
Tengah malam saat suasana sudah semakin lengang dan sepi. Rumah bercat abu-abu dan putih itu masih bercahaya terang yang menandakan bahwa tubuh inang dari Pusaka Emrys masih terjaga.
Kai bersama Rex mengawasi rumah itu dari kejauhan. Keduanya kini sedang menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya setelah mengetahui pusaka itu bersarang dalam tubuh seorang gadis.
"Aku telah mempelajari kasus semacam ini. Gadis itu orang kedua setelah Ratu Aria yang bisa menampung sebuah pecahan Pusaka pada tubuhnya. Ia tepat berusia 17 tahun hari ini. Itu adalah alasan kenapa sinyal Pusaka Emrys baru bisa menampakkan dirinya. Kasus ini sepertinya akan rumit dan menjadi tugas baru bagi kita. Karena untuk mengeluarkan pusaka itu dari tubuhnya adalah mustahil."
Kai yang sedang menyembunyikan dirinya di sebuah pohon lebat dekat rumah itu hanya bisa memberikan ekspresi wajah kesal. Tugas yang ia pikul sudah cukup membuatnya merasa terbebani, dan sekarang dirinya harus dihadapkan dengan sebuah kasus yang lebih rumit lagi.
Pecahan pusaka Emrys yang hidup dalam tubuh makhluk hidup lain sudah menyatu sepenuhnya dan tidak mungkin bisa dipisahkan. Karena jika pusaka tersebut dikeluarkan secara paksa, maka pusaka itu bisa kehilangan kekuatan dan tubuh inangnya juga akan hancur dan menghilang.
Dan jika Kai melakukan itu, sama saja ia seperti seorang pembunuh. Kai juga akan gagal mendapatkan pusaka tersebut. Tempat ini bukan di Amalthea, dimana ia bisa menggunakan kemampuan sihirnya sesuka hati. Tidak ada yang bisa Kai lakukan kecuali jika ia membawa gadis itu menuju Amalthea.
"Aku penasaran kenapa gadis Bumi biasa, bisa menampung pecahan Pusaka Emrys. Bukankah menurutmu ini aneh? Aku tidak akan heran jika saat ini kita berada di Amalthea. Tapi ini di Bumi, dimana tidak ada sihir yang bekerja di tempat ini."
"Aku juga sedang mencari tahu. Tapi kurasa ini adalah rencana Hugo Lorelei yang tidak kita duga. Ia menggunakan sebuah mantra terlarang agar gadis itu bisa menampung Pusaka Emrys. Alasannya sudah jelas agar kita tidak mudah mendapatkan pusaka itu. Dan itu bisa mengulur waktu yang cukup lama sampai ia bisa keluar dari penjara Tebing Hitam."
"Tapi sayangnya aku tidak akan menunggu sampai dia bebas. Jika itu terjadi, maka sia-sia saja perjalanan kami selama ini. Jadi, keterangan apa yang kau dapat tentang gadis itu?"
Rex saat itu mengubah wujudnya menjadi sesosok gadis muda dengan rambut panjang yang diikat kuda. Menggunakan seragam sekolah putih abu-abu, bahkan menggendong tas imut yang sekarang sedang ia korek-korek untuk mencari selembar kertas yang berisikan informasi tentang gadis yang sedang mereka bahas.
__ADS_1
Entah dari mana ia mendapatkan inspirasi untuk mengubah wujudnya menjadi seperti itu, Kai saat ini bahkan tidak peduli. Biasanya dia akan mengomel panjang lebar jika Rex mengubah wujudnya menjadi sosok yang macam-macam. Tapi untunglah kali ini dia tidak berubah menjadi wanita seksi yang hanya mengenakan bikini.
"Namanya Isla Larasati. Usianya 17 tahun tepat hari ini dan dia masih duduk di bangku SMA tingkat 2. Anak kedua dari tiga bersaudara, namun semua keluarganya tinggal di kota yang berbeda. Rumah ini bukan rumahnya, tapi milik saudaranya. Mereka menyebutnya Paman, Bibi, tapi bisa juga Tante, Om, Pakde, Bude.. "
"Bisakah kau menjelaskan hal yang lebih penting saja!"
"Hmmm.. Oke. Intinya gadis ini menumpang di rumah ini karena ia disekolahkan oleh si pemilik rumah ini. Tapi, hidup dia rupanya tidak benar-benar beruntung. Karena ia sering diperlakukan buruk baik di tempat ini maupun di sekolahnya."
"Jadi maksudmu dia dirundung?"
"Bisa dikatakan begitu. Karena dia cukup cantik dan pintar, jadi beberapa orang tidak menyukainya termasuk saudara sepupunya sendiri. Namun pemilik rumah ini sangat baik padanya."
Kai melihat sekeliling dan segera turun tanpa suara saat meyakinkan diri bahwa tidak ada aktivitas lagi di rumah itu.
"Apa yang mau kau lakukan?" tegur Rex dari atas dengan suara berbisik. Namun Kai dengan cepat sudah menghilang, membuat kucing ajaib yang sedang menyamar menjadi gadis imut itu segera mengikutinya.
Kai berhenti di depan jendela kamar Isla. Memang sangat tidak sopan jika laki-laki mengintip ke dalam kamar seorang gadis. Tapi Kai hanya ingin melihat lebih jelas bagaimana hidup gadis itu sebenarnya. Hidup seseorang yang mungkin akan terlibat peristiwa dan perjalanan panjang dengannya suatu hari nanti.
Kai menggunakan kekuatan sihirnya untuk membuka celah pada gorden kamar itu yang sudah tertutup. Di dalam sana hanya berpendar cahaya temaram yang berasal dari sebuah lampu diatas meja belajar. Gadis berambut gelap itu sedang terlelap di atas meja dengan setumpuk buku yang masih terbuka.
__ADS_1
Kamar itu juga tidak luas dan penuh dengan tumpukan baju yang sudah rapi seperti habis disetrika. Rupanya ia habis melakukan pekerjaan berat hingga tertidur saat sedang mengerjakan tugas.
Melihat pemandangan itu Kai langsung menghela nafas dan bergegas kembali menutup gorden jendela.
"Sepertinya dia gadis yang baik," ujar Rex setelah ia ikut menyaksikan apa yang dilihat oleh Kai. Namun pemuda itu tidak menyahut dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut sebelum ada penghuni yang akan memergoki dirinya.
*****
Setelah hari itu, tugas Rex sehari-hari mengawasi kehidupan gadis bernama Isla itu selama 24 jam penuh. Sedangkan Kai masih harus bekerja dan sedang mengurus perpindahannya dari seorang pegawai kantoran menjadi seorang guru.
Ya. Kai telah melamar pada posisi kosong guru pembimbing di sekolah dimana Isla belajar. Tidak ada jalan lain bagi Kai kecuali dirinya juga harus masuk ke dalam ruang lingkup gadis itu dan mendekatinya secara perlahan. Kai tidak ingin buang-buang waktu lebih lama lagi.
Ia juga sudah mengirimkan pesan rahasia pada salah satu saudaranya dan mengatakan apa yang telah terjadi pada pecahan terakhir dari Emrys. Kai tidak ingin berita ini menyebar dan ingin mengatasi sendiri selama dirinya bisa. Namun ia membutuhkan nasehat dan solusi bagaimana ia bisa mendapatkan Pusaka Emrys tanpa melukai gadis tersebut.
Satu hal yang ada di pikiran Kai setelah mengetahui fenomena ini bahwa secepatnya ia harus memberitahu Margus. Si ahli ramuan yang juga pamannya sendiri namun ia hidup terasing di dalam hutan perbatasan. Margus pasti bisa menolong dirinya, menemukan cara agar ia bisa mengeluarkan Pusaka Emrys tanpa harus mengorbankan nyawa gadis tersebut.
Selama tiga hari penuh, Rex mengamati kehidupan gadis tersebut. Mengikuti kemanapun ia pergi bahkan saat berada di sekolahnya. Lagipula itu tidak sulit karena Rex bisa membuat dirinya transparan. Dan pemandangan yang ia lihat membuat Rex semakin iba dengan kehidupan gadis itu.
Ia cantik dan pintar, namun hidupnya sengsara karena banyak orang yang membencinya. Rex melaporkan semua tugasnya pada Kai tentang kehidupan Isla. Pemuda itu mempelajarinya dengan serius dan mulai menyusun rencana dalam otaknya. Karena besok ia sudah mulai bekerja menjadi guru pembimbing di sekolah tersebut.
__ADS_1
Bersambung...