orang lain.
Rambut hitamnya yang lebat bergerak indah tatkala semilir angin berhembus perlahan. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh bayangan gelap. Postur tubuhnya biasa saja, tidak kekar dan juga tidak kurus. Tingginya mungkin sekitar 178 cm. Dari penampilannya ia masih bisa dikatakan cocok sebagai seorang mahasiswa.
Pemuda itu bernama Kai Gamma Majoris. Ia bukan orang Bumi biasa. Melainkan ia datang ke tempat ini hanya singgah demi menjalankan tugasnya yang tak kunjung selesai.
Ia datang dari sebuah tempat bernama Amalthea. Sebuah tempat tersembunyi yang berada diluar tanah-tanah Bumi. Amalthea sudah puluhan tahun mengalami krisis ekonomi dan juga krisis keadilan. Peperangan besar telah terjadi karena perebutan tanah dan juga sumber daya alam yang semakin menyusut. Dan kini rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan jauh dari kata aman.
Pemicu utamanya akibat perang saudara yang terjadi antara Ratu Amalthea, Aria Lorelei dengan kedua adiknya Hugo Lorelei dan Edward Lorelei yang menginginkan tahta. Namun Ratu Aria lebih memilih Edward sebagai penerusnya kelak, karena ia memang garis keturunan selanjutnya dan memiliki sikap yang lebih bijaksana dari sang adik bungsu.
Tapi Hugo Lorelei tidak menerimanya. Ia lalu mencuri Emrys, pusaka abadi yang menjadi pusat kehidupan bagi Amalthea dan rakyatnya. Peperangan besar terjadi antara pasukan Edward dan Hugo yang berakhir dengan kematian tragis Edward. Ia mengorbankan dirinya dan berhasil memenjarakan Hugo di Tebing Hitam sebelum ajalnya menjemput.
Meski begitu, Hugo telah berhasil memecah belah pusaka Emrys dan menyembunyikan di tempat-tempat yang berbeda. Para pengikut setianya lalu menyembunyikan diri entah kemana. Mereka akan menunggu sampai waktunya tiba Tuan mereka terbebas dari penjara Tebing Hitam.
Satu-satunya pecahan Emrys yang paling besar bisa diselamatkan oleh sang Ratu. Ia lalu menanamkan pada tubuhnya sendiri agar Hugo ataupun pengikutnya tidak ada yang bisa mencurinya.
Dan sekarang, Sang Ratu tengah berada dalam kesengsaraan. Tubuh dan jiwanya sekarat karena pecahan Emrys di dalam tubuhnya mulai melemah. Ia mengorbankan dirinya agar Amalthea bisa terus bertahan.
Amalthea membutuhkan sebelas pecahan yang tersisa. Jika tidak, maka Amalthea bisa hancur dan Ratu Aria akan menemui ajalnya. Jika itu terjadi, Hugo Lorelei akan bangkit dan semua rencananya untuk merebut tanah Amalthea akan terwujud.
Kai bersama sepuluh kakaknya telah terpilih menjadi Pelacak Emrys. Hanya keturunan keluarga Gamma yang bisa menemukan pecahan Emrys, karena nenek moyang merekalah yang membuat benda pusaka tersebut. Dan keluarga Gamma adalah salah satu keturunan penyihir hebat yang sudah jarang ditemui di negeri Amalthea.
Namun sudah hampir 3 tahun Kai berpetualang di beberapa belahan Bumi, ia tak kunjung menemukan pecahan terakhir dari Emrys. Sedangkan beberapa kakaknya telah berhasil dan membawa pecahan yang mereka temukan ke Amalthea.
Kai menghela nafasnya kasar, ia semakin frustasi jika mengingat hal itu. Tangan kanannya kembali merogoh saku, hampir mengeluarkan sebatang rokok lagi karena yang sebelumnya telah habis. Namun sebuah suara pelan langsung menegur perbuatannya itu.
"Kau sudah menghabiskan tiga batang hanya dalam waktu 30 menit. Kecanduanmu pada rokok sudah sangat buruk. Jangan sampai kau mati lebih dulu sebelum menyelesaikan tugas."
Teguran tajam itu membuat Kai hanya berdehem pelan seraya kembali mendengus kasar. Namun akhirnya ia tak jadi mengambil rokoknya. Lalu memilih menarik tangan kiri untuk melihat sudah pukul berapa saat ini.
"Sudah hampir pukul dua, tapi tidak ada tanda-tanda yang terlihat di sekitar sini. Aku mulai mengantuk, berdiri di sini membuatku bosan. Kalau kau punya obat mujarab selain rokok, aku mungkin kuat begadang sampai esok pagi. Karena aku tidak kuat minum cairan hitam yang biasa diminum orang-orang ini."
__ADS_1
"Sudah hampir tiga tahun, tapi kau masih membenci kopi?"
"Aku trauma. Dan aku tidak akan pernah meminumnya lagi."
"Amalthea punya yang lebih mujarab dari itu. Mau kuhidangkan?"
Kai melirik pada ruang kosong di sampingnya. Sejak tadi suara yang terdengar itu tidak terlihat wujudnya. Membuat pemuda itu seolah berbicara pada sosok yang tak kasat mata.
"Tidak ada orang disini. Kenapa kau masih jual mahal begitu?"
Sindiran tajam itu seketika membuat ruang kosong di samping kiri Kai menampilkan sesosok binatang imut yang begitu digilai oleh ribuan manusia. Ya, seekor kucing berbulu abu-abu gelap dengan mata kuning cerah menatap Kai dengan ekspresi yang tentu tidak akan dimiliki seekor kucing biasa.
Kucing itu duduk tegap layaknya seorang Bangsawan yang sedang menikmati pemandangan. Di bagian dahinya terukir warna bulu berbeda yang bentuknya cukup unik. Bisa dikatakan mirip sebuah simbol yang agak rumit dijelaskan.
Kucing itu memang ajaib. Ia bisa berbicara, punya pemikiran sendiri, dan bisa merubah wujud ataupun menghilangkan wujudnya. Tapi bagi orang-orang Amalthea itu bukanlah sesuatu yang spesial. Mereka menyebutnya sebagai Guide.
Para penyihir Amalthea memiliki Guide masing-masing yang memiliki bentuk dan wujud berbeda-beda. Setiap Guide juga memiliki tingkat dan kegunaan yang berbeda. Tergantung pekerjaan dan bagaimana hidup para penyihir tersebut.
Namun peran utama dari sebuah Guide sesungguhnya, mereka adalah jiwa yang terpecah dari pemiliknya. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat dengan pemiliknya. Guide muncul sejak si pemilik baru lahir. Jika pemiliknya sakit, maka kemungkinan besar Guide juga akan mengalami hal yang sama.
Dan jika Guide dalam keadaan sekarat itu menunjukkan bahwa pemilik mereka dalam keadaan yang buruk atau nyaris mati. Jika pemiliknya mati, maka Guide akan ikut mati. Namun, Guide bisa mati lebih dulu dari pemiliknya.
"Apa menurutmu kita harus berpindah lagi? Sudah hampir tiga bulan, tapi tidak ada sinyal Emrys yang terlacak di area ini," ujar si kucing.
"Kau betah di sini?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Lalu?"
"Tabunganku benar-benar menipis, Rex."
Kali ini si kucing ajaib bernama Rex itu mendengus dengan wajah lucu. Ia kembali menatap pemiliknya yang malah menyandarkan tubuhnya pada atap rumah.
"Tentu saja menipis karena sudah hampir dua bulan kau menganggur. Sifat pemilihmu itu yang membuatmu berakhir menjadi pengangguran. Pengalaman kerjamu sudah banyak, aku yakin kau bisa mendapatkan banyak pekerjaan yang layak di tempat ini. Biaya hidup di negara ini jauh lebih murah dibandingkan beberapa tempat yang pernah kita datangi. Dan yang penting, orang-orang disini sangat menyanjung para pendatang."
"Aku tahu itu."
"Lalu kenapa kau masih menggerutu dan tidak bekerja? Atau yang kau pikirkan sebenarnya bukan itu? Tapi berita bahwa kakak-kakakmu sudah hampir menemukan pecahan Pusaka Emrys. Apa aku salah?"
Rex menatap Kai, mendekati dan duduk di dekat pundak pemiliknya. Namun Kai malah memejamkan mata, menurunkan rambut depannya ke bagian wajah. Dengan tidak sabar Rex menggunakan ekornya untuk menampar wajah Kai.
__ADS_1
"Hachuuu…"
Kai bangkit dengan kesal sembari tangannya mengusap-usap hidung serta wajah.
"Bisa berhenti lakukan itu! Aku geli dengan bulumu itu!" sergah Kai gusar, masih dengan gerakan mengusap hidung karena merasa ingin bersin kembali.
"Itu imbalan bagi orang yang putus asa."
"Siapa bilang aku putus asa?"
"Lalu apa? Tuan Declan dan Dallas rupanya sangat mempengaruhi emosimu."
"Sejak kapan kau memanggil mereka Tuan?"
"Lihat bagaimana nadamu yang kesal itu!"
Kai sadar bahwa Rex tengah menggodanya. Dirinya tidak menyangkal bahwa saudara-saudaranya telah membuatnya iri dan cemburu.
Tiga kakak tertuanya sudah menemukan pecahan Emrys dalam waktu setengah tahun saja. Lalu kakaknya yang paling cantik, Samira, juga telah menyelesaikan tugas tidak kurang dari satu tahun. Dua kakaknya yang lain juga sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dan sekarang Declan dan Dallas juga telah melakukan hal yang sama.
Setelah ini Kai yakin, dua saudara kembar itu akan menertawakan dirinya. Kai memang tidak akur dengan beberapa kakaknya, karena mereka menganggap Kai lemah dalam banyak hal. Bahkan orang tuanya sendiri menganggap Kai adalah putra terakhirnya yang gagal. Siapa yang tidak sakit hati mendengar itu dari keluarga sendiri?
Rex mungkin satu-satunya teman dan saudara yang paling mengerti siapa diri Kai yang sebenarnya. Kai bukannya sosok lemah yang gagal, hanya saja kadang keberuntungan tidak berpihak padanya.
Kali ini tujuan Kai hanya ingin menemukan pecahan Emrys secepat mungkin. Dia sudah menghabiskan banyak waktu di dunia ini dan hampir berubah menjadi orang Bumi sepenuhnya. Masih ada dua saudaranya yang juga belum menemukan pecahan Emrys yang lain. Itu artinya, Kai masih punya waktu untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah putra yang gagal.
Kai tiba-tiba bangkit dari tidurnya, membuat Rex segera melompat ke samping karena terkejut. Pemuda itu menyisir rambut gelapnya ke belakang. Sinar bulan memerangi wajahnya yang ternyata begitu manis dilihat. Ternyata ia memiliki mata hijau yang indah dan sangat menggoda.
Warna rambut asli Kai bukan berwarna hitam, tapi merah kecoklatan yang cukup terang. Ia selalu mengubah warna rambut dan penampilannya jika singgah di negara yang memiliki budaya berbeda. Terlebih di negara-negara yang mayoritas penduduknya memiliki warna rambut gelap.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Rex saat melihat wajah semangat dari Tuannya.
"Aku sudah lelah terus mengalah dan dikatakan gagal. Aku tidak akan membiarkan ayah, ibu, atau para saudaraku menghina wajahku lagi. Kita akan pindah lusa, menuju koordinat terakhir di negara ini."
"Lalu bagaimana dengan uangmu yang menipis?"
Kai menoleh, menatap Rex dengan wajah sinis. "Kau harus menemukan pekerjaan yang cocok untukku sebelum kita pindah ke sana. Memangnya kau pikir siapa yang biaya hidupnya paling boros? Cih!"
Setelahnya Kai berlalu, melompat dengan santai pada atap rumah selanjutnya hingga ia tiba di jalanan menuju rumah sewanya yang tak jauh dari gang sempit di depan.
Rex mendengus kasar. Rasanya ingin memaki anak muda sombong itu. Tapi memang tidak pantas jika dirinya mengeluh dan protes. Karena Rex juga baru tahu bahwa biaya hidupnya sebagai kucing di Bumi jauh lebih mahal dari manusianya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...