The Little Lily

The Little Lily
Bab 2 Perpisahan


__ADS_3

"Kematian, bukanlah suatu kehilangan,  kematian adalah perpisahan"


Banyak orang diluar sana mungkin merasakan duka tapi ingat bahwa kematian bukan kehilangan tapi hanyalah sebuah perpisahan sementara....


*GUNDUKAN TANAH MERAH*


"Rasa hampa...."


Itulah perasaan yang dimiliki Lily saat ini,ketika menatap gundukan tanah merah dihadapannya ini, semuanya berlalu begitu cepat.


"Tuhan kenapa begitu cepat mengambilnya? Aku bahkan rela jika Tuhan mengambilku lebih dulu, tapi kenapa Tuhan ambil satu-satunya orang yang kumiliki dan sangat berarti bagiku?" Lily masih menangis dalam diam dengan isakan piluh


"Lil, ayo pulang ibu sudah tenang di surga kok, ini bukan salahmu" ucap Rena mengusap punggung sahabatnya yang sejak kemarin menyalahkan dirinya karena meninggalkan sang ibu dalam keadaan yang masih lemah sehingga ibunya jatuh dan meninggal akibat jatuh itu.


"Rennn, aku anak yang tidak berbakti, bisa-bisanya aku meninggalkan ibu dalam keadaan lemah, ini salahku Rennn" ucapnya memeluk sang sahabat


"Hei, semua yang terjadi ada dalam rencana Tuhan, ini bukan salahmu Lil, ayo kita pulang dulu, besok aku akan menemanimu kesini lagi" jawab sang sahabat masih memeluk sahabatnya itu.


"Sayang, kamu duluan pulang saja, pasti masih ada kerjaan di kantor kan ? Aku akan menemani Lily dulu, pulanglah sampaikan salam ku untuk Bunda" Rena menoleh pada tunangannya yang juga dari kemarin menemani sang kekasih mendampingi sahabatnya yang berduka itu.


"Baik, jaga kesehatan ya, segera kabari saya kalau ada yang diperlukan" ucapnya lalu mengelus sayang kepala orang yang dicintainya itu.


"Iya, sayang pulanglah, hati-hati" jawab Rena dengan senyum simpul yang sangat manis.


"Renn, kamu mungkin masih punya banyak hal yang harus diselesaikan aku baik-baik saja" Lily melepas pelukannya menyuruh Rena untuk pulang saja bersama Tunangannya.


"Hei, kamu bilang apa, semuanya sudah beres sisa bajuku saja yang belum kau selesaikan" jawabnya santai lalu menarik lengan Lily untuk berdiri dan mereka meninggalkan Kuburan Ibunya Lily.


"Ibu, kami balik ya, baik-baik lah Disini" kata Rena dengan tatapan senduh karena diapun kehilangan sosok yang lembut dan penuh kasih sayang itu.


"Ibu tak disini Rennn, kamu bicara dengan siapa?" Balas Lily berusaha untuk bercanda


"Hmmm, iya aku tahu kok ibu sudah di surga" balasnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Ayo..." Kedua gadis itu melangkah menjauh dari kuburan menuju mobil yang masih terparkir di seberang jalan, itu sopir tunangan Rena karena sang kekasih dari Rena tak ingin kekasihnya ada dalam masalah sehingga pengawasan dari bodyguard dan sopir di biarkan untuk menjaga kedua gadis itu.


Setelah mereka sampai, dengan cekatan pengawal itu membuka pintu mobil untuk keduanya


"Thanks..." Ucap keduanya dengan senyum Pada sang sopir


"Maaf, Nona mau pulang kemana?" Tanya sang sopir ketika sudah duduk di tempat pengemudi.


"Pulang ke Mansion saja pak" jawab Rena


"Baik Nona" jawab sang sopir


Sedangkan Lily hanya diam dengan tatapan hampa, ia tidak tahu harus pulang kemana, rumah untuk pulang Lily sudah tidak ada.


"Lil, apakah kamu mau bermalam saja di Mension atau kita menginap di Hotel saja biar kamu tidak terganggu?" Tanya Rena sambil memeluk lengan sahabatnya itu.


"Bagaimana kalau malam ini, kita bermalam di Ruko saja untuk menyelesaikan Baju pengantinmu?" Usul Lily dirinya bisa melupakan rasa sakitnya dengan serius mengerjakan apa yang disukainya


"Oh iya, baiklah aku mauuu" balas Rena excited


"Baik, Nona" setelah menjawab,  keheningan pun kembali menyelimuti mobil itu sama seperti kabut gelap sudah mulai menyelimuti diluar mobil.


"Apakah aku mampu untuk menjalani hari-hariku tanpa Ibu?" Lily memandang keluar jendela yang entah sejak kapan sudah mulai gerimis dan suara Rena yang sedang menelfon dengan sang tunangan di samping nya tidak terlalu dihiraukan.


"Aku sudah merindukan ibu, aku tahu bahwa ibu sudah senang sekarang tapi aku kecewa kenapa Tuhan memisahkan kita begitu cepat?" Lanjut nya menghapus buliran bening yang tak henti-hentinya terjatuh tanpa dikomando bagai rintik hujan diluar.


"Kemarin ibu masih menyiapkan sarapan untukku, aku tak menyadari itu kali terakhir aku menyusahkan ibu" Lily masih tidak menyadari jika mereka sudah tiba di Ruko yang sedang di renovasi untuk jadi Butik nya.


"Ayo turun, kita sudah sampai di Ruko mu" Rena menggandeng lengan sahabatnya itu dan menariknya menuju Ruko yang sedang direnovasi, suasana di tempat itu masih berantakan


Dengan hati-hati mereka melewati bekas potongan besi dan semacamnya


"Lil, mana bajuku ?" Ucap Rena tak sabaran ketika mereka sampai di ruangan kerja sementara, kain dimana-mana tercecer karena selain disign ia juga menjahitnya sendiri.

__ADS_1


"Sabar Renn, aku akan menunjukkannya padamu, sisa feil dan luaran saja yang belum selesai" jawabnya setelah menarik kain penutup gaun putih buatannya


"wowww, sahabatku ini memang memiliki tangan ajaib" ucap Rena seraya memeluk Lily dengan sangat senang melihat gaun pengantin nya yang sangat indah , meskipun simple tapi elegan dan terlihat sangat mewah.


"Ini adalah Mahakarya utamaku, untuk orang berharga dalam hidupku" jawab Lily tulus membalas pelukan sahabat nya itu.


"Buatlah juga untukmu, aku mau kita memiliki gaun pengantin yang dibuat bersamaan dengan gaun ku" ucap Rena, karena kedua gadis itu memiliki impian untuk menikah di hari yang sama tapi rencana mereka tidak sesuai dengan rencana Tuhan


"Baiklah aku akan membuatnya juga untukku, tapi aku ingin yang lebih simple dari milikmu" balasnya senyum simpul


"Sisa sentuhan terakhir, maka ini akan menjadi gaun pengantin terbaik di dunia" ucapnya bangga terhadap diri sendiri


"Baiklah baiklah... Ini akan ku museumkan ketika sudah acara nanti"balasnya ikut bangga terhadap karya sahabatnya.


"Terserah kau saja, karena kau pun sudah membayar mahal gaun ini" balasnya


"Lil, apakah kau sudah menerima tawaran sahabat Reno untuk membuatkan sepasang gaun pesta?" Tanya Rena tanpa mengalihkan muka dari layar Hp ia sedang bucin dengan tunangannya itu.


"Bukankah, keluarga Alexiz memiliki designer keluarga?" Tanya Lily bingung sendiri


"Entah aku juga tak tahu, Reno hanya memberitahuku untuk memesankan gaun pesta sepasang ke designer yang merancang busana Pengantin kita, aku belum memberi tahu Perancang gaunku adalah sahabatku sendiri, Lilyana Ivanca tercantik yang memiliki tangan ajaib ini hehe" jawabnya meletakkan HP nya lalu melirik Lily yang kurang percaya diri untuk membuat gaun pesta itu, pasalnya Kel. Alexiz bukanlah keluarga biasa tentu yang diinginkan adalah gaun spektakuler.


"Lil, karyamu luar biasa jadi percaya dirilah aku yakin kamu akan menjadi perancang busana go Internasional nantinya" ucapnya meyakinkan Lily untuk mengambil saja projek besar itu. Rena cukup tahu keluarga Alexiz seperti apa karena keluarganya bekerja sama dengan Alexiz Group dan bahkan semua orang tahu seantoro Indonesia pun kenal dengan keluarga itu masuk jajaran orang terkaya se Asia.


"Jika kamu mengambil projek itu kuyakin, kamu bisa dengan muda untuk menyelesaikan Renovasi Butikmu ini" mengingat sahabatnya satu ini tidak ingin meminta bantuan keuangan meskipun Rena sangat bisa membantunya.


"Baiklah akan kupertimbangkan" ucapnya melirik ke arah sahabatnya itu lalu melanjutkan pekerjaannya memasang Berlian di gaun sahabatnya itu, menambah aksen mewah di gaun putih kristal itu.


"Istirahatlah duluan Renn aku akan melanjutkan sedikit lagi" ucapnya melirik kearah Rena yang sudah terlihat lelah karena menemaninya dari kemarin sejak ibunya di semayamkan sampai penguburan tadi sore.


Setelah melakukan aktivitasnya, Lily telah melaksanakan ritual perskincarean dan do'a malam sebelum tidur, mencoba berbaring di samping Rena sahabatnya yang sudah di dunia mimpi, namun dirinya sangat gelisa ia lalu duduk di Jendela kaca besar menatap kelangit, gelap tanpa bintang hanya kerlap-kerlip lampu dan sunyinya malam yang menemani.


"Ibu, ini malam pertama kita bedah tempat ya, aku sudah merindukan ibu sangat ....sangat merindukan ibu" ucapnya dengan buliran bening yang menetes di ujung pelupuk mata coklat indah itu.

__ADS_1


Lily Tidur dengan posisi duduk, ia masih berharap ini hanyalah mimpi buruk....


__ADS_2