The Last Heirloom

The Last Heirloom
2. Sinyal Pusaka Emrys


__ADS_3

Amalthea. 


Delapan dari Sebelas pecahan Pusaka Emrys telah ditemukan dan dibawa kembali menuju Amalthea. Delapan pecahan tersebut segera dikembalikan pada tempatnya semula. Hanya saja tidak bisa disatukan dalam wujud aslinya, karena tiga pecahan yang lain belum ditemukan.


Ratu Aria sudah mulai pulih dari kesengsaraannya. Ia telah mengalami koma selama bertahun-tahun. Berkat para putra-putri Keluarga Gamma, sang Ratu kini sudah kembali siuman meskipun keadaan tubuhnya masih sangat lemah.


Meski begitu, tak serta merta keadaan Amalthea menjadi pulih seketika. Pecahan yang telah ditemukan mampu membangunkan sang Ratu dan juga memulihkan sumber daya alam secara perlahan. Namun perebutan hak tanah masih terjadi di mana-mana. 


Beberapa kelompok pemberontak yang ternyata berada di bawah pimpinan pengikut Hugo Lorelei mendalangi perebutan tanah bagian timur Amalthea. Wilayah itu rusak parah, dan para penduduk asli yang mendiaminya banyak yang terusir dan terpaksa tinggal di hutan dekat perbatasan Amalthea Barat. 


Para penjarah tanah ini tidak berani mendekati Amalthea bagian barat karena dekat dengan wilayah Kerajaan. Lagipula para prajurit yang handal ditempatkan dalam perbatasan dekat hutan. Dan ironisnya, para penduduk Amalthea Timur yang kehilangan rumah tidak diijinkan masuk menuju Amalthea Barat. Karena sebagian besar dari mereka menderita penyakit menular semenjak menatap lama di dalam hutan. 


Para prajurit juga tidak berani masuk lebih jauh menuju Amalthea Timur karena kekuatan kelompok pemberontak yang menguasai wilayah Amalthea Timur. Para relawan medis akhirnya diperintahkan untuk mengobati para penduduk yang terjangkit penyakit menular sebelum menyebar dan masuk hingga Amalthea Barat. 


Delapan putra putri Gamma kini tengah menghadap Sang Ratu yang kembali menduduki singgasananya bersama para menteri kerajaan. Salah satu menteri yang menjabat adalah Tuan Riku Gamma dan juga ketiga istrinya yang telah menghasilkan Sebelas putra-putri yang tengah berjuang menemukan pecahan dari Pusaka Emrys. 


Ratu Aria masih dalam kondisi pucat dan lemah, namun beliau memaksa diri untuk kembali menduduki singgasananya yang telah ia tinggalkan selama puluhan tahun. Dengan bangkit dan pulihnya Ratu Aria, para rakyat tengah bersuka cita karena harapan kehidupan mereka artinya telah kembali. 


Namun Ratu sendiri telah memerintahkan para penghuni istana untuk tidak menyebarkan keadaan dirinya yang sudah sadar pada rakyat saat ini. Ratu hanya memerintahkan bahwa beberapa pecahan Emrys telah ditemukan, sehingga sang Ratu sudah mulai membaik namun belum sadar. Hal itu ia lakukan agar para pemberontak tidak mengetahuinya, sehingga pihak istana bisa menyusun strategi penyerangan serapi dan sehalus mungkin. 


"Terima kasih Riku, kau dan putra-putrimu telah menyelamatkan Amalthea." Ratu Aria tersenyum tulus pada pria paruh baya yang duduk pada salah satu kursi menteri. 


Sang Ratu tampak sudah cukup tua saat ini akibat mengalami koma selama bertahun-tahun. Tubuhnya pucat dan kurus sehingga gaun yang ia kenakan sedikit kebesaran. Tapi wajahnya masih cantik. Jika pecahan Emrys yang tersisa bisa segera ditemukan, maka kehidupan milik sang Ratu juga akan pulih seperti sedia kala. Termasuk fisik tubuhnya. 


Tuan Riku Gamma segera bersimpuh, memberi hormat sedalam-dalamnya. Hingga beberapa detik, pria paruh baya itu baru mengangkat wajah yang terlihat begitu haru. 


"Saya dan para menteri tentu sangat senang dan bersyukur anda bisa pulih kembali Yang Mulia. Amalthea sangat membutuhkan anda saat ini. Karena kekuatan kami saja tidak cukup. Saya ingin meminta maaf karena tidak bisa melindungi Amalthea selama anda masih tertidur. "


Apa yang dibicarakan oleh Tuan Riku merujuk pada keadaan Amalthea Timur saat ini beserta penduduknya. Sang Ratu telah mengetahui berita itu beberapa hari yang lalu. Ratu Aria lalu bangkit perlahan, dibantu oleh dua pelayannya. 


"Aku telah mengetahui apa yang terjadi. Kekacauan yang terjadi di Amalthea adalah kesalahanku. Jadi jangan merasa bersalah Riku. Aku mengadakan pertemuan ini demi kembali merebut seluruh tanah Amalthea yang seharusnya menjadi hak para rakyat Amalthea. Aku akan mengembalikan tanah itu pada mereka. Dan aku tidak akan mengampuni para pemberontak itu, termasuk adikku sendiri."


Sang Ratu berbicara berapi-api, menatap satu persatu menteri dan juga panglima yang hadir di sana. Delapan putra-putri Gamma menyaksikan pertemuan itu. Menyaksikan kemarahan sang Ratu dan juga bangkitnya kekuatan Amalthea yang selama ini sudah hampir terdorong mundur. 


Tidak tahu datang dari mana keberanian dan rasa percaya diri ini. Namun ucapan sang Ratu telah membuat seluruh jiwa yang hadir di ruangan itu merasakan sebuah harapan. Bahwa mereka tidak akan takut lagi pada para pemberontak itu. Mereka akan mempertahankan Amalthea Barat dan merebut Amalthea Timur kembali dari tangan pemberontak. 

__ADS_1


"Merebut Amalthea Timur tidak akan mudah. Itulah kenapa aku menginginkan rencana dan kerja sama kalian. Tapi sebelum itu, aku ingin para putra-putri Gamma memimpin divisi pasukan. Mereka telah memiliki bagian dari Pusaka Emrys, sehingga kekuatan sihir mereka akan sangat diperlukan. Kuharap kalian tidak menolak."


Delapan kakak beradik itu saling berpandangan dengan senyum mengembang. Tentu mereka tidak akan menolak, karena itulah yang juga mereka inginkan. Sang putra tertua, Edric, kemudian maju dan bersimpuh. Mewakili adik-adiknya untuk menyampaikan jawaban mereka pada sang Ratu. 


"Apapun perintah Yang Mulia, demi kebaikan dan kebebasan Amalthea, kami siap melaksanakan tugas." 


"Terima kasih Edric, aku mengandalkanmu dan kalian semua tentunya. Mari kita bebaskan tanah Amalthea, dan mengembalikan kejayaan negeri ini."


***


Tiga hari berlalu. Kai sudah mulai bekerja di sebuah kantor perusahaan konstruksi di Kota Jakarta Pusat. Sebelumnya pemberhentian terakhirnya di Kota Samarinda dan Bandung, dan itu sudah memakan waktu sekitar tiga bulan. Namun Koordinat yang mereka dapatkan tak kunjung memberi sinyal bahwa pusaka Emrys berada di wilayah itu. Kota ini adalah kota terakhir tujuan mereka di negara ini. Jika sinyal Emrys tidak ada maka mereka akan melanjutkan ke negara selanjutnya. 


Akibat hidup Kai yang sering berpindah-pindah dan selalu menetap dalam waktu singkat, membuatnya memiliki banyak identitas dan juga pengalaman kerja. Dia selama ini mengeluh sulit mendapat kerja karena Kai sangat pemilih dalam hal itu. Dan itu membuat Rex sering gusar karena sifatnya. 


Rex baru saja merasa jengkel pada Kai karena sudah menipunya tentang uang. Siapa sangka pria itu punya simpanan tanpa sepengetahuan Rex. Dia mengeluh miskin dan tak punya uang, tapi baru saja menyewa apartemen dengan harga sepuluh juta perbulan. 


Tapi kekesalan itu hanya berlangsung sementara. Rex saat ini kembali menjalankan tugasnya sebagai Guide saat Kai sedang bekerja. Ia mengawasi titik Koordinat yang setiap saat muncul pada titik tertentu di sekitar wilayah tersebut. Koordinat sendiri sudah mereka dapatkan saat baru pertama kali datang ke Bumi. Salah satu alasan mengapa sulit menemukan pecahan Emrys padahal sudah ada Koordinat dari benda tersebut adalah bagian dari rencana Hugo. 


Hugo dan pengikutnya membuat serpihan dari Pusaka Emrys menyebar rata di bagian Bumi tertentu. Sehingga titik Koordinat akan selalu muncul di beberapa tempat akibat dari serpihannya saja. Hugo mencoba mengelabui agar keluarga Gamma tidak bisa dengan mudah menemukan pecahan Pusaka tersebut. 


Ia juga dengan cekatan menyusun dengan rapi semua laporan keuangan di dalam buku. Padahal dia masih pekerja baru yang masih butuh bimbingan, tapi sepertinya Kai tidak butuh itu. Hal itu tentu saja membuat teman dan juga atasannya senang karena tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu membimbing anak baru. 


"Kerja bagus Kai, jarang sekali ada pegawai baru yang cepat mengerti seperti kamu, tampan lagi!" puji atasannya setelah menerima laporan keuangan yang diserahkan oleh Kai. 


"Terima kasih. Tidak perlu berlebihan Madam, saya sudah biasa menangani ini," sahut Kai seraya tersenyum kecil.


"Tidak berlebihan kok, soalnya CV lamaran kamu memang memukau. Kamu banyak pengalaman kerja di luar negeri ternyata." 


"Sebelum pindah ke Indonesia saya memang sempat tinggal di luar negeri." 


"Tapi bahasa indonesia kamu lancar loh, padahal saya lihat kamu lahir di Jerman. Sudah lama tinggal di sini memangnya?" 


"Belum, Madam. Tapi dulu saya pernah menetap di Indonesia saat masih sekolah." Kai tersenyum getir, sedikit merasa tidak enak karena hidupnya selalu penuh kebohongan. Namun untung saja atasannya tidak bertanya lebih banyak lagi soal kehidupan pribadinya. 


Sudah pukul setengah enam sore, Kai masih teronggok di depan mesin fotokopi bersama ratusan lembar kertas yang harus selesai hari itu juga. Sungguh sial, orang baru yang lugu selalu saja mendapat pekerjaan semacam ini. Orang-orang sudah banyak yang pulang, hanya tersisa beberapa karyawan seperti dirinya yang juga mendapatkan kesialan yang sama. 

__ADS_1


Sambil menunggu pekerjaannya selesai, Kai melihat ponselnya untuk melihat apakah Rex mengirimkan pesan. Namun kucing licik itu bahkan tidak menanyakan keadaannya dalam satu hari ini. Kai penasaran apa yang dia lakukan sekarang, sepertinya Rex masih marah soal masalah kemarin. 


Ngiiiing... 


Degup jantung Kai tiba-tiba seakan berhenti. Sebuah sinyal yang terdengar memekakkan telinga tiba-tiba saja memenuhi ruang kepalanya. Pria itu terkejut luar biasa, ia bergegas berlari menuju kaca jendela dimana ia kini berdiri dalam ruangan di lantai lima belas. 


Raut wajahnya yang selalu datar menunggu hari-hari seperti ini akan tiba, kini berubah menjadi sebuah senyuman bersemangat. Sebuah cahaya biru kehijauan berpendar seperti sebuah sinyal dari kejauhan. Letaknya beberapa kilometer dari tempat Kai berada saat ini. 


Cahaya itu adalah sinyal dari Pusaka Emrys. Pusaka yang telah lama ia cari hingga ke pelosok Bumi ini selama tiga tahun lamanya. Tidak menyangka, tempat terakhir yang ia singgahi di negeri ini adalah tempat dimana anak buah Hugo menyimpan pecahan terakhir dari Emrys. 


Tanpa pikir panjang Kai langsung berlari turun ke bawah, meninggalkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Mesin fotokopi masih berjalan dengan kertas-kertas di dalamnya. Seorang pegawai wanita yang melihat kelakuan Kai hanya melongo tanpa menegur. Ia hanya melirik tugas-tugas yang juga harus ia kerjakan hari itu. 


Tapi sepertinya Kai memberi sebuah inspirasi dan keberanian lain padanya. Ia langsung merapikan barang-barangnya sendiri dan meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Semua orang butuh istirahat dari rutinitas, apalagi pekerjaan yang ia jalani tidak masuk hitungan lembur. 


Kai berlari keluar gedung tanpa membawa tas kerjanya. Ia memotong jalan raya dan menembus kerumunan lalu lalang manusia yang masih begitu padat memenuhi jalanan. Menggunakan telepati pikirannya, Kai menghubungi Rex yang mungkin juga sudah mengetahui munculnya sinyal Emrys. 


Saat tiba di tempat yang sepi, Kai menggunakan sihir teleportasi dengan cara menukar tubuhnya dengan sebuah benda di tempat yang akan ia tuju saat ini. Ia tak bisa menggunakan kekuatan sihirnya selama berada di Bumi, kecuali jika sinyal Emrys sudah menampakkan diri. Dan ini adalah saatnya.


PLUP


Bunyi suara itu datang bersamaan dengan sosok Kai yang menghilang dan digantikan munculnya sebuah tong sampah. Kai muncul di sebuah komplek perumahan, tepat dimana dirinya menukar tubuhnya dengan tong sampah tadi. Untung saja, saat itu tidak ada orang yang lewat di kawasan tersebut.


Cahaya yang berpendar dari Pusaka Emrys terlihat semakin nyata. Kai kembali berlari menuju bagian lain dari komplek tersebut. Dari penampilan bangunan yang ada di sana, rupanya ini kawasan milik para elite. Rumahnya luas, megah dan penuh dengan mobil mewah. 


Dengan nafas yang memburu dan wajah yang tidak sabar, Kai akhirnya tiba di sebuah rumah tingkat dua bercat abu-abu putih dimana cahaya dari sinyal Emrys tersebut datang. Cahaya itu datang dari sebuah ruangan belakang di lantai satu bangunan tersebut. 


Tanpa pikir panjang Kai langsung melompati pagar rumah yang tak terlalu tinggi dan melintasi halaman menuju bagian belakang rumah tersebut. Sambil berharap tidak ada penghuni rumah yang akan melihat pergerakannya. 


Pria ini sungguh nekat dan ceroboh, atau bisa dikatakan Kai sudah merasa terlalu lama menunggu masa ini akan tiba. Kai sampai di bagian jendela berteralis, dimana letak cahaya Pusaka Emrys yang berpendar semakin lama semakin kuat. Ia dengan hati-hati melongok ke dalam, karena gorden jendela masih terbuka. 


Cahaya biru kehijauan itu berpendar seakan membutakan mata. Jantung Kai berdetak semakin cepat karena ia merasa bahagia tugasnya di tempat yang melelahkan ini sudah hampir selesai. 


Namun ketika matanya sudah terbiasa dengan silau cahaya pusaka itu, Kai hanya bisa termangu. Tugasnya yang sudah ia bayangkan akan selesai, kenyataannya justru akan jauh lebih berat dari dugaannya. Karena pecahan dari Pusaka Emrys itu bukanlah berbentuk sebuah benda, melainkan muncul dan hidup di dalam tubuh seorang gadis. Seorang gadis muda berparas manis yang sedang melipat setumpuk baju di dalam ruangan tersebut. 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2