THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 14 - Seragam Dinas


__ADS_3

Sonia bertanya pada Kai.


"Apa itu benar? Liona telah pergi?"


Kai menjawab dengan sedikit angukan.


"Iya."


Bagi Sonia yang sudah lama di Guild petualang. Kematian Liona cukup membuatnya terkejut, apalagi dia tahu seterampil apa Liona selama ini.


Seharusnya tidak ada yang perlu di kawatirkan, mengingat seberapa kuat Liona. Sekalipun begitu, kebijaksanaan untuk selalu mencari lawan yang tepat, seharusnya memberikan kesempatan hidup lebih lama.


Lalu mengapa? Liona yang pergi dan malah Kai yang selamat? Itu memberikan beberapa tanda tanya besar di benak Sonia.


Banyak hal di pertimbangkan, baik yang mudah maupun yang terliar. Namun fakta bahwa Liona sudah tiada, memberikan dorongan yang cukup untuk Sonia bisa mengembalikan kesadarannya sendiri ke kenyataan.


Tidak ada gunanya mengingat kenagan pahit, jika itu tidak di pelajari.


Pekerjaannya sebagai seorang pengamat memang kadang tumbuh semacam ikatan pada orang yang dia amati. Mungkin, karena beberapa hal serta di tambah lagi sering berintraksi dengan target, membuat Sonia memiliki sedikit rasa akrab dengannya.


Oleh karena itu dia mulai bertanya pada Kai.


"Dimana aku harus pergi untuk melihat tempat pemakamannya? Aku setidaknya ingin memberikan beberapa karangan bunga. "


Mata Sonia mengecil ketika dia memperlihatkan ekspresi kesedihan. Beserta nada suara pelan seperti menunjukan kedalaman hati yang terdalam.


Namun, jawaban yang di berikan tidak pernah Sonia duga sebelumnya. Suatu jawaban yang tidak dia sadari akan muncul dari Kai.


Seakan mengahancurkan analisis yang dia bangun selama ini, dan harus merangkai analisis baru.


Dan apa yang di katakan Kai sangatlah jelas dan padat.


"Nona Sonia, anda tidak memiliki hak untuk menemui Liona. Jadi, tolong anda jangan menanyakan hal tersebut lain kali."


Jelas dan padat.


Itu merupakan jawaban yang membuat Sonia mulai menguatkan wajahnya dan mecengkram erat seragam hitam di tangan.


Untuk pertama kalinya, Kai menunjukan wajah aslinya selama ini.

__ADS_1


" Aku mengerti. Maaf merepotkanmu, " Sonia mengatakan itu sambil sedikit memandang kebawah.


Kemudian setelah Sonia meletakan seragam di meja, dia lalu bertanya pada Kai.


"Gadis kecil itu, apa yang terjadi padanya?"


Kai lalu duduk dikursi serta meletakan tangan kanan di dagu. Wajahnya tampak kosong kini menatap seragam di meja. Mata Kai berkedip beberapa kali, lalu setelah itu bola matanya melirik ke arah Sonia.


Wajah manis dari seorang wanita berambut pendek penuh tanda tanya, kini terlihat tepat di pupil mata ungu Kai.


Selanjutnya, dengan suara pelan Kai berkata.


"Apa kau tahu? Pertama kali aku bertemu gadis kecil itu, dia sedang membunuh seorang kesatria. Tatapan matanya tanpa keraguan sama sekali, seolah-olah dia sudah terbiasa."


"Maksudmu?"


Mendengar itu, Kai menutup matanya. Lalu setelah menghelai nafas pelan diapun melanjutkan.


"Gadis itu sudah terbiasa— lebih tepatnya terbiasa membunuh. "


Mata Sonia mulai melebar. Suara singkat dan pelan, seakan telah menusuk indra pendengaran sampai titik terdalam.


Di dalam ingatan Sonia selama hidup di dunia, dia tidak pernah berfikir bahwa akan ada seseorang yang sangat tega mengekploitasi anak gadis separah itu. Sangat tidak bermoral dan tidak memiliki empati sama sekali.


"Nona Sonia, gadis kecil itu telah di jadikan mainan. Sangat jelas anak-anak lain telah mereka sekap untuk di jadikan taruhan di arena. Mereka mungkin menyuruh anak-anak saling membunuh demi permainan judi. Dan jika anak perempuan tumbuh dewasa, kita mungkin bisa menebak apa yang akan mereka lakukan. "


" Tolong hentikan, " Sonia merasa tidak nyaman.


Jiwa-jiwanya yang tidak bisa menerima kekejaman di luar batas kemanusian, tidak bisa Sonia tahan sama sekali.


" Aku mohon, aku tidak ingin membayangkan apa yang kau katakan. "


Mata Sonia kemudian menjadi sayu, dan lalu berubah menjadi mata ikan mati. Tatapan kosong terhadap kenyataan, membuat Sonia tidak bisa berkata apapun.


Perasaan empati sebagai seorang wanita, telah menjalar ke seluruh tubuh, dari ujung kaki sampai ujung tangan.


Lalu dia meraih kursi di depan Kai, kemudian duduk di atasnya. Tangan Sonia memegang rambut, lalu memandang ke bawah.


Kerutan di dahi dan sekitar wajah kini terbentuk.

__ADS_1


Dengan nada penuh amarah, dia begumam.


"Mereka iblis, kesatria kekaisaran adalah iblis. Tidak, iblis bahkan tidak sekejam mereka."


Melihat pemandangan itu, Kai kemudian bersender ke kursi. Jari-jarinya mengetuk ke meja lalu mulai meraih seragam hitam dan mengangkatnya.


Tatapan Kai penuh ketertarikan, saat melihat lambang-lambang yang tidak dia kenali ada pada bagian kerah dan bahu seragam yang dia pegang. Kemudian, Dia melihat Sonia untuk bertanya.


"Organisasi. Apakah mereka sekumpulan orang yang memiliki rasa kebanggaan aneh? Mengapa seragam ini begitu mencolok? Bila mereka ingin menjalankan misi rahasia, seragam yang cocok untuk kamuflasi seharusnya pilihan bagus."


"Itu mungkin seragam yang di berikan padamu adalah seragam kematian," Sonia membalas tanpa mengerakan sedikitpun posisi tubuhnya.


Mulut Sonia kembali berkata sambil terus menatap ke arah bawah.


"Siapapun anggota Organisasi yang memakai seragam kusus itu, artinya target mereka harus mati tanpa terkecuali. Atau setidaknya, Organisasi percaya bahwa terget mereka pasti akan mati oleh anggota tersebut."


Mendengar itu, Kai lalu meletakan seragam itu ke meja kemudian mengepalkan kedua tangan.


Selanjutnya, Pandangan Kai mendekat ke tangan untuk kemudian dia bertanya.


"Berbicara soal Organisasi, apa yang akan kalian lakukan terhadap gadis kecil itu?"


"Gadis kecil itu akan di kirim ke panti asuhan, bersama anak-anak yang kami selamatkan. Itu sudah merupakan kebijakan dari Organisasi, bahkan ada divisi yang secara kusus di bentuk untuk merawat mereka. Organisasi adalah sekumpulan orang baik yang bergerak demi kemanusian, merubah dunia untuk menghapus kejahatan. Itu yang aku tahu. "


Mendengar perkataan penuh nada keyakinan di bawah wajah yang terlihat putus asa, membuat Kai bersikap aneh.


" —Ohh. Aku mengerti. Jadi, kalian para penegak keadilan, tujuan yang sangat mulia."


"Ya, tentu. Semua anggota organisasi bergerak demi tujuan itu."


Kai tersenyuman manis. Senyumannya semakin lebar, sampai itu hampir terlihat menakutkan, namun kemudian dia berhenti dan menunjukan ekspresi ramah.


Ekspresi seseorang dimana dia dapat menunjukan semacam ketulusan.


Bagi Sonia bergerak demi kemanusia bukanlah sesuatu yang mudah. Akan sangat bisa dimengerti bagaimana Organisasi selalu bergerak di balik bayang, tanpa pamri dan tanpa tanda jasa.


Bayaran tinggi mungkin faktor utama untuk Sonia, namun ketulusan organisasi untuk membantu yang lemah telah menyentuh hati banyak orang.


Bahkan, Sonia yakin dengan pasti, banyak anggota organisasi bergabung bukan demi uang tapi murni karena rasa keadilan.

__ADS_1


Sebagai contoh, pendidikan di dalam Organisasi tidak memandang setatus sosial apapun. Baik yang saudagar kaya, petani miskin, maupun bangsawan, semuanya sejajar untuk mendapatkan cahaya ilmu pengetahuan. Jika semua kebaikan itu belum cukup untuk mengerakan hati seseorang, lalu apa lagi? Setidaknya mereka yang mengaku dirinya manusia akan tersentuh terhadap kebaikan tanpa meminta imbalan.


Dan Bagi mereka yang melayani Organisasi kebanyakan bergerak dengan setulus hati. Berkorban nyawa demi organisasi tidak akan menjadi semacam keraguan sedikitpun.


__ADS_2