THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 12 - Sekema Perekrutan


__ADS_3

Rose menyerahkan pistol tepat di depan Kai. Jari jemarinya yang lembut ketika dia melepas sarung tangan, menunjukan bagaimana dia mencoba menghargai lawan bicaranya.


Dia lalu Mengulurkan tangan untuk mencoba bersalaman.


"Bagaimana, apa kau tertarik bergabung dengan Organisasi?"


Sekalipun Rose tahu orang di depan penuh rasa curiga yang di arahkan tepat ke arah dirinya, dia juga tahu atau lebih tepatnya memperkirakan bahwa Kai memiliki kecendrungan berfikir secara objektif dan kadang pragmatis.


Mengetahui lawannya seorang pengikut Dragon Lord yang juga seorang Magic Swordman, merupakan alasan utama Rose bisa seyakin sekarang dalam merangkai kesimpulan.


(Memiliki seorang yang mampu berfikir objektif dan juga berkemampuan tempur, tidaklah buruk. Bahkan, itu jauh lebih baik, dari pada orang yang memiliki kemampuan tapi penuh dengan kebodohan.)


Bagi Rose secara pribadi, merekrut sumber daya manusia langka untuk di jejalkan kedalam Organisasi, Bukanlah sesuatu yang bisa di sebut pekerjaan mudah. Terlebih lagi, di bawah tekanan dari atasan yang suka menuntut hal-hal melebihi kapasitas dari manusia normal. Kedua tangan seolah-olah perlu untuk di lipat gandakan, Karir Rose benar-benar di pertaruhkan dalam hal ini.


Berhenti dari pekerjaan bukanlah pilihan.


Tidak ada pekerjaan yang lebih baik bila membicarakan soal keuntungan jangka panjang selain menjadi anggota Organisasi.


Bahkan jika bangsawan pedesaan di tawari hal serupa, maka mereka akan dengan senang hati menghilangkan ke bangsawanan hanya untuk menjadi anggota Organisasi.


Sekalipun itu akan menjadi sesuatu yang sangat mustahil, bila mengingat betapa tersembunyinya Organisasi, tetapi hal itu kemungkinan pasti akan terjadi bila mereka mengetahui apa yang perwira Organisasi ketahui.


Terlebih untuk Rose yang sudah memeras otak dan keringatnya selama ini. Untuk mendapat pangkat Letnan Kolonel merupakan sesuatu yang sebanding dengan usahanya sekarang.


Dan Rose jelas tidak ingin kenyamanannya hilang.


"Masih ragu? Aku yakin kau mengerti bahwa kau tidak bisa melakukannya seorang diri. "


Kai hanya terdiam saat mendengar apa yang di katakan Rose. Mata ungunya masih melihat bagaimana tangan lembut Rose berupaya mengajak Kai untuk bergabung.


Setelah dia berpaling, Kai mulai menjawab.


"Apa yang di inginkan olehmu terhadap diriku?"


"Tidak banyak, hanya kerjasama saling menguntungkan."

__ADS_1


Rose mulai menurunkan tangannya karena dia sudah mendapat konfirmasi.


Dia melihat Kai dengan mata indahnya, seorang sekutu dan seorang bawahan akan masuk kedalam aset yang berharga. kartu yang mungkin bisa Rose keluarkan dalam situasi genting.


Tidak ada berita baik di hari penuh badai sekarang, dari pada apa yang Rose lihat saat ini.


(hmp..Sangat nyaman.)


Turun dari meja lalu meraih sesuatu dari balik jas hitamnya, serta menyebabkan semacam getaran ketika tangan-tangan halus bersentuhan dengan dada yang lebih besar dari pada wanita pada umumnya.


Itu bahkan dapat menghimpit beberapa lapisan kerta tanpa harus kahawatir akan jatuh.


Beberapa dokumen di keluarkan dari sekitar dada, kemudian Rose meletakan itu di atas meja.


"Aku tidak membawa dokumen formulis apapun untuk pendaftaran, dan itu juga bukan cara Organisasi dalam merekrut seseorang. Sebagai gantinya, ada satu persyaratan kusus dariku untuk menjadikanmu anggota resmi Organisasi."


Kai melihat apa yang Rose berikan pada dirinya. Itu adalah lukisan beberapa pria yang mengenakan pakaian mewah.


"Mereka adalah para bangsawan, beberapa hari dari sekarang, tepatnya di ibukota. Akan ada acara pelelangan para budak-budak cantik, orang-orang itu merupakan menyelengara resmi yang mengambil aset-asetnya dari desa yang hancur belakangan ini. Gadis desa yang polos, serta beberapa gadis malang rupanya memberikan keuntungan finansial bagi mereka."


Kai melihat lukisan di bawahnya sambil memasang sorot mata seprti mencoba memahami sesuatu.


"Kau ingin aku menghabisi mereka?"


Rose tersenyum manis, dia kemudian mengatakan beberapa kalimat sambil terus melebarkan bibirnya.


"Tentu saja tidak."


(Sunguh konyol.. Mereka adalah kalangan yang secara suka rela melatih dan merawat sumber daya manusia yang berpotensi menjadi alat Organisasi. Dan berita baiknya, mereka melakukan semua itu tanpa di bayar. Lalu, bagaimana kau bisa berfikir mereka layak untuk di segera di basmi. )


Membasmi sekelompok pebinis yang memberikan keuntungan secara gegabah atas dasar emosi yang meluap, hanya akan membuktikan betapa bodohnya orang tersebut. Dan Rose jelas bukanlah orang itu.


Objektifitas adalah kuncinya. Jika seseorang mempertanyakan sesuatu kebajikan dan kebaikan, segera setelah itu mereka akan menemukan semacam lubang besar yang terbuka.


Kebaikan yang di gerakan hanya dengan emosi tanpa logika, akan membuat potensi kehancuran yang bisa muncul sewaktu-waktu.

__ADS_1


Sebagai contoh. Bila seseorang menolong orang yang tidak dia kenal, baik itu dengan memberinya uang atau bentuk pertolongan lain tanpa mengetahui siapa orang itu. Dia mungkin merasa itu suatu kebaikan yang patut untuk di puji dan bermanfaat untuk orang yang dia tolong.


Itu adalah pemikiran sederhana dan sangat manis untuk di rasakan.


Seseorang yang dia tolong, bisa saja seorang penjahat yang membantai orang-orang atau seorang pengemis yang menjadi miskin karena kemalasannya. Dan jika kemungkinan itu belum cukup buruk, maka kebaikan untuk tindak kejahatan akan menjadi yang berikutnya.


Menyepelekan logika dan menjunjung tinggi emosi cenderung membuat seseorang berfikir subjektif, seolah-oleh pandanganya tertutupi oleh kaca mata kuda. Dimana dia hanya melihat satu sisi, tanpa melihatnya secara universal.


Kebaikan tanpa perhitungan akan menjadi bencana. Itu yang di pahami Rose dengan baik.


"Lalu, apa yang kau ingin aku lakukan?"


"Mencuri dokumen dan beberapa perekrutan, dengan membiarkan orang yang mereka benci lolos dari kematian."


Mendengar itu, Kai mulai terdiam, segera setelahnya dia memberikan jawaban dengan memasang wajah biasa.


"Baiklah aku mengerti."


"Bagus."


Rose mulai melangkah ke belakang Kai, tangannya meraih pudak dan dia memasang sebuah kalung di lehernya.


Cahaya kecil terang berwarna kemerahan menghiasi pandangan. Saat Kai melirik ke bawah lehernya, pantulan cahaya dari berlian merah di kalung memperlihatkan semacam ukiran sihir.


Itu ukiran yang Kai ketahui, tapi sebenarnya memiliki perbedaan mendasar tentang rangkaian sihir dari apa yang bisa di ingat Kai terakhir kali.


"Dari mana kau mendapatkan ini?"


"Entahlah, kalau aku tidak salah ingat, aku membelinya dari beberapa orang yang menginginkan emas lebih dari apapun."


(Baiklah kartu potensialku.. Ups. Maksudku calon rekan bisnis, cara apa yang akan kau pakai dalam menyelesaikan misi, aku menanti kabar baik darimu.)


Rose melepaskan tangan dari pundak Kai, kemudian wajahnya mendekat ke samping, tepat beberapa detik sebelum pipi mereka saling bersentuhan apabila Rose tidak menahannya.


Lalu dia mengatakan sesuatu dengan nada pelan sebagai penutup pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Akan ada beberapa bawahku yang akan pergi kesana, aku ingin kau pergi bersama mereka. Dan katakan pada mereka, bahwa kau di tunjuk oleh diriku sebagai pemimpin regu. Mengerti?"


Kalung pemberian Rose, merupakan tanda bukti untuk Kai..


__ADS_2