
"Perasaan apa ini "Lily bergumam memegang dadanya, jantungnya memompa dengan sangat cepat seperti baru saja selesai maraton
"Ini baju untukmu, naik dan bersihkan dirimu" Dareen berhenti kemudian menoleh ke arah belakang dimana Lily mengikutinya
"Tapi, apakah sabun untukku ada?" Balasnya polos sembari mengambil baju yang diserahkan Dareen
"kamu cocok jadi pelawak" Ucap Dareen Sarkas
"Pelawak apaan? Dia saja tidak ketawa" ucapnya dalam hati
"Sabun dan semua yang kamu butuhkan ada dalam paper bag itu" Naiklah dan turun untuk makan malam, atau perluh kuantar? dan dimandikan sekalian ?" Dareen menggoda nya
"Apaan, memangnya saya mayat, dimandikan segala" ucapnya langsung meninggalkan Dareen menuju lantai atas kamar tempatnya tidur tadi
Iya menuju kamar mandi yang dominan hitam itu "kok semuanya jadi gelap gini? rumah hunian apa rumah hantu?" ucapnya bermonolog sambil mengeluarkan semua sabun dan pakaian yang akan dipakainya
"Lengkap semua, kapan dia menyiapkannya untukku?" ucapnya tanpa sadar tersenyum
entah apa yang dipikirkan (Author pun tak tahu)ðŸ¤
__ADS_1
#Ten minus later
Lily sudah mandi dan memakai mini dress sifon tanpa lengan berwarna hitam sangat cocok di tubuhnya, tanpa olesan make-up ia turun mendapati Dareen yang sudah di meja makan untuk makan malam, dengan canggung Lily menghampiri Dareen yang fokus terhadap tab yang di depannya ia sangat serius memeriksa dokumen sehingga tidak menyadari kehadiran Lily.
"Hmmm, kenapa tidak makan saja dulu" Lily memberanikan diri menyapa Dareen pasalnya ia masih ingat Sekertaris Kim mengatakan bahwa tidak boleh mengganggu Tuan Muda jika sedang serius dan fokus pada pekerjaan.
Mendengar ada yang berani menginterupsi kegiatannya Dareen kesal lalu menoleh dan mendapati Lily dengan penampilan yang menurutnya Cute (seperti anak ABG) tubuh mungilnya mendukung dan wajah imutnya memang masih kelihatan seperti Remaja, di umur 25 Tahun.
"Lama sekali?" Dareen menyapa tanpa sadar tersenyum, rasa kesal itu meluap ketika memandang wajah polos Lily. Ia kemudian meletakkan tab
"Duduklah, saya sudah sangat lapar" lanjutnya
"Hmmm" hanya itu yang di ucapkan Dareen dirinya sendiri merasa sangat malu ketika mendengar Lily mengatakan mau berdoa.
Ia lagi berpikir sejak kapan dirinya terakhir berdoa dan ke gereja? Ahh iya setelah Nyonya Besar meninggal, maybe it's been 6 years ago. (sekitar 6 Tahun)
"......, Dalam nama Yesus kami menerima berkat-Mu dengan ucapan Syukur Amin " kata Lily mengakhiri doanya
"Amin, makanlah" Dareen lalu menunggu Bi Ema menyiapkan makanan untuknya seperti biasa.
"Bu Ema, ayo makan bersama kami dimana pak Tarjo?" Lily senang melihat ibu paru baya itu menuju meja pikirnya ia akan makan bersama
__ADS_1
"Makanlah Nona Lily, kami sudah makan di dapur, kami bahkan memikirkan untuk duduk disini saja merasa tidak layak Nona" jawabnya rendah hati
"Oh baiklah" ucap Lily memperhatikan Bi Ema mengambil piring dan bertanya " Tuan menginginkan lauk apa?" Tanya Bi Ema pada Dareen yang dari tadi cuma diam memperhatikan Lily.
"Terserah pilihan Bibi" jawabnya santai
Lily yang menyadari bahwa Dareen dilayani seperti itu lalu mengambil piring dari BI Ema, "Biar kulakukan Bu, kembali lah ke belakang jika masih ada yang perlu di lakukan" ucapnya seraya mengambil piring dan mengisinya dengan Nasi, lauk dan sayur.
"Selamat makan" Lily menaruh piring yang sudah di isi ke Dareen
Dareen dengan sikap tak terbaca mengambil makan itu lalu melahapnya
"Aquila dan Lily memiliki sifat yang bertolak belakang, Aquila tipe Queen yang selalu ingin di layani sedangkan Lily tipe yang mau melayani" Senyumnya dalam hati "Tapi kenapa aku membandingkan nya?" ya ampun Dareen Dareen, sadar" lanjutnya lagi bermonolog dalam hati.
Lily memperhatikan Dareen pasalnya dia lama mengunyah makanan "Apa karena saya yang mengambilkan rasanya berubah jadi tidak enak?" Lily memberanikan diri menegur
"hmmm eee, enak kok, enak...." Dareen kemudian tersadar
"Oh, kirain gara-gara saya yang ambil jadi tidak enak" Sindirnya lalu diam dan melanjutkan makan nya lagi
Begitu juga Dareen kembali menikmati makanan di depannya yang terasa lebih enak dari biasanya, apakah karena ada teman makan atau karena Lily yang menemani?
__ADS_1