
Rabu pagi, Kai sudah berdandan rapi dengan kemeja biru muda polos. Ia menata rambut gelapnya serapi mungkin, agar poni yang biasanya jatuh menutupi dahi bisa tersingkir untuk sementara waktu.
Ya. Kai hari ini telah kembali berganti profesi menjadi seorang guru BK di sebuah sekolah yang sudah ia targetkan. Ia akan memulai tugas barunya, mengawasi dan mendekati si gadis Emrys bernama Isla.
Dan yang paling mengejutkan, tidak hanya Kai yang sedang berdandan menuju sekolah tersebut, tapi Rex juga. Kucing ajaib itu telah mendaftarkan dirinya menjadi salah satu murid pindahan ke sana, dan ia menyamar menjadi seorang murid perempuan yang manis dan lucu.
Rupanya penyamaran yang ia lakukan beberapa hari lalu adalah bentuk latihan dari rencana yang sudah tersusun dalam otaknya. Kai hanya bisa melihat dengan pandangan ngeri saat menyaksikan Rex kini sedang mematut-matutkan dirinya di depan cermin sambil memutar tubuh. Memastikan bahwa seragam sekolah yang terlalu mini itu memang cocok untuknya.
Belum lagi ia juga mengikat rambutnya dengan pita besar berwarna merah. Memakai sepatu pantofel dengan kaus kaki panjang hingga ke atas lutut. Sungguh, itu penampilan yang lebih dari mencolok untuk ukuran anak sekolahan.
"Kau mau sekolah atau sedang melakukan cosplay? Itu terlalu mencolok!" tegur Kai.
"Apanya yang mencolok, aku memakai seragam yang sama dengan para murid disana. Lalu apa salahnya aku sedikit berdandan agar penampilanku sempurna untuk penyamaran ini. Ini adalah langkah bagus, agar aku bisa berteman dengan Isla."
"Aku ini guru pembimbing, dan pekerjaanku adalah membasmi para murid yang memiliki penampilan seronok sepertimu. Kalau kau tidak menambah bahan pada bajumu, jangan salahkan kalau aku akan memberikan hukuman setimpal di hari pertama. Lagipula kau ini kucing laki-laki, kenapa juga harus menyamar jadi perempuan?"
"Kau pikir gadis semacam Isla akan mau kudekati jika aku laki-laki? Aku sudah melihat kehidupannya yang menyedihkan di sana. Jadi biarkan aku menolong dengan caraku sendiri."
"Itu tidak masalah, tapi cepat tukar bajumu dengan yang sedikit lebih sopan. Atau aku tak akan memberikan tumpangan!"
Setelahnya Kai langsung berlalu meninggalkan Rex dengan wajah kesal. Dengan berat hati, kucing manis yang menggunakan nama Rosy selama penyamaran itu mengubah bentuk bajunya agar lebih longgar dan lebih panjang dari sebelumnya. Sekarang ia sudah tak terlihat seksi lagi, namun juga tak menghilangkan kesan cantik dan menarik dari penampilannya.
Kai sudah pernah menjalankan pekerjaan sebagai pengajar, tapi sebagai guru bimbingan konseling baru kali ini Kai melakoninya. Rupanya penampilan yang ia suguhkan pada hari pertama cukup mencolok dan menarik perhatian. Bisa dilihat bagaimana beberapa murid memandangnya sambil berbisik-bisik.
Yah, masalahnya Kai bisa dikatakan cukup muda mengambil posisi sebagai seorang guru. Dia bahkan masih cocok jika dikatakan sebagai mahasiswa. Belum lagi penampilan dan wajahnya yang agak sedikit bule, tentu akan menarik perhatian para siswa dan guru. Kai juga tak merubah biodatanya bahwa ia kelahiran Jerman.
Kai menyusun semua berkas-berkas dari tugas guru sebelumnya yang belum selesai. Kai membaca sambil geleng-geleng, ternyata kenakalan para siswa itu sulit untuk dikendalikan. Bahkan sudah ada beberapa kali kasus tawuran, siswa yang hamil, dan juga menenggak miras di sekolah.
Dan sampai saat ini, masih ada banyak kasus lain yang belum bisa diselesaikan. Bahkan mengatur para siswa untuk datang tepat waktu dan berpakaian benar saja masih sering kecolongan.
Kai juga sudah melihat data siswa milik Isla. Gadis ini memang pintar dan tidak pernah keluar dari peringkat 3 besar sejak kelas 1. Bahkan saat SMP nilai-nilainya juga memuaskan.
Dan satu hal yang membuat Kai penasaran, jika memang Isla dirundung oleh teman-temannya kenapa tidak ada catatan apapun di berkas milik guru BK sebelumnya? Tidak mungkin jika ada siswa yang dirundung para guru tidak ada yang mengetahuinya. Setidaknya pasti ada laporan yang dibuat, karena menurut Rex perundungan yang diterima Isla sangat ketara sekali. Apa para guru ini memang tidak peduli?
*****
__ADS_1
"Kau tidak niat ya, menolong kami? Aku sudah bilang Isla, kalau kau masih mau melanjutkan sekolah disini seharusnya kau tahu apa yang harus dilakukan. Apa susahnya membuat contekan beberapa lembar dan memberikan pada kami saat ujian nanti?"
"Maaf Jihan, tapi aku tidak bisa. Kalau sampai ketahuan akan jadi masalah besar," sahut Isla.
"Ya makanya, jangan sampai ketahuan! Pokoknya aku tidak mau tahu, ujian akan diadakan 1 minggu lagi. Dan sebelum itu kau harus sudah membuatkan kami contekan, aku yakin kau pasti tahu materi mana saja yang akan keluar dalam ujian nanti."
"Aku tidak bisa Jihan. Lagipula kenapa kau harus menyuruhku berpikir? Kau punya otak. Lebih baik kau belajar sendiri, agar tidak bergantung pada orang lain terus."
Saat itu Isla sedang berbicara dengan Jihan dan dua temannya di bagian belakang sekolah, dekat dengan toilet rusak yang akan di renovasi. Isla terlihat tidak suka dengan gagasan itu. Ini bukan sekali dua kali dirinya diperlakukan seperti ini oleh Jihan. Isla sampai sudah muak karena Jihan selalu menggunakan Nita (saudara sepupunya) sebagai tameng untuk merundungnya. Dan karena alasan inilah, Nita sangat benci padanya.
PLAK! PLAK!
Dua tamparan keras mendarat bebas di pipi Isla. Gadis itu terdiam menahan sakit, namun ia tak menangis. Tangannya mengepal kuat karena perasaan benci dan sakit hati, tapi sayangnya Isla selalu tak bisa membalas perlakuan mereka yang semena-mena.
"Kau berani menjawab? Jangan sombong hanya karena kau pintar. Aku ingin tahu apa kamu masih bisa sombong kalau sampai sepupumu itu dipermalukan lagi.."
"Berhenti mengganggu Nita!" selah Isla.
Jihan tertawa meremehkan. "Aku akan menganggu atau tidak, keputusan ada di tanganmu, Isla. Lagipula kau ini memang gadis aneh, Nita saja benci padamu tapi kau masih berusaha melindunginya. Ah... Aku tau, kau sok melindunginya karena kau menumpang dan disekolahkan orang tuanya kan? Hahaha... "
Jihan dan dua temannya tertawa-tawa, mereka benar-benar jahat dan meremehkan Isla yang sejak tadi hanya terdiam. Bahkan Jihan dengan kasar menunjuk-nunjuk dan mendorong kepala Isla dengan telunjuknya.
BRAK!
"Astaga! Pintunya..."
Rosy yang sengaja menendang pintu dari dalam memberi ekspresi wajah terkejut sambil menyaksikan pintu toilet yang memang sudah rusak kini roboh dan hampir menimpa Jihan dan dua temannya.
Tiga gadis itu segera menyingkir dan memekik heboh.
"Apa yang kau lakukan? Kau gila?!" teriak Jihan marah.
"Aduh, maaf. Aku tidak tahu kalau ada orang di luar," kilah Rosy dengan wajah sok merasa bersalah.
"Dasar pengganggu! Apa yang kau lakukan di dalam sana? Kau menguping ya?!"
__ADS_1
"Menguping? Memangnya kalian sedang apa, melakukan hal buruk ya?"
"Bukan urusanmu! Lagipula kau siapa, aku belum pernah melihatmu di sekolah ini?"
Salah satu temannya menyenggol lengan Jihan. "Dia itu siswi baru yang sedang dibicarakan hari ini. Cantik ya?"
"Iya, imut banget kayak kucing. Aku dengar dia pindahan dari Jerman," sahut temannya yang lain.
Mendengar dua temannya yang malah memuji-muji Rosy membuat Jihan kesal dan langsung menarik rambut keduanya.
"Ahh... Jihan sakit!"
"Dasar penjilat!" ucap Jihan. Ia kemudian menoleh pada Isla yang sejak tadi hanya terdiam. "Jangan lupa pembicaraan kita tadi, Isla. Atau aku benar-benar akan membuatmu menyesal!"
Setelahnya Jihan berlalu sambil melirik sinis pada Rosy. Dua temannya segera mengekori layaknya dayang-dayang yang tak tahu malu. Sepeninggal para perundung itu Rosy perlahan mendekati Isla yang malah memberikan tatapan menyelidik padanya.
"Mereka menganggumu, kenapa kau diam saja?" tanya Rosy.
"Karena aku tidak bisa melawan."
"Kenapa?"
"Ya tidak bisa saja, kau tidak akan tahu. Kau kenapa bersembunyi di dalam? Toilet itu tidak bisa dipakai."
"Eh... Tadi aku tidak bisa menahan buang air, jadi aku kesini karena kupikir toilet ini bisa digunakan, tapi ternyata tidak. Aku masih baru jadi belum tahu dimana letak toiletnya." Rosy tersenyum manis dengan kebohongan yang baru saja ia susun. Isla sepertinya gadis yang tidak mudah ditipu dan selalu waspada dengan orang-orang di sekitarnya.
Ia mungkin terlihat seperti gadis lemah yang mudah dirundung, tapi Rosy baru tahu alasan sebenarnya kenapa ia tak bisa melawan. Padahal jika mau, Isla bisa saja membuat orang-orang semacam Jihan takut padanya. Rosy bisa membaca dengan jelas, bahkan aura gadis itu sangat kuat dan tidak punya rasa takut sama sekali.
"Kau agak aneh," tukas Isla tiba-tiba.
"Hah, apanya yang aneh?" Rosy balik bertanya karena tidak paham.
"Aku tidak bisa menjelaskan, tapi aku bisa merasakan kalau kau sedikit berbeda. Aku tahu kau bohong soal bersembunyi di dalam toilet sejak tadi, karena aku baru merasakan kedatanganmu beberapa saat lalu. Aku penasaran bagaimana caranya kau masuk ke sana, padahal kau harus melewati kami. "
Rosy alias Rex, hanya bisa tertegun mendengar penuturan yang mengejutkan itu. Apa-apaan ini, kenapa Isla bisa mengatakan hal seperti itu? Seolah dia punya kekuatan tersembunyi dan bisa merasakan kehadiran orang lain. Apa mungkin pecahan Emrys dalam tubuhnya membuat Isla menjadi peka dan mempunyai sesuatu yang khusus?
__ADS_1
Kalau iya, Ini mengejutkan.
Bersambung...