
Istana Amalthea.
Saat itu masih pagi, matahari baru terbit sebagian. Istana dikejutkan oleh kemunculan tiga sosok yang baru saja berteleportasi dan jatuh tepat di depan halaman Istana.
Tiga sosok itu adalah Eris, Declan dan Dallas. Ketiganya baru saja kembali dalam keadaan terluka parah, terutama Dallas yang hampir kehilangan kaki kirinya. Tiga Guide mereka juga mengalami nasib yang sama.
Para penyihir medis bergegas menjemput, menggotong saudara kembar itu dengan tandu sihir. Tiga Guide mereka juga ditandu untuk mendapatkan perawatan. Seorang wanita dewasa yang memakai gaun perak muncul dari ambang pintu istana, menjemput Eris yang hendak masuk ke dalam.
Wanita itu berwajah sangat cantik, berkharisma dengan mata sipit seperti kucing. Rambut gelapnya dibiarkan tergerai panjang. Auranya sangat kuat dan mengintimidasi. Ia membawa pedang bersarung perak yang tergantung di balik punggungnya.
"Aku senang kau selamat, Eris," ucapnya pada Eris yang akhirnya tiba di depan pintu Istana. Wanita dengan penampilan tomboy itu tersenyum getir dengan nafas masih tersengal-sengal.
Rambut merah kecoklatannya yang dipotong pendek seperti laki-laki terlihat kusut seperti sudah setahun tidak disisir. Ia kembali dengan penampilan yang sangat berbeda. Ia mengenakan pakaian yang tentu aneh bagi orang-orang Amalthea. Penampilannya agak urakan, mengenakan celana jeans, jaket jeans yang sudah sobek di beberapa tempat. Belum lagi atribut benda-benda tajam kecil yang sengaja ditempelkan pada jaketnya. Tubuhnya bahkan tampak tidak terurus. Mata kirinya tertutup oleh kain dan tampak bercak darah yang masih baru pada kainnya.
"Hai, Samira. Tidak melihatmu lebih dari tiga tahun, ternyata kau sudah berubah banyak. Lihatlah, kau hampir mirip seperti Sang Ratu."
Eris selalu bergaya ceplas ceplos sejak dulu. Tidak hanya penampilannya yang tomboy, tapi juga sikap dan perilakunya kadang terlalu kurang ajar. Ia akan menyampaikan apa yang ia lihat secara gamblang. Dan itu jelas membuat wanita cantik bernama Samira itu tidak menyukainya.
"Terima kasih untuk pujiannya. Aku heran kau masih bisa bicara banyak padahal sudah babak belur begitu. Sekarang ikut aku!"
Eris hanya mengangkat bahu sambil mengekori Samira masuk ke dalam Istana. Eris saat itu dalam kondisi yang tidak begitu baik. Ia baru kembali dalam misinya mencari pusaka Emrys selama tiga tahun.
Declan dan Dallas menemuinya sekitar dua minggu yang lalu. Tapi mereka menemui halangan besar saat akan kembali ke Amalthea. Anak buah Hugo Lorelei menghadang di beberapa tempat. Mereka menemukan keberadaannya dengan cepat setelah Ios ditemukan tewas.
Pertarungan sengit terjadi yang membuat Declan dan Dallas terluka parah. Dallas mengalami luka yang paling parah, kaki kirinya terkena sihir kutukan. Sihir yang juga telah membunuh Ios. Untung saja sihir itu hanya mengenai kakinya. Jika jantungnya yang menjadi sasaran, maka ia akan berakhir sama seperti Ios.
Eris juga harus merelakan mata kirinya. Ia berhasil menggunakan dimensi sihir untuk melarikan diri bersama dua saudaranya, sebelum mereka benar-benar terluka semakin parah. Dan yang terpenting tiga pasukan Akuji tidak berhasil mendapatkan pecahan pusaka tersebut.
__ADS_1
Samira mengajak Eris menuju sebuah ruangan khusus di dalam Istana. Ruangan itu tidak luas, tapi langit-langitnya sangat tinggi. Semua dinding dan lantai terbuat dari batu. Samira menggunakan sihirnya, mengucapkan mantra yang membuat lantai di bawah mereka bergetar dan terbuka.
Samira dan Eris mundur. Lantai terbelah dan muncul kotak besar seperti sebuah sangkar dengan jeruji besi. Keduanya masuk kedalam. Kotak kembali tertutup dan membawa keduanya menuju ruang bawah tanah istana.
Perjalanan ke bawah sana memakan waktu sekitar tiga menit karena lift itu turun dengan lambat. Dua sosok itu hanya saling terdiam. Samira berdiri tegak di depan, menatap lurus pada dinding-dinding batu yang dilewati. Bagian atas dari kotak itu terdapat sinar jingga yang berpendar temaram sehingga perjalanan menuju bawah sana tidak terlalu gelap.
"Apa kau sudah dengar kabar dari Kai?" tanya Samira tiba-tiba. Eris yang sedang menggerak-gerakkan kakinya mendongak.
"Bukankah kalian telah mengirim Argo dan Hilma?"
"Ya. Tapi sesuatu mengacaukan Pelacak mereka. Hilma belum memberikan kabar apapun dari sana. Aku agak heran kenapa Pelacak milik Kai tidak menunjukkan adanya pergerakan."
"Mungkin saja Kai tidak sengaja meninggalkannya. Aku yakin mereka sudah bertemu dengan pasukan Akuji. Pasukan itu tidak bisa dianggap remeh."
"Benar. Maka dari itu, aku tidak ingin pusaka yang dibawa oleh Kai sampai jatuh ke tangan mereka. Aku hanya tidak suka Hilma dan Argo mempunyai rencana lain yang tidak kuketahui."
"Entahlah." Samira menjawab singkat. Keduanya tidak bicara lagi sampai akhirnya lift itu tiba di tempat tujuan. Eris mengikuti Samira ke dalam ruangan yang bentuknya seperti gua.
Wanita berambut cepak itu menatap takjub pada pemandangan yang ia saksikan di depan mata. Sebuah keindahan cahaya yang menyilaukan mata, terpantul dari permukaan air tenang dibawahnya.
Sebuah pohon besar berdiri di tengah-tengah danau yang jernih. Eris menyaksikan Pusaka Emrys yang melayang dengan sinar terangnya menggantung pada dahan pohon tersebut layaknya buah.
Bentuk asli dari Pusaka Emrys sama persis dengan visual dari lambang matahari. Akibat pusaka tersebut yang terpecah belah, maka dibuatlah pohon kehidupan sebagai wadah dari pecahan Pusaka tersebut yang belum bisa menyatu selama semua pecahannya belum terkumpul.
Samira menatap Eris. Wanita tomboy itu segera merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya. Ia mengeluarkan kantong hitam tipis dan merogoh sesuatu di dalamnya. Sebuah kota kaca dengan sinar biru terang ia keluarkan dan langsung diserahkan pada Samira.
Menggunakan mantra sihir, Samira meletakkan pecahan pusaka itu pada salah satu dahan yang kosong. Sinar pusaka Emrys berpendar semakin terang. Bagian dahan itu kini tumbuh daun alaminya seperti dahan-dahan lain. Dua dahan masih kosong. Salah satunya milik Ios telah jatuh ke tangan musuh. Dan sekarang masih ada satu dahan lain yang kosong. Dahan itu milik Kai. Pohon kehidupan akan mengembalikan bentuk asli pusaka Emrys, jika semua pecahannya telah ditemukan.
__ADS_1
*****
Perbatasan Amalthea saat ini sedang dalam keadaan genting. Barisan Selatan yang dipimpin oleh Luke mengabarkan sesuatu yang tidak terduga. Para Lumis yang tinggal di sekitar perbatasan itu tiba-tiba saja tertular penyakit yang saat ini merebak di Amalthea Timur.
Luke telah mengabarkan apa yang ia hadapi pada Edric dan Issac. Perbatasan dijaga sangat ketat, seharusnya tidak mungkin ada Lumis yang berhasil lolos menuju Amalthea Barat. Pasukan Akuji beberapa hari ini juga tidak berkeliaran di dekat perbatasan.
Karena berita mengejutkan ini, sebagian pasukan dikirim menuju barisan Selatan. Begitu juga para penyihir medis yang masih berada di tengah-tengah hutan sebagian ditarik untuk kembali ke Amalthea Barat.
Para Elf datang membantu. Penyebaran penyakit yang telah masuk ke Amalthea Barat harus segera dihentikan sebelum menyebar lebih luas lagi. Beberapa tempat yang berdekatan dengan penyebaran langsung ditutup untuk sementara. Para Lumis yang terjangkit penyakit diisolasi dan dirawat oleh para penyihir medis.
Edric dan Issac mendatangi Luke yang saat itu tengah membahas sesuatu dengan beberapa pasukannya. Mereka semua menggunakan kain penutup hidung dan mulut. Mereka juga menggunakan jubah tertutup dengan sarung tangan pelindung khusus agar tidak terjadi kontak fisik satu sama lain.
"Bagaimana itu bisa terjadi Luke?" tanya Edric setelah adiknya selesai rapat dengan pasukannya.
"Para medis sudah memberi pernyataan. Mereka yang berhasil masuk sudah berada di Amalthea sejak satu minggu lalu. Satu hari sebelum penghalang diperbarui."
"Sudah selama itu?"
"Ya. Sepertinya penyusup menunggu penghalang dalam keadaan lemah. Sehingga tidak terdeteksi ketika penyusupan itu terjadi."
"Apa tidak ada pasukanmu yang melaporkan sesuatu?" tanya Issac.
"Tidak. Semuanya berpatroli seperti biasa. Dan tidak ada sejengkal perbatasan pun yang kulewatkan."
"Itu artinya ada yang membantu mereka menyusup, Luke. Kau harus menguliti para pasukanmu. Kita tidak tahu, jika salah satu dari mereka ada yang telah berkhianat."
Bersambung...
__ADS_1