
Akhirnya, setelah tiga tahun Kai hidup sebagai manusia biasa, ia bisa menggunakan kembali Pedang Edha miliknya.
Pedang Edha adalah salah satu dari 11 pedang Master yang hanya diturunkan pada putra putri Gamma. 11 pedang Master adalah warisan dari penyihir legendaris keluarga Gamma terdahulu.
Pedang Edha milik Kai adalah salah satu yang terkuat. Pedang itu dianggap sebagai pedang suci karena bisa menyerap kekuatan gelap seseorang lalu menetralkannya sebelum ditransfer pada si pemilik pedang.
Kekuatan pedang Edha akan terus bertambah, begitu juga dengan pemiliknya. Namun jika pedang Edha menyerap terlalu banyak kekuatan gelap, maka itu bisa menjadi boomerang untuk Kai jika tak bisa mengendalikannya. Karena Kai masih belum menguasai sihir Rein (sihir yang muncul secara alami. Kekuatan Sihir besar yang bisa digunakan tanpa menggunakan senjata. Sihir Rein juga salah satu syarat bagi para penyihir yang ingin mencapai bentuk akhir kekuatan mereka yang dinamakan Pyua).
Dalam waktu beberapa detik, Kai dan Rex telah tiba di kawasan rumah milik Isla. Keduanya baru saja menggunakan sihir teleportasi dengan menukar tubuh mereka dengan dua tong sampah di jalanan sekitar situ. Semoga saja tidak ada yang mengeluh karena tong sampah di tempat itu selalu menghilang.
Rumah bercat abu-abu itu sudah lengang. Bahkan sinar terang dari Pusaka Emrys tidak berpendar yang menandakan bahwa Isla saat ini sudah terlelap. Dua orang satpam tengah berkeliling komplek sambil mengobrol satu sama lain. Kai dan Rex saat itu tengah bersembunyi di sebuah pohon rindang. Mereka baru melesat menuju rumah Isla ketika dua satpam itu sudah cukup jauh berjalan.
Sesampainya di depan jendela kamar Isla, Kai menyibakkan gordennya dan meyakinkan bahwa Isla benar-benar ada di dalam. Dengan bantuan Rex, dalam sekejap saja teralis pada jendela sudah menghilang. Dua sosok itu tampak seperti pencuri yang sedang beraksi.
Kai bergegas meloncat masuk ke dalam kamar Isla, berpijak pada meja dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Gadis itu sedang tidur dengan badan yang menghadap ke arah dinding. Seharusnya membawanya dalam keadaan seperti itu tidak akan menimbulkan masalah.
Itu rencana awal Kai, membawa Isla secara paksa dan akan menjelaskan duduk perkaranya ketika mereka tiba di Amalthea. Namun sayang, kepekaan yang dimiliki Isla juga bekerja saat dirinya dalam keadaan tidur.
Gadis itu tiba-tiba bangkit secara mengejutkan. Mengacungkan sebilah pisau pada dua penyusup yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan wajah yang sama terkejutnya.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?"
Isla menatap Kai yang mengangkat tangan karena ditodong senjata begitu saja. Matanya menelisik pemuda yang telah merubah warna rambutnya kembali ke warna aslinya.
"Kau? Guru itu?!" seru Isla. Matanya melebar setelah menyadari bahwa sosok yang menyusup ke dalam kamarnya adalah guru BK di sekolahnya.
"Jadi benar, kau yang sudah memata-mataiku. Apa yang kau inginkan? Siapa kau sebenarnya?!"
"Maafkan aku Isla. Mungkin ini akan sedikit mengejutkan untukmu, tapi aku datang kemari karena aku memiliki sebuah tugas. Dan tugas itu mengharuskanku membawamu menuju sebuah tempat."
"Jadi kau mau menculikku? Untuk apa? Aku bahkan bukan orang penting."
"Kau mungkin tidak menganggap dirimu penting di tempat ini. Tapi di tempat asalku sesuatu yang kau miliki adalah kehidupan untuk kami semua."
Kai heran Isla tidak berteriak lantang ketika ada seseorang yang mungkin akan membahayakan dirinya tiba-tiba menyusup masuk ke dalam kamar.
"Aku penasaran kenapa kau tidak berteriak? Bukankah aku bisa saja benar-benar mencelakaimu?"
Mendengar itu Isla masih terdiam. Ia terlihat mencoba menelisik raut wajah Kai yang saat itu sedang tersenyum, gadis itu juga melirik sebilah pedang yang tergantung di pinggang pria itu. Namun entah kenapa, Isla malah menurunkan pisau yang masih tergenggam erat ditangannya.
"Kenapa? Kau tidak takut padaku?" tanya Kai semakin heran.
"Bukan. Tapi aku ingin mendengar penjelasan. Apa maksudmu bahwa kau memiliki tugas untuk membawaku? Siapa kau sebenarnya?"
"Aku akan menjelaskannya padamu. Tapi sebelum itu aku ingin tahu satu hal. Bagaimana kau bisa tahu bahwa akulah orang yang sudah memata-mataimu beberapa waktu lalu. Apa kau memiliki kemampuan khusus?"
"Mengapa kau ingin tahu?"
"Karena penjelasan yang kau inginkan, mungkin akan terhubung dengan apa yag terjadi padamu saat ini."
Isla menatap lekat pada pemuda berambut coklat itu. Seolah mencari sebuah kebohongan yang mungkin akan menyesatkannya. Isla bisa mendeteksi aura dan keberadaan orang lain, jadi kemungkinan besar ia bisa melihat orang yang ia hadapi akan melakukan hal buruk padanya atau tidak.
Isla lalu meletakkan pisau yang tadi ia genggam di dalam laci. Kai menyaksikan itu dengan seksama, sepertinya Isla sudah tenang saat ini. Hal ini semakin membuat Kai merasa penasaran, karena jika Isla hanya gadis biasa, tidak mungkin ia akan bereaksi setenang ini. Minimal setidaknya ia harus menjerit kuat-kuat untuk mencari bantuan. Sejak tadi Rex masih menyembunyikan dirinya, ia tidak ingin gadis itu semakin terkejut melihat seekor kucing bisa bicara dan menyapanya di tengah malam begini.
"Aku memang bisa mendeteksi aura dan keberadaan orang lain meskipun kau bersembunyi dalam jarak sepuluh meter dari tempatku. Aku juga bisa merasakan aura positif dan negatif milik orang lain, dan karena kelebihan inilah yang membuatku menjadi waspada berlebihan dan orang-orang menjauhiku."
__ADS_1
"Kapan tepatnya itu mulai terjadi?"
"Hampir dua tahun lalu, saat aku mulai masuk SMA."
"Lalu apa lagi yang bisa kau rasakan? Aku masih belum paham kenapa kau tidak heran melihatku berpenampilan seperti ini?"
"Karena seseorang dengan aura dan penampilan sepertimu pernah mendatangiku. Tapi dulu sekali, saat aku masih kecil. Dan kupikir kau adalah orang yang sama dengan waktu itu."
Kai tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang terkejut luar biasa. Bahkan Rex yang saat itu sedang bersembunyi di bawah meja hampir saja melompat keluar dan ingin bertanya langsung pada gadis itu.
"Seseorang sepertiku pernah mendatangimu?"
"Ya. Dia juga memakai jubah panjang dan membawa samurai sepertimu. Hanya saja aku sudah lupa wajahnya."
"Apa yang dia lakukan padamu?"
"Tidak ada. Dia hanya datang, mengacak-acak rambutku, lalu pergi begitu saja."
"Kai..."
Rex berbisik pelan di bawah meja. Kai paham bahwa Guidenya pasti juga memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Kemungkinan besar Isla memang bukanlah manusia Bumi biasa, tapi ia juga salah satu orang Amalthea yang terpaksa hidup di Bumi ini karena tubuhnya yang menjadi wadah dari Pecahan Emrys. Pantas saja jika Isla bisa menyerap kekuatan dari Emrys. Hanya saja yang membuat Kai penasaran, siapa pria yang baru saja diceritakan Isla padanya. Tidak mungkin itu Hugo Lorelei.
"Sekarang giliranku ingin tahu. Siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu mengejarku?"
"Kau bisa memanggilku Kai. Aku adalah penyihir dari Amalthea. Saat ini tugasku adalah mencari sisa pecahan pusaka Emrys yang terakhir. Namun saat aku menemukannya, Pecahan itu justru hidup di dalam tubuhmu."
"Tubuhku? Maaf, tapi aku tidak paham."
"Ini mungkin sulit dipahami. Tapi kalau kau percaya dengan beberapa kemampuan yang muncul darimu beberapa tahun terakhir, itu karena kau memiliki sedikit kekuatan dari Pecahan Emrys yang hidup dalam dirimu. Saat ini tugasku adalah membawamu menuju Amalthea agar pecahan Emrys itu bisa dikeluarkan. Karena... "
"Kai! Kai, lihat keluar!"
"Aaaa... Kucing?!"
"Tolong jangan takut Nona."
"Ka-kamu Kucing'kan? Ta-tapi kenapa kamu bisa bicara?"
"Perkenalkan namaku, Rex. Aku adalah Guide milik Kai."
Isla mundur karena perasaan kaget sekaligus takut. Bahkan lebih takut daripada melihat sosok Kai yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya. Karena baru kali ini ia melihat sesosok kucing berpenampilan nyentrik, bahkan bisa bicara selayaknya manusia. Bagaimana dirinya bisa tetap waras jika menyaksikan hal seperti ini?
Kai segera menajamkan telinga dan berlari menghampiri jendela. Saat itu sebuah kilat berwarna hitam kemerahan tampak tergambar di langit yang gelap. Tidak ada yang lebih mengejutkan dari ini, bahkan jauh lebih buruk. Mereka menemukan tempat ini jauh lebih cepat dari perkiraan Kai.
"Isla, bisakah kau mempercayaiku saat ini?"
Isla tidak menyahut karena masih terpaku dengan sosok Rex yang duduk manis tidak jauh darinya. Makhluk berbulu itu sedang mencoba menjelaskan kehadirannya, namun gadis itu malah semakin ketakutan.
"Isla! Isla!"
"Apa?" teriak Isla saat Kai baru saja menggoncang - goncangkan bahunya agar ia sadar.
"Kita harus pergi!"
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Tapi kita harus pergi, sekarang!"
"Tapi..."
"Tidak ada waktu Nona, sebaiknya anda tidak melepaskan diri dari kami."
Isla tidak bisa menunggu jawaban yang pasti dan hanya bisa memandang ke arah Kai yang mengangguk seolah mengatakan agar ia percaya padanya. Isla tidak tahu apa yang terjadi setelah ini, dalam satu malam saja hidupnya tiba-tiba mendadak berubah.
Isla menggenggam tangan Kai dan juga Rex kuat-kuat. Ia tidak tahu apakah pilihannya ini memang benar, tapi dirinya juga penasaran bagaimana ia harus melanjutkan hidup dengan kemampuan yang ia miliki saat ini. Sedangkan orang-orang yang ingin ia lindungi justru malah menjauhkan diri darinya.
Gadis itu memejamkan mata saat sebuah kabut gelap mulai menenggelamkan tubuhnya. Dalam sekejap saja, tiga sosok itu menghilang dan digantikan oleh tiga buah batang pohon yang jatuh di dalam kamar dengan bunyi berdebam. Pohon itu menghancurkan ranjang dan juga beberapa barang yang ada di dalam kamar.
Selang beberapa detik saat mereka menggunakan sihir teleportasi, tiga sosok berjubah merah muncul di dalam kamar Isla. Salah satu dari mereka membuka tudung kepala yang memperlihatkan wajah seseorang dengan balutan topeng hitam.
Ia mengamati tempat itu sesaat, memperhatikan tiga batang pohon yang melintang di tengah kamar.
"Seseorang baru saja membawa pecahan terakhir Emrys. Mungkin dia putra terakhir Gamma. Sebaiknya kita juga pergi, aku tahu tujuan mereka kemana."
Sosok tadi kembali memakai tudungnya. Dalam sekejap mata, mereka menghilang kembali menggunakan sihir teleportasi. Menyisakan keadaan kamar Isla yang masih hancur, namun tanpa Isla yang ada di dalamnya.
*****
Kai, Isla dan juga Rex muncul di sebuah hutan gelap dan lebat setelah ketiganya menukar tubuh mereka dengan tiga batang pohon besar dari hutan tersebut. Isla terjerembab dengan wajah mencium tanah lebih dulu.
Ia menggerutu karena dua makhluk aneh yang membawanya ini tak menjelaskan apapun tentang sihir teleportasi padanya. Dan sekarang, piyama pororo yang ia kenakan tidak hanya kotor tapi juga robek di beberapa bagian karena baru tersangkut duri-duri tanaman. Dia juga baru menyadari, bahwa ia tak membawa apapun sejak meninggalkan rumah Nita.
"Di mana ini? Kenapa kalian membawaku ke tempat seperti ini?" serunya sambil menatap berkeliling pada hutan gelap dengan pepohonan yang sangat tinggi.
Mata Isla segera terpaku pada sebuah pohon tinggi dan besar tepat di depan matanya. Bahkan diameter pohon itu lebih besar dari sebuah sumur. Daunnya tumbuh lebat dengan ranting-ranting sebesar tiang. Letak pohon itu juga menjauh dari pepohonan yang lain. Alasannya karena akar dari pohon tersebut muncul dari tanah dan membentuk lingkaran sempurna seperti sebuah pagar.
Pohon itu tampak seram dan keramat. Di bagian bawah pohon terdapat lubang gelap. Mirip lubang kelinci namun dengan ukuran yang cukup besar dilewati oleh manusia. Rex menggamit tangan Isla saat gadis itu masih terpaku di tempat.
"Apa nama tempat ini?" tanyanya.
"Kami menyebutnya Gerbang Sihir kelima. Salah satu jalan masuk menuju Amalthea."
"Jadi maksudmu Amalthea punya lebih dari satu jalan masuk?"
Rex mengangguk. "Totalnya ada tujuh. Kami memilih jalan ini karena anak buah Hugo tidak akan mungkin berani mengikuti."
"Kenapa?"
"Kau akan melihatnya setelah masuk nanti."
Isla memandang ke arah jalan masuk yang tampak seperti lubang gelap. Ia melihat Kai yang baru saja melakukan sesuatu di sekitar akar pohon yang membentuk pagar melingkar.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Isla.
"Membuat penghalang,"sahut Kai sambil mencabut pedangnya." Aku tidak mau mengambil resiko. Anak buah Hugo memang tak bisa melawati danau, tapi mereka masih bisa menemukan gerbang ini. Ayo! "
Kai memimpin masuk ke dalam lubang kelinci yang gelap. Rex meyakinkan Isla bahwa semuanya akan baik-baik. Gadis itu menurut. Ia masuk sambil menggenggam jemari Rex yang gemuk dan berkuku.
Lubang itu agak rendah untuk ukuran manusia. Tapi bagian dalamnya semakin lama semakin tinggi. Lubang itu menjorok agak kebawah dan tampak seperti lorong. Namun semakin lama lorong itu melebar dan membawa tiga sosok itu pada sebuah danau gelap yang tidak terlalu luas.
Isla menelan ludahnya saat menyaksikan permukaan air danau yang sangat tenang. Tampak seperti cermin dengan dasar yang sangat gelap. Bulu kuduknya seketika merinding, apalagi saat ia melihat tengkorak dan tulang belulang manusia berserakan di pinggir danau.
__ADS_1
"Te-tempat apa ini?"
Bersambung...