
"Ada seseorang yang membuntuti kita sejak tadi. Kurasa mereka adalah anak buah Hugo."
"Secepat itu mereka menemukan kita," sahut Rex.
"Anak buah Hugo berkeliaran dibanyak tempat. Apalagi Agora ini cuma pulau kecil. Memangnya kemana lagi mereka akan mengejar kalau bukan ke tempat ini?"
Kai masih mengamati suasana diluar dengan hati-hati. Saat ini Agora cukup sepi sehingga untuk membaur sedikit sulit. Toko-toko juga tidak semuanya buka, para Lumis yang datang berada di Agora saat ini rupanya sudah dua hari terjebak dan belum bisa kembali ke Amalthea.
Mereka terpaksa menginap karena para pemberontak yang datang dari Amalthea Timur sering mencegat siapapun yang hendak keluar ataupun masuk ke Amalthea Barat.
Ketika Kai dan Rex sedang mengawasi suasana, Isla terpesona dengan toko yang mereka masuk saat ini. Toko itu menjual pernak-pernik dan juga perhiasan yang indah dan cantik.
Sudah menjadi hal lumrah bagi wanita yang selalu tertarik dengan benda-benda cantik, termasuk Isla. Apalagi benda-benda itu unik dan asing, baru kali ini Isla melihatnya. Isla menyentuh salah satu kalung perak dengan liontin batu kristal bening seperti kaca.
"Pilihan yang bagus, benda itu akan membuatmu beruntung."
Isla menoleh pada suara serak sengau. Gadis itu tak berkedip saat matanya beradu dengan mata sesosok goblin bertubuh kecil, bermata besar dengan telinga runcing. Kulit tubuhnya berwarna cokelat tapi penuh dengan keriput seperti telah menua. Matanya memandang Isla lamat-lamat seolah sedang mengunci Isla yang sudah jatuh dalam perangkapnya.
Goblin itu semakin mendekat sambil menyodorkan sebuah wadah berisi perhiasan yang sangat cantik dan memanjakan mata. Isla yang melihat itu seperti jatuh cinta. Matanya berbinar-binar senang sambil menyentuh satu persatu kalung itu seolah ingin memilikinya.
"Kau boleh memilikinya jika ingin," ucap Goblin tersebut dengan suara berbisik.
"Benarkah? Tapi, aku tidak punya uang, eh maksudku Koin untuk membayar," jawab Isla yang tiba-tiba sedih karena ia baru ingat bahwa tempat ini bukanlah Bumi. Lagipula jika di Bumi, Isla juga tak akan mampu membeli perhiasan cantik karena harganya cukup mahal.
Goblin itu maju semakin mendekat, menyentuh ujung jari tangan Isla dengan kuku-kukunya yang panjang.
__ADS_1
"Aku tidak butuh Koin. Kau bisa membayarnya dengan benda berkilau yang ada di dalam tubuhmu."
"Apa?" Isla terkejut, apalagi ketika wajah licik Goblin itu semakin mendekat padanya.
"Jangan sentuh dia. Kau tidak akan bisa mencuri apa yang dia miliki."
Suara dingin Kai dari arah belakang menegur tepat ketika si Goblin hampir menyentuh Isla. Goblin itu seketika takut dan mundur. Ia melirik pedang milik Kai yang tergantung pada pinggangnya. Kai segera menarik Isla yang masih termangu tak sadarkan diri.
Mereka bertiga kini telah keluar dari toko dan kembali melanjutkan perjalanan. Hanya saja kini mereka lebih mempercepat langkah. Isla baru sadar ketika ia keluar dari toko Goblin yang menjual perhiasan.
"Sudah kubilang, hati-hati dengan mereka," ucap Kai. "Mereka punya kekuatan memengaruhi siapapun yang masuk ke dalam tokonya."
"Tapi kenapa mereka bisa melihat pusaka yang ada di dalam tubuhku?"
"Bukan sesuatu yang mengherankan. Mereka selalu peka dengan sesuatu yang berkilau. Apalagi pusaka itu memiliki kekuatan yang sudah menyatu denganmu."
Semakin jauh ke dalam, suasana semakin sepi meskipun toko-toko tetap buka. Langit semakin mendung, baliho yang mengudara di atas masih menunjukan wajah seorang wanita cantik. Isla mengamati itu dan menebak bahwa dia adalah Ratu Amalthea.
Isla terus menggamit tangan Reymond sedangkan Kai berjalan tepat di depannya. Sosok-sosok yang berpapasan dengan mereka semakin sedikit. Isla memilih untuk merapatkan tudungnya, ia takut para penduduk di Agora akan tahu bahwa dirinya tidak berasal dari tempat ini.
Ketika mereka tiba di gang-gang yang sempit, Reymond semakin mengeratkan genggaman tangannya. Isla bisa merasakan hawa yang berbahaya datang mendekat. Hawa ini terasa gelap dan kuat. Gadis itu memandang sekitar gang yang terhimpit oleh tembok-tembok tinggi, bukan lagi pertokoan milik para Goblin.
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah persimpangan dimana ada sebuah bangunan agak tinggi, berbeda dengan toko-toko di sekitarnya. Kai mengisyaratkan untuk segera masuk ke dalam bangunan tersebut.
Tapi, terlambat. Kejadiannya sangat cepat, Kai bahkan tidak bisa membacanya sama sekali. Sesuatu bergerak dari dalam tanah, menjebol jalanan dan langsung menangkap Isla. Gadis itu berteriak saat merasakan tubuhnya yang dililit akar tanaman besar dan membawa tubuhnya melambung ke atas.
__ADS_1
"Isla!" Kai berteriak dan bergegas menarik Pedang Edha dari sarungnya. Dalam sekali tebas, akar tanaman itu terbelah dua. Tubuh Isla terlepas dari lilitan, Kai dengan sigap langsung menangkapnya. Ia lalu membawa Isla menjauh dari akar tanaman yang kembali masuk ke dalam tanah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Kai pada Isla yang terlihat pucat pasi. Gadis itu hanya mengangguk.
"Kai, lihat!" Rex berseru sambil memandang ke arah gang yang sebelumnya mereka lalui. Tiga orang berjubah hitam muncul, mereka mengenakan topeng gelap.
Di bagian tembok tinggi muncul seekor laba-laba besar berwarna hitam, ia mendekat dan merayap ke tubuh salah satu dari mereka. Selain laba-laba, seekor cheetah dan kucing berwarna hitam muncul. Ketiganya adalah Guide milik tiga penyihir yang baru saja muncul.
Kai segera membawa Isla mundur ke sebuah bangunan toko terdekat yang sedang tutup. Kai membobol gemboknya dan meminta Isla untuk menunggu disana. Gadis itu tidak sempat mendapat penjelasan karena Kai bergegas pergi. Isla mencoba mendorong pintu, tapi tidak berhasil seolah ada sesuatu yang menahannya dari luar.
Kai berhasil memasang mantra penghalang tepat ketika akar tanaman muncul dari bawah dan menangkap kakinya. Tubuhnya melambung ke atas, tapi dengan tenang ia berhasil menebas kembali dengan pedangnya.
"Serahkan gadis itu!" perintah salah satu dari tiga pria bertopeng ketika Kai sudah kembali mendarat di jalanan.
"Sudah jelas aku akan bilang tidak. Jangan meminta sesuatu yang tidak akan pernah terjadi." Kai menyahut sinis.
"Kau sepertinya menyukai hal yang lebih rumit, Kai Gamma Majoris. Putra terakhir Riku Gamma. Dengan menyerahkan gadis itu, maka pertempuran tidak akan terjadi disini."
Kai tertawa kecil. "Aku lebih baik mengorbankan pertempuran kecil ini daripada pertempuran abadi yang akan kalian ciptakan di masa mendatang."
"Kalian selalu saja keras kepala. Sama seperti anak muda berambut gondrong yang telah kami bunuh. Dia bahkan masih mencoba melawan padahal sudah nyaris mati."
Mendengar itu Kai terkejut, darahnya terasa mendidih. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat menahan gejolak amarah. Pria kurang ajar itu baru saja membicarakan tentang Ios.
"Jadi kalian yang sudah menghabisinya? Baguslah, aku jadi tidak akan menahan diri." Kai bersiap dengan Pedang Edha di tangan kanan. Menerjang maju pada musuhnya yang memiliki jumlah tidak seimbang.
__ADS_1
"Aku jadi penasaran, bagaimana kau akan menghadapi kami hanya dengan pedangmu, tanpa sihir Rein."
Bersambung...