
Asap cerutu memudar ke udara, ketika itu di hisap membuat semacam perasaan nyaman. Di dalam ruangan sepi dengan hanya suara badai sesekali menyambar dari luar bangunan, ketika mata seseorang melirik ke bawah, dia dapat melihat berkas dokumen tersusun rapih di atas meja.
Tangan seorang pria mengambil cerutu lalu meletakannya ke meja. Sisa-sisa pembakaran dari daun kering kini berwarna merah cerah namun terus menghitam.
Aroma asap meskipun memberikan perasaan sesak di dada, tapi bagi seorang Pria di dalam Guild itu tidak lebih dari manisnya aroma bunga pada musim semi.
Pria itu membuka mulutnya lalu asap keluar dari sana, Kemudian menoleh ke arah seorang gadis berambut pendek di dekatnya.
"Sonia."
Sonia berhenti mengosokan kain basah ke atas meja untuk menjawab pangilan Teodor. Dia kemudian melipat kain dan menaruhnya ke belakang sambil memperbaiki postur tubuhnya. Seraya berkata—
"Ya, master?"
"Barang yang kau bawa cukup bagus, bagimana kau mendapatkannya?"
"Itu barang kualitas premium dari kota pelabuhan di barat, harganya tidak terlalu mahal tapi mungkin akan susah ditemukan di tempat lain."
Mata mereka bertemu sesaat, saling menatap dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Kemudian.
Sonia memejamkan matanya, dia menyadari apa yang ingin di tanyakan Teodor sebenarnya bukanlah cerutu.
"Sudahlah master, langsung saja apa yang sebenarnya ingin master tanyakan?"
Mengambil cerutu di atas meja lalu mengisapnya kembali. Teodor mendapatkan ketenangan pikiran kemudian mulai membuka mulutnya.
"Aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang keberlangsungan Guild? Terserah mau itu terdengar buruk atau baik, aku tidak peduli. "
Mereka sudah bermitra cukup lama, jadi tidak akan mengherankan untuk menyatakan mereka mengerti satu sama lain. Setidaknya dalam batas tertentu.
Oleh karna itu, Sonia menjawab pelan.
"Guild ini akan berakhir, tidak, maksudku profesi petualang akan segera berakhir. "
"Mengapa demikian?"
"Itu sudah jelas bukan? Chimera legendaris yang di habisi tempo hari adalah monster kuat terakhir di Guild utara. Dan jika seperti itu, tidak akan ada lagi monster yang dapat di buru, di kekaisaran sendiri misalnya, hanya ada dua Guild tersisa yaitu di Ibu kota dan wilayah Utara. "
Di hadapkan pada eksploitasi besar-besar Legion Kesatria, membuat ekosistem hutan mengalami perubahan. Bahkan di dalam catatan sejarah dikatakan Legion Kesatria Kekaisaran pernah memburu naga.
Itu sebenarnya terdengar bagus di dalam Legenda. Namun bagi Teodor dan Sonia melihatnya dengan cara pandang lain.
__ADS_1
"Aku sudah sering bilang kepada para petualang veteran, atau setidaknya rank-C ke atas untuk tidak berburu monster lebih dari yang di minta. Namun bagaimanapun omong kosong tentang memburu monster demi kedamaian penduduk sering kali digunakan para kesatria untuk membasmi para monster, telah mempengaruhi pandangan petualang. "
Sesuatu seperti mengambil keuntungan sebelum di ambil orang lain, mungkin alasan utama para petualang bersikap seperti itu.
Teodor menghela nafas atas jawaban Sonia, dia kemudian mengerakan bahunya sambil mengumamkan sesuatu.
"Hmm... Ketika aku memikirkannya, itu terdengar bagus. Dengan punahnya para monster tidak akan ada lagi keluhan dari masyarakat. "
"Ya, bagus untuk kesatria membangun reputasi, tapi buruk untuk kita para petualang."
Teodor melihatnya dalam waktu lama. Dia melihat selama bertahun-tahun bagaimana kualitas maupun kuantitas para petualang semakin menurun, itu jelas memiliki keterikatan erat dengan jumlah monster yang tersisa saat ini.
Baimanapun juga, seseorang tidak akan pernah bisa memasak tanpa mempelajarinya, atau seseorang tidak akan pernah bisa berdiri tanpa pernah belajar berdiri.
Ketika Teodor melihat otot di lengannya sendiri, membuatnya menyadari itu dalam tingkat tertentu.
"Jika para monster benar-benar punah, lalu bagaimana dengan nasib orang-orang?"
Pertanyaan itu melintas di benak Sonia, ketika dia melihat Masternya kembali mengambil cerutu sambil menghisapnya dengan pelan.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas bergabung dengan Legion Kesatria merupakan suatu pilihan."
"Huf..Master, Yang aku maksud bukan hanya para petualang saja, tapi juga orang yang menjalani hidup di sekitar mereka."
Teodor mengerutkan alisnya, dia tampak binggu akan maksud yang ingin di sampaikan Sonia. Bahkan ketenangan pikiran yang jarang dia dapatkan sampai sekarang, meskipun dengan bantuan kepulan asap, dia masih belum mengerti perkataan Sonia.
"Maksudmu?"
"... Pengerajin, penjual Potion, pengurus penginapan dan para penuntun jalan. Kebanyakan pelangan mereka dari kalangan petualang, jika konsumen tidak memiliki uang lantas bagaimana mereka menjual barang atau jasa?"
Kebanyakan bisnis mereka di wariskan dari generasi ke generasi. Seolah-olah sejak awal mereka di lahirkan, sudah di tentu akan bagimana mereka menjalani hidup. Sampai titik dimana menciptakan suatu sistem solid yang saling menguntungkan antar petualang dengan para pebisnis setempat.
Tapi sekarang tidaklah seperti dulu.
Suatu sistem yang bertahan lama namun tiba-tiba runtuh, tidak mudah untuk menyusunnya kembali. Bahkan merubahnya dalam bentuk lain, membutuhkan waktu yang lama.
Itu dalam asumsi mereka tidak mati saat prosesnya. Siapa yang tahu seberapa lama waktu dapat berjalan untuk seseorang.
"Itu urusan mereka, kita tidak memiliki hak untuk ikut campur."
"Ya, anda benar. Tapi tindakan kitalah yang memiliki pengaruh terhadap mereka."
__ADS_1
Teodor tertawa kecil atas perkataan Sonia, dia tidak menyangka mitranya selama ini bisa mengatakan sesuatu sebagus itu. Ini jelas tidak seperti Sonia yang Teodor kenal sehari-hari.
"Aku tidak menyangka kau bisa memikirkan sejauh itu, inikah seorang akademisi dari kota pelabuhan barat?"
Sonia mengulurkan tangan lalu mulai membersihkan meja dengan kain kembali. Ini adalah akhir pembicaraan mereka atau setidaknya itulah yang di perkirakan Sonia.
Sambil terus membersihkan, Sonia berkata kepada Teodor untuk mengkonfirmasi.
"Master salah paham lagi. Aku hanya memenuhi keinginan master untuk sedikit mengobrol."
Teodor menjawab dengan menghelai nafas datar.
Cerutu yang di hisap Teodor telah sepenuhnya habis, dan suara badai tidak lagi terdengar.
Setelah meletakan cerutu, Teodor berdiri lalu mulai melangkah ke luar.
Sambil menghirup nafas pelan, dia pun bergumam.
"Sepertinya Guild hari ini akan sepi."
Melangkah dan terus melangkah sampai ke kedepan pintu.
KREEK!!
Suara pelan terdengar ketika pintu itu terbuka, pandangan Teodor mengarah ke langit dimana awan gelap masih memenuhi cakrawala dan perasaan dingin di kulit akibat angin berhembus masih dia rasakan.
Walau badai telah terhenti, sesuatu yang serupa badai dapat dia lihat ketika matanya mulai beralih ke arah depan.
Seorang pria berambut putih, basah dengan tetes air yang terus menetes, berdiri tepat di hadapan Teodor.
Rambut putih basah menutupi mata unggu indah pria itu, dia hanya berdiri tanpa mengatakan apa-apa. Teodor mengenalinya dengan baik.
Tapi dia tidak mengenal seorang gadis kecil yang berdiri di samping pria itu.
Gadis kecil memiliki mata menakutkan yang terus memperhatikan nafas Teodor, dalam ritme yang cukup memberikan hawa dingin. Dari mata gadis itu, Teodor bisa melihat pantulan wajahnya namun dengan warna yang cukup gelap.
Kemudian gadis itu membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Paman, apa paman kenal tuan ini?"
Seketika pertanyaan di lontarkan ke arah Teodor. Sudah jelas apa yang gadis kecil itu sebut paman adalah Teodor sendiri..
__ADS_1