The Last Heirloom

The Last Heirloom
8. Menunggang Hippocampus


__ADS_3

Isla melangkah menuju batu cadas. Dari jarak dekat itu, ia bisa melihat tubuh Hippocampus yang licin. Namun yang unik bagian punggung makhluk itu cukup kasar dan tidak basah. Isla bisa melihat Kai dan Rex duduk dengan nyaman.


"Duduk di depanku saja!" ucap Kai.


"Apa?"


"Aku hanya tidak ingin tiba-tiba kau hanyut di dalam sana. Karena menunggang Hippocampus butuh sedikit ketrampilan."


"Tapi..."


Tanpa persetujuan, Kai menarik Isla duduk di depannya. Gadis itu tak bisa menolak, apalagi Kai kini malah merangkulnya dari belakang sambil kedua tangannya berpegangan pada surai makhluk cantik itu.


Setelah itu kejadiannya sangat cepat. Sebuah gelembung bening muncul dan menutup bagian punggung Hippocampus. Rupanya benda itu digunakan untuk melindungi penunggangnya agar tetap bisa bernafas di dalam air.


Setelah gelembung tertutup sempurna, barulah makhluk itu mulai bergerak perlahan masuk ke dalam danau hitam yang gelap. Isla menahan nafasnya saat merasakan udara mulai sedikit menipis. Cahaya yang ditimbulkan oleh sisik makhluk tersebut menerangi bagian dalam danau yang ternyata penuh dengan tulang belulang manusia yang bertumpuk dan tersusun membentuk bukit yang tinggi.


Kai rupanya menyadari ketakutan Isla. Duduk dalam jarak sedekat itu, Kai bisa merasakan tubuhnya yang gemetaran. Setangguh apapun manusia, mereka pasti akan bergidik dengan pemandangan yang terhampar di tempat itu.


Rex yang duduk di belakang tiba-tiba merayap ke depan. Ia mendengar permintaan Kai untuk menemani Isla. Meskipun kemunculannya mengejutkan, tapi Isla jauh lebih terbuka pada Rex.


Perjalanan dalam danau yang gelap itu cukup panjang. Hippocampus terus melawan arus, menembus kegelapan danau ke bagian yang terdalam. Entah berapa dalam danau itu, tapi seolah tidak berdasar sama sekali.


"Jangan khawatir, Nona. Setelah keluar dari gua ini, anda akan melihat pemandangan yang sesungguhnya."


"Gua?"


"Iya. Danau Kaala tidak memiliki dasar, namun bagian dalam danau ini tersambung dengan beberapa gua yang menghubungkannya ke lautan lepas."


Isla terkejut. "Jadi maksudmu, kita akan melewati lautan?"


Rex mengangguk. Sedangkan Isla hanya terdiam. Ia masih tidak terbiasa dengan pemandangan gelap ini. Meksipun tubuh Hippocampus memberikan penerangan, itu tidak membuat perasaannya membaik.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Hippocampus yang terus mengarah kebawah tiba-tiba langsung menukik ke atas. Isla baru sadar bahwa mereka baru saja keluar dari mulut gua dan kini berada di dalam lautan lepas. Namun kegelapan total masih menyelimuti seolah mereka berada dalam lautan yang paling dalam.


"Sebaiknya kau menutup matamu!" perintah Kai dari belakang.


"Memangnya ada apa? Kenapa ucapanmu terdengar menakutkan?"


"Sesuatu yang akan kita lewati nanti mungkin akan tertarik denganmu. Aku yakin kau tidak ingin melihat mereka, meskipun di Bumi mereka digambarkan sebagai makhluk indah dan cantik."


Setelah ucapan Kai berakhir, gerakan Hippocampus mulai sedikit oleng. Bergerak ke kanan dan ke kiri seolah menghindari sesuatu. Kai dengan sigap menangkap tubuh Isla yang hampir saja terjatuh. Mau tidak mau Isla harus terima ketika kedua tangan Kai semakin erat memeluknya dari belakang. Daripada ia benar-benar jatuh ke lautan yang gelap itu. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk langsung meremang.


Sesuatu yang cepat bergerak di sekitar Hippocampus. Saat ini keadaan laut masih gelap, hanya cahaya dari tubuh Hippocampus yang memberikan penerangan. Tapi cahaya tubuh makhluk itu cukup membuat apa yang ada di sekitarnya terlihat jelas.


Jalan yang dilewati kini penuh dengan tonggak - tonggak batu yang menjulang ke atas. Jumlahnya tidak hanya satu, tapi sangat banyak. Isla penasaran sedalam apa bagian dasar dari laut ini. Bagaimana tonggak batu ini bisa tumbuh begitu panjang?


Saat itu, sekelebat bayangan kembali muncul di sekitar Hippocampus. Sangat cepat dan gelap. Suara-suara aneh yang melengking sejak tadi terus terdengar. Saling bersahutan seperti suara orang yang sedang bertengkar.


"Apa itu?" seru Isla.


Isla tidak bisa berkata-kata saat matanya melihat sekumpulan makhluk bertubuh wanita tapi memiliki ekor seperti ikan. Tubuh mereka seluruhnya berwarna hitam dengan cakar yang panjang dan tampak tajam seperti pisau. Namun yang paling mengerikan adalah wajah mereka. Seluruh wajahnya menghitam dengan mata merah menyala. Bagian tubuh manusianya penuh dengan sisik berwarna gelap. Dan jari-jari bercakar panjang itu memiliki selaput.


Imajinasi Isla tentang Putri Duyung yang cantik dan indah langsung sirna, karena kenyataannya mereka tidak seindah yang digambarkan, justru malah sangat menakutkan.


"Ke-kenapa mereka melihatku begitu?" tanya Isla saat menyaksikan para Putri Duyung itu berkerumun sambil menatapnya seolah ia adalah mangsa.


"Wajar saja, keberadaanmu sebagai sesuatu yang asing menarik perhatian mereka. Tidak ada penyihir yang membawa manusia sebelumnya. Jadi, melihatmu seperti sebuah mangsa bagi mereka," jelas Kai.


"Lalu apa yang akan terjadi sekarang? Jumlah mereka sangat banyak, bagaimana kita melewati mereka?"


"Jangan khawatir. Tidak akan ada yang berani menyerang kita selama kita bersama Hippocampus. Melukai makhluk cantik ini, itu sama saja mereka sedang menunggu ajal mereka sendiri."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Bukankah sudah kubilang, jangan melukai ataupun menyinggung Hippocampus. Jangan sampai membuat pemiliknya marah."


Isla memahami maksud ucapan Kai. Isla pernah membaca bahwa Hippocampus berkaitan dengan Poseidon, sang penguasa lautan. Tapi masalahnya sekarang, apa mungkin Hippocampus bisa menembus kerumunan Putri Duyung yang berjumlah ratusan ini?


Kekhawatiran Isla terjawab ketika Hippocampus terus saja menembus kerumunan makhluk itu. Terus berenang naik hingga kegelapan yang menyelimuti mulai berkurang. Lama kelamaan para Putri Duyung itu menjauh sambil melengking marah. Rupanya mereka sangat membenci cahaya dari luar. Mereka mengikuti Hippocampus hanya sampai batas dimana cahaya mulai masuk ke dalam lautan.


Pemandangan mengerikan dibawah sana kini tergantikan dengan pemandangan elok lautan yang sesungguhnya. Isla dibuat terpana dengan tumbuhan laut yang disebut terumbu karang, tumbuh begitu banyak dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Belum lagi bunga-bunga yang tidak diketahui jenisnya tumbuh di semua tempat.


Ikan dan binatang laut lain hidup begitu menyenangkan dan damai. Tampak sekali ketenangan dan suasana hening tercipta. Bahkan mereka kini baru melewati bangkai kapal kuno dengan harta kartun berserakan di sekitarnya.


"Apa itu nyata?" tanya Isla.


"Tentu saja. Tapi jangan pernah berpikir untuk mengambilnya. Semua yang jatuh ke dalam laut ini adalah milik Poseidon."


"Poseidon?"


Isla kembali menikmati pemandangan menakjubkan itu. Kini matanya disuguhkan oleh tumbuhan lain yang agak sedikit berbeda. Tumbuhan itu memiliki buah dan bunga. Isla melihat bunga itu mekar dengan cepat dan langsung menghasilkan buah berwarna merah muda. Isla baru tahu ada buah semacam itu.


"Aku ingin tanya, sebenarnya kemana tujuan kita?"


"Pelabuhan Agora. Tempat dimana para penyihir keluar masuk dari belahan dunia lain," jawab Kai.


"Jadi ada tempat seperti itu di negeri kalian?"seru Isla."Lalu bagiamana denganku, apa tidak masalah kalian membawaku kesana?"


"Tentu saja bermasalah. Aku bahkan telah melanggar peraturan dan harus dihukum. Tapi itu tidak penting sekarang. Menyelamatkanmu dari kematian itu lebih penting."


"Apa maksudmu?" Isla mendelik gusar. Kai justru malah memberikan tatapan tajam.


"Aku akan memberitahmu, Isla. Kau akan mati, jika pusaka itu dikeluarkan dari tubuhmu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2