
Mansion bangsawan terletak di bagian Utara kekaisaran, dikelilingi oleh hutan lebat dan jika seseorang berjalan beberapa kelometer ke utara, dia akan melihat hamparan samudra luas sejauh matanya mampu melihat. Itu adalah tempat terpencil yang dimiliki Keluarga Windburner, tempat dimana sekumpulan kesatria di tugaskan untuk menjaga para tahanan.
Ada beberapa rumor mengerikan yang mengisahkan pembantaian desa-desa oleh bandit Utara, dan penjara Mansion di bangun untuk menampung itu semua.
Pada dasarnya itu tidak lebih dari sebuah penjara yang mengatas namakan Mansion. Tempat dimana manusia tidak layak hidup di pasang rantai ke lehernya sambil mengemis untuk satu tetes air.
Bagi para kesatria mansion, pekerjaan ini adalah pekerjaan sempurna. Dimana mereka dibayar dengan upah tinggi sambil berjuang untuk kesejahteraan masyarakat banyak. Suatu pekerjaan suci yang di dambakan semua orang, tidak, bahkan mereka mengagap dirinya sebagai orang suci itu sendiri.
Kesatria pemberantas kejahatan dan menjaga kedamaian, ini seperti kisah-kisah di legenda.
Atau setidaknya itulah apa yang di sampaikan Tuan Tanah.
"Para sampah itu, apakah mereka tidak tahu arti penebusan dosa?" gumam seorang kesatria sambil mengetarkan giginya karna kesal.
Dia adalah seorang kesatria bernama Lian. Lian terbangun dari tidurnya di meja kerja ketika mendengar suara ledakan dari dalam Mansion.
Hari-hari seharusnya berjalan seperti biasanya, bagun pagi kemudian bekerja lalu ketika malam hari dia memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. Namun ledakan yang terdengar dari bawah tanah tepat beberapa menit setelah matanya tertutup, hanya berarti satu hal.
"Kapten!"
"Aku mengerti. Kumpulkan sebagian orang, katakan pada mereka waktunya membersihkan sampah"
Bagun dari kursi lalu melihat ke arah samping, tangan Lian meraih pedangnya kemudian mulai berjalan ke luar ruangan. Bawahan Lian mengikuti ketika pintu di buka.
Saat Lian berhenti di depan pintu, beberapa kesatria menghampirinya.
"Kapten"
Melihat para bawahannya yang cakap, Lian hanya bisa menunjukan wajah puas.
(Inilah arti menjadi seorang kesatria, sangat tahu kapan harus bertindak, semangat yang besar untuk membela kebenaran dan menjaga kedamaian sangat di butuhkan untuk semua manusia di dunia ini)
Dengan suara ledakan menarik perhatian, kemudian sebagian bawahan Lian datang menghampiri dirinya, itu membuktikan kecakapan mereka sebagai seorang kesatria.
Sementara Lian terus memperhatikan mereka, bawahnya yang selama ini bersama dia, pergi menjauh untuk memenuhi permintaan Lian.
Bagi seorang kesatria sejati seperti Lian, mempunyai bawahan yang cakap merupakan suatu anugrah. Terlepas dari niat sebenarnya mereka menjadi kesatria, kenyataan bahwa mereka memperjuangkan keadilan sudah lebih dari cukup untuk di anggap sekutu.
__ADS_1
"Semuanya, dengarkan. Lawan kita tidak lebih dari hewan, tidak, mereka lebih rendah dari hewan. Orang-orang seperti mereka yang merampas hak-hak penduduk desa tak bersalah, mereka yang tidak mengerti rasa sakitnya kehilangan, dengan sombong mengatakan bahwa mereka tidak bersalah. Hanya berarti kematian untuk orang seperti itu"
Para bawahan Lian yang berjumlah belasan orang, mengaguk setuju. Semangat keadilan muncul di mata mereka.
Doktrin Kesatria untuk menjunjung tinggi keadilan adalah fondasi yang kuat agar menciptakan dorongan tak kenal takut. Ini memudahkan kapten kesatria seperti Lian untuk menyalakan api semangat suci para bawahnnya.
Lian menoleh ke arah seorang pria dengan rantai di lehernya. Pria itu tertunduk lesu, bibir pecah-pecah dan tubuh kurusnya seperti tidak memiliki daging sama sekali, penuh dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.
Sorot mata kosong seperti ingin menangis, bahkan jika pria itu menagis air mata tidak akan menetes. Keadaan mengerikan dimana seseorang tidak memiliki cairan tubuh selain darah yang mengaliri, pria itu terlihat seperti kain basah yang di peras sampai kering membuat lekukan-lekukan kulit kusut terlihat jelas dari kelopak mata sampai kaki.
Pria menyedihkan mengerakan tangan seperti ranting yang ingin patah. Menyapa Lian penuh kebencian.
Membuat Lian bertanya-tanya.
(Kebanyakan sampah seharusnya terlihat seperti dia, tapi mengapa? Anti-Sihir itu sampai rusak?)
Tidak ada cara keluar dari penjara selain mengunakan sihir, untuk alasan itu mengapa senjata rahasia Anti-sihir di letakan tepat pada bagian tengah penjara. Telebih lagi kebanyakan tahanan di buat kelaparan untuk menghindari kemungkinan pemberontakan. Tapi kenyataan entah bagaimana mereka mampu untuk menerobos memberi Lian perasaan marah.
Setelah mengegam erat pedang sambil menendangnya. Lian mulai melangkah pergi, para kesatria mengikuti Lian.
Mereka menyelusuri lorong dengan cahaya rembulan yang menembus jendela, kilat-kilatan cahaya bersinar begitu indah ketika mereka mulai berlari melewati setiap jendela.
Sampai ketika mereka berhenti untuk bersiap ke pintu terakhir sebelum penjara bawah tanah.
Lian membuka pintu, dia melihat lubang besar menganga dari lantai, bongkahan batu berserakan di segala arah. Pemandangan cukup gelap dengan hanya secercah sinar rembulan dari jendela kaca menyinari kegelapan.
Sekumpulan Pria berdiri di hadapan Lian.
Kebanyakan dari mereka berdiri gemetar. Tangan-tangan tanpa daging terlihat kesulitan ketika memegang batu sebagai senjata. Satu-satunya hal yang membuat mereka berdiri hanyalah rasa kebencian yang teramat dalam.
Sesuatu seperti mengatakan "Apa yang telah kami lakukan, sampai harus mendapat siksaan seburuk ini" terlihat jelas di expresi mereka.
Seorang pria muda berambut putih menutupi sebagian matanya berdiri di tengah mereka. Pria muda itu memengang bongkahan besi penjara dengan ujung yang tajam.
"Jadi kau si brengsek yang meledakan penjara"
Pria itu tidak menjawab.
__ADS_1
Satu yang menarik perhatian Lian tentang pria itu, adalah gerakan bibir seperti mengucapkan sesuatu.
Saat bibirnya berhenti mengucap, Pria muda itu mulai membungkuk kemudian lingkaran sihir merah keluar dari bawah kakinya.
Melesat bagaikan peluru, hanya dalam satu kedipan mata jarak tertutupi. Bawahan Lian tak ber Armor di samping kanannya terlihat kebingungan ketika bongkahan logam menancap di bahunya, logam yang tidak memiliki kemampuan untuk menebas daging hanya menancap tanpa bisa di lepas kecuali di tarik.
kemudian Pria berambut putih mengerakan logam kebawah menyebabkan bawahan Lian yang tertancap jatuh mengikuti arah gerak logam. Tangan pria berambut putih mengambil pedang bawahan Lian saat darah menetes dari lubang logam.
Bawahan Lian terbaring ketanah sambil memuntahkan darah dari mulutnya.
Waktu berjalan sangat singkat, itu terjadi hanya beberapa detik saja.
Kesatria lain bereaksi dengan berusaha mengarahkan pedang ke arah pria itu, tetapi sebelum pedang keluar dari sarungnya. Kesatria itu melihat ke bawah dimana Pria itu ada disana dan menusukan pedang tepat sedikit ke kiri di perutnya secara vertikal.
Pria berambut putih memutar pedang menjadi horizontal membuat semacam lubang berwarna merah. Setelah itu pedang di arahkan ke samping seperti gerakan ingin menebas.
Mengiris daging yang di lewati, menyisakan hanya bagian kecil di sisi kiri perut.
Kehilangan keseimbangan kemudian terjatuh, isi perut kesatria menyebar di lantai. Tubuhnya hampir terbelah menjadi dua.
Lian melihat itu dengan wajah marah. Rekan keadilan yang juga bawahannya di habisi secara teragis.
Dengan suara pelan sambil mengetarkan gigi, Lian berkata.
"Aku akan membunuhmu"
Dalam waktu singkat jarak antara Lian dan pria berambut putih tertutupi, pedangnya menebas ke arah Lian, kecepatan Tebasan bertubi-tubi yang luar bisa menghujani Lian.
Lian menahan semua serangan, sehinga membuat suara keras pedang bertabrakan, percikan-percikan cahaya menerangi sebagian kecil ruangan.
SATKKK!!
Serangan tebasan dengan maksud membunuh lebih berat dari serangan bertubi-tubi pria itu, di arahkan ke pedang Lian. Namun karna kualitas pedang yang berbeda, pedang kesatria di tangan pria berambut putih pecah menjadi dua. Tapi—
Waktu bagaikan melambat, meski sebenarnya hanya beberapa detik berjalan. Pupil Mata Lian terbuka lebar ketika menyadari tujuan sebenarnya pria itu.
Gerakan bibir telah terhenti.
__ADS_1
Tangan pria berambut putih mencapai dada Lian, kemudian dengan suara kecil pria itu mengatakan.
"[Enchant Fire Magic]"