
Perbatasan Amalthea Barat.
Tengah malam, Edric berada dalam pos pemantau bersama beberpa pasukannya. Setengah dari mereka masih menjaga setiap perbatasan. Bersiap dengan ketapel raksasa berisi peluru besar yang telah diberi mantra peledak.
Penghalang raksasa telah kembali diperbarui. Dari ujung ke ujung, dimana Edric memimpin barisan tengah, Issac barisan utara dan Luke di barisan Selatan.
Para penunggang naga memantau dari atas secara bergantian setiap satu jam sekali. Mengelilingi area perbatasan untuk melihat apakah ada Pasukan Akuji (para pemberontak, anak buah Hugo Lorelei) yang mencoba mendekati perbatasan Amalthea Barat.
Sebagian hutan Amalthea yang berada di dekat perbatasan telah rusak dan hancur. Pepohonan tidak ada lagi, hanya ada tanah gersang yang telah hangus akibat pertempuran.
Para Lumis yang berada tak jauh dari wilayah perbatasan kadang menampakkan diri. Mereka muncul dalam keadaan kurus, tubuh penuh dengan koreng yang menggerogoti seluruh tubuh. Rambut jingga mereka perlahan mulai rontok dan habis. Mereka menatap dengan wajah pilu pada tirai penghalang, berharap pasukan yang berjaga mau berbaik hati membuka penghalang untuk mereka.
Tapi, kekejaman harus mereka saksikan sendiri. Tirai penghalang itu tidak akan pernah terbuka untuk mereka. Pasukan Istana hanya bisa menyaksikan meskipun para Lumis itu terlihat begitu memilukan dan mati di hadapan mereka.
__ADS_1
Pasukan Istana hanya menjalankan perintah. Siapapun yang berbelas kasih mencoba membuka tirai penghalang, mereka akan ditendang bergabung dengan para Lumis yang hampir sekarat. Keji memang. Tapi itu adalah jalan untuk menyelamatkan Amalthea. Memutus rantai kematian ini dan membiarkan yang belum terjamah agar tetap hidup.
Saat ini sebagian pasukan sedang menurunkan bahan makanan dari punggung-punggung naga yang baru saja kembali dari Istana untuk mengambil persediaan makanan.
Tenda-tenda sihir sudah didirikan sejak tadi. Tenda itu memiliki ukuran yang kecil dari luar, tapi bagian dalamnya sangat luas menyerupai sebuah pondok dengan peralatan yang lengkap. Mereka bisa tidur dan memasak di dalamnya.
Edric berdiri di depan tirai penghalang, merapatkan jubahnya untuk melindungi hawa dingin yang berhembus semakin menusuk. Hutan sudah semakin gelap, sinar lilin sudah mulai mengapung diudara untuk memberikan penerangan.
Edric memiliki potongan tubuh tegap dan kekar. Tingginya hampir mencapai dua meter. Wajahnya tegas dan serius. Rambut-rambut tipis cokelatnya banyak tumbuh disekitar pelipis hingga dagunya. Jubah gelap merah yang ia kenakan senada dengan pedang bersarung merah yang tergantung di pinggang kanan.
Ia menghampiri Edric, menggenggam telapak tangan besarnya. Edric menoleh, tersenym penuh arti. Tatapan matanya tidak mungkin berdusta, Edric selalu mencintai istrinya yang setia menemani kemanapun ia mengembara. Namanya Ravenala, putri mahkota dari ras Elf bulan.
"Kenapa kau keluar? Kau tidak akan suka dengan pemandangan ini," ucap Edric pada sang istri.
__ADS_1
Saat itu bayangan gelap muncul dari sebatang pohon besar yang telah hangus terbakar, hanya menyisakan batangnya saja yang masih tersisa sebagian. Dua sosok terseok-seok mendekati penghalang. Ternyata seorang Lumis wanita dan anaknya yang datang dalam keadaan menyedihkan.
Ravenala mendekati penghalang, melihat dari dekat dua Lumis itu dengan mata berkaca-kaca. Dua Lumis itu menatap dengan sedih, seolah memberitahu bahwa hidupnya akan berakhir hari ini. Terutama masa depan anak-anaknya yang tidak memiliki kesempatan lagi.
Tirai penghalang itu membuat para Lumis tidak bisa melihat para pasukan istana di dalamnya. Meskipun saat itu Ravenala tepat berdiri di depan mereka, tirai penghalang telah diciptakan agar Pasukan Akuji dan siapapun yang berada diluar tidak bisa melihat keberadaan pasukan istana.
Ravenala menyentuh penghalang, berharap bisa membawa Lumis itu masuk ke dalam. Tapi suaminya bergegas mencegah.
"Mereka sudah tidak selamat, sayang. Itu sudah menjadi takdir mereka," ucap Edric.
"Terlalu banyak mereka yang tidak bersalah dikorbankan, Edric. Apakah mereka pantas untuk ini? Sedangkan kita dengan kejinya menyaksikan penderitaan mereka." Ravenala yang berhati lembut, tidak bisa melihat kejadian menyedihkan ini di depan matanya.
"Menciptakan dunia yang damai memang harus ada pengorbanan. Tidak hanya mereka, bahkan saudara ataupun orang terdekat kita akan menjadi korban demi dunia yang damai ini. Itulah kenapa, aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan membuat pengorbanan ini berakhir, lalu menciptakan dunia damai selamanya. Terutama untukmu, Ravenalaku."
__ADS_1
Edric mengusap air mata sang istri lalu mengecup keningnya selama beberapa detik. Ia lalu menuntun istrinya kembali masuk ke dalam tenda. Ia tak ingin Ravenala kembali melihat para Lumis yang mendekat. Air mata dan kesedihan sang istri adalah luka bagi Edric. Ia tak ingin goyah dan memiliki rasa belas kasihan untuk saat ini.
Bersambung...