
Rose memegang jari-jemari Kai, tangan putih halusnya lalu mulai meraih sekitar ibu jari dan pergelangan tangan, sampai akhirnya kulit mereka bersentuhan dan Rose dapat merasakan bagaimana denyut nadi seorang pria begitu hangat di tangan wanita.
Selanjutnya, Rose melepaskan pengangan sambil berbisik dengan nada pelan.
"Aku nantikan kerja kerasmu, wahai pengikut Dragon Lord."
Setelah itu, dia mengambil topi perwira dan mulai menjauh dari Kai. Namun, sesuatu mengehentikannya tepat saat dia memegang pintu keluar.
Dia ingat, ada sesuatu yang perlu dia katakan sebelum pergi.
Suatu perkataan yang selalu dia lakukan sebagai seorang agen pencari kerja yang baik. Akan sangat konyol, bila calon potensial penuh pengalaman berubah pikiran hanya karena pelayanan agen tidak ramah.
Letnan kolonel Rose lalu Membenarkan posisi topi sembaring melihat kesamping. Kemudian dia berkata—
" Oh, ya— Seperti yang biasanya kalian lakukan, Utamakan keselamatan dirimu peribadi dari pada misi, itu pesan dariku."
....
Langkah kaki sepatu kulit mengetuk lapisan kayu dari anak tangga di dalam ruangan, semakin kerasa dan semakin nyaring. Ketika Rose sampai ke tangga terakhir, dia dapat menyaksikan pemandangan rumit dari tiga orang yang saat ini duduk di meja.
Ada Sonia, Teodor dan seorang anak gadis kecil. Mantel berkain tipis dan serangam hitam ketat membuat lekukan tubuh proporsional Rose dapat terlihat begitu jelas. Siapapun pria yang melihat Rose sekarang, setidaknya akan melirik dia satu kali dalam lima detik.
Meskipun begitu, Teodor yang seorang Pria di antara mereka hanya merenung sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Rose melihat itu, kemudian mendekat ke arah mereka.
Namun sesuatu menarik perhatiannya.
Itu adalah anak gadis yang masih tampak ceria saat menyantap makanan berlemak. Dengan bagian bibir berwarna coklat kehitaman serta kain lusuh yang semakin kotor akibat melahap masakan yang tidak terkontrol, Rose dapat melihat bagaimana sang Anak gadis kecil sepertinya mengagap apa yang dia rasakan sekarang adalah pertama kalinya selama hidup di dunia.
Tapi bukan itu yang membuat Rose tertarik. Melainkan, Ekspresi tidak wajar yang anak gadis itu tunjukan saat menyantap.
Matanya hitam pekat tanpa sedikitpun ekspresi yang bisa di kategorikan suatu gambaran emosinalitas manusia, lalu tubuh kurus dan rambut lusuh seperti tak terawat dalam waktu lama. Selanjutnya— Di balik senyuman ramah yang sepertinya palsu, Rose mulai mengatakan ketertarikannya.
"Matamu cukup menarik.. Aku pernah melihat sorot mata gelap seperti yang kau miliki. Tidak tunggu, dia sepertinya jauh lebih gelap dari yang kau punya."
Rose mulai memperhatikan Anak gadis kecil tersebut, dengan ketertarikan yang semakin tinggi.
Rose merasa pernah melihat ekpresi serupa di suatu tempat dalam ingatan samar-samar. Sorot matanya sangatlah mirip.
__ADS_1
"Sangat mirip, sampai aku mengira kau dan orang yang pernah aku lihat seperti saudara. Apakah itu benar? "
Sang anak gadis tidak memperdulian apa yang di katakan Rose, dia masih sibuk menyantap makanan yang sebentar lagi habis.
"Kalau perkiraanku salah, mungkin karena kalian mengalami hal yang sangat serupa. Orang yang aku ceritakan padamu adalah seorang pria dewasa berambut emas, tapi memiliki ekspresi hampa jauh lebih dalam dari dirimu."
Orang yang pernah di lihat Rose sangatlah unik. Wajah keputusasaan dan kehampaan seakan mendiami kegelapan dunia di lapisan paling dasar. Tidak akan mengejutkan bagi Rose, bila mengetahui orang tersebut telah hidup disana selama bertahun-tahun atau bahkan ratusan tahun. Meski, terdengar tidak masuk akal dan sangat berlebihan, namun, kesan yang dia ingat adalah seperti itu.
Tidak ada satupun, manusia selama hidup Rose yang memiliki wajah gelap lebih dari orang tersebut.
Dan anak gadis di depan Rose dapat membuatnya sadar— bahwa orang-orang seperti itu tidaklah sedikit.
Rose kemudian menurunkan tubuhnya lalu bertanya.
"Siapa namamu gadis kecil?"
Gadis kecil yang telah menghabiskan makanannya, melihat ke arah Rose. Lalu dia berkata, dengan senyuman gelap di wajah.
"Nona, kamu sangat cantik."
Mendengar hal tersebut, Rose menunjukan senyum ramah, lalu kembali bertanya.
"Namaku gadis kecil," jawaban singkat dari sang anak gadis.
Rose kembali membenarkan posisi tubuhnya saat menyadari pertanyaaan yang dia ajukan ternyata sia-sia.
"Maafkan aku, sepertinya kau tidak memiliki nama. Kalau kau mau, aku bisa menamaimu."
"Terima kasih, nona, tapi untuk sekarang aku tidak mau."
"Baiklah, mari kita lanjutkan nanti."
Rose menyerah terhadap usaha yang dia lakukan.
Setelah bebrapa detik mereka saling menatap, sepertinya anak gadis menunjukan semacam ketertarikan pada Rose. Kemudian dia mulai bertanya.
"Nona, siapa dirimu?"
"Aku? Aku hanya seorang letnan Kolonel Rose Noir dari organisasi."
__ADS_1
Di balik senyuman yang masih Rose pasang, dia mulai memperhitungkan keuntungan dari situasi sekarang. Sebuah peluang demi kenaikan pangkat, dan mendapat bayaran bulanan lebih, mungkin tidak akan dia temukan lagi, jika dia menolak untuk bertindak.
(Jika, keceradasan manusia di tentukan dari seberapa cepat meniru sesuatu kemudian mengaplikasikannya. Maka, anak kecil jauh lebih cerdas dari pada orang dewasa.)
Mengirim anak kecil ke tempat penampungan Organisasi, tidaklah buruk. Mereka merupakan Investasi jangka panjang yang menjanjikan di mata Rose, dengan pendidikan matang sebagai basis dasar kemampuan, kesetian terhadap organisasi akan membuat senang atasan Rose.
Sangat mudah untuk Rose mampu memprediksi, pekerjaan penuh dokumen dan jam kerja rutin akan segera dia dapatkan. Terlebih, bayaran yang akan dia dapatkan sangatlah besar.
(Fufufu.. Membuat proposal pengajuan mungkin terdengar bagus. Inilah arti menjilat atasan, wahai orang-orang bodoh di bawahku.)
Sistem Organisasi yang telah dirancang begitu kompleks, tersetruktur dan terarah. Sangat menyenangi semua perwira Organisasi seperti Rose untuk sebuah kepastian mutlak.
Tidak ada sistem yang jauh lebih baik dalam mengurus sumber daya manusia secara efesien dari pada Organisasi. Itu merupakan fakta yang di sadari Rose.
Oleh karena itu, persaingan antar perwira secara sehat adalah sesuatu yang sering Rose lihat dalam Organisasi. Semakin mereka berkerja keras dan mendapat pencapaian, semakin tinggi pula kesempatan mendapat kesejahteraan akan mereka terima.
Saat ketetapan masa depan selesai dia bayangakan, Rose mulai memperhatikan gadis kecil kembali. Gadis tersebut sepertinya ingin bertanya.
"Organisasi, apa itu Organisasi? "
Mengatakan itu, sambil menunjukan senyuman gelap penuh pertanyaan.
Lalu Rose membuka telapak tangan untuk kemudian menjawab.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu. Tapi, bila kau bertanya padaku, maka aku akan menjawab berdasarkan kalimat-kalimat yang sering di katakan oleh wakil ketua Eksekutif Dewan."
Dia kemudian memainkan jari-jari di tangan untuk mempresentasikan kalimat yang akan dia katakan.
"Kami adalah sekelompok orang perancang kesejahteraan, pencipta keseimbangan dan penuntun umat manusia agar bisa melihat keberanan. Kau bisa menyebutnya, organisasi penegak keadilan."
Mata Rose bergetar ketika mengatakan kalimat terakhir, seakan menghayati begitu dalam terhadap setiap huruf yang dia katakan.
Namun, sepertinya gadis kecil menujukan ke tidak sukaan.
" Aku membenci apa yang nona katakan. "
"Yang mana? "
"Penegak keadilan, di bagian itu, jelas menujukan omong kosong akan perkataan penuh kebohongan. Kalau saja, nona tidak mengatakannya, aku mungkin akan mempercainya tanpa terkecuali."
__ADS_1