The Last Heirloom

The Last Heirloom
9. Pelabuhan Agora


__ADS_3

Hippocampus terus berenang melaju semakin cepat saat sudah tidak ada rintangan apapun yang menghadang. Di tengah lautan lepas, makhluk itu bisa bergerak bebas dan lincah. Melewati segala keindahan yang nyata dunia bawah laut itu. Tapi ada sesuatu yang tampak menyeramkan tatkala menyaksikan bagian bawah laut yang membentang di bawah sana.


Kai menjelaskan bahwa lautan itu luas dan misterius. Penuh dengan berbagai macam jenis makhluk laut. Dari yang indah hingga menakutkan. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Putri Duyung yang sempat menghadang mereka adalah salah satu makhluk yang harus diwaspadai. Mereka licik dan penuh tipu muslihat.


Namun yang paling menakutkan dari lautan ini tentu saja monster yang tersembunyi dan hidup di bawah sana. Tidak ada yang bisa menyentuh dunia mereka sama sekali. Mereka hidup untuk menjaga lautan dari mereka yang ingin merusak keindahannya.


Tapi, para monster tersebut juga memiliki Tuan. Selama ini Poseidon adalah penguasa mereka dan yang bisa mengendalikan para monster tersebut.


Hippocampus terus berenang naik menyongsong cahaya terang yang masuk menerangi permukaan laut. Tidak lama kemudian, Hippocampus menyembulkan bagian atas tubuhnya ke udara, melambung tinggi dan menjatuhkannya kembali ke atas air. Seketika gelembung yang melindungi tiga penumpang itu pecah.


Udara terbuka mulai masuk ke dalam rongga pernapasan Kai dan yang lain. Meskipun di dalam air mereka bisa bernafas, tapi oksigen yang mereka dapatkan tidak sama seperti udara bebas.


Saat ini mereka sudah tiba di pelabuhan Agora. Hippocampus berenang ke tepi, membawa tiga penumpangnya menuju dermaga. Disana ada dua Hippocampus lain yang sedang bersantai, layaknya sebuah kendaraan yang sedang menanti penumpangnya.


Pelabuhan Agora tampak seperti sebuah kota kuno. Kota kuno dengan segala hal yang menakjubkan ada disana. Namun sebenarnya pelabuhan ini berdiri di sebuah pulau kecil berbentuk lingkaran penuh. Dimana terdapat tujuh jalan masuk yang menghubungkan antara dunia sihir Amalthea dengan belahan dunia lain, termasuk Bumi.


Toko-toko dengan tipe bangunan kuno berjajar melingkar di sekitar dermaga. Menjual berbagai macam barang untuk para penyihir dan penduduk Amalthea.


Kegiatan yang terjadi di pelabuhan itu sangat memanjakan mata. Dimana para pemilik toko sedang menata dan membersihkan toko mereka dengan bantuan sihir. Sapu dan pengebut mengambil tugasnya masing-masing, bergerak lincah membersihkan lantai dan kaca jendela.


Baliho-baliho dengan ukuran besar melayang di udara dimana wajah seorang wanita cantik dengan mahkota indah bergerak menyapa, layaknya seperti menonton sebuah televisi.


Lampu-lampu serta lampion melayang di udara, berganti warna setiap detik, menerangi setiap toko di sekitar pelabuhan Agora yang tampak gelap karena langit mendung. Papan penunjuk jalan terdapat di setiap gang, bergerak setiap kali seseorang membaca penunjuk arahnya.


Apa yang terlihat oleh mata itu sangat menakjubkan dan tampak mustahil, terutama bagi Isla. Gadis itu sejak tadi seolah tersihir menyaksikan kehidupan yang tidak pernah ia anggap nyata. Tapi kini ia malah terjebak di dalamnya.


"Mustahil," gumamnya sambil mencubit pipinya sendiri. Meyakinkan bahwa ia tidak sedang bermimpi.


"Perhatikan jalanmu, Nona. Jangan sampai jatuh karena terpesona."


Isla mendengar sapaan itu datang dari seorang anak laki-laki yang kini berdiri di sampingnya. Mengulurkan tangan untuk menolong Isla turun dari punggung Hippocampus. Isla bingung darimana datangnya anak laki-laki manis berambut abu-abu, mengenakan topi baret dan pakaian Bangsawan Eropa pada abad 19.


"Ini saya Nona, Rex. Tapi anda bisa memanggil saya Reymond."


Isla membelalakan mata, terkejut, terpaku sekaligus belum terbiasa. Apa yang ia lewati semenjak berteleportasi ke Danau Kaala terlalu mengejutkan. Dan sekarang ia melihat kucing ajaib bernama Rex telah merubah wujudnya menjadi seorang anak laki-laki manis bernama Reymond.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" tanya Isla. Ia menyambut tangan mungil Reymond, yang menariknya dengan hati-hati.


"Ini kelebihan kami para Guide, Nona. Kami bisa merubah wujud menjadi apapun, menyerupai sosok ataupun benda yang kami inginkan."


Sekali lagi Isla hanya bisa ternganga. "Itu menakjubkan, tapi aku belum terbiasa dengan ini. Maaf, aku merasa semua yang ada disini mustahil. Ini rasanya seperti mimpi dan imajinasi."


"Tidak apa-apa, Nona. Anda akan terbiasa dengan pemandangan ini. Tentu saja sebagai manusia biasa anda tidak pernah menyaksikan hal-hal semacam ini di Bumi."


"Memang tidak, kecuali dalam film tentunya."


"Ah, aku tahu. Orang-orang Bumi itu memang jenius. Mereka bisa membuat mahakarya yang hampir menyerupai dunia kami hanya lewat komputer saja. Tapi aku tidak heran, mereka mendapatkan referensi itu secara langsung dari penghuninya sendiri."


"Maksudmu?"


"Kami para penyihir Amalthea sering bepergian menuju belahan dunia lain, salah satunya Bumi. Biasanya kami memiliki misi dan menetap cukup lama disana. Saya pernah mendengar bahwa orang-orang kami pernah membantu mereka yang ingin mencari tahu tentang negeri sihir atau tempat dari dimensi lain. Mereka pikir itu semua hanya fantasi, tapi sejujurnya mereka mendapatkan informasi dari para penduduknya secara langsung. Intinya, kalian semua tidak yakin kami benar-benar ada. Tapi keberadaan kami selalu tercantum dalam buku-buku dongeng dan film di dunia kalian."


"Yah, dengan itu bahkan mereka bisa membuat gambaran negeri sihir dalam versi yang lebih baik."


Kai yang baru turun dari punggung Hippocampus ikut menimpali. Pria itu kini sudah berubah sekali penampilannya. Ia yang tadi hanya mengenakan celana jeans dan kaos berlengan panjang, berubah mengenakan pakaian cukup resmi berwarna gelap. Memiliki banyak atribut di dalamnya, namun tidak begitu terlihat karena tertutup jubah panjang berwarna ungu.


Isla kembali tersihir, mencoba mengingat sejak kapan pria itu telah mengubah penampilannya? Well, dia ternyata cukup manis dan tampan. Batin Isla.


Gadis itu segera menggeleng dan memikirkan penampilannya sendiri. Sejak keluar dari rumah Nita, Isla hanya mengenakan piyama hijau bermotif keropi. Isla bahkan berpikir apakah penampilannya yang berbeda ini tidak akan terlalu mencolok?


"Kalian cepat sekali mengganti penampilan, aku bahkan tidak sempat melihat bagaimana caranya."


"Dengan sihir semuanya mudah," jawab Kai.


"Lalu bagaimana denganku? Bukankah ini terlalu mencolok?" tanya Isla sambil menunjuk pakaiannya sendiri.


Tanpa menjawab, Kai menyentuh pundak Isla dengan tangannya. Seperti Ibu peri yang baru saja menyihir Cinderella, piyama yang dikenakan Isla berubah perlahan menjadi sebuah gaun panjang berwarna hijau dengan jubah panjang berwarna senada.


Gaun itu melilit indah dan pas pada tubuh Isla. Membuat gadis itu kembali berdecak kagum dan ingin melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Ini pertama kalinya ia mengenakan gaun cantik, bahkan rambutnya yang hanya ia ikat ekor kuda sejak tadi telah berubah tertata dengan rapi. Isla merasa dirinya tampil seperti seorang putri. Apalagi saat melihat wajah Reymond yang terpesona seolah ingin mengatakan bahwa dirinya cantik.


"Sihir ini hanya bertahan sementara, paling tidak sekitar dua jam. Sebenarnya kau bisa membeli pakaian di sekitar sini, tapi kita tidak punya waktu. Kita harus segera pergi menuju jembatan perbatasan, sebelum anak buah Hugo menemukan kita di tempat ini."

__ADS_1


"Kau sudah menghubungi Nona Hilma?" tanya Rex.


Kai mengangguk. "Dia akan menjemput di jembatan satu jam lagi. Sebaiknya kita bergerak sekarang." Kai berganti menatap Isla. "Kenakan tudungmu dan jangan berpisah dari Rex. Bau tubuhnya akan menyamarkan bau tubuhmu. Karena para penyihir dan Guide bisa mendeteksi keberadaan sesuatu yang asing."


Isla mengangguk paham dan segera mengenakan tudungnya. Rex yang saat itu menyamar dengan identitas Reymond segera menggamit tangan Isla. Keduanya segera mengikuti Kai yang berjalan mendahului menyusuri gang-gang pertokoan.


Mereka membaur secara alami dan tidak berjalan tergesa-gesa agar tidak menarik perhatian. Karena bisa saja anak buah Hugo telah mencegat mereka di pelabuhan ini. Lagipula saat ini Agora tampak cukup sepi dari biasanya. Mungkin karena Amalthea yang sedang dalam keadaan genting, jadi para penduduk dilarang untuk keluar dari Amalthea Barat.


Sambil berjalan, Rex menjelaskan banyak hal tentang Agora. Tempat ini sebenarnya pulau kecil yang terbagi menjadi tujuh pemberhentian, dimana tidak semua pintu masuk melalui cara yang sama.


Hippocampus adalah kendaraan yang menghubungkan Agora dengan Danau Kaala. Sedangkan pemberhentian lain memiliki cara dan kendaraan yang berbeda. Namun pada dasarnya semua pintu masuk itu akan bertemu di pelabuhan ini. Hanya saja waktu dan jarak tempuhnya berbeda-beda.


Sejak tadi Isla penasaran dengan sosok-sosok yang berpapasan dengannya. Begitu juga dengan para penjaga toko yang memiliki bentuk tubuh unik dan asing.


"Pemilik toko di pelabuhan ini adalah para Goblin. Salah satu ras yang menjadi penduduk tetap di Amalthea. Jumlah mereka tidak banyak, tapi kau harus berhati-hati berhadapan dengan mereka."


"Memangnya kenapa?"


"Mereka ini licik dan jahat. Sebagai pemilik toko, mereka bisa mempengaruhimu untuk mengeluarkan banyak emas dan koin. Itu adalah mata uang kami. Mereka sangat suka dengan emas dan sesuatu yang berkilau. Makanya kau harus hati-hati jika berbelanja disini. Jangan sampai jatuh miskin saat kembali. "


Isla melirik ke dalam salah satu toko yang menjual persenjataan. Seorang goblin bertubuh kecil mengenakan pakaian sedikit compang-camping terlihat sedang mengasah pisau. Goblin itu melirik tepat ketika Isla melewati tokonya. Mata tajam dan licik itu membuat Isla tak nyaman, apalagi saat tatapannya seolah sedang mengekori dirinya.


Rex kembali menjelaskan bahwa selain Goblin, Amalthea dihuni oleh ras Elf yang menjadi ras tertinggi kedua setelah para penyihir. Terdapat beberapa jenis Elf, namun yang paling dekat dengan para penyihir adalah Elf Bulan dan Elf Bintang. Selain itu Elf hutan hidup di pedalaman hutan Amalthea.


"Dan ras terakhir yang menghuni Amalthea adalah para Lumis. Mereka adalah rakyat Amalthea yang tidak memiliki kekuatan apapun. Hidup mereka bergantung perlindungan dari para Penyihir dan Elf. Ciri fisik mereka hampir sama seperti manusia, tapi kulit mereka berwarna putih pucat dengan rambut Orange terang. Kau akan sulit membedakan wajah mereka. Mereka sangat sensitif dengan matahari terik, itulah kenapa Amalthea selalu memiliki cuaca yang nyaris mendung setiap hari."


Isla spontan menatap ke arah langit yang memang tampak gelap. Matahari hampir tidak terlihat, hawa juga terasa dingin dan lembab. Saat itu Isla melihat dua sosok laki-laki dengan ciri fisik yang baru saja diceritakan oleh Rex sedang berada dalam sebuah toko.


Mereka mengenakan pakaian yang sangat tertutup, mengenakan jubah gelap dan topi runcing dengan warna sama. Penampilannya justru persis seperti penyihir yang digambarkan dalam buku dongeng. Namun Rex menjelaskan bahwa mereka adalah para Lumis. Isla bisa melihat wajah keduanya yang nyaris persis seperti saudara kembar.


Ketika Rex dan Isla sedang asyik bercerita, Kai yang berjalan di depan tiba-tiba membelok masuk ke dalam sebuah toko tanpa aba-aba. Rex dengan segera menarik Isla masuk mengikuti Kai.


"Kau melihat sesuatu?" tanya Rex, menyadari ada yang tidak beres.


"Ada yang membuntuti kita sejak tadi. Kurasa mereka adalah anak buah Hugo."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2