THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 8 - Topeng Hancur


__ADS_3

Di dalam lorong sepi, gelap dan hanya di sinari cahaya obor pada dinding.


Seorang anak gadis kecil berambut hitam lusuh, dan hanya memakai sekain pakaian sambil gemetar karna kurang makan tengah menindih sesuatu di bawahnya.


Suara-suara keras mengema di sepanjang lorong, percikan darah menyebar kedinding, lalu lantai sampai wajah anak itu. Suara itu terus berteriak dalam keberlangsungan secara konstan.


"Terima kasih!! Terima kasih!! Terima kasih!! Terima kasih!!! Terima kasih!! Terima kasih!! Terima kasih!!...Aaaaaah~ TERIMA KASIH TUUUAAAN!!!!!!"


Kegembiraan atas kebahagian yang anak itu idam-idamkan selama ini, akhirnya terwujud.


Tangan kurus anak itu trus membenturkan batu ke wajah seorang pria di tanah.


Tiap-tiap tengkorak kepala telah hancur oleh sebongkah batu. Membuat apa yang di sebut wajah tidak lebih dari gambaran abstrak dari sebuah ketidak wajaran dan kekacawan.


"Ibu!! Ibu!!!... Akhirnya!!! Akhirnya!! Akhirnya!! Akhirnya!!!!!!! Akhirnya~ AKU BERHASIL!!!"


Perasaan kesenangan memenuhi isi kepala. Suatu perasaan yang tidak pernah dia rasakan selama bertahun-tahun.


Dia bahkan tidak pernah berfikir dalam benaknya, bahwa apa yang dia lakukan sekarang sangatlah menangkan hati. Seolah-olah dekripsi nyata dari suatu kebahagian sejati.


Apa yang dulu mainan kini menjadi tuan dari mainan. Moment yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi di dalam hidupnya.


Menutup wajahnya dengan tangan kanan lalu mengerakan kebawah membuat semacam goresan bercak darah, menghentikan perbuatannya selama ini, seraya berkata.


"Tuan, apakah tuan juga teman pria ini?"


Seorang pria di belakang anak gadis hanya terdiam.


Untuk menanyakan hal sama, sang anak melihat ke atas, terus ke atas sampai membuat lekukan daun yang mampu melihat kebelakang.


Pantulan seorang Pria berambut putih dan bermanta ungu sembaring membawa sebilah pedang terlihat di mata bergetar anak itu.


Dia menujukan ekspresi mata sayu lalu hendak menanyakan lagi.


"Tuan, tolong jawab aku. Apa tuan teman pria ini? "


Pria berambut putih dan bermata ungu itu adalah Kai.


Kai menjawab seorang anak gadis yang terus menatapnya dari bawah.


"Tidak."


Mata anak kecil melirik ke arah pedang Kai, dia terlihat mengenali pedang itu.


"Benarkah? Lantas mengapa pedang kapten kesatria ada di gengamanmu?"


Kai tersenyum ramah. Meskipun tidak ada gunanya menunjukan topeng kepalsuan tapi ini semua terjadi karna dia masuk terlalu dalam, sehinga pikiran kepalsuan mendominasi Kai sampai sekarang.


Mata anak itu bergetar hebat ketika melihat senyuman Kai.


Dia merasa pernah melihanya di suatu tempat dalam ingatan samar-samar.

__ADS_1


"Aku hanya meminjamnya, tapi sepertinya dia tidak terlalu ingin pedang ini kembali. Bisa di katakan dia mewariskannya kepadaku."


Anak gadis memperbaiki posisi tubuhnya, rambut hitam menutup pandangannya. Lalu dia bergumam.


"Begitu, jadi akhirnya orang berengsek itu pensiun."


Kai menatap anak gadis sesaat lalu membuang pandangan.


Kemudian berjalan melewatinya untuk ketempat tujuan.


Dari belakang Kai ketika dia sudah cukup membuat jarak, anak gadis tampak kesusahan menyerat mayat kesatria.


Dia terjatuh kebelakang akibat tenaga yang tidak kuat untuk menopang tubuh kurusnya.


Anak itu terlihat kesal kemudian membenturkan bongkahan batu keleher kesatria sampai kepalanya terlepas dan memercikan darah, mencengram rambut lalu menyeretnya kesebuah ruangan gelap di balik pintu.


Tiap lantai yang dia lewati membuat bercak darah terlihat seperti sebuah garis.


Jika Kai melihat kebelakang, mungkin dia akan menyaksikan ekspresi kegilaan bercampur dengan kebahagian menusuk jauh pandangan siapapun yang mampu melihatnya.


.......................


Setelah Kai berpapasan dengan seorang anak gadis penuh dengan ketidak normalan di kepalanya. Kai kini sampai ke suatu ruangan gelap.


Setiap kali Kai mulai melangkah, bau darah semakin kuat.


Dia membuka pintu dengan suara cukup pelan, suara itu halus dan sangat menenangkan siapapun yang masih memiliki kewarasan, atau setidaknya mengarapkan kewarasan.


Meski itu sebenarnya bukan daun—


(Orang gila macam apa yang melakukan semua ini?)


Kantung-kantung hitam besar mengantung dengan seutas tali yang terhubung pada bagian atas ruangan, membuat semacam pemandangan seakan di hutan. Atau lebih tepat di sebut sarang kelelawar.


Karna kegelapan akibat ruangan tertutup, baik siang hari maupun malam hari, Sudah di pastikan ruangan itu akan tetap gelap. Membuat pandangan mata Kai sangat terbatas.


Namun, Masalah benarnya bukanlah itu.


Saat Kai berjalan melewati kantung, bau menyengat tercium begitu pekat. Bau busuk baik dari yang masih baru ataupun yang sudah lama begitu menyiksa indra penciuman.


Jika Kai memperhatikan secara seksama, maka dia akan bisa melihat cairan berwarna merah menetes dari rongga kantung.


Menetes dan menciptakan bercak merah di lantai. Itu menyatu seakan membuat corak unik mengerikan yang menjadi semacam karya seni tersendiri.


Setidaknya indah untuk orang tidak normal.


Mungkin itu juga alasan utama mengapa anak kecil barusan, memiliki masalah dengan isi kepalanya.


Pikiran Kai yang tercemar akibat topeng kepalsuan membuatnya memiliki semacam rasa sakit di perut. Walaupun sebenarnya rasa itu dalam taraf minimal.


Tidak ada orang normal yang masih waras saat melihat kengerian di depan mata.

__ADS_1


Sampai titik dimana siapapun mungkin akan berfikir, bahwa potret perwujudan dari neraka mungkin ada di tempat ini.


Kai menyingkirkan kantung- kantung dengan cara mengibaskan tangan untuk membersihkan jalan.


Sensai keras begitu terasa di tangan Kai, seperti menyingkirkan batu besar hanya mengunakan satu tangan.


Berat namun tidak sepenuhnya padat, itu bahkan terasa seperti kerikil dari pada bongkahan batu.


Di tambah bau busuk menyengat. Seakan mengkonfirmasi sesuatu.


"Daging cincang. "


Setelah mengatakan demikian, Kai berjalan maju sampai dia melihat barisan penjara dari kiri ke kanan.


Ada beberapa obor di beberapa bagian penjara menampakan wajah para penghuninya.


Tiap-tiap penjara diisi oleh para tahanan perempuan. Mereka hanya mengenakan kain putih lusu sebagai pakaian serta memiliki mata sayu seperti ikan mati yang tampak putus asa.


Mereka memberikan semacam tatapan seperti orang yang hanya memandang hidup tidak lebih dari sebuah penderitaan, itu semua terasa kontras dengan suasana dan aroma yang mereka pancarkan.


Sama seperti para tahanan pria, mereka juga terlihat kurus kering serta tak terawat. Tulang tanpa daging benar-benar terlihat menyedihkan.


Sementara Kai melangkah, para tahanan hanya menoleh sesaat kemudian membuang pandangan tidak peduli.


Kai terus berjalan sampai dia berhenti ketika melihat mayat seorang kesatria.


Lehernya berwarna merah melingkar dan bersender di jeruji besi. Ketika Kai melirik, dia segera menyadari bahwa pintu penjara terbuka.


Ada mayat wanita disana. Tangan kanan mayat terputus dengan pedang menancap di tengorokannya.


Sebagian darah baru saja mengental menandakan kematian si wanita belum lama.


Kai mendekat untuk melihat wajah sang wanita.


Itu adalah Liona—


Waktu terasa berhenti seketika.


Bahkan di depan saudara perempuannya, air mata tidak mengalir.


Meski begitu, kesedihan Kai terlihat jelas dari sikap diamnya. Kai merasa rasa sakit di kepala yang belum pernah dia rasakan dalam waktu lama. Meskipun ada juga rasa sakit di dada tapi itu tidak separah pada bagian kepala.


"Liona.."


Rambut putih Kai menutupi sebagian matanya. Sambil berharap dari lubuk hati gadis yang ada di depan sekarang, bagun dari tidur singkat sambil menunjukan ekspresi ceria berusaha menyapa Kai.


Tapi Kai sangat sadar bahwa siapapun yang mati tidak bisa hidup kembali.


Kini Kai tidak memiliki alasan lagi untuk terus memakai topeng palsu. Tujuan topeng itu sendiri saat ini telah hancur.


Dalam diam, Ingatan-ingatan samar mulai meledak di kepala Kai. Seolah pikiran itu ingin mengambil alih tempat mereka berasal..

__ADS_1


__ADS_2