The Last Heirloom

The Last Heirloom
12. Pemberontak Menyusup


__ADS_3

Dua sosok yang jatuh di jalanan itu segera datang mendekat. Mereka menggunakan tudung dan juga cadar untuk menutup wajah.


Yang satu seorang wanita, dengan burung hantu putih yang terbang membumbung rendah didekat bahunya. Ia mengenakan gaun panjang berwarna hijau yang tersembunyi di balik jubah hitam. Menggenggam sebilah pedang bersarung hijau di tangan kanan.


Lalu yang satunya adalah sesosok pria tinggi, tubuhnya terlindung oleh jubah. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat yang ia gunakan untuk menuntun langkahnya. Seekor Jaguar bermata biru berjalan tepat di sisinya.


Kabut tebal sudah mulai tersingkir akibat terkena hempasan air yang muncul dari jalanan yang terbelah. Sebuah pohon berdaun lebat berdiri kokoh di tengah Persimpangan. Pria berjambang tadi tidak terlihat. Kai yang hampir menghunus pedang, tiba-tiba menariknya kembali. Ia menatap pada dua sosok berjubah tadi yang datang mendekat.


"Kalian agak terlambat," ucapnya.


"Maaf Kai, perbatasan sedang dalam keadaan kacau," kata si wanita sambil melepas tudung dan cadarnya, memperlihatkan wajah cantik yang tersenyum ramah. Ia memiliki rambut cokelat kemerahan panjang yang sedikit berombak. Mata hijau jernih seperti Zamrud. Darimana pun terlihat ia tampak seperti Kai dalam versi wanita. Ia adalah Hilma Gamma Majoris, kakak keenam Kai. Burung hantu itu adalah Bink, Guide miliknya yang sempat menemui Kai di Bumi.


"Tapi keadaan disini ternyata juga tidak lebih baik," gumam si pria berjubah. Dari luar ia terlihat seperti orang tua, tapi suaranya yang halus terdengar masih muda. Ia membuka tudung yang menutup kepala serta wajah. Memperlihatkan pahatan sempurna wajah seorang pemuda berambut gelap.


Ia menatap lurus kedepan sambil melempar senyumnya yang memikat. Pesona seorang Argo Gamma Majoris telah menempati peringkat pertama sebagai penyihir paling tampan di Amalthea. Meskipun ia memiliki kekurangan pada fisiknya.


Ya, Argo sudah buta sejak lahir. Tapi kekurangan itu tak menutupi kehebatannya dalam bertarung. Ia bisa melihat dunia dengan jelas, memiliki pendengaran yang tajam. Bahkan ia juga memiliki kepekaan yang paling tajam setelah Samira. Silver, Guide miliknya adalah mata kedua bagi Argo.


Tiga orang itu kini berdiri di depan pohon besar yang muncul di tengah Persimpangan. Menatap pada seonggok kepompong besar yang menggantung di dahan pohon tersebut.


"Yah, tiga orang ternyata cukup merepotkan juga," sahut Kai. Ia lalu menoleh pada Argo. "Jadi kau juga tahu tentang masalahku?"


Argo tidak menoleh, tapi ia tahu pertanyaan itu ditujukan padanya. "Aku sudah kehilangan Ios. Aku tidak ingin melihat saudaraku tewas lagi. Jadi jangan bertindak seorang diri, Kai. Masalahmu ini bukan hal yang remeh."


"Argo dan aku memang ditugaskan untuk menjemputmu. Tapi aku harus memberitahu seseorang tentang gadis itu. Saat ini Declan dan Dallas sedang mencari keberadaan Eris. Kami takut terjadi sesuatu karena Eris sempat tidak bisa dihubungi. Beruntung aku cepat menemuimu sehingga kau bisa tiba lebih cepat. Tapi sepertinya mereka juga berhasil menemukanmu." Hilma menatap kempompong besar dimana pria berjambang yang bertarung dengan Kai tadi ada di dalamnya.


"Aku harus berterima kasih padamu. Mereka muncul tepat ketika kami berteleportasi menuju Danau Kaala. Kalau tidak, mungkin akan terjadi pertumpahan darah yang tidak seharusnya."


"Lalu dimana gadis itu?" tanya Argo.


"Toko serba ada," jawab Kai lugas. Ia lalu berjalan mendahului menuju toko dimana Kai meminta Isla untuk menunggunya.

__ADS_1


Saat itu Rex datang bergabung setelah bertarung dengan Guide milik musuh. Kekalahan tiga penyihir tadi membuat para Guide itu mundur dalam keadaan terluka. Rex menunduk hormat ketika melihat Hilma dan Argo. Ia kemudian menyapa Silver dan Bink dalam gaya yang lebih santai. Mereka lalu mengobrol, membahas topik yang susah untuk dijelaskan.


Kai membuka mantra penghalang yang ia gunakan untuk melindungi Isla. Ia kemudian memperkenalkan gadis itu pada kedua kakaknya. Isla merasa sedikit terintimidasi pada dua sosok itu. Mereka tampak berkharisma dan memiliki aura yang sangat kuat.


Namun Isla menyukai aura keduanya yang manis dan positif. Terutama Argo. Isla terus menggunjing wajah tampan itu dalam hatinya. Kekurangan fisiknya nyaris tak terlihat sama sekali. Karena mata yang tak bisa melihat itu justru terlihat indah seolah memiliki magnet untuk terus menatapnya.


Saat ini mereka memasuki bangunan dengan kubah tinggi yang akan mereka masuki sebelum bertemu musuh. Tempat ini tampak seperti sebuah teater. Banyak bangku-bangku penonton yang tersusun seperti tangga. Di bawah sana terdapat arena cukup luas yang tertutup oleh tirai tebal berwarna merah.


Seseorang terlihat berdiri di depan tirai. Isla terkejut sekaligus bergidik. Tubuh orang itu seperti manusia, tapi mempunyai kepala kambing dengan tanduk yang melengkung panjang. Tangannya menggenggam sebilah tombak sabit layaknya malaikat maut.


"Teater saat ini tutup. Silahkan datang lain kali, " ucap sosok itu.


"Kami hanya ingin lihat sebentar," sahut Hilma.


"Apa yang ingin kalian lihat?"


"Infernium Pontem."


Jawaban Hilma membuat sosok itu memperhatikan mereka satu persatu, sampai tatapannya berakhir pada Isla yang berdiri dengan wajah takut.


Ia kembali menatap Hilma. "Kau punya kunci dan kartu izinnya?"


Hilma menyerahkan sesuatu berbentuk bulat pipih seperti Koin namun berwarna hitam. Ia juga menyerahkan selembar kertas tipis berwarna cokelat seperti kertas tua yang telah menguning.


Sosok berkepala kambing itu mengangguk lalu kembali memandang Hilma.


"Kau tahu ini tidak gratis. Harganya lima kali lipat dari biasanya."


"Aku tahu." Dengan segera Hilma kembali menyerahkan sebuah kantung cukup besar dan tampak berat. Sosok itu menerima dan segera menyembunyikan dalam jubahnya.


Sosok itu lalu membuka Tirai yang ternyata dibaliknya berdiri tembok batu tinggi yang besar dan kokoh. Isla sebelumnya menduga bahwa dibaliknya akan muncul layar besar seperti bioskop. Tapi ternyata ia salah.

__ADS_1


Tembok itu terdapat tiga buah simbol. Masing-masing lingkaran, segitiga dan juga kotak persegi. Sosok tadi lalu meletakkan benda pipih hitam yang diserahkan Hilma pada simbol lingkaran.


Getaran kecil disertai suara bergemuruh tiba-tiba terjadi di sekitar mereka. Kai dan yang lain terlihat tenang, kecuali Isla. Gadis itu terkejut bukan main. Ia melihat tembok batu itu terbelah dan membentuk sedikit celah yang cukup dilewati oleh tubuh manusia. Sebuah lorong gelap yang menghembuskan hawa panas terbuka di depan wajah mereka.


Hilma memimpin masuk lebih dulu. Diikuti oleh Argo dan Guidenya. Kai menarik Isla yang meneguk ludah karena perasaan takut. Ia merasakan hawa yang sangat buruk pada tempat itu. Seolah kesedihan dan kesengsaraan yang begitu dalam dikumpulkan dalam satu tempat.


Tempat ini adalah Infernium Pontem. Atau lebih dikenal sebagai Jembatan Neraka. Jalan rahasia yang telah dimiliki secara pribadi oleh Margus. Ia mendapatkan itu sebagai hadiah dari Edward Lorelei, adik sang Ratu yang telah tewas.


Jalan rahasia menuju Amalthea ada tiga dan hanya dimiliki oleh Ratu Aria beserta dua adiknya. Melalui tiga jalan ini membuat siapapun yang melewatinya tidak akan terdeteksi oleh menara penghalang. Terutama bagi Isla, penyusup dari dunia luar yang seharusnya tidak menginjakkan kakinya di Amalthea.


Infernium Pontem terhubung langsung ke pondok tempat tinggal Margus. Keberadaan Kai dan Isla masih akan menjadi rahasia sampai mereka menemukan solusi untuk mengeluarkan pecahan pusaka dari tubuh Isla.


Menemukan keberadaan Margus akan sangat sulit. Maka Hilma mengusulkan untuk membahas hal ini di pertemuan keluarga nanti. Kai memahami maksud Hilma, tidak semua kakaknya akan bersikap baik hati memikirkan nyawa Isla.


Bagi mereka Isla hanyalah wadah. Jadi membunuhnya bukanlah sebuah dosa. Membawa Isla ke Amalthea adalah resiko besar yang harus ditanggung oleh Kai. Ia mungkin akan dijatuhi hukuman berat. Tapi tujuannya tidak jahat sama sekali. Ia ingin mendapatkan pusaka itu untuk memulihkan Amalthea tanpa mengorbankan nyawa yang tidak bersalah. Apalagi nyawa itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan negeri ini sama sekali.


Kai menggenggam erat tangan Isla. Meyakinkan gadis itu agar tidak takut melewati jembatan, dimana lava api panas terhampar mengerikan dibawahnya. Aura menyedihkan sangat terasa, ditambah suara-suara aneh yang terdengar seperti jeritan membuat tempat itu menggambarkan neraka yang sesungguhnya.


*****


Perbatasan Amalthea Barat.


Para pemberontak yang berusaha menembus pertahanan pasukan Amalthea Barat terus menyerang tanpa henti. Dua kubu ini berperang sihir yang telah mengorbankan seperempat dari hutan perbatasan.


Para Lumis Amalthea Timur yang terserang penyakit menular banyak menjadi korban. Mereka tidak hanya tewas akibat penyakit itu, namun juga kekejaman para pemberontak yang menjadikan mereka tumbal. Para pemberontak membunuh para Lumis yang tak berdaya, berharap pasukan yang menjaga perbatasan Amalthea Barat akan membuka jalan untuk mereka.


Tapi Edric dan saudara-saudaranya tidak gentar. Bersama para Elf yang membantu, mereka harus siap menyaksikan kematian para Lumis Amalthea Timur daripada harus mengorbankan lebih banyak nyawa jika mengijinkan mereka masuk ke Amalthea Barat.


Tapi saat itu tidak ada yang mengetahui bahwa ada beberapa pemberontak yang berhasil menyusup. Mereka membawa beberapa Lumis Amalthea Timur yang menderita penyakit menular.


Para pemberontak itu dengan licik meninggalkan para Lumis yang sudah sekarat itu di beberapa titik. Jika para Lumis Amalthea Barat tertular penyakit itu, maka pasukan yang menjaga perbatasan akan berkurang.

__ADS_1


Penyakit ini juga akan menyebar dengan mudah, membunuh mereka semua seperti wabah. Sedangkan para penyihir medis mulai berkurang karena ikut terserang penyakit tersebut. Dan sebagian dari mereka sedang menuju Hutan bawah untuk mencari ramuan obat karena persediaan telah menipis.


Bersambung...


__ADS_2