
"Te-tempat apa ini?"
Isla memandang berkeliling pada bongkahan batu cadas berukuran besar yang mengelilingi danau gelap tersebut. Di bagian sisi-sisi batu berserakan banyak tulang belulang dan juga tengkorak manusia.
Isla seketika mundur karena perasaan takut dan sesak karena aura gelap yang sangat kuat. Tempat ini sangat berbahaya dan seharusnya tidak didatangi. Melihat banyaknya tulang-tulang dan tengkorak manusia membuat Isla bergidik. Pikirannya mulai meracau, apakah semua yang datang ke tempat ini akan berakhir seperti tulang-tulang itu?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Nona. Tulang belulang yang anda lihat itu adalah milik para penyihir yang memiliki hati dan sifat jahat. Alasan kami memilih jalan ini untuk menuju Agora, karena anak buah Hugo yang sekarang sedang memburu Pusaka Emrys tidak akan bisa melewati jalan ini. "
"Tapi kenapa? Lalu apa kalian yakin betul kita bisa melewati jalan ini?" tanya Isla, masih tampak tidak yakin. Lagipula dia tak melihat jalan yang baru saja dijelaskan oleh Rex.
"Tentu saja yakin, percaya saja pada kami. Mereka tidak akan mengambil jalan ini, karena para penyihir yang memiliki tujuan jahat tidak akan bisa melalui jalan ini. Dan tengkorak itu, adalah mereka yang nekat memanggil penghuni danau tersebut. Danau ini disebut Danau Kaala, dimana niat dan hatimu bisa terbaca jika kau menyentuh airnya. Kalau niatmu baik, yang datang adalah makhluk indah yang akan dengan senang hati mengantarmu menuju Agora. Tapi jika niatmu buruk, maka kau akan bertemu makhluk yang sebaliknya."
Penjelasan Rex tak langsung membuat hati Isla merasa lega. Dirinya datang ke tempat ini bahkan tidak memiliki tujuan apapun, lagipula ia diculik paksa oleh pria bernama Kai itu dan juga seekor kucing yang bisa bicara dan berubah-ubah wujudnya.
Isla masih bergeming di tempat. Kai yang sejak tadi tak ikut memberikan penjelasan panjang lebar sudah berjongkok di atas batu cadas besar, bersiap mencelupkan tangan kanannya pada air danau. Rex juga melakukan hal yang sama. Pria berambut cokelat itu melirik melalui bahunya, terlihat sedikit tidak sabar.
"Cepat kemari! Percayalah pada kami, tidak akan terjadi apapun. Kecuali jika kau lebih suka tinggal disini, bersama tengkorak-tengkorak itu," ujar Kai.
__ADS_1
Perkataan pria itu terdengar sedikit mengancam. Isla tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka berdua. Lagipula ia tak mungkin kembali karena jalan menuju dunianya sudah kembali tertutup. Isla telah memutuskan untuk datang ke tempat ini, karena ingin tahu benda apa yang sebenarnya hidup dalam tubuhnya. Hingga orang-orang yang mengaku sebagai penyihir ini ingin sekali mendapatkannya.
Lagipula, bertahan di dunia nyatanya saat ini sudah membuat Isla merasa lelah. Ia tak menemukan orang yang menghargainya. Orang yang ingin ia lindungi bahkan juga membencinya. Dan sekarang, ketika Isla merasa hidupnya tidak berguna, seorang pria asing datang dan mengatakan bahwa dirinya memiliki sesuatu yang berharga. Entah benar atau tidak, Isla hanya ingin lari dari dari kehidupan yang ia jalani saat ini.
Isla maju perlahan, berjongkok di antara Kai dan Rex. Ia menghembuskan nafas yang sejak tadi ditahan sebelum memutuskan untuk mencelupkan tangannya pada air danau. Rasanya dingin sekali ketika air itu menyentuh kulit, menjalar hingga sebatas siku seperti aliran listrik yang langsung membuat otot tangannya kelu.
Air danau yang semula tenang, kini perlahan mulai beriak pada bagian sisinya. Kemudian muncul pusaran air di tengah-tengah danau yang semakin lama semakin membesar dan dalam. Kejadian itu diikuti dengan datangnya secercah cahaya hijau yang berpendar muncul dari dalam danau.
Kai segera menarik Isla mundur saat gadis itu sedang tersihir dengan peristiwa yang terjadi di depan matanya. Air danau bergejolak semakin besar begitu juga dengan sinar hijau yang berpendar semakin lama semakin terang.
Air danau melambung cukup tinggi saat sebuah benda besar tiba-tiba muncul dan menyembul dari dalam danau tersebut. Air danau menggenang di sekeliling gua, menimbulkan cipratan besar yang membasahi tiga sosok yang sedang berdiri di dekat batu cadas.
"Ma... Makhluk apa itu?" gumamnya dengan suara bergetar.
"Itu Hippocampus, makhluk legenda yang ramah dan dengan senang hati akan mengantar kita menuju Agora," sahut Kai. "Tapi jangan buat dia tersinggung dan membuat pemiliknya marah. Tunggu apa lagi, ayo kita pergi. Dia tidak suka jika harus menunggu terlalu lama."
Kai menjawab pertanyaan Isla seolah tanpa beban sama sekali. Ia tak tahu padahal saat itu Isla hampir pingsan, tubuhnya gemetaran luar biasa. Karena baru pertama kalinya ia melihat sesosok makhluk yang tidak pernah nyata ada di Bumi kini sedang berdiri tegak tepat di depan wajahnya.
__ADS_1
Kai bahkan sekarang membelai makhluk itu yang dengan ramah langsung memberikan punggungnya untuk dijadikan tumpangan. Makhluk itu kemudian meringkik seperti seekor kuda, seolah memerintahkan dua orang yang belum juga bergerak untuk segera naik ke atas punggungnya.
"Ayo Nona, jangan takut. Ia adalah makhluk paling ramah dan indah, anda pasti akan menyukainya."
Ya. Rasa terkejut Isla kini berubah menjadi sebuah kekaguman tanpa batas. Dunia ini memperlihatkan semua hal yang tidak pernah Isla temui dalam dunianya. Dunia ini hanyalah imajinasi yang pernah terbesit dalam kepalanya saja. Tapi siapa sangka, saat ini dirinya malah terjebak di dalam dunia imajinasi itu. Tapi bedanya, imajinasi ini sekarang telah berubah menjadi nyata.
"Kenapa? Kau berubah pikiran?" tanya Kai saat Isla bergeming ditempat. Tampak jelas gadis itu terlihat ragu. Rupanya wajah dingin itu juga bisa membentuk ekspresi yang lain.
"Tidak. Hanya saja ini terlalu tiba-tiba. Dalam satu malam hidupku rasanya benar-benar berubah. Aku tidak tahu, apakah pilihanku pergi dengan kalian adalah benar."
Kai merenung. Berdecih kecil karena merasa Isla membuang-buang waktu. "Yah, mungkin pilihan yang kutawarkan tidak ada yang menarik. Tapi bukankah kau sendiri yang ingin tahu tentang kekuatanmu dan juga pria yang mendatangimu waktu itu?"
Isla mengangguk.
"Kalau begitu, apa yang kau tunggu?"
Isla menelisik mata zamrud pria itu yang tak memiliki keraguan. Isla penasaran dengan kekuatan Kai yang sesungguhnya. Aura Kai memang sangat kuat, terang dan positif. Tapi, Isla juga bisa merasakan sesuatu yang gelap tersembunyi dalam diri Kai. Aura yang sama seperti pria waktu itu.
__ADS_1
Bersambung...