The Little Lily

The Little Lily
Bab 15 Kesempatan


__ADS_3

"Maaf" hanya itu yang di ucapkan Lily


"Beri aku kesempatan" Jawab Dareen merendahkan Ego nya, baru kali ini dirinya memohon pada seseorang seperti ini.


"hmmmm, iya" jawabnya singkat ketika melihat kesungguhan Dareen. "Tuan, kita hanyalah manusia asing yang baru saja berkenalan jadi tolong pulangkan saya ke rumahku, saya tidak ingin menjadi batu sandungan untuk orang lain, meskipun kita tidak melakukan apa-apa tapi apa kata orang jika melihat sepasang manusia dewasa bermalam di rumah yang jauh dari keramaian" Lily berusaha menyampaikan niatnya untuk pulang, sebenarnya dirinya sangat tidak nyaman dengan kebersamaan mereka jantungnya seakan tidak bisa di kontrol ketika berdekatan dengan Dareen.


"Besok saja, saya masih sangat capek untuk kembali ke kota" jawab Dareen


" Baiklah saya akan memesan grab car saja, saya tidak mungkin bermalam disini" ucap Lily keras kepala.


"Apa kamu sudah tidak waras? bagaimana bisa seorang gadis naik grab car sendiri dengan perjalanan jauh seperti itu ke kota, kamu tidak pernah mendengar berita banyak nya kejahatan yang dilakukan seseorang yang menyamar driver online?" Dareen merebut ponsel Lily


"Apa-apaan sih, saya bilang tidak ingin tinggal disini, tuan tidak mau mengantarku pulang dan saya mau memesan driver online dilarang, maunya bagaimana?" Lily berusaha menjelaskan dan merebut ponselnya kembali


"Kamu tidak pernah berfikir kejahatan yang akan menimpamu jika keras kepala seperti itu, Dasar keras kepala" Ucap Dareen kesal lalu meninggalkan Lily kebingungan menuju kamar atas


Lily yang merasa bingung ikut saja mengikuti Dareen karena ponselnya masih di tangan laki-laki itu "Tuan, kumohon berikan ponselku". ucap Lily pada Dareen yang memasang jaket dan mengambil kunci mobil

__ADS_1


Dareen tidak menghiraukan Lily, dirinya tetap fokus melakukan kegiatannya itu lalu keluar dari kamar menuju tangga sambil mengetik sesuatu di hp nya.


Lily hanya mengikuti pergerakan Dareen, pasalnya ia bingung, bicara pun seakan Dareen tidak melihatnya. " Dasar laki-laki dingin tak berperasaan, bagaimana bisa aku memberikan kesempatan padanya, astaga Lily kamu akan gila jika bersama dengan pria es ini" tuturnya dalam hati.


karena sedang melamun, Lily tidak sadar dirinya di dorong Dareen untuk naik ke mobil "Katanya ingin pulang, kenapa masih bengong?" ucap Dareen Sarkas


"Oh, eh iya" jawabnya gagap dan berusaha memasang seatbelt "kupikir dia tidak akan mengantarku" ucapnya tersenyum dalam hati melirik Dareen


"Kalau tuan capek atau ngantuk, biar saya gantikan untuk nyetir" ucap Lily ketika mobil sudah meninggalkan pintu gerbang rumah puncak


"hmm" hanya itu respon dari Dareen


"katanya mau ganti nyetir, tau-taunya baru beberapa menit sudah tidur" Jawabnya menepikan mobil lalu melepas jaket yang digunakan lalu menyelimuti Lily yang hanya menggunakan baju tanpa lengan, Lily tidak sempat mengambil barang-barangnya bahkan tas, dompet dan semuanya masih tertinggal karena ulah Dareen yang tidak mengatakan apa-apa.


setalah Dareen menyelimutinya dengan jaket, lalu menjalankan mobil lagi sesekali dirinya menguap dan meregangkan otot karena capek PP ke puncak dirinya pun bingung kenapa begitu mudah untuk mengikuti kemauan gadis asing di sampingnya itu. padahal dirinya bisa saja membiarkan untuk naik grab car saja, kenapa harus begitu peduli?


"Lily.... Lily... heiii bangun kita sudah sampai di kota tunjukkan jalan ke rumahmu" ucap Dareen menggoyangkan bahu Lily, Setelah memasuki kota Dareen berusaha membangunkan Lily pasalnya Dareen tidak tahu jalan ke tempat Lily tinggal, masih belum di hafal jalurnya.

__ADS_1


"Ibu, Lily masih ngantuk, ayolah jangan ganggu" rancaunya ia bermimpi ibunya lah yang sedang membangunkannya. merasa terganggu ia bergumam lalu menangkap tangan Dareen lalu memeluknya.


Dareen tersentak ketika tangannya di tarik lalu dipeluk dengan erat oleh Lily, merasakan kehangatan yang tidak biasa seperti sengatan listrik yang menjalar dari permukaan kulit merambah melalui nadi hingga di jantung memompa darah dengan cepat.


"Oh ****, perasaan apa ini" ucapnya sambil terus memfokuskan diri mengendara dengan baik


"Lily, hei sadar ini tanganku, aku bukan ibu mu" ucap Dareen menarik tangannya ingin membangunkan Lily sekali lagi


"Ibu, jahat jangan tinggalkan Lily sendiri" rancau nya dengan air mata yang berlinang


Dareen tidak tegah akhirnya mengemudi saja ke arah Mension pribadinya, nanti akan meminta tolong pada Sekertaris Kim untuk mengantarkan Lily saja


Lily memperbaiki posisi tidur dan sadar bahwa dirinya di mobil dengan memeluk lengan seseorang, akhirnya membuka mata dan terkejut "Tuan Dareen?" ucapnya langsung melek dan melepas tangan Dareen dengan kasar hingga tidak sengaja tergores cincin permata yang digunakan membuat tangan Dareen berdarah.


"Auuh, sakit astaga apa kamu seorang tukang pukul" Sarkas Dareen pasalnya ia merasakan peri di tangannya


mereka tidak menyadari jika tangan Dareen meneteskan darah yang cukup banyak akibat goresan dalam dari cincin

__ADS_1


"Daraaah...." pekik Lily, kepalanya pusing serasa berputar serta pandangannya gelap, kembali bayangan sang ibu yang tergeletak kaku dengan genangan darah di kepala menghampirinya setelah melihat darah yang menetes di tangan Dareen


"Lily pingsan"


__ADS_2