
"Letnan Kolonel Rose Noir dari angkatan darat, jika kau tidak keberatan, kau bisa memangilku kolonel."
Sambil mengepalkan tangan di atas meja, Rose menatap Kai dengan santai seperti berupaya untuk mengendalikan situasi. Sementara itu, Kai yang sudah mengeringkan tubuhnya di perapian hanya menatap secangkir kopi yang dituangkan Sonia.
Cairan coklat dan cairin putih dituangkan ke dalam gelas. Asap kecil dibarengi aroma harum yang tidak pernah Kai tahu, keluar dari sana.
Meskipun telah diberi layanan mewah, rupanya pihak yang berlawan dengan Rose hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan apa-apa.
Oleh karna itu, Kolonel Rose mengakat tanganya untuk memberikan isarat kepada sonia agar bersedia memberi mereka berdua ruang.
Sonia membalasnya dengan angukan.
Setelah sonia pergi, rose mengambil cangkir di meja dan mengangkatnya sejajar dengan pandangan. Sesaat mata Rose beralih ke arah Kai, lalu mengatakan.
"Tenang saja, Minuman ini rasanya manis. Tidak seperti minuman mahal yang memiliki rasa agak pait namun menghangatkan, seperti yang diberikan oleh beberapa bangsawan. Nyatanya minuman ini cukup nikmat bila dinikmati pada beberapa moment yang tepat."
Kai hanya mendengarkan, pandangannya kini menjadi serius.
Rose memperhatikan itu, kemudian mendekatkan cangkir ke bibir.
"Tentu saja, tidak ada apapun di dalamnya yang bisa membuat seseorang tertidur. Kalau kau mau, kita bisa bertukar cangkir?"
( Tidak buruk untuk memberikan tanda bahwa posisi seseorang musuh atau bukan sejak awal. Meski begitu, sepertinya dia tidak mempercayaiku. )
Di hadapkan pada lawan bicara yang sejak awal bersikap sangat waspada, akan lebih bijak untuk menengkan mereka sebelum memulai bercakapan. Walau Rose tahu itu akan sulit pada titik tertentu.
Rose benar-benar merasa berbicara seorang diri saat ini. Pihak lain hanya terdiam dalam waktu lama, seperti tidak menginginkan pembicaraan berbelit-belit.
Meneguk secangkir kopi, kemudian menaruhnya ke meja. Asap putih kecil keluar ketika Rose membuang nafas.
Sakalipun berkata terus terang merupakan pilihan bagus, tapi Rose menolak pilihan itu sejak awal. Oleh karnanya Rose mengambil kertas dokumen di samping kemudian mengesernya dari atas meja ke depan Kai.
"Menurut apa yang aku baca, beberapa bangsawan sering kali merekrut orang desa. Mereka memberikan formulir pendaftaran dengan pedang di leher seseorang, jika seseorang menolak, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada desa itu nantinya."
__ADS_1
Memahami kata-kata tersembunyi, merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seorang pengikut. Tidak akan salah bila mengatakan, itu bahasa sehari-hari mereka. Rose tahu itu dengan baik dalam batas tertentu.
Sebagai seseorang yang memiliki integritas, dan sebagai seorang yang mengabdi pada Organisasi. Rose harus menyesuaikan dengan lawan bicara, bagaimana mereka mengatakan sesuatu atau bagaimana mereka mengungkapkan sesuatu.
Itu semua semata-mata untuk menghindari percakapan satu arah.
"Apa kau juga terlibat?"
Rupanya pihak lain mulai membuka mulutnya. Menandakan bahwa usaha Rose terbayarkan.
"Tentu saja tidak. Aku hanyalah pihak yang memiliki banyak mata dan telinga."
"Jadi, kau yang memberikan kalung peledak?"
"~Ahh.. Itu yang aku maksud."
( Untuk memahami situasi secara cermat bukanlah hal yang mudah. Tapi, dia benar-benar bisa melakukannya. Seperti yang aku harapkan dari para pengikut. )
Mengambil kesimpulan dari informasi yang samar-samar, adalah keahlian minimal dari seorang pengikut Dragon Lord. Sampai titik ini, Rose bisa setidaknya menilai kopentensi secara minimal.
Awalnya Rose ragu akan yang dia dapat dari Sonia. jika saja dia tidak melihatnya secara langsung, mungkin pilihan segera memindahkan Sonia ke tempat lain merupakan langkah yang paling masuk akal.
Selama informannya memberikan data akurat. Rose akan dengan senang hati menyediakan apapun yang dia butuhkan.
Rose bagun dari tempat duduknya, kemudian secara perlahan mendekat ke arah Kai. Langkah kaki sepatu kulit, memberikan suara ketukan dari bawah. Itu mengetuk dengan suara pelan.
Tepat saat jari-jari Rose bergeser di meja. Kai mulai bertanya.
"Kalau kau memang tidak terlibat dengan mereka. Lantas mengapa kau memberikan aku itu? Dan kenapa hanya aku?"
"Entahlah, sayangnya aku hanya memiliki satu."
Wajarnya, jika seseorang cukup cerdas untuk menyadari kenjangalan. Maka orang itu akan mencurigai si pemberi adalah dalang utama sejak awal. Itu adalah kecendrungan sederhana dan masuk akal bila melihat informasi yang dia dapat. Setidaknya dalam taraf dunia ini.
__ADS_1
Sangat sulit untuk mengaitkan pemberi kalung dengan seseorang seperti Rose yang tidak pernah menunjukan wajahnya sekalipun. Namun bila Kai mampu mengetahui atau memprediksinya, maka itu berarti.
( Seorang Magic Swordman dan tipe Analistis. Bagus, Ini akan jadi mudah. Dia pasti sudah memahami pola pikir dasar dari orang-orang di dalam Guild. )
Rose tersenyum ramah sambil memperhatikan gerak tubuh Kai dengan mata yang mengecil.
Dia mengangkat tubuhnya dan mulai duduk di atas meja. Dengan telapak tangan di meja serta pandangannya mulai terfokus, Mereka kini saling berhadapan, Rose di atas dan Kai di bawahnya. Rose kemudian mencerita sesuatu.
"Pernah ada seorang penduduk desa yang kehilangan orang yang dia sayang. Tidak lama kemudian, dia mendapat informasi sekelompok orang menculiknya. Mungkin karna mempercayai kisah manis tentang pahlawan yang membasimi pasukan iblis demi umat manusia, pada akhirnya orang itu melacak para penculik dan menemukan markas mereka. Dia berangkat dengan penuh rasa keadilan di dalam dada dan percaya pada pengalamannya sebagai mantan kesatria bayaran. Tetapi—"
Rose terdiam beberapa saat kemudian melanjutkan.
"Kita berdua tahu, apa yang akan terjadi pada orang itu. "
Kai menoleh ke arah Rose. Mata ungunya menatap untuk melihat bagaimana Rose memandang dirinya. Kemudian menjawab.
"Orang itu akan terlambat menyadari saat puluhan mata pedang menusuk ke dalam perutnya. "
Rose menyeringai. Jawaban itu sendiri cukup tepat, Tapi apa yang ada dipikiran Rose berbeda dengan apa yang ada dipikiran Kai.
"Lebih tepatnya, apa yang dilakukan oleh orang desa bodoh itu, hanyalah menjadi makanan ringan untuk hewan peliharaan."
Mendengar itu, Kai kembali mengalihkan pandangannya dari serigai manis seorang wanita.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Rose kembali menyeringai lebar, Sampai pada titik dimana itu akan membuat siapapun pria yang memiliki suatu keanehan di kepalanya, mulai tertarik pada Rose sebagai lawan jenis.
Meletakan tangan di sakunya lalu mengambil sesuatu.
Suara ketukan terdengar saat logam kecil seukuran pisau namun bukan pisau di letakan dimeja. Itu adalah pistol dengan kaliber peluru 9mm.
Suatu senjata yang saat langka di dunia, dan hanya ada beberapa pihak saja yang memilikinya. Bagi Kolonel Rose, itu adalah senjata yang paling akrab dengannya. Dimana dia tidak harus menghabiskan waktu merapal mantera hanya untuk membunuh satu orang.
__ADS_1
Pistol digeser dari meja kemudian berhenti, tepat di atas kepala Kai. Mata Rose mengecil seraya berkata dengan lembut ke arah Kai.
"Informasi adalah kekuatan, dan kepercayan adalah landasan yang sulit kita abaikan.."