THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 7 - Para Tahanan


__ADS_3

Tangan Kai mencengkram erat leher seorang Ksatria, semakin kuat dan semakin kuat. Tenaga cengkraman yang di lapisi dengan sihir sudah cukup kuat untuk menghancurkan batang pohon.


Kai Menghantamnya ke tembok menyebabkan kesatria itu batuk darah akibat benturan di pungung, merintih kesakitan akibat cekikan saat kaki kesatria itu melayang di udara.


Di belakang Kai kobaran semakin membumbung tinggi menyinari seluruh ruangan, Itu adalah kobaran api kapten kesatria yang dihabisi Kai beberapa saat lalu. Tubuhnya hanya berisi kobaran Api yang semakin membesar dari waktu ke waktu.


Seperti api ungun di perkemahan, pada akhirnya kematian kapten kesatria memberi manfaat untuk Kai bisa melihat di kegelapan malam. Meski sinar rembulan dari jendela memberi penerangan namun tidak ada yang lebih baik selain kobaran api di dalam ruangan.


Selain tubuh yang menjadi bahan bakar ada juga suara rintihan keras memekakan telinga sebagai efek samping dari pembakaran.


Jeritan kesakitan orang-orang hanya akan menjadi melodi di tengah malam, jika seseorang mendengar itu ketika dirinya tengah tertidur lelap maka dia akan terbangun sambil menyaksiakan kengerian dari wajah manusia yang terbakar oleh api.


Kesatria yang di pegang Kai menunjukan wajah ketakutan seolah-seolah melihat kematian di depan mata. Dia adalah kesatria satu-satunya yang masih hidup saat ini.


Alasanya jelas karna Kai membutuhkan informasi.


Kai melongarkan cengkramannya kemudian mulai berkata.


"Katakan padaku dimana Liona?"


Kesatria itu mulai mengelengkan kepalanya sambil meronta-ronta kesakitan.


"Aku tidak tahu... Kumohon jagan bunuh aku, Aku benar-benar tidak tahu"


Dorongan kepanikan memenuhi kepala kesatria, dia meronta-ronta berusaha melepaskan lehernya dari cengkraman. Orang itu seperti tahu jika dia tidak memberikan informasi berguna hidupnya akan berakhir pada saat itu juga.


Kesatria yang berfikir hidupnya demi keadilan tapi sebenarnya jauh di lubuk hati terdalam hanya menginginkan kemewahan. Keadilan tidak akan bisa di tegakan jika orang itu sendiri mati, logika yang sangat jelas bahkan untuk orang bodoh sekalipun.


Oleh karnanya preoritas saat ini hanyalah agar bisa bertahan hidup, Kai secara samar-samar memahami itu semua.


Kai mengetarkan giginya, mata kanannya ter tutup dan kepalanya berdenyut seolah-olah apa yang ada di dalam ingin segera keluar.


Pikiran-pikiran kegila dan kejernian keputusan seperti akan mengambil alih dari topeng kepalsu yang seharusnya tidak dia pasang, setidaknya tidak dia pasang untuk waktu yang lama.


Kai menanyakan hal yang seharusnya sejak awal dia tanyakan.


"Diamana para tahanan perempuan?"

__ADS_1


Kesatria itu mengulurkan tangannya kemudian menunjuk ke arah pintu masuk.


"Dari balik pintu lalu kau bisa pergi ke arah kiri sampai menemukan ruang bawah tanah, disitu kami mengurung para wanita"


Kesatria itu menghelai nafas lega ketika cengkraman di leher terasa melemah, nyawanya kini di pastikan selamat, semua itu karna dia berhasil memenuhi permintaan Kai.


Kai melepaskan cengkraman kemudian menoleh ke arah mayat-mayat kesatria yang tersebar di sekitarnya. Matanya mengecil sesaat ketika dia para kesatria.


Saat kaki kesatria yang masih hidup menyentuh tanah dan tangan memegang leher untuk meredam rasa sakit.


Tiba-tiba dalam waktu singkat Kai membenturkan kembali tangannya lalu mencengram leher kesatria sekali lagi sampai kakinya mulai melayang.


"Satu pertanyaan lagi"


Dengan nada suara berat karna dia tercekik, kesatria itu menjawab.


"Apapun, akan aku jawab apapun pertanyaanmu, tolong lepaskan aku"


"Dimana sebagian kesatria lainya?"


Mempertimbangkan ukuran mansion dan seberapa banyak tahanan yang pernah Kai lihat, sangat mungkin bila sebenarnya kesatria penjaga mansion tidak hanya belasan orang, dengan kata lain jumlah yang Kai hadapi sekarang hanyalah sebagian kecil.


Cengkraman Kai semakin erat.


Kesatria itu mulai menampilkan wajah yang membiru dan pernafasan tidak teratur sambil mengatakan dengan suaru kecil yang hanya bisa di dengar Kai.


Sesuatu seperti bisikan di telinga jika di hitung menurut frekuensi yang sama dapat terdengar ketika dia membuka mulutnya.


"Kanan, sebelah kanan dari apa yang sebelumnya aku katakan padamu, disana juga letak gerbang keluar"


Kai mencengkram semakin erat sambil memasang sorot mata tajam kemudian melepaskan tangannya. Dia mengatakan pada kesatria itu sebuah harapan.


"Terima kasih"


Tapi itu hanyalah harapan.


Kai kembali meletakan tanganya di kesatria itu namun kali jauh lebih kuat dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Kesatria itu meronta-ronta kesakitan sampai ketika sebuah suara menenangkan dirinya.


KLATK!!


Kemudian gerakan kesatria berhenti sepenuhnya, tangan kesatria jatuh kebawah kemudian leher mulai memanjang. Seperti daun yang di bengkokan kepala kesatria menempeng ke pungung belakang sehinga hidungnya itu menempel ke tembok.


Kai melepaskan pegangannya membuat kesatria itu jatuh berlutut tak bernyawa dengan kepala menghadap ke belakang.


Walau bagaimanapun juga melihat dari seberapa parah keadaan para tahanan, sudah lebih dari cukup untuk memberi informasi akan gambaran besar perbuatan mengerikan apa yang di lakukan para kesatria. Sejak awal tidak ada kesempatan sama sekali.


Gambaran-gambaran mengerikan mulai di pikirkan Kai ketika dia menoleh ke arah puluhan tahanan di belakangnya, Mereka tampak kurus kering sampai titik dimana hanya berdiri saja sudah cukup untuk membuat mereka gemetar.


Kai terdiam sesaat. Mata Kai mulai tertutup dan bayangan-bayangan masa lalu mulai memenuhi kepalanya.


(Sialan!! )


Ketika wajah penuh kepalsuan memenuhi dirinya, membuat Kai bisa melihat dan memahami dari sisi pandang orang normal pada umumnya. Insting buas Kai sampai saat ini masih dia tekan.


Itu semua terbukti ketika Kai mulai berbalik.


Melihat para tahanan dalam konsisi menyedihkan, jika Kai tidak melindungi mereka pada saat mereka mulai melangkah ke arah gerbang keluar di saat itu pula mereka akan di habisi.


Isi kepala tanpa di isi oleh nutrisi yang layak, membuat para tahanan tidak bisa berfikir sama sekali dan hanya bisa bergantung pada kepedulian sesama sambil berharap orang yang membantu mereka atas dasar niat baik, seperti pahlawan sesunguhnya.


Perasaan dimana yang kuat melindungi yang lemah adalah arti keadilan menurut gambaran orang umum, itu semua yang Kai pelajari selama topeng masih menempel di wajahnya.


Oleh karna itu Kai mulai melangkah untuk memberitahu mereka bahwa Kai siap melindungi.


Melangkah dan mulai tersenyum, Dirinya akan menyampai kalau tepat di gerbang depan ada banyak sekali kesatria yang akan Kai hadapi.


Tidak perlu ada yang di hawatirkan karna semua orang akan Kai selamatkan.


Dengan menampilkan senyum kecil untuk tujuan menenangkan para tahanan, Kai membuka mulutnya lalu kemudian menyampaikan.


"Tidak ada yang harus di hawatirkan, semua kesatria mansion telah di habisi tepat di sini. Kalian bebas untuk pergi sendiri ke gerbang keluar di balik pintu sebelah kanan, ada urusan yang harus aku selesaikan pergilah tanpa aku"


Wajah harapan penuh suka cita di tujukan oleh para tahanan, mereka memasang wajah kebahagian atas kebebasan.

__ADS_1


Namun ketika mereka semua berlari ke arah pintu kanan, Kai berjalan ke arah sebaliknya. Meningalkan mereka untuk kematian hanya agar perhatian para kesatria bisa teralihkan di gerbang keluar..


__ADS_2