The Last Heirloom

The Last Heirloom
5. Musuh Bergerak


__ADS_3

Kai dan Rex membicarakan tentang kemampuan Isla yang sangat peka dengan keberadaan orang lain. Bahkan Rex yang saat itu tengah menggunakan sihir tak kasat mata, bisa terdeteksi oleh kemampuan Isla.


Rex juga menceritakan tentang sebuah gosip mengapa Isla dijauhi oleh teman-temannya. Rupanya dulu ada sebuah kejadian yang membuat Isla mendapat julukan gadis pembawa sial karena seolah bisa memprediksi kejadian buruk di masa depan.


Kemampuan Isla itu cukup mirip dengan Samira, kakak perempuan Kai. Tapi Kai masih ingin membuktikan dan melihatnya sendiri.


"Silahkan duduk!" perintah Kai pada Isla yang saat itu sudah datang untuk memenuhi panggilannya.


Isla menurut. Untuk pertama kali Kai melihat Isla mengikat rambut, penampilannya cukup berbeda dengan tatanan rambut seperti itu. Ia terlihat lebih percaya diri.


Yang masih menjadi pertanyaan Kai hingga saat ini adalah tatapan mata Isla, yang selalu tampak menyelidik dan terpancar sebuah kewaspadaan padanya. Seolah Kai akan berbuat sesuatu yang jahat kepada gadis itu. Memang benar apa yang dikatakan Rex, Isla memiliki aura yang kuat dan berbeda dari manusia Bumi lainnya.


"Terima kasih karena kau sudah mau datang."


"Apa yang ingin Bapak tanyakan?"


"Apa benar kau mengalami perundungan?"


"Tidak."


"Tapi ada yang melihat, kau dipaksa membuat contekan untuk ujian nanti oleh seseorang. Apa benar? Kalau benar, siapa orangnya?"


Isla terdiam. Ia menatap Kai tanpa berkedip.


"Orang itu mungkin salah lihat. Saya tidak mendapat permintaan semacam itu."


Ada apa dengan gadis ini? Ia malah berusaha menutupi perundungan yang ia terima.


"Sebagai guru Bimbingan Konseling, saya hanya ingin membantu jika ada murid yang mengalami kesulitan. Kau atau murid lain bisa bercerita jika memang ada yang tidak benar di sekolah ini."


"Tapi saya tidak punya keluhan semacam itu. Mungkin memang benar ada orang yang menganggu saya, tapi itu tidak perlu dilebih-lebihkan karena saya masih bisa mengatasinya sendiri."


Kai tidak menyangka jika Isla adalah gadis yang keras kepala.


"Apa kau mendapat ancaman?"

__ADS_1


"Tidak. Kenapa Bapak tanya begitu?"


"Dari cara bicaramu seolah kau menutupi perundungan pada dirimu sendiri karena ada seseorang yang kau waspadai."


Isla tiba-tiba berdiri, wajahnya terlihat marah. Melihat itu Kai sedikit terkejut, apalagi tiba-tiba aura yang muncul pada tubuh gadis itu berubah menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


"Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu?!"


Kai jelas terkejut dengan perubahan reaksi dan nada bicara Isla padanya, bahkan ia menggunakan kata-kata informal.


"Apa maksudmu, kenapa bicaramu seperti itu? Bukankah sudah saya bilang saya hanya ingin membantu."


"Sejak kau datang ke sekolah ini, aku sudah mewaspadaimu. Kenapa kau mengejarku? Apa tujuanmu?"


Kai benar-benar kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu kenapa Isla marah dan seolah menuduh dirinya melakukan sesuatu yang buruk. Kai menoleh kesana-kemari karena takut ada guru lain yang akan melihat kejadian ini, dan malah jadi boomerang untuknya. Belum sempat ia menjawab, Isla sudah menyela dengan kalimat yang membuat Kai tertegun di tempat.


"Satu minggu lalu, kau mendatangi rumahku bukan? Aku bisa merasakan kedatanganmu. Dan aura serta baumu sama persis, kau orang yang datang memata-mataiku satu minggu lalu."


*****


Sejak kejadian di ruang BK, Isla selalu menghindari bertemu dengan Kai dimanapun. Ia sudah mengunci Kai seperti target berbahaya yang harus dihindari dan dijauhi. Kai jadi paham alasan kenapa Isla dianggap aneh oleh teman-temannya. Ia peka dan bisa merasakan aura orang lain, dan itu yang membuatnya waspada berlebihan.


Tuk, tuk, tuk...


Terdengar ketukan pelan dari luar kaca jendela di kamar Kai. Saat itu sudah tengah malam, namun pemuda itu masih terjaga. Sedangkan Rex sudah mendengkur sejak tadi di ranjang mungilnya.


Kai bangkit dan menyibakkan tirai jendela, penasaran siapa yang mengetuk kaca pada lantai lima malam-malam begini. Sesosok burung hantu berwarna putih dan berbulu lebat sedang menatap Kai dari luar jendela.


Kai bergegas membuka jendela, lalu burung itu terbang masuk dan berubah menjadi sesosok wanita mengenakan jubah berwarna biru tua dengan motif berwarna emas di bagian pinggirnya.


Wanita itu melepaskan tudung yang menutupi kepala serta wajah, memperlihatkan sesosok wajah cantik berambut panjang coklat kemerahan. Mata hijau zamrudnya memancarkan aura cemerlang yang langsung tersenyum saat melihat Kai berdiri tepat di hadapannya.


"Kai!"


Si wanita tanpa aba-aba langsung memeluk Kai yang juga menyambut kedatangannya. Gadis itu bernama Hilma, kakak kelima Kai yang telah berhasil menyelesaikan tugasnya mencari Pusaka Emrys sekitar satu tahun yang lalu.

__ADS_1


"Nona Hilma?"


Rex terbangun dan langsung memberi hormat pada wanita tersebut. Hilma sendiri segera menghampiri dan memeluk Rex dengan aura rindu karena sudah lama mereka tidak bertemu.


"Aku senang kalian baik-baik saja."


"Bagaimana kau bisa kemari?" tanya Kai.


"Ini bukan wujud asliku Kai, aku hanya mengirim bayanganku melalui Binx (si burung hantu, Guide milik Hilma). Aku tidak punya banyak waktu jadi aku akan menjelaskan dengan cepat."


"Ada apa?"


"Ios, dia ditemukan tewas tiga hari lalu."


"Apa?!"


Kai dan Rex menyahut secara bersamaan. Ios adalah saudara Kai kesembilan. Salah satu saudaranya yang juga belum menemukan pecahan Emrys hingga saat ini. Ios mendapat tugas di belahan Bumi bagian selatan, dimana koordinat pecahan Emrys tersebar di benua dengan hutan-hutan yang sangat lebat.


"Apa maksudmu dia tewas? Bagaimana bisa?" seru Kai sambil menggoncang-goncangkan bahu Hilma.


"Sesuatu yang tidak kita duga telah terjadi, Kai. Sekitar satu minggu lalu, Ios memberi kabar pada Samira bahwa ia hampir menemukan pecahan Emrys karena saat itu sebuah sinyal kuat memanggilnya. Tapi ia mengalami kesulitan karena terluka parah akibat sakit tubuh yang ia derita karena terus bertahan hidup di dalam hutan selama bertahun-tahun. Samira dan Luke menyusul, tapi saat tiba disana, Ios telah tewas,"


"Saat memeriksa tubuhnya, Samira yakin bahwa Ios tewas bukan karena penyakit, melainkan seseorang telah menyerangnya. Dan kuat dugaan, mereka adalah Pasukan Akuji (anak buah Hugo Lorelei). Tubuh Ios ditemukan dalam keadaan menghitam seperti terkena kutukan. Dan pecahan Emrys ikut menghilang saat itu. Saat ini Declan dan Dallas sedang mencari keberadaan Eris, karena kemungkinan besar anak buah Hugo sudah bergerak untuk merebut pecahan Emrys yang tersisa."


"Aku datang kesini untuk memperingatimu Kai, aku masih belum bisa menemukan Margus. Tapi aku mendapat pesan darinya. Jalan satu-satunya adalah kau harus membawa gadis itu menuju Amalthea karena tidak akan mungkin mengeluarkan pecahan Emrys dari tubuhnya tanpa mengorbankan nyawa gadis itu. Ini memang pelanggaran, tapi tidak ada pilihan lain. Aku rasa Ratu akan mengerti saat tahu pecahan Emrys tertanam dalam tubuhnya. Kau harus bergegas Kai, atau anak buah Hugo akan datang dan membunuhnya. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, jangan buang waktumu lagi."


Setalah kalimat terakhir itu, sosok Hilma perlahan mulai mengabur dan kembali berubah menjadi sesosok burung hantu berbulu putih lebat.


"Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa Tuan Kai, dan kau juga Rex."


"Terima kasih Binx. Sampaikan salamku pada Hilma."


Kai dan Rex mengantarkan Binx menuju jendela. Burung hantu itu bergegas terbang membumbung tinggi dalam kegelapan sampai akhirnya ia menghilang dibalik awan.


Kai dan Rex tahu apa yang harus mereka perbuat selanjutnya. Anak buah Hugo sudah mulai bergerak untuk mengumpulkan pecahan Emrys yang tersisa. Dan jika mereka sudah berhasil membunuh Ios, maka saat ini Eris adalah target selanjutnya yang dituju.

__ADS_1


"Eris tidak akan semudah itu dikalahkan. Bahkan Ios juga tidak akan kalah jika saat itu tubuhnya dalam kondisi sehat. Ayo Rex, kita harus bersiap sekarang juga!"


Bersambung...


__ADS_2