
"TUAN WILBERT!!! " teriak Johan.
"Ha.. ha.. ha! Dasar tua bangka! Inilah akibatnya kalau melawan kami.
Kemudia terdengar seseorang yang sedang merapal sebuah mantra.
'ET ZDE KA LI NGOR KA! '
Tiba - tiba tubuh 3 penjahat tersebut rubuh dan sulit untuk digerakan.
"Si.. sihir macam apa ini? Belum pernah aku melihat sihir sekuat ini! " Kata seorang penjahat.
"Apa yang telah kalian perbuat itu sangay tercela! Kalian harus dihukum atas nama keadilan! " Kata seseorang berjubah merah sambil berjalan mendekat.
"Si..siapa kau? Bagaimana bisa kau mempelajari sihir tingkat tinggi? " Tanya salah satu penjahat dengan nada ketakutan.
"Sebagai hukuman, kalian bertiga harus mati!"
"Kalau kami bertiga mati, maka anak ini juga harus ikut!" Kata seorang penjahat sambil memegang tangan Johan dengan erat.
"Anak ini tidak punya salah, mengapa dia harus ikut aku hukum? "
"Eh... e karena dia. Tolong ampuni nyawa kami. Kami berjanji tidak akan berani mengulanginya kembali. " Kata seorang penjahat sambil bersujud.
"Baiklah.. kali ini kalian beruntung! Setelah ini jangan pernah menampakan diri kalian lagi dihadapanku! "
Setelah sihir yang membuat tubuh 3 penjahat tersebut ditarik kembali. Ketiga penjahat tersebut lari terbirit - birit kedalam hutan.
__ADS_1
"Berdirilah anak muda. Kau sudah aman. "
"Ba.. bagaimana dengan Tuan Wilbert? Tidak adakah sihir yang dapat membangkitkan dia kembali? " Tanya Johan sambil menangis.
"Sayangnya sihir semacam itu tidak ada di dunia ini. Maafkan daku. "
"Tak masalah, mungkin ini memang sudah takdirnya. " Ucap Johan.
Johan kemudia mengumpulkan batu - batu berukuran kecil dan menyusunnya diatas mayat Tuan Wilbert.
"Semoga kau tenang disana. Terima kasih atas segala kebaikanmu. " Kata Johan sambil berlutut.
"Aku turut berduka cita. "
"Hanya dia yang selama ini baik denganku. Kini Tuan Wilbert telah tiada. Aku tidak tahu harus buat apa sekarang. "
"Johan. "
"Johan? Nama yang bagus. Mari ikutlah aku pulang. "
"Pulang? Tapi pulang kemana? Aku sudah dibenci oleh raja dan para rakyat Celestial Kingdom. "
"Kalau begitu nasib kita sama. " Ujar Putri Anisia.
"Nasib kita sama? Apa yang kau maksud?" Tanya Johan heran.
"Dulu aku juga dibenci oleh kerajaan itu dan dikucilkan. Akhirnya aku tidak tahan disana dan memutuskan untuk melarikan diri dan membangun sebuah gubuk disekitar sini. "
__ADS_1
"Gubuk? "
"Iya gubuk, memang bukan tempat tinggal yang nyaman, tapi setidaknya kita bisa berlindung dari malam." Ujar Putri Anisia.
Johan akhirnya setuju untuk sementara waktu tinggal bersama Putri Anisia.
Johan dan Putri Anisia berjalan ke arah Barat, menembus rindangnya hutan. Setelah beberapa menit perjalanan, mulai tampaklah sebuah gubuk yang terbuat dari kayu.
Gubuk tersebut berada disamping sebuah pohon yang amat besar. Kayu bahan dasar gubuk tersebut sudah terlihat tua dan lapuk.
"Kita sudah sampai Johan. "
"Kalau boleh tahu, mengapa kau dibenci oleh kerajaan? " Tanya Johan serius.
"Eh.. dulunya aku pernah berbuat kesalahan kepada raja dan akhirnya aku dibenci oleh raja dan rakyat sampai saat ini. "
"Kelihatannya dia menyembunyikan sesuatu tentang masa lalunya dari aku. " Ucap Johan didalam hati.
"Kenapa kau diam saja? Apa aku terlihat menyembunyikan sesuatu dari mu? " Ujar Putri Anisia.
"Tidak hanya saja aku terkesan, karena kau seorang sendiri hidup di gubuk ini."
"Kau benar.. aku sendiri tidak menyangka aku masih bisa bertahan hidup diluar sini sampai saat ini. Oh.. ya besok kau temani aku berburu rusa ya. " Ujar putri Anisia.
"Ok" Jawab Johan dengan cepat.
"Wanita ini dibenci dan akhirnya membangun sebuah gubuk. Hal ini persis dengan legenda yang pernah aku dengar. Jangan - jangan wanita ini !!" Ucap Johan didalam hati.
__ADS_1