The Last Page

The Last Page
Halaman yang Terakhir.


__ADS_3

"Jangan ada belas kasihan! Serang!! "


Seketika mata Johan dan Ratu Amerta saling bertemu. Ratu Amerta menatap Johan dengan tatapan buas, kedua matanya seakan akan mengeluarkan bara api, sekujur tubuhnya dimakan bara api kebencian, ia melihat ke arah Johan dan kemudian menyeringai.


Johanpun panik dan ketakutan, ia segera berusaha berdiri.


Segerombolan prajurit istana datang, dilengkapi dengan armor emas dan pedang serta tameng. Mereka memerangi pasukan Ratu Amerta.


"Tahan! Kita pasti menang! Berikan semangat kalian demi raja dan ratu! " Teriak salah seorang prajurit.


Pertempuranpun tidak dapat dihindari. Pasukan Ratu Amerta berhasil ditandingi, hal tersebut membuat Ratu Amerta kesal dan semakin terlihat membara.


"Ha hah hah hahah! Kalian pikir bisa mengalahkanku begitu saja? Pikir kembali dasar kalian manusia lemah! "


Ratu Amerta mengeluarkan sebuah tongkat kayu kemudian menghentakannya ke tanah. Para pasukannya serta penduduk yang telah tewas kembali bangkit dan melanjutkan pembantaian.


"Jendral! Kita kalah jumlah! Mereka tidak ada habis habisnya! "


Sekali lagi Johan melihat pembantaian didepan matanya, sekali lagi pula Johan mendengar isak tangis penderitaan ditelinganya.


"Mundur! Seluruh pasukan dan penduduk yang tersisa segera pergi berlindung ke istana! "


Penduduk serta prajuritpun berhamburan dengan rasa takut dan panik. Mereka berlari menuju ke depan istana untuk berlindung. Johan yang juga diliputi rasa takutpun ikut pergi ke depan istana.


Setelah sampai didepan istana, gerbang istana ditutup membuat penduduk dan prajurit yang tersisa tidak dapat masuk kedalam.


"Buka! Buka! Biarkan kami masuk! "


"Tolonglah... biarkan anak-anak kecil ini selamat! "


Rasa panik dan takut semakin menjadi-jadi di penduduk. Seorang prajurit dengan gagah berani mengangkat pedangnya.


"Teman-temanku! Kita sudah terkepung. Kita sudah terpojokkan. Kita mungkin saja tidak bisa melihat matahari di esok pagi! Tapi..apa kita hanya berdiri disini dan menunggu nasib begitu saja? "


"benar! "


"aku akan berjuang denganmu! "


"Demi keluarga ku yang telah mereka bunuh! "


Ucapan prajurit tersebut berhasil membakar semangat juang para penduduk serta prajurit yang sudah putus asa.


Di lain sisi Ratu Amerta beserta pasukannya sudah terlihat dan berjalan mendekat.


"Bangkit dan berjuanglah! Jangan biarkan mereka mendekat ke istana! "


Dengan gagah berani para prajurit dan penduduk yang tersisa kembali memerangi pasukan Ratu Amerta.


Darah dimana-mana. Suara teriakan kesakitan, suara pedang yang saling berbenturan terdengar.


Ratu Amerta berjalan di tengah-tengah peperangan. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuh dirinya. Ratu Amerta berjalan menuju ke arah Johan.

__ADS_1


"Johan... jadi ini pilihan mu? Kau malah mendukung musuhmu? Bagaimana dengan benci dan dendam yang kau bicarakan? " Tanya Ratu Amerta dengan suara menggelegar.


"A.. akk.. aakkuu.. aku hanya memberi mereka kesempatan kedua ... bukankah kau juga bisa?"


"Hah! Kesempatan kedua? Akan ku tunjukkan bagaimana apabila aku memberi mereka kesempatan kedua!"


Tangan Ratu Amerta mencoba mendekat ke wajah Johan. Johan yang takut hanya bisa menutup matanya.


Ketika Johan membuka matanya, ia sudah berada di dalam istana. Raja dan ratu serta putri kecilnya juga berada disana. Ratu Amerta berada tepat disamping Johan.


"Prajurit! prajurit! " Teriak raja.


Penjaga istana datang dengan perlengkapan lengkap, mengenakkan pelindung yang amat kuat dan tidak mungkin dapat ditembus begitu saja.


"apakah kau begitu panik, yang mulia? Sampai memanggil pasukan istana? " Ucap Ratu Amerta dengan sedikit menyeringai.


"Enyahlah kau iblis! Kau tidak pantas berada disini! "


"Tenang saja, yang mulai. Hamba hanya ingin bertanya kepada yang mulia. "


Raja, ratu serta para prajuritnya heran diam seketika.


"Yang mulia, apakah kau lupa akan hamba? "


"Aku tidak pernah mengenalmu! Jadi enyahlah! "


Ratu Amerta terlihat meneteskan air mata.


Raja terlihat tertegun dan panik. Ia melihat ke arah ratu dan putrinya dan terdiam sejenak.


"Amerta! Apa yang sebenarnya kau hendaki dari ku!"


"Aku hanya ingin kau kenbali ke sisiku. Seperti dulu kala. "


"Tidak! Tidak bisa! Maafkan aku! "


Mata Ratu Amerta melirik ke arah ratu dan putri. Ratu Amerta kembali diselimuti amarah dan dendam. Wajahnya kembali menjadi tua dan menyeramkan.


"Benar! Ini semua karena dia, bukan? Kau mengusirku dan menerima dia disisinya! " Ucap Ratu Amerta sambil menunjuk ke arah ratu dan putri.


"Hentikan dia! Lindungi raja dan ratu! "


Ratu Amerta dengan diliputi amarah mengeluarkan sihirnya membuat para penjaga tersebut tewas seketika. Ia berjalan menuju hadapan raja.


Sang raja mengeluarkan pedang emasnya dan mengarahkan ke Ratu Amerta. Sekali lagi Ratu Amerta dengan sihirnya menghempaskan raja menjauh.


"Kau sangat mencintai istri dan anakmu, yang mulia? Kau rela berjuang demi mereka! Kini kau akan menderita sama seperti yang aku rasakan! "


"Kau nenek sihir jahat! Terkutuklah kau!"


"Aku memang sudah terkutuk!"

__ADS_1


Ratu Amerta mengeluarkan sihirnya, dia menarik dua buah pilar raksasa dan merobohkannya. Ratu dan putri tewas seketika tertimpa robohan pilar tersebut.


"Tidak!! Apa... apa yang telah kau lakukan!! Aku tidak akan pernah mengampuni mu! "


Sang raja mencoba bangkit berdiri, namun Ratu Amerta tanpa belas kasih mencekik leher sang raja.


"Dengan ini dendamku sudah terbalaskan. "


Johan hanya bisa tertegun dan diam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan ataupun ia lakukan.


Ratu Amerta berjalan mendekat ke arah Johan.


"Johan.. kembalilah... kau sudah menemukannya! Terima kasih.... "


---------------------------------------------------------------------------


Huh!!!


"Apa yang??... "


Johan terbangun di kamar tidurnya, ia tidak dapat mengingat apapun tentang apa yang telah ia alami. Ia tidak mengingat tentang Celesial Kingdom, Ratu Amerta, serta kejadian-kejadian yang ia alami selama ini.


Ia hanya ingat bahwa besok ada kegiatan perkemahan.


"Johan? Apa kau belum tidur? Besok ada kegitan kemah loh."


"Iya ma... udah mau tidur ini... "


Ketika Johan mau meletakan kepalanya dibantal, ia terantuk dengan sebuah benda keras. Benda tersebut adalah sebuah buku. Buku tua dengan sampul usang dan kotor. Ia tidak pernah ingat mempunyai buku tersebut.


Rasa penasaran ada dalam diri Johan, ia membuka buku tersebut dan membacanya.


'*Dahulu kala terdapatlah sebuah kerajaan besar nan megah. Rakyat hidup makmur dan sejahtera, mereka hidup saling membatu, bekerja sama membangun sebuah tempat impian yang mereka sebuat Celestial Kingdom.


Raja dan Ratu mereka tampan dan cantik, mereka berdua memimpin kerajaan dengan sepenuh hati. Nama Celestial Kingdom sudah terdengar di seleruh penjuru dunia.


Mereka semua hidup dalam sukacita, namun segala sesuatu diluar dugaan. Sang raja terhasut oleh napsu duniawi untuk menyingkirkan istrinya yang sudah tua. Hidup dalam kesendirian sang ratu terbuang pun dimakan api benci dan dendam. Ia tidak segan-segan mencari iblis membantunya.


Bertahun-tahun kemudia ia telah menjadi sosok mahkluk yang telah menyatu dengan iblis. Ditenagai dengan sihir hitam ia berencana membalaskan dendamnya.


Rasa benci dan dendam telah memakan dirinya. Hatinya membusuk, akal sehatnya terbelenggu, tanpa sadar ia telah pergi terlalu jauh dan menjadikan dirinya sebuah mainan bagi iblis.


Suatu malam ia beserta pasukan yang telah ia ciptakan berhasil menyusup kedalam kerajaan. Menghancurkan apa saja yang ia lihat, membunuh apa saja yang bergerak serta membunuh raja beserta keluarganya.


Ketika ayam sudah berkokok, sang ratu terbuang beserta pasukannya itupun pergi menghilang tanpa jejak meninggalkan sebuah kerajaan megah rata dengan tanah.


Kejadian lamban laun akan menjadi cerita. Cerita lamban laun akan menjadi legenda.


Legenda lamban laun akan menjadi mitos.


Mitos lamban laun akan dilupakan. Sama halnya dengan Celestial Kingdom yang telah dilupakan*.'

__ADS_1


~TAMAT~


__ADS_2