
Sudah dua hari, Kai, Isla dan Rex berdiam menyembunyikan diri di dalam pondok Margus. Hilma dan Argo tidak kembali ke Istana maupun perbatasan Amalthea.
Tugas mereka adalah menemukan Kai dan pecahan Emrys. Tapi karena sesuatu yang tak terduga, mereka harus menyembunyikan Kai dan gadis itu sampai pertemuan keluarga Gamma akan dilangsungkan pada besok petang.
Pondok Margus sangat tidak terawat. Puluhan sarang laba-laba bergelayut manja di setiap sudut rumah itu. Belum lagi debu tebal yang menyelimuti setiap jengkal lantai dan barang-barang yang ditinggalkan. Entah sudah berapa lama Margus meninggalkan pondoknya ini? Kai bertemu Margus terakhir kali ketika dirinya masih berada di Akademi.
Hilma telah meninggalkan persediaan makanan kaleng untuk satu minggu. Ia berjanji akan segera memberi kabar jika pertemuan keluarga sudah dilangsungkan. Hilma sebenarnya khawatir jika Samira telah mengetahui kedatangan Isla. Meskipun pondok Margus telah diberi mantra pelindung, tapi kepekaan Samira pada sesuatu yang asing patut diwaspadai.
Saat itu Kai sedang membongkar pondok Margus. Rumor telah menyebar luas bahwa Pondok Margus dianggap berhantu dan menjadi sarang para penyihir gelap yang telah lama mati. Sehingga pondok itu ditinggalkan begitu saja, dijauhi dan terasing dari rumah milik para Lumis dan penyihir lain.
Botol-botol berisi ramuan masih ditinggalkan. Dengan kuali dan peralatan meramu lainnya yang kini sudah rusak dan tak bisa digunakan. Di bagian ruangan lain Kai menemukan rak yang telah rusak berisi lembaran kertas berisi tulisan tangan yang sudah menguning dan termakan cuaca. Kai membongkar semuanya, berharap menemukan sesuatu.
"Siapa sebenarnya Margus ini?" tanya Isla yang muncul tiba-tiba. Kai yang sedang merapikan kertas-kertas itu menoleh. Jubahnya telah ia tanggalkan sejak tadi, mengenakan pakaian yang dikatakan terlalu rapi untuk bersih-bersih.
"Dia pamanku. Tepatnya, kakak ibuku."
"Lalu apa Argo itu benar kakakmu? Kalau Hilma sih memang mirip denganmu. Tapi Argo tidak."
"Kenapa? Apa karena aku tidak setampan dia?"
"Apa?" seru Isla kaget.
"Aku tahu kau memujinya setengah mati."
"Hei, bukan itu maksudku!" sergah Isla. Kai malah terkekeh.
"Kami memang tidak begitu mirip karena ibu kami berbeda. Ayahku punya tiga istri. Aku dan Hilma lahir dari satu ibu yang sama, aku juga punya saudara kembar dengan ibu yang sama. Jadi jangan heran kalau nanti kau bertemu saudaraku yang bahkan tidak ada kemiripan sejengkalpun denganku. Tapi pada intinya, kami semua tetap saudara kandung. "
"Kau pasti senang, menjadi putra termuda di keluargamu. Aku penasaran bagaimana rasanya punya banyak saudara."
Mendengar keinginan Isla, Kai otomatis tertawa. "Keinginan paling aneh yang pernah kudengar. Kalau bisa aku bahkan ingin menukar hidupku dengan Rex. Atau setidaknya aku tidak dilahirkan saja di keluarga ini."
__ADS_1
Isla sedikit terkejut. "Kenapa? Apakah benar-benar tidak enak punya banyak saudara?"
"Yah...bukan masalah tidak enak. Tapi, kau harus bisa menahan diri saat terus dibandingkan dengan kakak-kakakmu yang lebih unggul. Kau pasti bisa membayangkan sendiri bagaimana rasanya disepelekan."
"Ya, aku tahu itu," sahut Isla lirih. Isla tentu saja paham karena ia juga mengalami penderitaan yang sama seperti Kai. Hanya beda permasalahan saja. "Tapi aku ingin tahu, apakah ada kakakmu yang paling kau kagumi?" lanjutnya.
"Ada."
"Apakah seseorang yang bernama Samira?"
Tapi Kai segera menggeleng. "Samira memang paket lengkap untuk menjadi panutan. Dia cantik, cerdas, kuat, selalu menempati peringkat atas sebagai penyihir keluarga Gamma yang paling berbakat. Ia kini juga menjadi tangan kanan sang Ratu. Benar-benar sempurna bukan? Tapi kesempurnaannya menjadi celah untuk selalu merendahkan yang dibawahnya. Aku tidak iri apa yang ia miliki, tapi aku tidak suka cara dia membuat jarak dengan penyihir yang lebih lemah darinya. Meskipun itu saudaranya sendiri."
"Dia pasti punya pengaruh yang kuat, ya? Aku yakin sosok seperti Samira bisa membuat siapapun berada dipihaknya."
"Kata-kata yang tepat. Kau pandai menebak padahal belum bertemu secara langsung."
Isla mengangkat alis. "Well, aku punya kekuatan untuk itu. Jadi, siapa sebenarnya yang paling kau sukai?"
"Edric, kakak tertuaku," jawab Kai dengan nada suara sumringah." Dia berperan besar dalam beberapa bagian hidupku."
"Bisa dibilang begitu." Kai tiba-tiba bangkit sambil menggotong banyak lembaran buku yang sudah tak bersampul lagi. Ia meletakkan di hadapan Isla yang duduk bersimpuh di lantai. "Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau ingin tahu tentang keluargaku?" tanyanya.
"Apa itu dilarang? Aku sudah mendapatkan semua informasi tentang Amalthea, Hugo Lorelei, Pusaka Emrys dan Pasukan Akuji dari Rex. Tapi dia benar-benar menolak membahas tentang kakak-kakakmu. Makanya, aku lebih baik menanyaimu secara langsung."
"Keputusan yang tepat. Aku memang tidak suka mendengar orang lain menggunjing keluargaku di belakang. Rex paham dengan peraturan itu."
Isla menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia kini lebih berfokus pada tumpukan kertas usang dengan aksara yang tidak bisa ia baca sama sekali.
"Aku tidak bisa memahami ini."
"Ini Aksara Hono. Aksara asli Amalthea. Kau memang tidak akan mengerti kalau tidak mempelajari. Sama seperti aku dulu sebelum menuju dunia kalian. Aku harus mempelajari banyak aksara dan abjad yang ternyata banyak sekali jenisnya."
__ADS_1
"Aku juga kaget, ternyata di tempat kalian juga ada sekolah sihir."
"Tentu saja. Memang darimana kami semua belajar sihir kalau bukan di Akademi? Meskipun kami memang penyihir, tapi semua kekuatan yang kami miliki juga harus ada aturannya."
"Apa orang biasa sepertiku bisa belajar sihir?" tanya Isla.
Kai menggeleng. "Akademi sihir hanya untuk keturunan para penyihir saja. Begitu juga dengan Akademi para Elf. Para Lumis di Amalthea bahkan tidak bisa mempelajarinya. Mereka tak akan butuh perlindungan kami jika bisa mempelajari sihir."
Isla kembali mengangguk-anggukan kepala. Setelah itu keduanya saling terdiam. Kai kini sedang fokus membaca lembaran kertas yang telah menguning dan robek sana sini. Sedangkan Isla hanya mengamati tanpa bertanya.
Tapi lama kelamaan gadis itu bosan juga. Ia menatap Kai lamat-lamat. Rambut coklat kemerahan yang jatuh menyentuh buku karena si pemiliknya sedang menunduk menarik perhatian Isla. Gadis itu menyentuhnya, membuat Kai seketika mendongak.
"Kai, aku ingin tahu kenapa kau mau susah payah menyelamatkanku? Bukankah lebih mudah membunuhku dan mengambil pusaka Emrys? Kau tidak perlu repot-repot membawaku kesini. Lagipula apa yang kau lakukan sekarang bisa memicu pertengkaran dengan saudaramu."
Kai tertegun sebentar." Kau sadar itu?" ucapnya. Isla mengangguk. Kai meletakkan lembaran kertas yang ia pegang.
"Aku bukan penyihir berbakat. Aku tak sehebat kakak-kakakku. Bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa menemukan sihir Rein milikku. Tapi, aku berusaha menutupi kekuranganku dengan hal-hal yang menurutku baik. Mengorbankan makhluk yang tidak ada hubungannya dengan duniaku menurutku itu kesalahan besar. "
"Lalu bagaimana akhirnya jika itu tidak berhasil? Aku akan mati dan kau akan menerima hukuman. Aku sudah mendengar dari Rex, kau tidak akan bisa menggunakan pedangmu dalam waktu tertentu. Izinmu untuk keluar dari Amalthea juga akan dicabut. Apa itu benar?"
Kai mengangguk."Memang benar. Tapi aku sudah berjanji tidak akan mati, Isla. Sia-sia aku membawamu kesini jika sampai kau tidak selamat. Margus pasti bisa menyelamatkanmu."
"Bagaimana caranya? Apa kau benar-benar yakin Margus tahu caranya?"
Kai mengangguk mantap lalu mengambil kertas yang sebelumnya ia letakkan. Ia menunjukkan lembaran itu pada Isla.
"Aku akan menerjemahkannya untukmu," kata Kai sambil menggerakkan tangannya. Aksara itu tiba-tiba saja saling berpindah dan mulai merubah bentuknya menjadi huruf abjad yang dimengerti oleh Isla. Gadis itu sekali lagi terkagum-kagum. Ia mulai membaca tulisan yang kini bisa ia pahami.
Kertas itu rupanya berisi tentang teori sebuah ramuan. Menjelaskan bagaimana cara membuat dan juga bahan-bahan yang diperlukan. Tampaknya itu adalah tulisan dari Margus sendiri, ia menjelaskan dengan kata-kata yang agak sukar dipahami. Namun Isla membaca ada beberapa kata-kata tentang Pusaka Emrys. Isla masih tak paham untuk apa Kai menunjukkan ini padanya.
"Pusaka itu hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang menanamkannya pada tubuh seseorang. Kau adalah orang kedua setelah Ratu Aria yang menjadi wadah hidup dari Pusaka ini. Dan orang yang telah menanamkan pusaka pada Ratu Aria adalah Margus. Itu artinya orang yang telah meletakkan pusaka pada tubuhmu adalah..."
__ADS_1
"Margus!" seru Isla.
To Bersambung...