The Last Heirloom

The Last Heirloom
11. Pedang Edha


__ADS_3

Kelemahan Kai yang belum bisa menguasai sihir Rein sudah menjadi rahasia umum di kalangan para penyihir. Lumrah terjadi karena Keluarga Gamma dianggap sebagai keluarga penyihir hebat dan menghasilkan keturunan yang tak tertandingi. Kelemahan Kai ini dianggap sebagai sesuatu yang gagal oleh orang tuanya. Ia juga dianggap sebagai keturunan Gamma yang paling lemah dan mudah diremehkan.


Kai sudah kebal dengan ejekan itu. Ia tidak perlu membalasnya dengan kata-kata, cukup dengan kemampuan yang ia miliki sekarang.


Tiga musuhnya masih bergeming di tempat ketika Kai hampir mencapai tempat mereka. Pedang Edha terayun ke depan, bersinar putih dengan ujung mata pedang berbentuk persegi, tidak runcing dan tajam seperti pedang pada umumnya.


Tapi gerakan Kai terhenti ketika ia menyadari sesuatu menyerangnya secara bersamaan dari samping dan bawah. Kai menjejak tanah dan melambung ke atas, menghindari akar tanaman yang hampir menyambar kakinya. Sebongkah batu besar datang dari samping, saling bertabrakan hingga menimbulkan suara ledakan yang keras. Kai menghembuskan nafas, nyaris saja ia meledak bersama batu-batu itu.


Tidak memberinya celah sama sekali, tiga penyihir itu menyerang Kai dengan sihir Rein masing-masing. Menggunakan pedang Edha, Kai menebas akar-akar dan juga bebatuan yang datang menyerangnya tanpa celah.


Disisi lain, Rex tidak menganggur begitu saja. Kucing manis itu kini sedang menghadapi tiga Guide milik musuh. Rex telah mengubah wujudnya kembali dalam bentuk semula. Para Guide tak akan bisa bertarung dengan kekuatan penuh jika menggunakan sihir penyamaran, apalagi lawan Rex bukan sembarang Guide. Ia tahu salah satu dari ketiganya, terutama sosok Cheetah yang ia ketahui bernama, Among. Ia sangat cepat dan ganas.


Pertempuran terjadi di dua tempat. Rex memilih menyingkir ke tempat lain agar tidak mengganggu pertarungan Kai. Beberapa Lumis dan pemilik toko yang masih buka segera menghindar sebelum terkena dampak dari pertempuran itu.


Kai hanya bisa melawan tiga musuhnya menggunakan kemampuan bertarung dari tubuhnya dan juga Pedang Edha. Pedang Edha memiliki bentuk melengkung ke depan dengan panjang sekitar 98 cm. Ujungnya tidak runcing namun kotak persegi yang terdapat tiga buah lubang kecil. Keunggulannya adalah menyerap kekuatan gelap milik orang lain, tapi harus menemukan titik lemah dari kekuatan gelap pemiliknya lebih dulu. Selain itu Pedang Edha disebut pedang kabut yang bisa menyesatkan lawan dan membunuh mereka di tengah-tengah kabut.


Kai masih terus meloncat, melambung dan menghindar dari kejaran akar-akar tanaman dan bebatuan. Salah satu dari mereka memiliki sihir peledak yang menyatu dengan sihir Rein milik dua musuh yang lain. Sehingga akar dan batu-batu itu akan langsung meledak ketika berada di dekat Kai.

__ADS_1


Pertarungan jarak jauh ini tentu tidak menguntungkan bagi Kai. Karena ia hanya bisa mengandalkan Pedang Edha miliknya. Ia harus mendekati tiga musuh itu untuk menemukan kelemahan mereka.


Kai membuat gerakan memutar, mendekatkan pedang Edha di depan wajahnya. Dengan tangan kiri, ia menutup ujung mata pedangnya.


"Nebula."


Persimpangan jalan yang semula gelap karena langit mendung mendadak memutih. Kabut datang secara perlahan entah dari mana. Langit-langit dan bangunan di sekitar mulai tidak tampak, tertutup oleh kemunculan kabut yang semakin lama semakin tebal.


Tiga musuh yang semula diam masih terdiam di tempat menoleh kesana kemari dengan waspada. Mereka tidak bisa melihat dan mengendalikan sihir Rein dalam kabut setebal ini.


Tiga musuh itu bergegas menarik pedangnya masing-masing. Jenis pedang mereka adalah pedang Non-Master. Hanya para keturunan penyihir Gamma yang memiliki jenis pedang Master. Pedang Master memiliki kekuatan yang menyatu dengan alam. Sedangkan pedang Non-Master memiliki kelebihan menggandakan pedang mereka dalam jumlah tertentu dan bentuk yang berbeda-beda.


Terdengar teriakan. Seharusnya mereka sudah tumbang sekarang. Kai mendekat dan melihat dua pria bertopeng telah jatuh di jalanan. Tapi mereka masih bisa bangkit dan menyerang Kai secara bersamaan. Namun gerakan mereka terbatas akibat kabut ini.


Bunyi denting pedang yang beradu terdengar riuh. Dalam jarak dekat ini kedua musuhnya bisa menggunakan pedang dan sihir Rein secara bersamaan. Tapi Kai tidak akan membiarkan itu. Meskipun ia belum memiliki sihir Rein, tapi teknik berpedang Kai adalah yang terbaik.


Sayatan demi Sayatan ia goreskan pada tubuh musuh. Menyerang mereka tanpa celah sama sekali. Dengan insting yang ia miliki, Pedang Edha berhasil menemukan titik kekuatan gelap dari keduanya. Kai menusuk tepat pada bagian itu, menyerap kekuatan gelap mereka.

__ADS_1


Kabut hitam muncul dari kedua musuhnya yang telah tumbang. Masuk secara perlahan melalui tiga lubang kecil pada ujung mata Pedang Edha. Kai bisa merasakan kekuatannya telah bertambah. Pedang Edha mentralkan kekuatan gelap itu dan mentrasfernya pada tubuh Kai seperti energi. Itu artinya Kai tidak akan mudah lelah dan tetap bisa bertarung dengan kekuatan maksimal.


BRAK


Dua musuh telah tumbang. Tapi masih ada satu musuh lagi yang rupanya bisa membaca gerakan Kai di dalam kabut. Akar tanaman muncul dari bawah kakinya, mencoba mengejar Kai yang segera menghindar jauh.


"Tch!" Kai berdecih, ia melihat lawannya ini bukan sembarangan. Pedang Non-Master miliknya kini tergandakan menjadi dua. Akar tanaman itu terus bergerak lincah, bisa mendeteksi keberadaan Kai meskipun kabut itu adalah miliknya. Hebatnya lagi, akar itu ternyata melindungi si pemilik. Jadi, hawa dingin yang ditimbulkan kabut ini tidak melukainya sama sekali.


Kai membabat semua akar itu, mencari celah untuk mendekat. Kabut miliknya semakin tebal, memberi hawa dingin yang menusuk setajam pedang. Pertahanan pria itu mulai retak, lalu hancur akibat kabut milik Kai yang terus menghimpit perlindungannya. Kai melihat topeng pria itu telah terlepas, memperlihatkan wajah pria dewasa dengan jambang yang lebat.


Suara denting pedang yang bertemu kembali terdengar. Kali ini lebih riuh dan cepat. Pria itu rupanya punya teknik berpedang yang luar biasa. Kai merasa mendapatkan lawan yang seimbang. Perlawanan keduanya tidak ada habisnya. Kai harus melawan dua pedang milik musuh sekaligus akar pohon yang terus mengejarnya.


Pertarungan keduanya telah melibas bangunan di sekitar persimpangan. Kai hampir saja terpojok. Saat itu, sesuatu tampak muncul di langit-langit Agora. Dua buah asap berwarna biru dan hijau datang mendekat.


Jalanan dimana pertarungan Kai dan pria berjambang tiba-tiba terbelah dan muncul semburan air dari bawah. Pria berjambang itu terpaku sesaat, akar miliknya tiba-tiba tidak bekerja. Dan sekarang muncul tanaman merambat lain yang langsung melilit dan meringkus tubuhnya tanpa celah.


Dua asap yang terlihat tadi jatuh ke bawah dan berubah menjadi dua sosok berjubah. Menggunakan cadar sehingga wajah keduanya tidak terlihat. Dua sosok itu datang mendekat, menghampiri Kai yang bersiap dengan pedangnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2