The Little Lily

The Little Lily
Bab 1 Support Sistem


__ADS_3

Parents tentu adalah support sistem bagi anak-anak, tapi apakah semua anak merasakan kasih sayang kedua orangtuanya?


Tentu tidak. Siapa yang patut disalahkan dengan masalah itu?


Orang dewasa kah?


Anak-anak kah?


Akupun tak mengetahuinya ...mari kita saksikan saja kisah perjalanan the little Lily biar semua tahu siapa yang salah


***


Kring .....kring.... kring....


04.45


Bunyi alarm Lily membangunkannya dengan mata terpejam ia meraba nakas yang ada di samping tempat tidurnya, menekan tombol off pada alarm dan duduk dengan kaki mengayun di sisi tempat tidur. Ia berusaha mengatur nafas dan mengatur penglihatannya dengan mengucek matanya.


"Thank God" ucapnya lalu tersenyum


Ia kemudian melangkah ke kamar mandi lalu mencuci muka dan ritual pagi yang selalu ia lakukan sebelum melaksanakan jam doa pagi seperti biasa.


"Selamat pagi, nak" sapa Ibu dari arah dapur


"Pagi Bu, ibu sudah masak sarapan lagi?" Lily menghampiri ibunya mengambil ali piring yang dibawa berisi nasi goreng merah kesukaan Lily.


"ibu sudah sembuh, jadi jangan halangi ibu untuk kembali bekerja" Kata wanita paruh baya yang terlihat lemah itu karena akhir-akhir memang drop dan sakit-sakitan.


"ibu....Lily sudah dewasa dan bisa merawat serta melakukan semuanya sendiri, ibu tidak perluh kuatir untuk hal seperti ini lagi" Lily yang menyayangi sang ibu sangat terpukul melihat kerentanan dan kerapuhan wanita itu belakangan karena penyakit yang diderita sang ibu.


"Ibu hanya bisa melakukan ini untukmu nak, kurasa ibu tidak akan bertahan lama lagi" ucap lemah sang Ibu


"Apasih yang ibu bicarakan, sudah duduk kita sarapan jangan bicara ngawur seperti itu lagi" Lily menarik nafas panjang menyembunyikan kesedihannya


"Ibu, Lily akan bekerja keras untuk mendapatkan banyak uang dan mengobati ibu" tekat Lily dalam hati


Mereka lalu sarapan dalam keheningan di dalam rumah kecil itu.


"ibu, Lily berangkat dulu ya jangan lupa makan dan makan obatnya tepat waktu, Lily akan pulang secepatnya" Lily pamit setelah sarapan meski berat hati untuk meninggalkan ibu dalam keadaan seperti itu ada perasaan aneh tidak seperti biasa dirasakannya tiba-tiba.


"Iya, pergilah ibu sudah sehat, jangan kuatir ibu" ucap wanita paru baya itu...padahal ia merasakan sesak nafas yang berat tapi ia menahan rasa sakitnya demi tidak di lihat sang Putri.


"Baiklah, ibu Lily berangkat" katanya memeluk tubuh kecil ibunya.


"Uhukk...uhukkk...." Ibunya batuk namun dengan tangan yang kuat mendorong sang putri keluar seakan mengatakan pergilah sekarang.


"Lily, kemudian meninggalkan rumah kecil itu dengan menenteng laptop dan berkas di tangannya.


Lily adalah seorang desainer busana yang tahun ini sudah menyelesaikan pendidikan S2 design dan mulai merintis usahanya dengan membeli Ruko 5 tahun lalu tapi masih dicicil hingga sekarang,  namun 2,5 tahun belakangan ini baru menjalankan bisnis nya, dimana tempat itu lumayan jauh dari rumah tempat ia dan ibunya tinggal.


Ia sampai di halte dan kebetulan Angkot baru saja tiba.


Ketika akan melangkah ke atas angkot ia tiba-tiba teringat akan flashdisk yang ingin di serahkan ke sahabatnya sekaligus klien  yang memesan design dan rancangan baju pernikahan.

__ADS_1


Merasa fd tidak ada di tas laptop Lily kemudian berbalik dan berlari ke arah rumahnya. Dengan hati yang tidak karuan akibat berlari ia membuka pintu kayu itu, berlari ke arah belakang dimana kamarnya berada, setelah akan kembali dan mau menutup pintu ia mendapati ibunya tergeletak pingsan depan kamar mandi dekat pintu keluar yang segera akan dia tutup.


Jantungnya seakan berhenti memompa, hatinya seperti dicubit, dunianya berhenti, pandangannya kabur,buliran bening menetes.


"Ini tidak mungkin"ucapnya mendekat ke arah ibu yang tergeletak pingsan, dengan darah mengalir di kepala dan juga muka pucat.


rasa takut, ragu semuanya bersatu menjalari tubuhnya.


"Ibuu....."isak nya, ia tak tahu sekarang harus melakukan apa.


Ia mengecek nadi sang ibu, masih berdetak meskipun lemah ...ia kemudian menelfon ambulance. Hanya itu yang dipikirkan sekarang ibu harus sampai di Rumah sakit.


Setelah beberapa menit ambulance datang, segera Lily mengangkat tas berisi baju sang ibu dan mengekor dari belakang kemudian duduk langsung menggenggam kembali tangan ibunya yang mulai dingin.


Bunyi sirine ambulans tidak dihiraukan olehnya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana ibunya sembuh. Ibunya adalah sumber kekuatannya, ibunya adalah dunianya. Ibunya adalah satu-satunya support sistem yang dia miliki, karena ia besar tanpa tahu siapa ayahnya, keluarga yang lain pun tak pernah menghiraukan mereka. Yang diketahui Lily ia memiliki seorang ibu yang sekaligus ayah baginya.


Seorang wonder woman yang dimilikinya, seorang ibu pekerja keras namun hati yang lembut.


"Ibu, kuatlah... bertahan demi lily....


kita akan sampai di Rumah sakit segera"ucapnya lirih dengan buliran bening yang bagai tumpah dari pelupuk mata indahnya itu.


"Tuhan, hanya dia yang kumiliki, tolong jangan ambil dia, aku ingin membahagiakan ibu sebelum engkau panggil dia Tuhan" rapalan doa dalam hati Lily, ia seorang anak yang tidak takut pada apapun kecuali saat ini, ia sangat takut kehilangan....


"Ting..."


"Ting .."


Suara notif WA tapi Lily tak menyadarinya


Setelah beberapa panggilan barulah Lily menyadarinya...


Wajah gadis manis muncul di layar ketika Lily menggeser gagang telepon warna hijau di Hp nya itu.


"Maaf".... Hanya itu yang keluar dari mulut Lily menatap sahabatnya di layar. Ia baru menyadari bahwa pagi ini ada janjian untuk bertemu.


"Lil, kamu kenapa, apakah ibu drop lagi?" Gadis diseberang langsung bisa menebak dari tatapan sembab Lily..


"Hmmm... Ibu terjatuh dan mengalami pendarahan" jawabnya lemah


"Baiklah jangan pikirkan pertemuan kita, kabari aku alamatnya, aku segera kesana" gadis di layar itu langsung mematikan panggilan.


Dengan segera Lily mengetik alamat dan mengirimnya, ia sampai lupa bahwa hari ini ada pertemuan dengan sahabat yang sudah dianggap saudaranya itu.


Rumah Sakit Still Hope, itu adalah tujuannya saat ini.


"Maaf, Renn aku sampai lupa mengabari, sampai ketemu di RS Still Hope" itu isi pesan yang dikirimkan Lily pada sahabatnya itu.


Tanpa ia sadari ambulance sudah berhenti di depan RS Still Hope, para perawat dengan cekatan mengangkat tubuh wanita paru baya itu lalu Lily mengikutinya.


"Dok, kumohon lakukan yang terbaik untuk ibuku" lirihnya memohon pada dokter Sebelum ruangan di tutup.


Setelah beberapa waktu, dokter keluar ruangan.

__ADS_1


"Bu Lily, ikut saya keruangan, kita harus mempersiapkan operasi ibumu, beliau mengalami pendarahan otak dan harus dioperasi" Dokter keluar dari ICU di ikuti Lily dari belakang menuju ruangan.


"Apa yang terjadi dok?" Tanya Lily ketika mereka sudah duduk.


"Tanda tangani surat pernyataan wali untuk operasi dan segera urus administrasi ibumu" ucap dokter


"baik dokter..." Ucapnya, sebenarnya ia sangat berat untuk mengiyakan mengingat tabungannya sisa berapa karena habis untuk biaya pengobatan ibunya selama ini tapi to dia bisa meminjam uang kedepannya nanti, sekarang yang di pikirkan adalah bagaimana ibunya segera di operasi.


"Dokter.... Kumohon lakukan yang terbaik" Lily memohon seakan nyawa dan kehidupan adalah milik sang dokter.


"Baik Bu Lily, kami dan team akan melakukan yang terbaik...berdoalah semoga keajaiban Tuhan nyata" dokter lalu kemudian menuju ruang operasi yang sudah di sediakan teamnya.


"Tuhan, jangan ambil ibu dari ku" hanya itu kata-kata yang dirapalkan Lily sepanjang jalan menuju administrasi.


"Operasi" begitu lah tulisan pintu di depannya hanya itu yang dilirik Lily sejak tadi, ada Rena yang menemaninya sejak tadi....


"Lil, jangan panik, semua yang terjadi atas ijin Tuhan ok, rencana Tuhan pasti yang terbaik" Rena memeluk Lily dengan hati yang juga kuatir.


"Iya,Renn aku tahu, tapi aku tidak tenang" balasnya dengan wajah sembab


"Hmmm akupun merasakannya, tapi aku yakin ibu kuat menjalani operasi nya, ada Tuhan bersamanya" hibur Rena memeluk Lily


Baru 15 menit Dokter masuk ruang operasi, kini dokter itu sudah keluar...


"Ada apa dok, apakah operasi nya tidak lanjut?" Tanya Lily seketika melihat dokter keluar ruangan


"maaf ibu Lily, kami sudah berusaha yang terbaik, tapi Ibu Rutmi tidak terselamatkan" ucap dokter menguatkan Lily


"Renn...." Lily tidak sanggup untuk berkata-kata lagi ia tidak menangis hanya merasa dunianya benar-benar runtuh ia luruh ke lantai penglihatan nya kabur dan semua terasa gelap. Lily Pingsan.


Rena yang juga mendengar kabar meninggalnya ibu Rutmi merasakan duka mendalam seperti sahabat nya itu, tapi ia harus kuat demi Lily tidak ada yang akan mengurus kematian ibu sahabatnya itu jika dirinya juga lemah.


"Halo, Ma... Aku di RS Still Hope, ibu Rutmi meninggal, mohon kabari orang papa untuk mengurus semua administrasi, Lily Pingsan" ucap Rena di telfon ia mengabari Mamanya soal kematian Ibu mantan pembantunya itu.


Kel. Renata Yang mengatur semua hal yang dibutuhkan oleh Lily.


Sudah sejam berlalu dan Ibu Rutmi sudah disemayamkan di Rumah Duka, sedangkan Lily baru saja siuman, ia melihat sekeliling sudah banyak tetangga yang melayat juga jemaat dan Pdt yang datang, ibadah penghiburan siang itu pun sudah selesai.


"Lil, makan sianglah dulu kamu pasti belum makan" ucap Rena yang setia menemani sahabatnya itu.


"Aku tadi sarapan sama Ibu Renn" balasnya meneteskan air mata ia kembali ke memori diamana ibu nya tadi pagi menyiapkan makanan untuknya


"Makanlah Lil, aku tidak mau kamu juga ikut sakit, ibu jika melihatmu tidak makan maka ia akan sedih" ucap Rena menyodorkan makanan padanya.


Perlahan ia mengambil lalu makan pelan tapi seperti ia susah untuk menelan.


Pelayat berdatangan menyalami Lily dan mengungkapkan bela sungkawa, Lily tak mengenal mereka, kebanyakan yang mengirim bunga adalah kolega bisnis ayahnya Rena karena memang Lily sudah dianggap anak sendiri oleh keluarganya Rena, sejak kecil Lily besar di keluarga Majikannya itu. Tapi setelah Rutmi sakit-sakitan akhirnya Lily dan ibunya tinggal di Rumah sederhana mereka.


"Yang kuat Lily sayang, Mama sama Papa pulang dulu, besok kami akan kesini lagi" Eunike dan Frans pamit pada Lily...


"Terimakasih pak, Bu sudah datang dan mengurus semuanya" balas Lily memeluk mereka bergantian. Keduanya Lily sudah anggap orang tua sendiri.


"Bagaimana Lily akan menjalani hari tanpa ibu? Akankah semuanya berjalan dengan baik Bu?" Dengan tatapan sendu menatap wajah damai sang Ibu

__ADS_1


"Selamat jalan, sampai jumpa di Surga" ucap Lily mengecup kening tubuh dingin dan kaku itu yang tidak akan bisa membalas senyuman,  pelukan dan keluh kesahnya lagi.


__ADS_2