THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)

THE NEW ERA IS BEGIN : Secret Organization (Bahasa Indonesia)
Chapter 4 - Anggur Manis


__ADS_3

Mengaduk sup daging dari mangkuknya. Kai yang saat ini mencium aroma harum campuran rempah-rempah perbekalan dari pasukan Expedisi sambil meniup sesekali untuk menikmati makanan enak pada malam hari, memandang seorang gadis di depan dengan mata penuh tanda tanya.


"Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?"


Di depan Kai ada Liona. Dia memandang kaka bodohnya dengan expresi kekesalan yang tidak tertahankan.


"Bagaimana kaka bisa bersantai di tengah malam sambil menikmati makanan, saat apa yang disekeliling sangat tidak enak untuk pandang....hemp!!.... Laki-laki memang tidak bisa dimengerti"


Perkataan Liona memiliki dasar sangat jelas, karna pemandangan disekeliling membuat perasaan siapa saja tidak nyaman.


Malam berikutnya setelah penaklukan Chimera adalah waktu saat ini, dimana sisa-sisa Tim yang pertama melawan Chimera hanya tersisa beberapa orang saja. Orang-orang masih hidup tapi tidak memiliki kesempatan hidup terpaksa di tingalkan untuk mati di tengah hutan.


Meski pasukan Expedisi membawa beberapa Healer, tapi itu hanya mampu untuk menyembuhkan luka ringan. Jika saja ada Healer penguna Third Tier Magic mungkin mereka bisa di selamatkan.


Walaupun mental orang-orang yang sudah terguncang tidak bisa di sembuhkan, tapi setidaknya tubuh mereka masih bisa di selamatkan. Bagi para petualang rank D dan kesatria pemula melihat rekan mereka di makan oleh monster tepat di depan mata hanya bisa membuat mimpi buruk pada malam hari, sehinga apa yang ada di bawah mata mereka hanyalah kantung mata yang gelap penuh akan rasa lelah terhadap apa yang bisa mereka lihat.


Pandangan dimana harapan ideal seperti hancur berserakan di depan mata oleh realita yang pahit.


Liona melihat sekitar dengan tatapan penuh keyakinan atas apa yang dia pikirkan.


(Hal-hal seperti bekerja berlebihan melebihi bayaran hanyalah kebodohohan.. Ini alasan kenapa seorang petualang harus melihat serta memikirkan baik-baik Quest yang akan mereka terima... Bukan malah mengambilnya tanpa memikirkan persiapan)


Idealisme tanpa realistis bagaikan tujuan tanpa tindakan. Itu akan menjadi hayalan semata tanpa mampu mengapai, dan bahkan jika seseorang mulai melangkah akan percuma bila tidak mamahami rasionalitas yang ada, pada akhirnya orang itu akan mati kelaparan tanpa bisa memperoleh apapun.


Realistis tanpa idealisme bagikan tindakan tanpa tujuan. Mampu bertindak tapi tidak tahu kearah mana seseorang menuju, semua akan terlambat ketika dia menyadari apa yang ada di depan hanyalah jalan buntu menuju kematian.


Jika kedua hal itu tidak di seimbangkan dengan porsi yang sesuai, maka pada akhirnya akan menuju kehancuran.


Semua itu yang di ajarkan guru-guru Academy Fire Dragon Lord kepada Kai dan Liona. Pelajaran yang mengajarkan Logika, Filosofi dan makna menjadi seorang pengikut, suatu doktrin yang di tanamkan ke kepala murid-muridnya bahwa sekolah hanyala simulasi kehidupan seorang pengikut untuk memahami realita kehidupan, dimana seorang siswa taat di persiapkan untuk tidak akan mati setelah melangkah keluar dari gerbang Academy.


Mengingat masa-masa sekolah membuat Liona meletakan tangan di pipinya.


(Apa yang di ajarkan Profesor kejam itu kadang berguna... Sesuatu seperti menyeimbangkan moral dengan idealisme dan menghancurkan kenaifan dengan Realita... Jika saja mereka tidak berwajah iblis mungkin aku akan menjadi murid yang taat)


Mata Liona terlihat malas ketika menoleh ke arah para kesatria sekarat yang di penuhi perban, walau bagaimana pun itu bukan urusan Liona. Liona sadar akan batas kemampuannya sebagai petualang dimana kadang dia melihat kematian pada beberapa Quest yang pernah dia jalani.


Tidak bisa menahan gumaman dari dalam hatinya, akhirnya Liona mengeluarkannya dalam kata-kata.


"Sebagai seorang wanita, drama konyol seperti itu benar-benar membuat nafsu makanku berkurang. tapi itu salah kalian sendiri karna tidak memahami batas kemampuan"


"Kematian terjadi dimana saja dan bahaya kadang kala muncul di waktu yang tidak terduga.. oleh karna itu sangat penting untuk kita mengisi perut terlebih dahulu sebelum menghadapinya"


Liona menghela nafas malas setelah mendengar gumaman Kai yang tidak memiliki bobot dalam perkataannya. Dia menunjukan expresi seolah tidak menerima sikap bodoh kakanya selama ini.


"Huuuf.. Aku masih tidak percaya isi kepala kaka menjadi kosong setelah keluar dari Academy tiga tahun lalu... Pergi kemana kaka ku yang dulu cerdas dan penuh perhitungan"


Kaka laki-lakinya yang di hormati dan dia kagumi, sekarang terlihat tidak ada sama sekali. Itu membuat semacam perasaan rumit bagi Liona.


Melihat Kai dengan mata menyerah seperti mengatakan "ya sudahlah! " Liona ingin mengkonfirmasi sesuatu tentang penaklukan [Death Smile]. Sesuatu fakta yang mungkin sangat mengagu pikirannya bisa saja dia lewatkan.


"Berbicara tentang waktu kita sekolah.. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan? "

__ADS_1


"Apa itu tentang kakamu ini, yang sering di dekati beberapa gadis dari kelas kita?"


Liona memegang kepala dengan satu tangan sambil menunjukan expresi sakit kepala, seolah di rendam oleh air danau ketika musim salju. itu akan menjadi dingin dan sangat menyakitkan.


"Bukan itu yang ingin kutahu!!... "


Sibuk dengan memasukan sendok ke mulutnya lalu setelah itu habis, Kai berhenti, kemudian menaruh mangkuk kosong di dekatnya. Asap-asap pembakaran pada tungku masakan mulai dihembuskan oleh angin malam, menutupi sebagian wajah Kai dari pandangan Liona untuk beberapa saat, setelah semua itu Kai menjawab pertanyaan.


"Mengenai [Death Smile] kemungkinan besar bukan di ciptakan para pengikut Darkness Dragon Lord"


"Itu masuk akal"


"Jika memang [Death Smile] buatan mereka, pertarungan kita tidak akan semudah waktu itu"


"Kaka benar, mantra sihir kita tidak akan efektif melawan sihir Darkness Dragon Lord"


Akan menjadi masuk akal untuk berasumsi [Death Smile] adalah ciptaan para pengikut Darkness Dragon Lord karna monster itu memiliki Dark Magic. Sehinga untuk Liona dan Kai yang seorang pengikut salah satu dari tiga Dragon Lord, merupakan mimpi buruk nyata bagi mereka berdua.


Bila memang diketahui kalo target mereka mengunakan Dark Magic yang berasal dari Darkness Dragon Lord, maka satu-satu pilihan Liona adalah kembali untuk membuat rencana baru atau bahkan membatalkan Quest, meskipun itu membuat reputasi mereka hancur tapi itu harga yang pantas untuk keselamatan mereka. Pertarungan yang memiliki kesempatan menang kecil lebih baik tidak dihadapi sama sekali. Itu sesuai dengan apa yang Liona pelajari.


Namun fakta bahwa mereka mengatasinya dengan mudah membuka beberapa kemungkinan lain.


"kupikir [Death Smile] dalam legenda di ceritakan mengunakan Sihir Darkness Dragon Lord, apakah infromasi yang kita peroleh salah? "


"Hmm.. Aku tidak tahu. Namun dari apa yang aku pelajari di perpustakaan dulu, sepertinya [Death Smile] benar-benar di ciptakan oleh para pengikut"


"Kaka punya bukti?"


Kai mengelengkan kepalanya.


Liona meletakan tangan di dagunya untuk menenagkan pikiran, kemudian dia mengingat sesuatu.


"Kaka.. Dulu pernah mendapat pelatihan kusus tentang cara untuk melawan para pengikut? bukankah dari sana kaka bisa menyadari sesuatu? "


"Itu hanya sekedar latihan, Liona.. Aku bahkan tidak membunuh mahluk itu.. "


(Seperti perkiraanku. Pihak Academy tidak akan membiarkan assetnya yang berharga musnah hanya karna untuk pelatihan saja, walau bagimanapun mahluk itu tidak bisa di buat ulang)


Kakanya yang memiliki pengalaman dalam melawan penguna Special Dark Magic, apa lagi Kai tipe orang Analistis yang cerdik meskipun itu hanya ada pada masa lalu. tapi seharusnya dia mampu mengingat kembali hasil anaslisisnya waktu itu, walupun sekarang mungkin telah berubah menjadi Insting semata.


Mengingat apa yang dikatakan Kai setelah memahami maksud sebenarnya rasa penasaran Liona beberapa saat lalu. Membuat semacam potongan informasi untuk melihat gambaran besar apa yang mungkin terjadi, Bagi Liona Analisis kakanya sering kali akurat bila membicarakan kenangan mereka di Academy. Dengan begitu, kesimpulan yang mendekati kebenaran sebenarnya mungkin sudah di tentukan sejak awal.


Mata Liona mulai mengecil ketika menyadari sesuatu.


(Jika [Death Smile] dalam legenda di ciptakan oleh para pengikut, sedangkan yang kita lawan tidak memiliki Special Dark Magic. Maka itu berarti--)


"Ada orang yang menciptakan Chimera lain penguna Dark Magic, dan itu jelas bukan para pengikut"


Kai mengambil kembali mangkuk kosong setelah mendengar Liona bergumam untuk kemudian di isi dengan sup dari tungku di depan mata. Kembali makan sambil tidak memperhatikan Liona yang kembali larut dalam pikirannya.


Setelah beberapa saat.

__ADS_1


Suara langkah kaki salah satu kesatria mendekati mereka berdua. Dia mengenakan Armor berbeda dari pasukan Expedisi.


Melebarkan tangan untuk mempersilakan seorang gadis cantik berambut emas panjang mengenakan gaun berjalan.


"Putri.. Menurut kapten kesatria mereka berdua si penakluk Chimera"


Gadis itu memandang Kai dan Liona lalu sedikit membungkuk kemudian mengangkat gaunnya sambil tersenyum manis.


"Terimakasih petualang terhormat, jasa kalian sangat besar untuk wilayah keluargaku.. Atas nama keluarga bangsawan utara.. Aku Shasaha Windburner mengundang kalian untuk makan malam ketika pulang nanti"


Liona kembali dari lamunan dan Kai meletakan mangkuk di dekatnya, kemudian berdiri lalu memberi hormat dengan membungkuk. Liona memasang wajah senyum kemudian menyapa.


"Suatu kehormataan bagi saya bisa bertemu dengan anda"


Gadis bangsawan membalasnya dengan tersenyum manis.


Tangan gadis bangsawan menepuk. Lalu seorang pelayan pria mendekat sambil membawa kotak dan kemudian membukanya.


Botol-botol Bir Merah ada di sana.


"Bagimana bila aku memberi kalian sedikit hadiah"


Setelah gadis bangsawan menoleh, pelayan langsung membuka botol untuk kemudian cairan merah pekat di tuangkan ke tiga gelas kaca.


"Tentu saja tuan putri. Terima kasih atas kebaikan hati anda"


Kai dan Liona mengambil gelas kaca ketika si pelayan menawarkan. Tangan mereka berdua menyentuh gelas kemudian mendekatkan ke bibirnya, bersiap untuk di minum.


Tidak ada yang lebih baik untuk membuat suasana hati Liona kembali seperti semula selain mendengar manisnya suara ketika Emas-emas akan masuk ke kantungnya.


(Bangsawan memang luar biasa)


Liona tersenyum cerah.


Gadis bangsawan menaikan gelas untuk mempersilakan mereka minum. Kai yang saat ini memandang gelas sambil megoyangkannya segera menghabiskan dalam satu kali teguk.


Liona mendekatkan gelas ke bibir kemudian meneguknya dengan perlahan.


Nikmatnya Bir merah masuk ketengorokan Liona, perasaan hangat ketika air terus mengalir membuat angin dingginya malam seakan tidak ada apa-apanya.


Mengalir dan terus mengalir, sampai titik dimana itu terasa mulai membakar.


Tubuh Liona dan Kai tiba-tiba lemas kemudian jatuh ketanah.


UHUK!!!..


UHUKK!!..


Cairan merah mulai keluar setelah Liona menutup mulutnya dengan tangan.


Satu-satunya hal yang bisa Liona lihat sebelum kesadarannya mulai kabur, hanyalah senyuman seorang gadis.

__ADS_1


Senyuman lebar membentuk sabit seolah hampir menyentuh kedua telinganya di arahkan ke mereka berdua. Semua hal yang membuat bahagia akan sebuah tontonan sekali seumur hidup, mungkin cukup untuk mengambarkan senyuman sang gadis.


"Fu... Fu... Fu.... Kali ini, dua tamu"


__ADS_2